Mereka pikir, bercerai adalah pilihan terbaik untuk mengakhiri pernikahan yang terasa jauh dan hambar tanpa rasa. Namun siapa menyangka, Jika setelah pahit perceraian justru terbitlah madunya pernikahan... rasa rindu yang berkepanjangan, kehilangan, rasa saling membutuhkan, dan manisnya cinta?
Sweet after divorce...manis setelah berpisah.
"Setelah berpisah, kamu jadi terlihat menawan dimataku."
"Setelah berpisah, kamu jadi manis terhadapku."
"Mau rujuk?"
.
.
.
Cover by Pinterest and Canva
Dear pembaca, bijaklah memilih bacaan. Jika hanya ingin mampir dan tidak berniat membaca sampai akhir, maka jangan berani membuka ya 🤗 kecuali kalau sudah tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Kerja sama
Berkali-kali Anye meneguk air minumnya, bukan jus tapi air putih mineral, bahkan dirinya sampai bersendawa. Kaki-kaki beralaskan higheels 7 cm itu beberapa kali mengetuk lantai cafe, membuat detakan seirama.
Lagi, dan lagi....ia membuang nafas sembari menatap pantulan wajahnya dari kamera ponsel. Gesturnya jelas menunjukan gelisah.
Lalu lalang pramusaji membuatnya semakin resah, "ibu baik kan, Bu? Yakin mau ketemu atau mau dibata---" Desti menggigit kembali kata-kata yang sudah ia susun di lidahnya kala melihat sorot mata tajam Anye.
"---lin aja ketemu kliennya...maaf saya yang salah, Bu." lanjut Desti hanya saja dengan nada bergumam.
Memang salahnya, tidak bertanya dulu pada Desti siapa klien kelas kakap itu. Namun... Anye memilih kembali meneguk air minum sampai dirasa kembung dan ingin kencing. Desti menunduk demi melihat gugup dan panik yang begitu kentara dari atasannya itu.
"Ngga mungkin dibatalin juga, sih. Wong kita sudah deal buat ketemu, ngga profesional itu namanya Des. Ngga usah khawatir----saya, oke. Jilo corp. Perusahaan besar, dimana saya kenal sama pemiliknya..." tatap Anye meyakinkan Desti dengan menjabarkan itu, mengingatkan Desti jika ia mengenal siapapun di Jilo corp lebih baik dari siapapun di agensi.
Sebenarnya, Anye tak perlu menjelaskan itu sebab Desti sangat hafal sekali bahwa Anye adalah mantan menantu sang pemilik.
Ada tumpukan tangan di paha yang saling meerremas, dengan gestur badan tegap Anye, lantas ia kembali menatap Desti, "siapa saja yang menanam sahamnya, saya kenal..." jelasnya, masih mencoba mencari pengalihan.
"Presdirnya...orang baik kok." Ngga gigit. Lagi, Anyelir bicara sebagai penghiburan untuk dirinya sendiri, oke...kamu oke Anye...cuma ketemu bang Ganesha doang! Ngga usah baper! Ngga usah gugup, toh semuanya sudah selesai, dia lelaki kaku, dia lelaki dingin, dia ngga spesial sama sekali. Kamu bahkan tau dan tak tahan dengannya barang setahun saja.
"Iya Bu, saya tau...ibu mau bilang juga kenal sama CEO nya kan, Bu?" tembak Desti menebak, namun alis Anye justru mengernyit keriting kemudian ia berdehem membuang muka, "saya ngga mau bilang gitu, Des."
"Oh, engga ya Bu? Maaf." Desti menunduk kini ia yang menyedot jus miliknya rakus-rakus.
Ada hening yang terjadi disini, membuat suasana canggung kian terasa.
"Lama ya, Bu." Desti sudah mengeluh dan mengedarkan pandangannya ke segala arah demi mencari clue kedatangan klien mereka itu.
Entah karena kebanyakan minum atau memang sudah waktunya saja...Anye bangkit dan ijin sebentar pada Desti untuk pergi ke kamar mandi, "saya kebelet."
Ia meraup udara di toilet rakus-rakus. Jujur saja Anye--- ia nervous. Setelah beberapa bulan tak bertemu, apakah Ganesha masih sama? Apa hancur tanpa dirinya? Atau justru ia baik-baik saja, semakin membaik...malah.
Anye mencebik dengan bibir tersungging julid, menatap pantulan di depan cermin wastafel, diantara beberapa pengunjung cafe lainnya yang juga ada disana.
Ia terlalu menyedihkan, seharusnya tak boleh begini. Ia yang setuju dengan Ganesha untuk bercerai di usia pernikahan yang baru menginjak setahun itu, bahkan ia yang meminta cepat-cepat, demi kualitas hidup lebih baik dan tidak berusaha untuk mengurai benang kusutnya. Lebih percaya jika jalan perpisahan adalah jalan terbaik.
Lelaki itu, memang tak patut dicintai oleh siapapun wanita. Lelaki itu berbohong, memiliki orang lain! Lelaki itu kejam, lelaki itu tak punya hati, lelaki itu....
"Breng sek." umpatnya menatap air wajahnya yang berubah di depan cermin sana, wajah cantiknya mendadak jadi judes, padahal sebelumnya ia sudah memasang tampang manis, ramah bersahaja demi menemui klien besar.
Ia bergegas masuk ke dalam toilet untuk pipis.
