NovelToon NovelToon
"Rahasia Laut Pasuruan"

"Rahasia Laut Pasuruan"

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Istana/Kuno / Penyelamat
Popularitas:841
Nilai: 5
Nama Author: Kristinawati Wati

Berlatarkan masa kejayaan Kerajaan Panjalu (Singhasari) di wilayah Pasuruan, sebuah prasasti kuno yang ditemukan oleh Gadis nelayan, Mira, mengungkap rahasia pelabuhan perdagangan rempah-rempah yang hilang selama berabad-abad. Bersama dengan Jaka, seorang budak kerajaan yang ahli membaca naskah kuno, keduanya harus mengurai misteri di balik prasasti tersebut sebelum kekayaan dan sejarah kerajaan jatuh ke tangan yang salah. Di tengah ombak laut dan rahasia yang terpendam, apakah mereka berhasil menyelamatkan warisan leluhur?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristinawati Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33: "Perjanjian Baru dan Bayangan dari Masa Lalu"

Setelah keputusan bersama untuk membantu suku Aquarius, kru kapal Pelangi Bahari bersama Lyra segera bergerak untuk mempersiapkan perbaikan sumber energi utama. Lyra membimbing Juna, Rina, Bara, dan Toni ke ruangan terdalam piramida, di mana sebuah kristal besar seukuran mobil menghiasi pusat ruangan. Kristal itu memancarkan cahaya kebiruan yang lemah, namun terkadang muncul kilatan merah yang menunjukkan ketidakstabilan energi di dalamnya.

"Ini adalah Kristal Keseimbangan," jelas Lyra sambil mengelilingi kristal dengan hati-hati. "Ribuan tahun yang lalu, nenek moyang kita menggunakan energi darinya untuk menjaga keselarasan antara alam bawah laut dan daratan. Tapi ketika Zoran—pemimpin yang haus kekuasaan—mencoba mengambil alih seluruh energi, kristal ini mulai rusak dan hampir menghancurkan semuanya. Kami berhasil membekukannya dan menyembunyikan kristal di sini, tapi kerusakannya sudah tidak bisa diperbaiki sepenuhnya dan sekarang mulai mencapai titik kritis."

Rina, yang telah mulai mempelajari simbol-simbol di dinding ruangan, menemukan bahwa ada catatan tentang cara memperbaiki kristal—diperlukan tiga benda sakral yang tersebar di berbagai tempat di dunia: Batu Laut yang ada di dasar Laut Hindia, Permata Udara yang tersembunyi di pegunungan Himalaya, dan Bunga Api yang tumbuh di daerah gurun yang tidak dikenal di Afrika. "Tapi bagaimana kita bisa menemukan semua itu dalam waktu singkat?" tanya Toni dengan khawatir, melihat kilatan merah di kristal semakin sering muncul.

Sementara itu di atas kapal, Mira dan Lia sedang berkoordinasi dengan stasiun induk untuk memberitahu mereka tentang kebenaran yang baru saja mereka temukan. Namun tanggapan yang mereka dapatkan tidak seperti yang diharapkan—stasiun induk menyatakan bahwa mereka sudah tahu tentang keberadaan suku Aquarius dan Kristal Keseimbangan, bahkan telah mengirim tim khusus untuk mengambil alih kristal tersebut. "Kita tidak bisa membiarkan kekuatan semacam itu berada di tangan orang yang tidak dikenal," kata suara dari radio dengan nada yang tegas. "Segera mundur dari area tersebut dan serahkan semua wewenang kepada tim yang akan segera tiba."

Mira merasa sangat terkejut dan marah—mereka baru saja mengetahui bahwa semua yang mereka alami selama ekspedisi ini sudah direncanakan jauh-jauh hari. Lia kemudian menemukan bahwa beberapa anggota kru yang baru bergabung beberapa bulan yang lalu adalah mata-mata dari stasiun induk. Saat mereka sedang berusaha mencari cara untuk mengatasi situasi ini, kapal tiba-tiba diserang oleh kapal militer yang tidak dikenal dengan lambang yang sama dengan yang ada di pesan dari stasiun induk.

"Kapal Pelangi Bahari, kamu telah berada dalam wilayah yang dilarang masuk," suara dari kapal musuh terdengar melalui speaker kapal. "Serahkan semua peralatan dan orang-orang bawah laut yang kamu bawa, atau kami akan melakukan tindakan tegas."

