NovelToon NovelToon
Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."

Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.

"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."

Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.

---

Suara Nurani Halimah

Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.

"Suamiku... kau membunuh ayahku?"

Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:

"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"

Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.

"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: HATI ANAK, MALU SEORANG PUTRI

Halimah terjaga sepanjang malam.

Bukan karena takut pada rakyat—

melainkan takut pada kebenaran tentang ayahnya sendiri.

---

Malam semakin larut. Rumah besar itu sunyi. Lampu-lampu sudah padam satu per satu. Hanya kamar Halimah yang masih menerawang cahaya remang dari jendela—cahaya bulan yang masuk malu-malu.

Tapi Halimah tidak tidur.

Ia duduk di tepi ranjang. Memeluk lutut. Matanya terbuka lebar menatap kosong ke dinding. Pikirannya tidak di sana. Pikirannya masih di kebun pala.

Setiap kali memejamkan mata, adegan itu berulang.

Darah Pak Rahmat. Tubuh Sarif yang tergeletak. Tangisan perempuan-perempuan. Dan ayahnya—di atas kuda hitam, berteriak dengan wajah merah padam.

"KALIAN INI BINATANG! TIDAK TAHU DIUNTUNGKAN!"

Halimah menggigil. Bukan kedinginan. Tapi jijik. Jijik pada suara itu. Pada kata-kata itu. Pada orang yang mengucapkannya.

Ayah.

Ia memeluk lututnya lebih erat.

Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ayahku seperti itu?

Ia ingat tangan ayahnya yang dulu menggendongnya. Ingat suara ayahnya yang lembut saat membacakan cerita sebelum tidur. Ingat senyum ayahnya saat ia berhasil membaca buku pertama.

Kini semua itu terasa seperti mimpi. Mimpi yang berubah jadi mimpi buruk.

Dia orang yang sama. Tapi kenapa... kenapa bisa berubah?

Halimah menangis. Tangis diam-diam. Tangis yang ditahan agar tidak terdengar keluar kamar.

---

Di luar, angin malam berdesir. Membawa suara jangkrik yang tak pernah lelah.

Halimah mengusap air matanya. Tapi air mata itu terus mengalir.

Apa yang akan mereka katakan tentangku?

Ia memikirkan warga kampung. Pak Kadir. Mak Minah. Istri Sarif yang sedang hamil. Mereka semua melihatnya di kebun. Mereka tahu ia anak Datuk Sulaiman.

Apakah mereka akan membenciku? Apakah mereka akan menganggapku sama seperti ayah?

Dadanya sesak.

Kalau mereka tahu aku menulis surat untuk Datuk Maringgih... apa mereka akan marah? Apa mereka akan menganggapku lancang? Anak antek kompeni berani-beraninya mendekati pahlawan mereka?

Ia membenamkan wajah di lutut. Menangis tersedu-sedu, tapi tetap diam.

Dan Datuk Maringgih...

Nama itu membuat hatinya bergetar.

Apa yang ia pikirkan tentangku sekarang?

Ia ingat tatapan Maringgih di kebun. Sekejap. Hanya sekejap. Tapi di kejap itu, ia membaca sesuatu. Bukan benci. Bukan jijik. Tapi... apa? Harapan? Peringatan? Ia tidak tahu.

Pasti ia membenciku. Pasti ia menganggapku sama seperti ayah. Anak algojo. Anak antek kompeni.

Surat-surat yang kita tulis... apa itu akan sia-sia? Apa ia akan membuang perasaannya padaku karena aku anak Datuk Sulaiman?

Pertanyaan itu berputar di kepalanya. Tak ada jawaban.

---

Halimah teringat masa kecil.

Waktu itu ia mungkin delapan atau sembilan tahun. Ia ingat tangan yang hangat menuntunnya menyeberang jalan. Ingat suara lembut yang berkata, "Hati-hati, Neng. Jangan lari-lari."

Datuk Maringgih.

Lelaki itu selalu ada di momen-momen penting. Waktu ia jatuh dari sepeda, Maringgih yang mengobati lukanya. Waktu ia kehujanan di pasar, Maringgih yang memayunginya sampai rumah. Waktu ayahnya sibuk, Maringgih yang menemaninya menunggu.

Ia selalu baik padaku. Seperti paman. Seperti kakak. Seperti...

Ia tidak bisa melanjutkan. Karena sekarang, perasaannya berbeda. Bukan lagi seperti paman atau kakak.

Tapi apa semua itu akan sirna sekarang? Karena ayahku?

Air matanya jatuh lagi.

Ia pasti kecewa. Pasti marah. Pasti berpikir, 'Pantaskah aku mencintai anak orang seperti itu?'

Halimah menggigit bibir. Tangannya gemetar.

Apa ia akan menjauh? Apa ia akan berhenti membalas suratku? Apa kita... apa kita akan berakhir sebelum mulai?

Rasa takut itu nyata. Menyesakkan. Lebih menyakitkan dari semua makian ayahnya.

---

Malam semakin dalam. Tapi Halimah masih terjaga.

Pikirannya berputar. Antara rasa bersalah, takut, dan sesuatu yang tidak berani ia akui: keinginan untuk tetap dekat dengan Maringgih.