/
Ganesha turun dari mobil bersama Yahya yang setia memegang iPad.
Air wajahnya itu memang tak dapat ditebak kemana riaknya. Ayunan langkah Yahya masuk hampir menyamai langkah Ganesha namun lebih depan sedikit demi membuka jalan sang atasan.
Seorang gadis yang tengah berulang kali men-scroll iPad miliknya di atas meja itu terlihat beberapa kali menyedot jus sembari----
Ia tersenyum ketika melihat kedatangan Ganesha dan Yahya, "bang Yahya!" Desti melambai yang ternotice Yahya.
"Silahkan, pak." Pinta Yahya menghampiri Desti.
"Udah lama Des?" tanya Yahya menggeser kursi mencoba berbasa-basi demi mencairkan suasana. Namun Ganesha, ia justru...
"Kamu ketemu saya sendiri, Des? Anye?" tanya nya to the point, ia duduk dan Yahya langsung meminta pramusaji untuk meminta menu.
Tap...tap...
"Selamat pagi, mas Yahya...pak Ganesha." Ketiganya refleks menoleh ke arah kedatangan Anyelir dengan wajah lebih segar dan santai. Rambutnya tergerai panjang nan lebat, tidak hitam sepenuhnya, sebab Anye sengaja memberikan sentuhan warna cinnamon di bagian terluar rambutnya.
Kini ia memiliki poni jarang yang membingkai wajah cantiknya semakin manis, sementara rambut panjang yang memiliki belahan tengah itu ia bawa ke belakang telinganya sehingga rapi.
Ia menarik ujung blazer yang melapisi blouse putih dan celana jeans cutbray berwarna highwaist, menegaskan kesan kharisma independent women yang dimilikinya saat ini.
Yahya tersenyum tipis, sementara Ganesha...ia dengan ekspresi seadanya itu mengangguk. Namun, matanya tak bisa bohong, jika Ganesha memperhatikan Anyelir sejak tadi.
Wanita ini----
"Pesanan meja 5, latte dan espresso. Caramel cake dan sandwich tuna." Pandangan khusyuk Ganesha sempat terganggu oleh suara pelayan.
Ada senyuman tipis yang terlihat oleh Ganesha dari Anye sekilas, saat kata sandwich tuna disebutkan, mungkin seperti----*masih suka makanan yang sama*.
"Mau makan dulu atau kita langsung mulai saja, pak, mas?" tanya Anye sudah siap dengan iPad yang diserahkan oleh Desti.
"Saya makan sambil mendengarkan." Ucap Ganesha menatap Anye tak percaya, wajah riangnya itu----bisa-bisanya wanita itu tak terlihat terbebani, justru terlihat seperti biasa saja, senang hati.
"Oke baiklah, jadi..." Anye memulai menawarkan jasanya tanpa beban, tanpa cela, dan tampak profesional, padahal sejak tadi Ganesha menatapnya lekat, seolah sorot mata itu tak membuatnya goyah.
Bahkan, ketimbang Anye...Desti sepertinya lebih merasa gugup, bukan karena takut project ini gagal melainkan takut jika rapat ini berujung perdebatan sepasang mantan suami--istri ini dan adu pisau.
Memang ada adu argumen dari keduanya. Namun, kekhawatiran Desti hingga di penghujung obrolan tak terbukti, sebab hanya argumen selayaknya calon klien dan penyedia jasa saja secara profesional yang terjadi diantara mereka.
"Apa bu Anye sendiri yang akan menjadi agen marketing nya langsung untuk proyek Jilo corp ini? Karena saya mau, Bu Anye sendiri yang memasarkannya, in frame..." pinta Ganesha yang kemudian diangguki Anye sesaat setelah saling beradu tatap dengan Desti, "baik, saya usahakan, saya yang handle sendiri dan in frame untuk Jilo corp."
Anye meraih gelas air putihnya, meneguknya sejenak, "kepuasan dan kepercayaan klien menjadi modal utama kami." Pungkas Anye mantap menutup obrolan dengan motto agensinya.
"Oh ya?" ucapan tak percaya Ganesha membuat Anye hampir tersedak air minumnya.
Anye mengangguk ragu, ia tak tau arah bicara lelaki yang tak bisa ia tebak jalan hidup dan pola pikirnya itu.
"Bagaimana jika nanti kami tidak puas, target tidak tercapai sesuai keinginan, apakah kami harus mencari yang baru atau pihak Agensi periklanan Imaginary agency akan berjuang keras sampai target tercapai?"
Anye membuat air mukanya setenang air di dalam gelasnya, "kami profesional, pak Ganesha. Sebisa mungkin kami akan mencapai target yang Jilo corp tentukan, memasarkan setiap unitnya dengan penuh *kejujuran* pada konsumen agar tidak ada yang merasa dirugikan, itu sudah menjadi ketentuan dari kami."
Ganesha terlihat menaikan kedua alisnya dengan bibir yang melengkung tipis, lalu meraih cangkir dan menyesap espresso miliknya.
"Jadi menurut kamu saya tidak jujur?" tanya Ganesha lagi menaruh cangkir espressonya santai.
"Ya?" Anye membeo.
.
.
.
pera klien nya emang yg tertarik dg gaya marketing imaginary... bukan nya mengubah strategi malah njegal perusahaan lain
sehat2 trus yaa Teh