Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manuskrip yang Berbisik
Keheningan Perpustakaan Crimson Crest terasa begitu menyesakkan, seolah ribuan buku yang berjajar di rak-rak kayu ek raksasa itu sedang mengawasi setiap gerak-gerik Lucien. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kaca patri tinggi hanya menyisakan berkas-berkas redup, menyoroti debu-debu sihir yang menari di udara. Di sudut terdalam yang hanya bisa diakses dengan kunci perak dari Master Alaric, Lucien duduk sendirian di sebuah meja batu yang dingin.
Di hadapannya, delapan buku sihir pedang kuno tertata rapi. Tujuh di antaranya membahas tentang teknik pernapasan, sinkronisasi mana dengan bilah pedang, serta manipulasi elemen tingkat tinggi. Lucien membacanya dengan cepat, menyerap setiap ilmu yang diberikan sebagai bentuk penebusan dosanya atas Simbol Daun Hijau yang masih bertengger di bahunya.
Namun, buku kedelapan memiliki sampul yang berbeda. Buku itu tidak memiliki judul di bagian depan, hanya sebuah sampul kulit hitam yang terasa kasar dan dingin, seolah-olah kulit itu diambil dari makhluk yang masih hidup saat dikuliti.
Dengan tangan gemetar, Lucien membuka halaman pertama. Bukannya teknik pedang, ia justru menemukan catatan tulisan tangan yang berantakan. Tinta hitamnya tampak seperti bekas darah yang mengering. Judul di halaman dalam membuat jantungnya seolah berhenti berdetak: “Anatomi Kegelapan: Evolusi Inang Terkutuk.”
Ini adalah buku tentang Kutukan Iblis.
Lucien menelan ludah, matanya menyisir baris demi baris kalimat yang tertulis di sana. Buku itu tidak menjelaskan seperti apa bentuk simbolnya—apakah itu petir, bulan, atau api—karena sang penulis menyatakan bahwa simbol adalah manifestasi jiwa sang inang yang paling dalam. Namun yang membuat Lucien terbelalak hingga buku itu nyaris jatuh dari tangannya adalah penjelasan mengenai Empat Tahap Transformasi.
Kelangkaan seseorang yang mendapatkan kutukan ini bukanlah sebuah anugerah, melainkan proses “pemasakan” jiwa untuk menjadi wadah bagi entitas dari dimensi bawah.
Tahap Pertama: Reaksi Penolakan dan Rasa Sakit.
Lucien membaca tahap pertama dengan perasaan familiar yang pahit.
“Pada awalnya, kegelapan akan mencoba mengambil kendali tubuh secara paksa. Sang inang akan merasakan rasa sakit yang tak terbayangkan—seolah-olah sumsum tulang mereka digantikan oleh timah panas. Ini adalah bayaran bagi manusia fana yang mencoba meminjam kekuatan dari kegelapan abadi.”
Lucien teringat saat pertama kali ia, Vivienne, dan Daefiel keluar dari Hutan Abyss. Rasa sakit itu begitu nyata, membuat mereka nyaris gila. Ia menyadari bahwa tahap ini adalah fase di mana tubuh mereka sedang dipaksa untuk beradaptasi dengan energi yang seharusnya tidak dimiliki manusia. Jika mereka gagal di tahap ini, mereka akan mati sebagai tumpukan daging yang hangus.
Tahap Kedua: Perubahan Okular dan Resonansi Emosi.
Halaman berikutnya menampilkan sketsa mata manusia yang pupilnya pecah membentuk pola yang aneh.
“Ketika sang inang merasakan emosi yang meluap—terutama kemarahan yang murni—kekuatan kutukan akan merambat ke saraf optik. Mata mereka akan berubah warna menjadi sama dengan simbol yang mereka miliki.”
Lucien teringat kejadian di Hutan Abyss tempo hari. Saat Vivienne dan Daefiel sudah tidak berdaya, dikeroyok oleh sekumpulan monster tanpa akhir, Lucien merasakan kemarahan yang membakar logikanya. Saat itu penglihatannya berubah menjadi biru gelap yang tajam.
Buku itu menjelaskan bahwa perubahan ini bisa bersifat sementara jika sang pemilik memiliki kontrol diri yang kuat, namun bisa menjadi permanen jika mereka membiarkan kemarahan itu menetap. Namun ada satu peringatan kelam:
“Sekali kau melihat dunia melalui mata iblis, kau tidak akan pernah bisa benar-benar melihatnya kembali sebagai manusia biasa.”
Meskipun warna mata bisa kembali normal, “jejak” kutukan itu tetap ada di sana.
Tahap Tercela: Manifestasi Fisik (Tanduk dan Sayap).
