NovelToon NovelToon
BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.

Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.

"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."

Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LUKA DI ATAS LUKA

Bab 13: Luka di Atas Luka

Hafiz menahan napas. Bau parfum Chanel yang sangat menyengat langsung menyeruak, mengalahkan aroma tanah basah dan minyak zaitun di tangannya.

"Ya ampun... jadi benar berita itu? Kamu beneran jadi gembel di sini, Fiz?"

Wanita itu melepas kacamata hitamnya. Cindy. Kekasih yang dua hari lalu masih bermanja-manja meminta tas Hermes edisi terbatas.

Kini, ia menatap Hafiz dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang lebih menjijikkan daripada melihat tumpukan sampah.

Hafiz refleks menyembunyikan tangannya yang lecet ke belakang punggung. Ia merasa telanjang di bawah tatapan itu.

"Cindy... kamu tahu dari mana aku di sini?" suara Hafiz parau, nyaris tak keluar.

Cindy tertawa melengking. Tawa yang dulu terdengar manja, kini terasa seperti sayatan silet di hati Hafiz.

"Aduh, sayang. Berita CEO jatuh miskin," sahutnya sambil melangkah maju.

Ia menutup hidung dengan sapu tangan sutra saat melewati ember pel yang masih tergeletak di pelataran.

"Gila! Bau apek banget tempat ini! Dan lihat baju kamu... itu baju atau kain kafan?" Cindy menunjuk baju koko Hafiz yang mulai kusam.

Hafiz mengepalkan tangannya. Rasa perih di lecetnya kembali berdenyut, seolah merespons rasa sakit di hatinya.

"Keluar dari sini, Cin. Ini tempat suci. Kamu nggak pantas pakai baju kayak gitu di sini," ucap Hafiz mencoba tegas.

Cindy justru melangkah semakin dekat, aroma parfumnya kini bercampur dengan bau keringat Hafiz yang baru selesai mengepel.

"Tempat suci? Fiz, bangun! Kamu itu butuh pengacara, bukan butuh doa!" Cindy mencibir sinis.

Ia mengulurkan jarinya yang berkuku merah meruncing, menyentuh pundak Hafiz lalu menariknya kembali dengan jijik.

"Aku ke sini cuma mau mastiin satu hal. Robi bilang kamu nggak bawa apa-apa. Jadi, jam tangan kamu mana?"

Hafiz tersentak. Jadi Cindy sudah bertemu dengan Robi? Bajingan yang sudah merampas uangnya?

"Kamu... kamu sudah tahu kalau Robi yang menjebakku, kan? Kenapa kamu malah sama dia?" suara Hafiz meninggi.

Cindy mengangkat bahu dengan santai, seolah pengkhianatan adalah hal paling lumrah di dunia.

"Robi itu pintar, Fiz. Dia tahu cara menjaga aset. Sedangkan kamu? Kamu cuma tahu cara bangkrut dan jadi marbot," ejeknya pedas.

"Aku nggak butuh cowok yang pegang sapu lidi. Aku butuh cowok yang pegang kartu kredit tanpa limit!"

Hafiz merasa dunianya benar-benar runtuh. Wanita yang ia banggakan di setiap pesta, kini meludahi wajahnya saat ia jatuh.

Ia ingin marah, ingin memaki, tapi lidahnya terasa kelu. Keadaannya saat ini memang tidak memungkinkan untuk membela diri.

"Sekarang kasih tahu aku, di mana sisa uang kamu? Jangan bilang kamu beneran nggak punya simpanan?" Cindy mendesak, matanya berkilat haus harta.

Hafiz tertawa getir. "Simpanan? Kamu lihat sendiri, Cin. Aku cuma punya baju yang melekat di badan."

"Cuih! Sampah!" Cindy meludah ke tanah, tepat di depan kaki telanjang Hafiz yang masih kotor.

"Maaf, Mbak. Sebaiknya Mbak pergi dari sini."

Sebuah suara lembut namun sangat berwibawa memecah ketegangan di pelataran masjid.

Zahra muncul dari balik pintu utama. Ia masih mengenakan mukena putihnya karena baru saja selesai tadarus.

Cindy menoleh, menatap Zahra dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang sama.

"Siapa lagi ini? Penunggu masjid? Jangan ikut campur urusan orang kota ya, Mbak Santri," cetus Cindy judes.

Zahra melangkah maju dengan tenang. Wajahnya yang tanpa make-up terlihat jauh lebih bersinar dibandingkan wajah Cindy yang tebal dengan kosmetik.

"Saya tidak peduli Mbak dari kota mana. Tapi di sini ada aturannya. Pertama, pakaian Mbak tidak sopan untuk masuk ke lingkungan ini," ucap Zahra tenang.

"Kedua, kami tidak menerima tamu yang datang hanya untuk menghina orang lain. Terutama orang yang sedang berusaha memperbaiki diri."

Cindy tertawa sinis, ia melipat tangan di dada, menantang Zahra. "Memperbaiki diri? Fiz, kamu dengar? Santriwati ini kemakan omong kosong kamu?"

"Heh, Mbak Santri! Cowok ini koruptor! Dia penipu! Jangan mau ditipu sama muka melasnya itu!" teriak Cindy sengaja dikeraskan agar warga dengar.

Hafiz menunduk dalam. Ia ingin bumi terbelah dan menelannya sekarang juga. Malunya sudah sampai ke ubun-ubun.

