NovelToon NovelToon
Luminar

Luminar

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:835
Nilai: 5
Nama Author: Nostalgic

Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.

Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Langit Malam dan Janji Strategi

Heras terbangun, matanya perlahan menyesuaikan diri dengan suasana ruangan. Ia menatap sekeliling—ya, ini rumah sakit yang sama, ruangan yang sama persis di mana ia pernah dirawat dulu. Pandangannya beralih ke jendela kaca besar di samping ranjangnya. Di luar, lampu-lampu perumahan berkelap-kelip seperti ribuan kunang-kunang yang tersebar di kegelapan malam. Langit dihiasi bulan yang bersinar terang, diselingi sedikit awan tipis yang melayang perlahan.

Ia lalu menoleh ke arah sebaliknya, menatap pintu masuk ruangan itu. Baru kali ini ia berpikir lebih jernih tentang tempat ini—ruangan ini ternyata cukup luas, dan anehnya, hanya ada satu ranjang pasien di sana. Di depan ranjangnya, sebuah televisi berukuran besar terpasang rapi di dinding.

Energi tubuhnya belum pulih sepenuhnya, masih terasa lelah, namun rasa kantuknya sudah hilang sepenuhnya. Matanya tertuju pada laci kecil di samping ranjang. Di atasnya, tersusun rapi sekeranjang buah-buahan segar, segelas susu yang masih terlihat dingin, dan beberapa potong roti di atas piring putih. Heras menyadari bahwa ia sudah seharian penuh tidak makan dan minum. Tanpa menunggu lama, ia langsung mengambil semua makanan itu dan menghabiskannya dengan lahap, seolah-olah itu adalah hidangan paling lezat di dunia.

Setelah perutnya terisi, Heras berusaha turun dari ranjang. Kakinya masih terasa mati, tidak bisa digerakkan sama sekali. Dengan susah payah, ia menggeser tubuh dan naik ke atas kursi roda yang sudah tersedia di sampingnya. Ia menggerakkan roda itu menuju pintu keluar, memilih pintu evakuasi yang lebih sepi.

Pintu itu membawanya ke sebuah balkon kecil yang terhubung dengan tangga darurat, dan balkon serupa terlihat di setiap tingkat gedung rumah sakit ini. Udara malam yang segar langsung menyapa wajahnya, membuat pikirannya sedikit lebih tenang. Heras membiarkan dirinya melamun, dan bayangan wajah wanita yang terkulai lemas di pagar rumah saat kejadian kebakaran itu kembali muncul di benaknya. Ia menghela nafas panjang, mencoba mengusir rasa bersalah yang kembali menyelinap.

Setengah jam berlalu begitu saja. Keheningan malam itu tiba-tiba terpecah oleh cahaya terang yang datang dari arah belakangnya—sinar lampu dari koridor yang menyala. Heras menoleh, dan di sana, berdiri sosok pria yang sama yang pernah menyelamatkannya sebelumnya.

Tanpa memberi kesempatan pria itu bicara lebih dulu, Heras langsung membuka suara dengan nada tegas, "Aku tetap menolak ajakanmu untuk masuk pasukan, apapun yang kau lakukan. Hutang budi ini akan aku balas dengan cara yang lain."

Pria itu tersenyum tipis, "Baiklah, manusia cahaya."

"Terserah," jawab Heras datar. Ia sudah tidak terkejut lagi mengetahui bahwa identitas rahasianya kini telah terbongkar di depan orang ini.

"Jawab dengan serius, kau berada di pihak manusia, atau monster?" tanya pria itu, nadanya menjadi lebih serius dan tajam.

"Dengan tindakanku tadi belum jelas, ya?" balas Heras, menatap lurus ke mata lawannya.

Pria itu terdiam sejenak, seolah merenungi jawaban Heras.

"Aku menolakmu bukan karena aku tidak mau," lanjut Heras pelan, suaranya sedikit melembut namun tetap tegas. "Tapi, kekuatan ini bukan berasal dari perkembangan umat manusia. Kekuatan ini..." Ia terdiam, matanya tiba-tiba menjadi kosong, seolah jiwanya melayang jauh, merindukan kehadiran suara Luminar yang dulu selalu menemani.