Di dalam piramida, Juna dan temannya juga merasakan getaran dari serangan tersebut. Lyra dengan cepat membuka sebuah lorong tersembunyi dan mengatakan bahwa mereka harus segera pergi dari sini. "Zoran tidak benar-benar terbunuh pada masa lalu," ujarnya dengan suara penuh kesedihan. "Kekuatannya yang tersisa telah menyatu dengan beberapa orang di dunia atas, dan mereka sekarang mencoba menyelesaikan apa yang dia mulai. Mereka ingin menggunakan energi kristal untuk menguasai dunia."

Saat mereka sedang keluar melalui lorong tersembunyi, sosok lelaki berbadan besar muncul menghalangi jalan mereka. Wajahnya yang kasar dan tanda lahir berbentuk kilatan petir di dahinya membuat Lyra menangis lembut. "Kakak..." ucapnya dengan suara gemetar.

"Ialah Zoran yang baru, penerus kekuasaan saya yang sebenarnya," kata lelaki itu dengan senyum sinis. "Lyra, kamu telah menyalahgunakan kepercayaan nenek moyang kita dengan menyembunyikan kristal dari orang yang layak mendapatkannya. Sekarang serahkan saja kristal itu, dan saya mungkin akan memberikan kamu tempat di kerajaan baru yang akan saya bangun."

Juna dan teman-temannya segera siap untuk bertempur, namun Lyra menghentikannya. "Kita tidak bisa mengalahkannya di sini," katanya dengan tegas. "Kita harus pergi dan menemukan tiga benda sakral sebelum dia melakukannya. Hanya dengan itu kita bisa benar-benar memperbaiki kristal dan menghentikan rencananya."

Dengan bantuan Bara yang menggunakan keahliannya dalam teknik tempur bawah air, mereka berhasil melarikan diri dari lorong lain yang lebih kecil. Saat mereka muncul di permukaan air jauh dari lokasi piramida, mereka melihat kapal Pelangi Bahari sedang dalam pertempuran dengan kapal musuh. Beberapa bagian kapal sudah terbakar dan mesin mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan parah.

Mira segera membuka pintu selamat datang untuk mereka dan memerintahkan kru untuk segera meninggalkan lokasi tersebut. Namun sebelum mereka bisa berlayar pergi, kapal musuh menembakkan rudal yang langsung mengenai bagian belakang kapal Pelangi Bahari. Mesin kapal mati total dan mereka mulai terdampar di permukaan laut, dengan kapal musuh yang semakin dekat.

Di saat yang paling genting itu, sekelompok kapal kecil yang dioperasikan oleh suku Aquarius lainnya muncul dari balik gerombolan awan. Mereka menggunakan kekuatan energi khusus yang bisa mengontrol arus laut dan membuat kapal musuh sulit untuk bergerak. "Kita akan memberikan kamu waktu untuk pergi," teriak salah satu pemimpin suku tersebut melalui radio. "Cari tiga benda sakral sebelum terlambat. Masa depan kedua dunia ada di tanganmu."

Dengan cepat, kru Pelangi Bahari menggunakan mesin cadangan yang masih bisa berfungsi dan mulai berlayar menjauh dari lokasi pertempuran. Lyra berdiri di dek kapal, menatap jauh ke arah piramida yang kini sudah dikuasai oleh Zoran dan pasukannya. "Kita tidak punya banyak waktu lagi," katanya kepada semua orang. "Kita harus segera memulai perjalanan untuk mencari Batu Laut di Laut Hindia. Tapi ingat, kita tidak sendirian—ada banyak orang baik di dunia atas dan bawah laut yang siap membantu kita jika kita bisa mempercayai mereka."

Mira mengangguk dan mengambil alih kemudi kapal. "Baiklah, kru! Kita punya misi baru sekarang. Kita akan menemukan semua benda sakral dan menghentikan mereka sebelum terlambat. Siapakah yang dengan saya?"

Semua anggota kru mengangkat tangan dengan semangat yang tinggi, siap menghadapi tantangan baru yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Di kejauhan, kilatan merah muncul dari arah piramida, menunjukkan bahwa waktu mereka semakin terbatas...