Namun, Zahra justru berdiri tepat di samping Hafiz. Ia tidak mundur selangkah pun.

"Mas Hafiz mungkin punya masa lalu yang kelam di mata Mbak. Tapi bagi kami, dia adalah tamu yang sedang butuh bimbingan," balas Zahra telak.

"Dan Mbak? Mbak datang dengan mobil mewah tapi mulut Mbak menunjukkan kalau Mbak tidak memiliki harga diri sedikit pun."

Wajah Cindy merah padam. "Apa lo bilang?! Lo berani ngatain gue nggak punya harga diri?!"

Zahra tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat elegan tapi terasa sangat mematikan bagi lawan bicaranya.

"Harga diri tidak dibeli dengan mobil merah itu, Mbak. Tapi dibeli dengan cara kita menghargai orang yang sedang berada di titik terendah."

Zahra menunjuk ke arah gerbang. "Silakan keluar. Sebelum saya memanggil warga untuk mengawal Mbak keluar dengan cara yang kurang nyaman."

Beberapa warga kampung mulai berkumpul di depan pagar gerbang, menatap sinis ke arah Cindy dan mobil sportnya.

Cindy yang merasa terpojok segera memakai kacamata hitamnya kembali dengan kasar.

"Oke! Gue pergi! Fiz, selamat menikmati hidup lo sebagai babu masjid! Kita lihat berapa lama lo tahan tinggal di lubang tikus ini!"

Cindy berbalik, berjalan dengan hentakan kaki yang keras menuju mobilnya.

Brummm!

Suara mesin Ferrari itu meraung liar, meninggalkan kepulan asap hitam yang menyesakkan di depan masjid sebelum melesat pergi.

Hafiz terduduk di lantai pelataran. Kekuatannya seolah hilang terbawa deru mesin mobil Cindy.

Zahra masih berdiri di sana. Ia menatap punggung Hafiz yang bergetar. Rupanya, sang CEO sedang menangis tanpa suara.

"Mas..." panggil Zahra lirih.

Hafiz tidak menoleh. "Benar apa yang dia bilang, Zahra. Aku ini sampah. Aku koruptor. Aku nggak pantas ada di sini."

Zahra berjongkok, namun tetap menjaga jarak sekitar satu meter. Ia melihat telapak tangan Hafiz yang kembali berdarah karena tadi mengepal terlalu kencang.

"Setiap orang suci punya masa lalu, Mas. Dan setiap pendosa punya masa depan," ucap Zahra mengutip sebuah kalimat bijak.

Hafiz menoleh perlahan. Matanya merah dan basah. "Tapi dia benar... aku nggak punya apa-apa lagi. Aku cuma bisa pegang sapu."

Zahra menggeleng pelan. "Mas masih punya tangan untuk bekerja, kaki untuk melangkah, dan hati yang mulai mau mengakui kesalahan."

"Buktinya, lantai masjid ini sudah mengkilap. Itu kerja keras Mas. Bukan kerja keras harta Mas yang hilang."

Hafiz terdiam. Kata-kata Zahra terasa seperti perban yang membalut luka hatinya yang baru saja dikoyak-koyak Cindy.

"Kenapa kamu bela aku? Aku pernah kasar sama kamu waktu itu," tanya Hafiz heran.

Zahra menunduk, merapikan ujung mukenanya. "Karena Ayah mengajarkan saya untuk melihat manusia dari usahanya hari ini, bukan dari dosanya kemarin."

Suara adzan Maghrib berkumandang dari menara masjid, membelah keheningan sore yang penuh drama itu.

Zahra berdiri. "Sudah masuk waktu Maghrib. Mas mandi ya? Bersihkan sisa kotoran dunia yang tadi dibawa wanita itu."

Hafiz menarik napas panjang, mencoba membuang sesak di dadanya. Ia berdiri dengan kaki yang masih agak gemetar.

"Zahra... terima kasih," bisik Hafiz tulus.

Zahra hanya mengangguk kecil lalu berjalan masuk ke dalam masjid melalui pintu khusus wanita.

Hafiz berjalan menuju tempat wudhu. Ia melihat air yang mengucur jernih. Ia ingin membersihkan diri, tapi ia sadar akan satu hal yang memalukan.

Ia tidak tahu bagaimana cara memulai. Ia tidak tahu apa yang harus dibasuh duluan.

Puluhan tahun ia habiskan untuk belajar cara mencari uang dan cara mengelola saham, tapi ia lupa cara mencuci jiwa.

Hafiz berdiri mematung di depan keran. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap ada orang yang bisa ia contoh.

Tiba-tiba, Kyai Abdullah muncul dari arah rumah, berjalan menuju tempat wudhu sambil menyampirkan sorban di pundaknya.

Kyai Abdullah berhenti di samping Hafiz, ia melihat kebingungan di mata pria muda itu.

"Kenapa, Hafiz? Ada yang sulit?" tanya Kyai dengan suara teduh.

Hafiz menelan ludah, wajahnya memerah lebih hebat daripada saat dihina Cindy tadi.

"Kyai... anu... saya..." Hafiz terbata-bata.

"Saya lupa... atau mungkin memang tidak pernah tahu... gimana caranya wudhu yang benar, Kyai."

Kyai Abdullah tertegun sejenak, lalu ia tertawa kecil yang sangat menenangkan hati Hafiz.

"Sini. Mendekat ke keran. Saya ajarkan satu per satu," ucap Kyai sambil menyingsingkan lengan bajunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!