"Baiklah, aku akan memberikanmu sebuah alat komunikasi markas. Ini akan membantumu untuk kegiatanmu di masa depan," ucap pria itu akhirnya. Ia mengulurkan tangan, memberikan sebuah gelang hitam dengan desain yang sangat futuristik, penuh dengan garis-garis cahaya tipis yang redup. Heras menerimanya tanpa sadar, jari-jarinya menyentuh permukaan gelang yang dingin itu.

"Namaku adalah Liang, ahli strategi pasukan pemusnah monster," perkenalannya kali ini penuh wibawa.

"Iya. Aku Heras," jawab Heras tetap dengan nada datarnya.

"Baru kali ini aku melihat seseorang yang tidak terkejut ketika aku memperkenalkan diri," batin Liang, sedikit heran namun juga terkesan dengan ketenangan pemuda di hadapannya.

Liang lalu mendekati Heras, menumpukan kedua tangannya ke pembatas pagar balkon tempat mereka berdiri. Pandangannya menerawang ke kejauhan, seolah kembali mengingat sebuah kenangan berat.

"Aku pernah hampir mati saat menghadapi monster ikan buntal raksasa," mulai Liang, suaranya terdengar berat. "Saat itu, aku membawa anggota magang pasukan yang baru saja lulus pelatihan. Rencanaku saat itu sebenarnya sudah sangat matang."

Liang berhenti sejenak, lalu mulai menjelaskan strateginya dengan detail, "Monster itu memiliki kulit yang sangat keras dan bisa meledakkan racun mematikan dari duri-durinya. Rencanaku adalah membagi tim menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama bertugas sebagai umpan, bergerak cepat untuk memancing monster itu agar terus berputar dan mengeluarkan duri-durinya secara sembarangan, sehingga pola serangannya bisa terbaca dan kita bisa mencari celah di antara duri-duri itu. Kelompok kedua bertugas menembakkan jaring khusus yang terbuat dari serat tahan racun dari jarak jauh untuk membatasi pergerakan tubuhnya yang elastis. Dan kelompok ketiga, yang paling inti, akan menyerang bagian bawah perutnya yang lemah saat monster itu sedang fokus melawan umpan dan terikat jaring."

Liang menghela nafas panjang, "Rencananya sempurna di atas kertas. Namun, saat eksekusi berlangsung, saat monster itu mengaum dan menunjukkan wujud aslinya yang mengerikan, mental para anggota magang itu goyah. Kelompok umpan panik dan lari tidak sesuai rute, membuat monster itu malah mengarah ke kelompok penembak jaring. Kekacauan terjadi, jaring tidak terpasang dengan benar, dan kami terpaksa harus mundur dengan terluka parah, meninggalkan area itu sampai bala bantuan utama datang untuk menanganinya."

Ia menoleh kembali ke arah Heras, matanya menatap tajam namun penuh penghargaan. "Jadi, sekarang anggota pasukan bukan hanya asal masuk dengan kemampuan tempur saja. Kami juga menghormati orang sepertimu—orang yang memiliki tekad yang kuat dan kokoh, yang tanpa henti melawan kegelapan meski hanya dengan cahaya yang redup."

1
Nasipelang
lego euy
Nasipelang
rasa sakit ini, adalah bukti bahwa aku masih hidup
Anonymous
oke
Anonymous
kece
Anonymous
mc nya menderita saya suka
Nasipelang
awalnya ngebosenin, tapi lama-lama seru juga
Anonymous
oke
Anonymous
bujet
Anonymous
baru aja kenalan udah ditinggal ama luminar
Anonymous
uwihh level up coyy
Anonymous
kasihan mc nya jir
Anonymous
mirip nexus yah
Anonymous
kena de javu
Nasipelang: de javu nya apa
total 1 replies
Anonymous
jirr
Arctic General
Sangat bagus... kek ultraman 🗿
Arctic General
up thorr oii🦖
Arctic General
Buset kek ginga🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!