Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Alana melangkah keluar dari kantin dengan terburu-buru, mengabaikan sapaan ramah beberapa pekerja yang berpapasan dengannya. Ia tidak peduli jika mereka menganggapnya tidak sopan; saat ini, yang ia butuhkan hanyalah menghilang. Ia harus menjauh dari tawa gadis kecil itu, dari aroma pisang goreng yang hangat, dan dari segala hal yang mengingatkannya pada kekosongan di hatinya.
Ia memacu langkahnya menuju jalan setapak yang jarang dilalui manusia, menjauh dari pusat proyek resort. Kakinya yang hanya terbalut sepatu flat harus berjuang melewati akar-akar pohon kering dan batu kapur yang tajam, namun rasa sakit di kakinya sama sekali tidak sebanding dengan gemuruh di dadanya.
Akhirnya, Alana sampai di sebuah sudut tebing yang tersembunyi di balik semak-semak tinggi. Di sana, tidak ada suara manusia. Hanya ada suara deburan ombak yang menghantam karang ratusan meter di bawah sana, dan suara angin yang bersiul tajam di telinganya.
Alana menjatuhkan dirinya di atas rerumputan kering. Ia memeluk lututnya erat-erat, menyembunyikan wajahnya di sana. Di tempat sepi ini, ia tidak perlu lagi membekap mulutnya seperti saat ia berada di dalam lemari kayu dulu.
Pertahanannya runtuh. Isak tangis yang selama belasan tahun ia simpan rapat-rapat kini tumpah tanpa sisa. Tubuhnya berguncang hebat. Ia menangisi gadis kecil yang harus tumbuh terlalu cepat, menangisi ibunya yang tidak pernah memberikan pelukan yang ia dambakan, dan menangisi dirinya yang sekarang—yang meskipun sudah memiliki jabatan dan uang, tetap merasa kecil dan tak berdaya di hadapan kenangan masa lalu.
"Kenapa aku tidak bisa lupa?" ratapnya pelan di sela tangisnya. "Kenapa aku masih menjadi gadis kecil di dalam lemari itu?"
Angin laut yang kencang menyapu butiran air matanya, seolah mencoba membantu menyeka kesedihan itu, namun luka Alana terlalu dalam untuk sekadar disembuhkan oleh alam.
Ponsel Alana yang ia letakkan di sampingnya terus bergetar. Layarnya menyala berkali-kali, menampilkan nama Pradipta. Namun, Alana tidak sanggup mengangkatnya. Ia takut suaranya yang serak akan membuat Pradipta melihat betapa hancurnya ia saat ini.
Ia tidak tahu bahwa di Jakarta, Pradipta sudah berada di dalam jet pribadi yang ia sewa secara mendadak agar bisa sampai lebih cepat. Pria itu menatap layar tabletnya, memantau koordinat GPS dari ponsel Alana yang tersambung dengan sistem keamanan perusahaan.
Pradipta mengernyit saat melihat titik biru posisi Alana bergerak menjauh dari lokasi proyek menuju tepian tebing yang curam.
"Dia sendirian di sana," gumam Pradipta dengan suara rendah yang penuh kekhawatiran. Guratan cemas terlihat jelas di dahinya. "Apa yang sedang kau pikirkan, Alana?"
Di Bawah Langit Uluwatu
Matahari mulai turun, mengubah warna langit menjadi jingga kemerahan yang dramatis. Alana mendongak, matanya sembab dan wajahnya pucat. Ia teringat doanya dulu di dalam lemari: "Tolong bawa aku pergi ke tempat di mana langitnya tidak pernah mendung."
Di sini, di Uluwatu, langit memang tidak mendung. Langitnya sangat indah dan cerah. Namun, Alana baru menyadari bahwa mendung itu ternyata tidak berada di langit, melainkan di dalam jiwanya sendiri.
Ia memejamkan mata, membiarkan angin laut menerpa wajahnya. Di tengah kesunyian itu, ia tidak menyadari bahwa di kejauhan, sebuah mobil hitam melaju kencang menuju arahnya, membawa seseorang yang bertekad untuk menjadi payung bagi mendungnya.