Follow IG @Lala_Syalala13
Adrian Arkadia, seorang CEO jenius dan penguasa bisnis yang dingin, menyamar sebagai pria miskin demi memenuhi wasiat kakeknya untuk mencari cinta sejati.
Ia kemudian menikahi Arumi, gadis sederhana berhati emas yang dijadikan "pelayan" dan pemuas ambisi oleh ibu serta adiknya yang materialistis.
Di tengah hinaan keluarga mertua dan ancaman rentenir, Adrian menjalani kehidupan ganda yaitu menjadi kuli panggul yang direndahkan di malam hari, namun tetap menjadi raja bisnis yang menghancurkan musuh-musuhnya secara rahasia di siang hari.
Perlahan tapi pasti, Adrian menggunakan kekuasaannya untuk membalas setiap tetes air mata Arumi dan mengangkat derajat istrinya hingga para penindasnya berlutut memohon ampun.
Bagaimana kelanjutannya???
Jangan lupa mampir baca yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSB BAB 24_Kebohongan Yang Terbongkar
Rasa bangga yang tadi ia rasakan saat memegang trofi seketika berubah menjadi rasa hina.
Ia merasa seperti boneka yang sedang dimainkan oleh seorang pria kaya yang sedang bosan dengan kehidupannya.
Hampir tengah malam saat pintu kamar hotel terbuka, Adrian masuk dengan langkah yang disengaja agar terdengar lelah.
Ia melihat lampu kamar masih menyala redup.
"Arumi? Kau belum tidur?" tanya Adrian lembut, ia melihat Arumi duduk di sofa dekat jendela, memunggungi pintu.
Arumi tidak menjawab, ia hanya menatap lampu-lampu Marina Bay yang gemerlap.
"Maaf aku lama karena urusan logistik tadi benar-benar rumit, rekan kerjaku itu sangat keras kepala." lanjut Adrian sambil melepas jaketnya.
"Siapa namamu?" tanya Arumi tiba-tiba. Suaranya datar, tanpa emosi.
Adrian mematung, jantungnya berdegup kencang tidak seperti sebelumnya.
"Apa maksudmu, Sayang? Namaku Ian, kau tahu itu." serunya dengan senyum yang dipaksakan.
Arumi berbalik, matanya merah dan bengkak karena tangis, ia menyodorkan laptopnya ke arah Adrian.
Di layar itu terpampang profil besar tentang Arkadia Group dan silsilah keluarga Arkadia.
"Jangan berbohong lagi padaku mas!" isak Arumi.
"Aku melihatmu masuk ke mobil itu, aku melihat bagaimana pria-pria berjas itu menunduk padamu, dan aku melihat foto ini. Mas Ian... atau Tuan Adrian? Siapa kau sebenarnya?" tanyanya dengan isakan tangis yang semakin kencang.
Adrian menghela napas panjang, ia menutup matanya sejenak, menyadari bahwa tirai sandiwaranya telah tersingkap lebih cepat dari yang ia rencanakan.
Ia berjalan mendekat dan mencoba memegang tangan Arumi, namun Arumi menepisnya dengan kasar.
"Jangan sentuh aku dengan tangan yang bisa membeli segalanya itu!" teriak Arumi.
"Arumi, dengarkan aku dulu..." suara Adrian kini berubah.
Ia tidak lagi menggunakan nada bicara "Ian" yang lembut dan naif, suaranya kembali menjadi berat dan penuh otoritas namun ada getaran luka di sana.
"Aku melakukan ini karena perintah kakekku. Dia ingin aku mencari istri yang tulus, dan aku menemukanmu." ucap Adrian yang akhirnya mengaku.
Kebohongan yang dia sembunyikan selama ini akhirnya terbongkar juga.
"Jadi aku hanyalah sebuah tes? Sebuah eksperimen laboratorium untuk melihat apakah ada wanita yang cukup bodoh untuk mencintai kuli gadungan?" Arumi tertawa pahit di tengah tangisnya.
"Bagaimana dengan kompetisiku? Apakah kau juga membelinya? Apakah kemenangan ini juga palsu?!" tanyanya.
"Tidak!" Adrian membentak, suaranya menggelegar di kamar hotel.
"Kemenangan itu murni bakatmu, aku bersumpah demi nyawaku kalau aku tidak menyuap satu juri pun. Profesor Wijaya benar-benar mengagumimu sebelum dia tahu siapa aku." jawab Adrian.
"Aku tidak percaya padamu," Arumi berdiri, mengambil tas kecilnya.
"Segala kemewahan ini... apartemen itu... semuanya membuatku muak. Aku lebih memilih tinggal di gudang belakang sebagai budak ibuku daripada menjadi mainan di istana emasmu." serunya.