Aku harus melakukan sesuatu.

Ia menatap meja belajarnya. Di atasnya, kertas kosong. Pena. Tinta.

Aku harus menulis. Aku harus menjelaskan. Aku harus...

Tapi menjelaskan apa? Bahwa ia tidak sama dengan ayahnya? Bahwa ia malu? Bahwa ia takut kehilangan?

Halimah bangkit. Berjalan ke meja. Duduk. Lampu minyak di sampingnya ia nyalakan dengan tangan gemetar.

Api kecil menyala. Menerangi wajahnya yang pucat dan mata sembab.

Ia mengambil pena. Tangan kanannya gemetar hebat.

Haruskah aku menulis? Apa ini tidak lancang? Apa ia masih mau membaca surat dariku setelah hari ini?

Ia meletakkan pena. Menarik napas. Mengambil pena lagi. Meletakkan lagi.

Tiga kali. Empat kali. Lima kali.

Ya Allah, kenapa susah sekali?

Ia teringat surat-surat sebelumnya. Surat pertama yang berani. Surat kedua yang hati-hati. Dan surat balasan Maringgih yang jujur, yang membuatnya jatuh cinta.

Ia jujur padaku. Aku juga harus jujur.

Halimah mengambil pena. Tangannya gemetar, tapi kali ini ia tidak meletakkannya.

Ia menulis kalimat pertama. Pelan. Setiap huruf seperti paku yang ditancapkan di hati.

"Kepada Datuk Maringgih, yang selalu kukagumi..."

Pena berhenti.

Kukagumi? Apa itu terlalu berlebihan? Apa ia akan menganggapku lancang?

Ia mencoretnya. Memulai lagi.

"Kepada Datuk Maringgih..."

Cukup. Tidak perlu basa-basi.

Ia melanjutkan. Tapi tangannya gemetar. Huruf-hurufnya miring, tidak rapi seperti biasanya.

"Maafkan saya menulis di tengah malam. Saya tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, saya melihat kebun pala. Melihat darah. Melihat Pak Rahmat. Melihat Sarif."

Air matanya jatuh. Membasahi kertas. Tapi ia terus menulis.

"Dan saya melihat ayah saya. Di atas kuda. Berteriak. Memaki."

Pena berhenti. Ia menatap kalimat itu. Rasanya seperti mengkhianati ayahnya sendiri. Tapi ini kebenaran. Dan ia harus jujur.

"Saya malu, Datuk. Saya sangat malu. Bukan karena saya melakukan sesuatu, tapi karena darah ayah saya mengalir di tubuh saya. Dan saya takut... saya takut Datuk akan membenci saya karenanya."

Ia menangis. Air matanya jatuh deras. Membasahi kertas. Beberapa kata jadi kabur. Tapi ia tidak peduli.

"Saya juga takut warga kampung akan membenci saya. Mereka akan melihat saya dan berkata, 'Itu anak algojo.' Mereka akan mengusir saya. Mereka akan... mereka akan membuat saya tidak punya tempat."

Tangannya gemetar hebat. Pena hampir jatuh.

"Tapi yang paling saya takuti, Datuk, adalah kehilangan Datuk. Saya tahu mungkin ini egois. Saya tahu mungkin saya tidak pantas. Tapi perasaan saya tidak bisa bohong."

Ia berhenti. Menarik napas. Menyeka air mata yang terus mengalir.

"Apa Datuk masih mau menerima surat dari anak antek kompeni? Apa Datuk masih mau... memikirkan saya?"

Ia tidak tahu harus menulis apa lagi. Rasa takut, cemas, bingung, harap—semua campur aduk.

"Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya hanya tahu, malam ini, satu-satunya orang yang ingin saya ajak bicara adalah Datuk. Karena hanya Datuk yang bisa membuat saya merasa... tidak sendiri."

Pena berhenti. Ia membaca ulang surat itu. Kertasnya basah oleh air mata. Beberapa kata kabur. Tapi itu adalah dirinya. Jujur. Apa adanya.

"Maafkan surat ini. Maafkan jika saya lancang. Tapi saya harus menulis. Karena kalau tidak, saya akan gila."

Ia menandatangani: Halimah.

---

Surat itu ia lipat dengan hati-hati. Tangannya gemetar. Ia tidak tahu apakah ini keputusan tepat.

Tapi ia sudah sampai di sini. Tidak ada jalan kembali.

Besok pagi, akan kuselipkan di balik pintu dapur Mak Ijah. Beliau yang akan menyampaikan.

Ia memandangi surat itu. Amplop kosong di depannya.

Ya Allah, semoga ini bukan kesalahan.

Di luar, langit mulai memutih. Fajar sebentar lagi.

Halimah menatap ke luar jendela. Udara dingin menusuk. Tapi di dalam hatinya, ada api kecil yang menyala.

Api harap. Api takut. Api cinta.

Tinta pertama sudah jatuh. Dan tidak ada jalan kembali.

---

[Bersambung ke Bab 32...]

--

1
Ayaelsa
/Smile//Silent//Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!