Episode 34: "Perjalanan ke Laut Hindia dan Pertemuan dengan Ratu Karang"

Setelah meninggalkan lokasi pertempuran di sekitar piramida Aquarius, kapal Pelangi Bahari segera menuju arah Laut Hindia untuk mencari Batu Laut. Perjalanan tidak mudah—cuaca semakin buruk dan arus laut menjadi sangat tidak menentu, seolah-olah alam sendiri sedang mencoba menghalangi mereka. Selain itu, perangkat komunikasi kapal masih tidak bisa berfungsi dengan baik karena gangguan energi yang berasal dari arah piramida.

"Saya merasa ada sesuatu yang mengikuti kita," ujar Bara sambil melihat ke belakang kapal dari menara pengawas. "Saya tidak bisa melihatnya dengan jelas karena kabut laut yang tebal, tapi saya merasakan adanya keberadaan yang kuat."

Lyra segera mendekat dan melihat ke arah yang ditunjuk Bara. Setelah beberapa saat, dia mengangguk dengan wajah yang serius. "Itu adalah pasukan Zoran yang sedang mengejar kita. Mereka telah mendapatkan sebagian energi dari kristal dan sekarang bisa menggunakan kekuatannya untuk melacak kita ke mana pun kita pergi."

Untuk menghindari pelacakannya, Mira memutuskan untuk mengarahkan kapal ke daerah yang dikenal dengan nama Laut Karang Beracun—daerah yang penuh dengan terumbu karang tersembunyi dan arus yang sangat berbahaya, sehingga hampir tidak ada kapal yang berani masuk ke sana. "Jika kita bisa melewati daerah itu, mungkin kita bisa berhasil menyembunyikan jejak kita dari mereka," katanya sambil melihat peta laut dengan cermat.

Setelah beberapa jam berlayar melalui daerah yang penuh bahaya, kapal akhirnya mencapai pusat Laut Karang Beracun. Di situlah mereka melihat pemandangan yang luar biasa—terumbu karang yang membentuk pola seperti bintang delapan, dengan cahaya kebiruan yang memancar dari tengahnya. Lyra dengan senang hati berkata, "Ini adalah tempat tinggal Ratu Karang—salah satu pemimpin suku Aquarius yang paling tua dan kuat. Dia mungkin bisa membantu kita menemukan Batu Laut."

Sebelum mereka bisa mendekat lebih jauh, seekor ikan paus raksasa muncul dari bawah air dan menghalangi jalur kapal. Dari punggung ikan paus tersebut, muncul sosok wanita yang mengenakan mahkota dari terumbu karang dengan rambut yang terbuat dari rumput laut yang panjang. Wajahnya yang penuh kedalaman menunjukkan bahwa dia telah hidup selama berabad-abad.

"Saya adalah Ratu Marina dari suku Karang," ujarnya dengan suara yang seperti ombak yang sedang bergulir. "Saya telah menunggu kedatanganmu, Lyra, dan juga kamu, orang-orang dari dunia atas yang berani membantu kita. Saya tahu tentang rencana Zoran dan juga tentang Batu Laut yang kamu cari."

Mira dan kru kapal segera turun dari kapal untuk menyapa Ratu Marina. Mereka menjelaskan tentang situasi yang sedang terjadi dan betapa pentingnya mereka menemukan Batu Laut sesegera mungkin. Ratu Marina mengangguk dan kemudian mengatakan bahwa Batu Laut memang berada di daerah ini, tapi untuk mendapatkannya, mereka harus melewati ujian khusus yang dirancang untuk menguji kesetiaan dan keberanian mereka.

"Ujiannya ada di dalam gua bawah laut yang terletak tepat di bawah terumbu karang ini," jelas Ratu Marina. "Di dalamnya, kamu akan dihadapkan pada ketakutan terbesarmu dan juga pada kenangan dari masa lalu yang mungkin kamu coba lupakan. Hanya mereka yang bisa menerima diri mereka sendiri sepenuhnya yang bisa mendapatkan akses ke Batu Laut."

Tanpa ragu, Juna, Rina, Lyra, dan Mira memutuskan untuk menjalani ujian tersebut. Mereka memasang peralatan diving dan menyelam ke arah gua yang ditunjukkan oleh Ratu Marina. Saat mereka masuk ke dalam gua, cahaya kebiruan mulai menyala perlahan-lahan, menerangi dinding gua yang dihiasi dengan lukisan tentang sejarah suku Aquarius dan hubungan mereka dengan dunia atas.

