Berada di tengah laut jawa, Pulau Koriyaksa dihuni para siluman dalam segala bentuk, dipimpin oleh siluman tanpa nama berwujud menakutkan. Akhirnya setelah 50 tahun berperang, sebuah perjanjian damai ditandatangani.
Setiap malam satu suro, bangsa manusia wajib mengirim tumbal untuk dipersembahkan pada Sang Raja.
Namun Sura mahasiswa yang terlempar ke dalam buku harus menjadi tumbal ke-100, anehnya dia justru berhasil merebut hati Sang Penguasa. WARNING! HATI-HATI DALAM MEMILIH BACAAN!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan
Pisau tembaga berukuran kecil, beberapa jarum dengan ukuran berbeda, anak panah buatan, serta gunting.
Terlihat bekas darah di beberapa benang dan jarum jahit. Namun anehnya Sura tak menemukan perban atau kain lilit di tubuh Ratih,
"Apa itu juga miliknya?" tanya Sura menoleh pada Raja,
"Hati-hati, Raja! Kita tidak boleh tertipu..." sontak Anubis panik,
Melihat Raja yang tak ragu menyerahkan botol kaca berisi ramuan aneh ke tangan Sura, "Apa kamu tahu ramuan apa ini?"
"...?" Sura termenung sejenak sebelum menerima,
Wajar saja Anubis curiga, namun sepertinya Raja masih percaya atau mungkin tengah mengetes kesetiaan Sura?
"Dia sendiri mengaku dan mengenali penyusup ini, tapi, kenapa? Kenapa hatiku tidak mau percaya---"
"Tolong, katakan kalau semua ini bohong!" batin Raja menggertakkan gigi.
Sura menatap sekilas botol kaca itu, mengingat jika wanita di depannya pernah belajar ilmu pengobatan dan sempat menjadi tabib sebelum menikah.
Menurut ingatan tubuh, Ratih lah yang selalu mengobati setiap pemilik asli mencoba untuk bunuh diri.
"JANGAN!" pekik Ratih ketakutan,
Meski ragu Sura tetap mencabut penutup yang terbuat dari kayu, melihat, dan menghirupnya sekilas.
"A-apa yang kamu lakukan?" Ratih terduduk lemas, "Padahal aku sudah melarangmu."
"Ini racun." ucap Sura bersungguh-sungguh,
Berhasil mengejutkan mereka, membuat para tetua melangkah mundur ketakutan. Bahkan Anubis tampak waspada, "Raja, menjauh dari sana---"
"Tenang saja, racun ini tidak akan membunuh bangsa siluman." imbuh Sura menutupnya kembali,
"Sepertinya Ratih tidak tahu kalau tubuh Siluman lebih kuat dan kebal terhadap racun." batinnya melirik,
Raut wanita itu tampak terguncang, mendengar kebenaran yang mengecewakan. Seakan telah menyia-nyiakan kesempatan,
Hanya satu tanaman khusus bernama bidara yang bisa menjadi racun bagi bangsa siluman. Namun di dunia ini, tanaman bidara sulit dirawat dan jarang sekali ditemukan, bahkan pembuatan ramuannya rumit, membutuhkan percobaan berulang kali.
"Semua itu ada di buku kuno. Entah benar atau tidak...setahuku bidara malah sangat berguna untuk pengobatan," bergumam dalam hati.
DEG! Sura terbelalak, meremas kuat jantungnya yang terasa sakit.
"Apa ini? Rasanya-KHARRR..." Sura memuntahkan darah hitam pekat dari mulutnya,
"Kenapa? Kenapa jadi begini...baunya saja bisa membunuh banyak manusia. Aku bahkan menutup rapat hidungku saat menggunakannya,"
"Jadi karena itu? Aku pikir dia berusaha menyembunyikan wajahnya!" sontak bunglon yang tadi sempat melepas penyemaran Ratih.
"Sial! Aku lupa, kalau aku cuma manusia biasa! HUK! UHUK!"
Sura terus berbatuk, terdengar menyakitkan, dadanya naik turun dengan cepat. Rasa sakit itu memaksa Sura untuk membungkuk,
"Sura..." Raja memanggil lirih, tampak risau menahan punggung pria yang terus berguncang.
"UHUK! UHUK!"
"Bima!" Ratih bergegas lari menghampiri.
Tubuh Sura ambruk, duduk bersimpuh dengan tangan yang menadahi tetesan darah dari mulutnya.
Kedua lengan Ratih merangkul, menghempas paksa lengan siluman di depannya. Raja terdiam pasrah, merasa bersalah, seharusnya dia tidak menyerahkan botol tadi.
"Bima, maafkan aku. Padahal aku datang untuk menyelamatkanmu! Tapi---tapi lihat," gumam Ratih tak sanggup menahan tangis.
Membiarkan tubuh kekar Sura bersandar padanya, "Aku sudah membuatmu seperti ini."
"Raja, bangunlah. Anda tidak perlu mengasihani mereka," bujuk Anubis.
"Benar. Manusia ini menyusup dan membawa racun untuk menyerang kita!"