Arumi berlari menuju pintu, Adrian mencoba mengejarnya, namun Arumi berhasil keluar dan masuk ke lift yang sedang terbuka.
Arumi berlari keluar hotel, tidak tahu harus ke mana di negeri orang, ia terus berlari hingga kakinya lemas di dekat patung Merlion.
Di sana, di tengah kerumunan turis yang masih ramai, ia duduk di bangku taman dan menangis sejadi-jadinya.
Ia merasa terkhianati. Semua kebaikan Adrian selama ini terasa seperti kebohongan besar.
Ia merasa cintanya yang tulus telah diinjak-injak oleh sebuah permainan orang kaya.
Namun, di tengah kesedihannya, ia teringat saat-saat Adrian menemaninya begadang untuk menggambar.
Ia teringat bagaimana Adrian membersihkan luka di tangannya saat ia terkena duri di taman.
Apakah tatapan mata yang begitu tulus itu juga bisa dipalsukan?
Sementara itu, Adrian berdiri di balkon hotel menatap ke arah Merlion Park, ia tidak mengejar Arumi secara langsung dengan mobilnya.
Ia hanya memberi isyarat pada Hendra dan tim keamanan yang sudah berjaga di sekitar Arumi dari jarak jauh.
"Pastikan dia aman dan jangan biarkan ada yang mendekatinya, tapi jangan tunjukkan wajah kalian." perintah Adrian melalui ponsel.
Adrian terduduk di lantai balkon, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang penguasa Arkadia merasa benar-benar tak berdaya.
Ia memiliki triliunan aset, namun ia tidak bisa membeli kembali kepercayaan wanita yang ia cintai.
Ia teringat kata-kata kakeknya yaitu sebuah bangunan yang dibangun di atas rahasia akan mudah runtuh.
Adrian mengambil ponselnya dan menelepon Kakek Haris.
^^^"Kek... dia sudah tahu, dan dia pergi."^^^
Di seberang telepon, Haris Arkadia terdiam lama entah juga apa yang sedang beliau pikirkan.
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Menggunakan kekuasaanmu untuk membawanya pulang, atau menggunakan hatimu untuk memintanya kembali?"
^^^"Aku akan melepaskan identitas 'Ian' sepenuhnya Kek, dan aku akan menjemputnya sebagai Adrian Arkadia. Jika dia tetap menolakku, maka aku akan melepaskan segalanya demi dia."^^^
Malam itu, di Singapura, sebuah rahasia besar telah pecah, perang batin antara cinta dan kasta baru saja dimulai.
Dan di Jakarta, Bu Ratna dan Siska tidak tahu bahwa badai yang sesungguhnya akan segera datang saat mereka menyadari bahwa menantu yang mereka injak-injak adalah pemilik dari setiap butir nasi yang mereka makan.
Angin malam di Merlion Park berembus kencang, membawa uap air yang dingin ke wajah Arumi yang masih basah oleh air mata.
Ia duduk memeluk lututnya di salah satu bangku beton, mengabaikan tatapan beberapa turis yang melintas.
Trofi Global Interior Visionary Award yang ia bawa di dalam tasnya kini terasa seperti beban logam yang sangat berat.
Setiap kali ia melihat logo "Arkadia Foundation" yang terukir di sana, hatinya perih.
Baginya, trofi itu bukan lagi simbol pencapaian, melainkan bukti betapa rapi sandiwara suaminya.
"Semuanya bohong," bisik Arumi pada angin.
"Kuli panggul yang butuh bantuanku, suami miskin yang harus aku lindungi... semuanya hanya akting untuk memuaskan wasiat kakeknya."
Tiba-tiba, suara bising baling-baling helikopter memecah keheningan malam di atas teluk.
Sebuah helikopter dengan cat hitam metalik dan logo elang emas yaitu logo Arkadia muncul dari balik gedung-gedung pencakar langit.
Lampu sorot dari helikopter itu menyapu permukaan air, lalu perlahan mengarah ke area taman tempat Arumi berada.
Turis-turis di sekitar mulai berteriak heboh, mengeluarkan ponsel mereka untuk merekam.
Namun, Arumi justru merasa ketakutan yang luar biasa, ia berdiri dan hendak berlari menjauh namun langkahnya terhenti.
Tiga mobil SUV hitam besar berhenti serentak di jalan setapak taman.
Belasan pria bersetelan jas gelap keluar dengan gerakan taktis, membentuk pagar betis yang menghalangi jalan keluar Arumi.
Orang-orang di sekitar disingkirkan dengan sopan namun tegas.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
kpn kau sadar, heran seneng amat lihat suami tersiksa, jd sebel Ama Rumi jdnya sok yes 😡😡