Setelah berjalan beberapa saat di dalam gua, mereka tiba di ruangan besar yang memiliki empat pintu berbeda. Setiap pintu menunjukkan bayangan yang berbeda—bayangan dari masa lalu mereka masing-masing. Mira harus menghadapi kenangan tentang bagaimana dia kehilangan kapten lama dia dalam kecelakaan laut yang sebenarnya bukanlah kecelakaan biasa. Juna dihadapkan pada masa lalunya sebagai anak yang harus tinggal sendiri setelah orang tuanya hilang dalam ekspedisi laut. Rina harus menghadapi rasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan temannya saat mereka sedang melakukan penelitian di dasar laut. Dan Lyra dihadapkan pada kenangan tentang bagaimana dia harus berperang melawan kakaknya sendiri untuk menyelamatkan sukunya.

Setelah masing-masing berhasil melewati ujian mereka dengan menerima masa lalu dan menemukan kekuatan baru dalam diri mereka, keempat pintu tersebut terbuka dan berkumpul menjadi satu ruangan di mana Batu Laut berada. Batu itu berukuran seperti bola bisbol, dengan warna biru yang sangat dalam dan memancarkan energi yang damai namun kuat. Saat Mira menyentuhnya, informasi tentang lokasi kedua benda sakral—Permata Udara di Himalaya—muncul di benaknya dengan jelas.

"Sekarang kamu telah mendapatkan Batu Laut, kamu harus segera pergi ke Himalaya," kata Ratu Marina yang tiba-tiba muncul di dalam gua tanpa menggunakan alat bantu apapun. "Zoran sudah mengetahui bahwa kamu berada di sini dan akan segera datang ke daerah ini. Kami akan mencoba menghalanginya sebisa mungkin, tapi kamu harus bergerak cepat."

Setelah mengucapkan terima kasih kepada Ratu Marina, mereka segera kembali ke kapal dan mulai berlayar menjauh dari Laut Karang Beracun. Namun sebelum mereka bisa menjauh terlalu jauh, kapal Zoran muncul dari balik kabut laut dengan kecepatan yang sangat tinggi. "Kamu tidak bisa melarikan diri lagi!" teriak suara Zoran melalui speaker kapal. "Serahkan Batu Laut sekarang juga, atau saya akan menghancurkan kapal kamu dan semua orang di dalamnya!"

Saat itu juga, arus laut mulai menjadi sangat ganas dan badai besar muncul tiba-tiba. Kapal Pelangi Bahari terombang-ambing hebat dan hampir hanyut ke arah terumbu karang. Namun dengan bantuan energi dari Batu Laut yang mulai beraksi, Lyra berhasil mengontrol arus laut sebentar dan memberikan kesempatan bagi kapal untuk melarikan diri ke arah laut lepas.

"Kita harus segera menuju Himalaya," kata Mira dengan napas tersengal-sengal setelah berhasil keluar dari daerah bahaya. "Kita tidak punya waktu lagi untuk bermain-main. Semua yang kita cintai ada di taruhan sekarang."

Kru kapal mengangguk dan mulai mempersiapkan kapal untuk perjalanan panjang menuju daratan, dengan harapan bahwa mereka bisa sampai di Himalaya sebelum Zoran menemukan mereka dan mengambil alih Batu Laut yang baru saja mereka dapatkan...

Episode 35: "Gunung Es dan Rahasia Permata Udara"

Setelah beberapa hari perjalanan dari Laut Hindia, kru kapal Pelangi Bahari akhirnya mencapai pelabuhan terdekat dengan Himalaya. Mereka harus meninggalkan kapal dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil jeep yang mereka sewakan dari penduduk lokal. Perjalanan darat tidak kalah sulitnya—jalan yang bergelombang dan udara yang semakin tipis membuat beberapa anggota kru merasa tidak nyaman.

Saat mereka semakin dekat dengan kaki gunung, mereka bertemu dengan sekelompok pendaki yang sedang bersiap untuk mendaki gunung tertinggi di daerah tersebut. Salah satu dari mereka, seorang lelaki tua dengan wajah penuh kedalaman bernama Guru Adi, mendekat dan bertanya tentang tujuan mereka datang ke daerah ini. Mira dan temannya memutuskan untuk memberitahu dia tentang kebenaran karena merasa bahwa lelaki tua tersebut bisa dipercaya.