"Khrrrrr...!" Raja mendongak, melayangkan tatapan sinis.
Mengerang buas, pada mereka yang berani mengguruinya. Seketika membuat para tetua dan Anubis terdiam, tak berani berkomentar.
"Padahal aku datang untuk membebaskanmu..."
"Bukan malah membunuhmu dengan racun buatanku." Ratih menangis tersedu,
Terus memeluk erat tubuh yang mulai terasa dingin. Wajah Sura tampak pucat dengan nafas berat,
"Sial! Sakit sekali." batin Sura, kesulitan menelan saliva.
Mengernyit kesakitan, menahan sensasi terbakar yang terus menjalar ke seluruh tubuhnya.
Penderitaan itu terus berlanjut, menjadi tontonan seru bagi Anubis. Dari jauh dia menatap mengharapkan kematian seseorang,
Senyumnya semakin merekah, saat tangan Ratih meraih botol racun yang sama.
Sepertinya rasa bersalah mendorong Ratih melakukan bunuh diri demi menemani pria yang dicintai,
"Dasar manusia bodoh!" seru Anubis menatap penuh benci,
"Tapi, baguslah. Jadi aku tidak perlu repot-repot memikirkan cara untuk menyingkirkan mereka berdua,"
PLAK!
Sura berhasil menepis botol tadi hingga terpental jauh, sebelum sempat dibuka.
"Ck!" Anubis berdecak kesal, menyayangkan botol racun yang telah pecah.
"Jangan gila! Kalau kamu menyesal, cobalah untuk meyelamatkanku...seperti yang biasa kamu lakukan," suaranya terdengar serak.
Dengan tekad besar, Sura menopang tubuh, melawan sakit yang dirasa.
Perlahan melirik, meraih lengan Raja yang masih duduk di sampingnya, "Tenanglah..."
"Aku tidak akan mati semudah ini," menerbitkan senyuman hangat.
Ucapan itu langsung membebaskan Raja dari keterpurukkan. Sorot matanya kembali bersemangat, tanpa segan merebut tubuh Sura dari pangkuan wanita lain.
"Cih..." Sura tersenyum sepat, merasakan bulu yang berhasil menghangatkan tubuhnya.
Dia sadar, matanya melihat jelas tatapan tadi, raut risau yang tak bisa Raja sembunyikan saat melihat Sura kesakitan.
"Wanita itu...dia adalah tabib. Kalau bisa membuat racun, pasti bisa membuat penawarnya."
Sura berbisik, suaranya melemah lalu kehilangan kesadaran.
Raja bangkit membopong tubuh Sura, lalu menatap tajam wanita yang masih menunduk lesu. "Hei, kamu!"
Ratih mendongak, merasa terpanggil.
"Bantu aku menyelamatkannya,"
"...?" Ratih mengangkat alis, tak percaya dengan apa yang didengar.
Seorang monster menyeramkan baru saja meminta bantuan? Itupun hanya untuk menyelamatkan nyawa manusia. Bukankah Sura hanya sebatas tumbal baginya,
"Ck!" Raja membuang muka, merasa risih dengan tatapan Ratih.
"Anubis, cepat siapkan tempat, dan segala tanaman obat yang kita punya."
"Tapi, Raja---"
"CEPAT!" pekik Raja mengancam dengan aura hitam pekat disekeliling,
"Baik, Raja. Akan saya siapkan sekarang juga!"
Anubis menunduk patuh mengikuti perintah, mengarahkan beberapa pengawal. Dalam sekejap istana menjadi riuh, para siluman sibuk berlalu lalang menjalankan tugas,
Di tengah keramaian itu, Ratih masih diam menatap. Memberanikan diri guna bertanya, "Kenapa anda membantu saya?"
"Siapa yang membantumu?" jawab Raja dengan angkuh,
"Aku hanya ingin menyelamatkan dia."
"Bima...? Dia cuma tumbal---"
"Dia bukan tumbal." tegas Raja memotong ucapan Ratih,
"Dia bukan tumbal, bukan juga budak, dia bukan Bima. Aku tidak tahu, apakah kita mengkhawatirkan orang yang sama?"
"Namanya Sura. Dia adalah orang berharga untukku," menguatkan rangkulan, Raja menatap lembut wajah Sura yang masih tertidur.
"Apa maksud Raja? Kamu dengar apa katanya tadi?" bisik tetua Seri,
Para tetua masih berdiri dan mengawasi dari kejauhan.
"Entahlah, jangan-jangan Raja jatuh cinta?!" tuduh tetua Laga tampak panik,
Keduanya tercengang, berharap kecurigaannya tak pernah terjadi.
"Mungkin itu alasan, kenapa Raja sangat membelanya? Lagi pula Raja tetaplah wanita. Bagaimana ini..."
Raja melirik singkat, pendengaran tajamnya mampu mendengar jelas setiap percakapan meski berupa bisikan lirih di seberang sana.
"Sura adalah manusia berbakat. Dia punya kepintaran dan daya sihir besar, tidak seperti manusia biasa..."