Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Warisan Darah dan Sumpah Setia
Mobil mewah itu berhenti dengan mulus di depan lobi mansion, namun Valerie masih terpaku menatap kertas wasiat di tangannya. Kenyataan pahit menghantamnya bertubi-tubi, Edward Vaughn, pria yang selama ini ia panggil "Ayah", ternyata bukan hanya seorang pengkhianat, melainkan seorang pembunuh yang tega menghabisi nyawa ibunya demi menutupi hubungan gelap dengan ibu Serena.
"Jadi... selama ini aku hidup di bawah atap yang sama dengan pembunuh ibuku?" suara Valerie tercekat, bergetar karena ngeri. "Dan Serena... dia tahu? Dia tahu ibunya adalah perusak rumah tangga ibuku dan dia membiarkannya?"
Jerome keluar dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Valerie dengan sigap. Ia membantu istrinya berdiri karena kaki Valerie terasa lemas, seolah tulang-tulangnya baru saja kehilangan kekuatan.
"Mereka semua tahu, Val. Mereka hanya menunggumu hancur agar bisa menelan seluruh sisa warisan Sofia Vaughn tanpa gangguan," ucap Jerome dingin.
Mereka berjalan masuk ke dalam ruang kerja pribadi Jerome. Begitu pintu tertutup, Jerome segera mengunci pintu dari dalam, menciptakan ruang isolasi yang aman. Ia menuangkan segelas air dan memberikannya kepada Valerie.
"Minumlah. Kau perlu tenang agar ikatan ini tidak terus menyiksaku," ucap Jerome sembari sedikit meringis. Tangannya masih memijat ulu hatinya yang terasa nyeri tajam akibat guncangan emosi hebat yang dialami Valerie.
Valerie meminum air itu dengan tangan yang masih gemetar. "Jerome, tentang Arthur Blackwood... pria yang disebut Ibu sebagai ayah kandungku. Kau bilang dia musuh bebuyutan keluarga Renfred. Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu?"
Jerome duduk di hadapan Valerie, menatap mata istrinya dengan intensitas yang tidak tergoyahkan.
"Puluhan tahun lalu, kakekku dan Arthur Blackwood bersaing memperebutkan pelabuhan utama di kota ini. Arthur kalah dan difitnah secara keji hingga keluarganya diasingkan ke luar negeri. Edward Vaughn memanfaatkan situasi kacau itu untuk mendekati Sofia yang saat itu sedang mengandung anak Arthur—yaitu kau, Valerie."
Jerome menjeda kalimatnya, matanya tertuju pada kalung safir yang kini tergeletak di atas meja kerja kayu mahoninya.
"Edward menawarkan 'perlindungan' dengan menikahi Sofia agar nama baik keluarga Vaughn tetap terjaga. Namun, imbalannya adalah seluruh kendali aset perusahaan Sofia. Tapi ibumu tidak bodoh, Val. Dia menyimpan semua bukti kejahatan Edward di dalam micro-chip pada kalung ini."
Valerie menatap Jerome dengan mata yang mulai memerah. "Lalu kenapa kau tetap memilih menikahiku, Jerome? Jika kakekmu tahu aku adalah darah daging Arthur Blackwood, dia tidak akan segan-segan menghancurkanku... atau menghancurkan posisimu karena telah memilih putri musuhnya."
Jerome berdiri, melangkah mendekat dan mencengkeram kedua bahu Valerie dengan mantap.
"Kau pikir aku peduli pada dendam kuno orang-orang yang sudah mati atau hampir mati? Aku sudah mengamatimu selama sepuluh tahun, Valerie. Aku melihatmu tumbuh, aku melihatmu menangis, dan aku melihatmu dikhianati oleh keponakanku sendiri."
Jerome mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan, membiarkan Valerie merasakan hembusan napasnya yang hangat. "Aku tidak mencintai nama belakangmu. Aku mencintai wanita yang berani membatalkan pertunangannya di depan altar dan melempar cincin ke wajah pria brengsek. Jika kakekku ingin menghancurkanmu, maka dia harus melangkahi mayatku terlebih dahulu."
Rasa hangat menjalar di dada Valerie mendengar pengakuan yang begitu berani. Jerome benar-benar mempertaruhkan segalanya—posisinya di keluarga Renfred, hartanya, bahkan nyawanya demi melindungi dirinya.
"Lalu, apa rencana kita besok?" tanya Valerie, mencoba menguatkan hatinya. "Aiden dan Serena pasti tidak akan diam setelah dipermalukan di lelang tadi."
Jerome menyeringai gelap, tipe seringai predator yang membuat bulu kuduk Valerie berdiri namun sekaligus memberinya rasa aman yang mutlak.
"Besok, kita akan mengundang Edward, Aiden, dan Serena ke sebuah pertemuan 'keluarga' di kantor pusat Vaughn Group. Kita akan memutar rekaman dari micro-chip ini di depan dewan komisaris," Jerome menjelaskan dengan nada tenang yang mematikan.
"Tapi Jerome..." Valerie menyentuh lengan suaminya. "Serena sangat licik. Dia selalu punya cara untuk memutarbalikkan fakta dan mencari simpati."
Jerome menarik Valerie ke dalam pelukannya, mendekapnya sangat erat seolah ingin menyatukan raga mereka. "Biarkan dia mencoba. Dia belum tahu bahwa aku sudah memegang bukti transfer ilegal dari rekening pribadinya ke akun luar negeri Aiden. Mereka bukan hanya akan kehilangan harta, Val. Mereka akan kehilangan kebebasan mereka selamanya."
Tiba-tiba, Jerome mengerang pelan di bahu Valerie. Napasnya terasa lebih panas dan berat di leher istrinya.
"Jerome? Kau kenapa?" Valerie bertanya dengan nada cemas.
"Hati-hati, Sayang..." bisik Jerome serak. "Kemarahanmu... hasratmu untuk balas dendam... aku merasakannya seperti api yang membakar di dalam dadaku. Ini sangat menyakitkan, tapi juga... membuatku ingin memilikimu lebih liar lagi."
Valerie tertegun, menatap mata Jerome yang kini menggelap oleh perpaduan gairah dan rasa sakit yang sinkron. Ikatan ini ternyata tidak hanya menyatukan luka fisik, melainkan juga menyatukan nafsu dan emosi terdalam mereka.
"Kalau begitu, jangan ditahan," bisik Valerie dengan keberanian yang baru muncul. "Gunakan rasa sakit itu untuk menghancurkan mereka bersamaku."
Jerome tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung menyambar bibir Valerie dengan ciuman yang menuntut, membawa mereka ke dalam pusaran obsesi yang semakin tak terkendali di tengah malam yang dingin, mempersiapkan diri untuk perang besar di esok hari.
...****************...