Setelah mendengar cerita mereka, Guru Adi mengangguk dengan wajah yang serius. "Saya sudah tahu tentang keberadaan Permata Udara selama bertahun-tahun," katanya. "Suku lokal di sini menyebutnya sebagai 'Harta Karun Langit' dan percaya bahwa hanya mereka yang memiliki hati yang bersih dan tujuan yang benar yang bisa menemukannya. Saya bisa membantu kamu mendaki gunung dan menemukan jalur yang aman, tapi kamu harus siap menghadapi ujian yang jauh lebih sulit daripada yang kamu alami sebelumnya."

Tanpa ragu, kru Pelangi Bahari menerima bantuan dari Guru Adi. Mereka mulai mendaki gunung pada pagi hari berikutnya, membawa perlengkapan yang cukup untuk beberapa hari di atas gunung es. Cuaca di atas gunung sangat ekstrem—angin yang sangat kencang dan suhu yang sangat rendah membuat perjalanan menjadi sangat menyakitkan. Selain itu, mereka merasa bahwa ada sesuatu yang mengikuti mereka dari balik awan es yang tebal.

"Zoran sudah sampai di daerah ini," bisik Lyra sambil melihat ke belakang dengan wajah yang khawatir. "Saya bisa merasakan keberadaannya—energinya yang gelap sedang menguasai sebagian area di atas gunung ini."

Setelah beberapa hari mendaki, mereka akhirnya mencapai sebuah lembah tertutup es yang sangat indah. Di tengah lembah tersebut, ada sebuah gua es yang memancarkan cahaya keemasan yang lembut. Guru Adi menunjukkan ke arah gua tersebut dan berkata, "Permata Udara ada di dalam gua itu. Tapi sebelum kamu masuk, kamu harus tahu bahwa gua itu akan menguji kesatuan kamu sebagai sebuah tim. Tanpa kerja sama yang kuat, kamu tidak akan bisa mendapatkan permata tersebut."

Sebelum mereka bisa memasuki gua, sosok Zoran beserta beberapa pengikutnya muncul menghalangi jalan mereka. "Sekarang kamu tidak punya tempat untuk berlari lagi," kata Zoran dengan senyum sinis. "Serahkan Batu Laut dan biarkan saya mengambil Permata Udara. Jika kamu melakukannya, saya akan membiarkan kamu pergi dengan selamat."

"Tidak mungkin!" teriak Juna sambil mengambil sikap bertempur. "Kita tidak akan menyerahkan apa-apa padamu. Kamu hanya akan menggunakan kekuatan tersebut untuk menyakiti orang banyak!"

Pertempuran segera terjadi di atas gunung es yang licin. Meskipun kru Pelangi Bahari bekerja sama dengan baik, mereka masih kalah dalam jumlah dan kekuatan dengan pasukan Zoran. Saat Zoran hendak menyerang Mira yang sedang terluka, Lyra menggunakan energi dari Batu Laut untuk membentuk perisai pelindung dan memberikan kesempatan bagi mereka untuk melarikan diri ke dalam gua es.

Setelah masuk ke dalam gua, pintu gua secara otomatis tertutup oleh tembok es yang baru terbentuk, menghalangi akses Zoran dan pasukannya. Di dalam gua, mereka menemukan bahwa dinding-dindingnya dihiasi dengan gambar tentang bagaimana dunia atas dan bawah laut pernah hidup berdampingan dengan damai. Di tengah gua, ada sebuah panggung es yang tinggi dengan sebuah batu permata besar yang mengambang di atasnya—itu adalah Permata Udara yang mereka cari.

1
Anna
Thor maaf sekali, tapi ini cerita kamu sebener ee mau novel apa cerpen kok tiap bab beda. bukan beda alur tapi beda isi cerita. padahal tema judul kamu bagus lho. 🙏🙏
Anna
kok agak bingung ya, kan di bab 2 mira sudah kabur sama jaka, kenapa di bab 3 baru ketemu? tapi di awal ada mereka ketemu, eh ketemu atau belum ketemu 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!