Lucien membalik halaman dengan tangan yang semakin dingin. Sketsa di halaman ini jauh lebih mengerikan: sesosok manusia dengan tanduk hitam yang mencuat dari dahi dan sayap besar dengan bulu-bulu hitam yang kaku seperti pedang.
“Kegelapan yang tumbuh di dalam jiwa akan mulai menampakkan dirinya di dunia fisik. Tanduk adalah mahkota bagi mereka yang memimpin kegelapan, dan sayap adalah sarana bagi mereka yang jatuh dari cahaya. Di tahap ini, inang diharuskan memiliki kendali mutlak. Jika kehilangan fokus, perubahan ini akan meledak secara spontan dan mengerikan.”
Bagian yang paling menakutkan adalah catatan kaki di bawahnya:
“Tanduk dan sayap tidak akan pernah menghilang secara permanen. Mereka hanya bersembunyi di balik kulit, menunggu perintah atau ledakan emosi untuk muncul kembali.”
Lucien membayangkan dirinya sendiri, atau Vivienne yang anggun, tiba-tiba menumbuhkan sayap hitam di tengah aula akademi. Rahasia mereka tidak akan pernah bisa disembunyikan jika mereka mencapai tahap ini tanpa kontrol yang sempurna.
Tahap Terakhir: Keabadian yang Kosong.
Lucien sampai pada halaman terakhir. Tulisan di sini sangat tipis, seolah-olah sang penulis menulisnya sambil ketakutan.
“Konon katanya, ini adalah misteri terbesar. Seseorang yang memiliki simbol kutukan iblis tidak akan pernah menua. Mereka akan hidup abadi seiring dengan kegelapan yang mengalir di pembuluh darah mereka. Mereka bukan lagi manusia, melainkan iblis yang berjalan di atas bumi.”
Namun, keabadian ini memiliki harga: mereka tidak bisa mati secara alami. Mereka hanya bisa mati jika terbunuh dalam pertempuran.
Kalimat terakhir membuat Lucien merasa mual.
“Dan ketika mereka mati, tidak akan ada jasad yang ditinggalkan. Tubuh mereka akan memudar perlahan menjadi debu dan abu, sama seperti monster yang mereka lawan di Hutan Abyss. Mereka menghilang tanpa jejak, seolah-olah keberadaan mereka hanyalah mimpi buruk yang terlupakan.”
Lucien menutup buku itu dengan bantingan keras yang bergema di seluruh perpustakaan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Jadi, inilah masa depan yang menanti mereka? Menjadi makhluk abadi yang akhirnya akan lenyap menjadi debu?
Ia memikirkan Vivienne yang selalu peduli pada penampilannya, dan Daefiel yang selalu bersemangat tentang masa depannya sebagai penyihir hebat. Apakah mereka tahu bahwa di dalam tubuh mereka sedang tumbuh sesuatu yang akan menghapus kemanusiaan mereka?
Rasa sakit di bahunya, pada Simbol Daun Hijau, tiba-tiba terasa begitu sepele dibandingkan dengan informasi yang baru saja ia baca. Simbol daun itu hanya membelenggunya untuk sementara, tapi kutukan di punggungnya—Petir Biru itu—sedang mempersiapkan dirinya untuk menjadi sesuatu yang bukan manusia.
“Tahap keempat…” bisik Lucien, suaranya gemetar. “Hidup abadi… lalu mati menjadi debu.”
Ia menyadari bahwa ia tidak bisa membiarkan Vivienne dan Daefiel melangkah buta menuju jurang ini. Mereka harus berlatih lebih keras, bukan hanya untuk menggunakan kekuatan itu, tetapi juga untuk memastikan mereka tetap memiliki kendali agar tidak segera mencapai tahap ketiga atau keempat.
Di dalam keheningan perpustakaan itu, Lucien Vlad membuat sumpah baru. Jika ia memang ditakdirkan menjadi iblis, maka ia akan menjadi iblis yang memiliki kendali penuh atas takdirnya sendiri, bukan sekadar monster yang akan berakhir menjadi abu di bawah kaki orang lain.
Lucien mengambil kembali tujuh buku sihir pedang lainnya. Ia mulai membaca dengan intensitas yang sepuluh kali lipat lebih besar. Jika sihir pedang adalah satu-satunya cara untuk memperkuat kemauannya dan menunda transformasi mengerikan itu, maka ia akan menguasai setiap tekniknya hingga ke akar-akarnya.
Sore pun tiba. Saat cahaya matahari mulai menghilang, simbol daun hijau di bahunya meredup secara signifikan, seolah-olah pengetahuan yang ia serap benar-benar telah meluluhkan hukuman dewan.
Namun di balik jubahnya, simbol petir biru itu berdenyut lebih kuat dari sebelumnya—seolah-olah ia merasa senang karena sang inang kini telah mengetahui jati dirinya yang sebenarnya.