Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BABAK BARU
Setelah kepergian Dipta dari ruang kerja, suasana rumah keluarga Atmadja justru semakin mencekam. Kirana, ibu Keyla, masuk dengan wajah pucat. Ia telah menguping di balik pintu kayu yang tebal itu.
"Kau gila, Alan! Kau benar-benar menjual putri kandungmu sendiri?" suara Kirana bergetar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Alan sedang menenggak wiski dengan tangan gemetar. "Ini bukan menjual, Kirana! Ini menyelamatkan kita semua! Kau mau kita tidur di kolong jembatan? Kau mau semua perhiasan dan gaya hidupmu hilang besok pagi?"
"Tapi tidak dengan Keyla! Dia baru delapan belas tahun, Alan! Dipta Mahendra itu pria berbahaya," Kirana memukul meja kerja suaminya dengan frustrasi.
"Dipta pria yang berkuasa," bentak Alan, matanya memerah. "Dia bisa memberikan apa pun yang Keyla mau. Lebih baik dia menikah dengan pria kaya seperti Dipta daripada hidup melarat karena ayahnya masuk penjara akibat kasus penipuan investasi! Jika aku jatuh, kalian semua jatuh!"
Kirana terisak, menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Ia tahu suaminya sudah di titik nadir. Ketakutan akan kemiskinan telah membunuh nurani Alan. "Bagaimana aku mengatakannya pada Keyla? Dia sedang merencanakan kuliahnya, Alan..."
"Cari cara! Buat dia merasa kasihan padaku. Kau tahu Keyla sangat menyayangiku. Katakan padanya, hanya dia yang bisa menyelamatkan nyawa ayahnya."
Kirana berjalan menuju kamar Keyla dengan langkah berat. Di dalam, ia melihat putrinya sedang duduk di depan laptop, tampak ceria melihat brosur universitas impiannya.
"Keyla..." suara Kirana lirih.
Keyla menoleh, senyumnya langsung memudar melihat wajah sembab ibunya. "Mama? Ada apa? Kenapa Mama menangis?"
Kirana duduk di tepi tempat tidur, menggenggam tangan kecil Keyla yang masih terasa sangat halus. "Key, keluarga kita... kita dalam masalah besar. Ayahmu... dia melakukan kesalahan dalam bisnis."
Keyla mengerutkan kening. "Kesalahan apa, Ma? Apa kita harus pindah rumah?"
"Lebih buruk dari itu, Sayang. Ayahmu bisa dipenjara. Semua aset kita akan disita. Kita tidak punya apa-apa lagi," Kirana mulai menangis lagi, kali ini bukan sekadar sandiwara, tapi rasa bersalah yang nyata. "Kecuali... ada seseorang yang mau membantu kita."
"Siapa, Ma? Siapa yang bisa membantu?"
Kirana menarik napas panjang, menatap mata polos putrinya. "Tuan Dipta Mahendra. Dia bersedia menutupi semua hutang Ayah, memberikan modal baru, dan menjamin keselamatan kita. Tapi... dia meminta satu syarat."
Jantung Keyla berdegup kencang. Ia teringat pria yang menatapnya intens di kafe beberapa hari lalu. "Syarat apa?"
"Dia ingin kau menjadi tunangannya, Key. Dia ingin menikahimu."
Keyla terdiam sejenak, lalu tertawa hambar, berharap ini hanya lelucon buruk. "Ma, itu tidak lucu. Dia pria tua! Aku bahkan tidak mengenalnya!"
"Mama tahu, Key... Mama tahu ini tidak adil," Kirana memeluk Keyla dengan erat, suaranya teredam di bahu putrinya. "Tapi Ayahmu memohon padamu. Dia bilang, jika kau tidak setuju, dia lebih baik mengakhiri hidupnya daripada menanggung malu dipenjara. Tolong, Key... tolong selamatkan Ayah."
Keyla merasa dunianya runtuh seketika. Brosur universitas di atas meja itu tampak seperti sampah sekarang. Bayangan ayahnya yang masuk penjara atau melakukan hal nekat menghantui pikirannya.
"Jadi... aku tidak punya pilihan?" bisik Keyla, suaranya hilang ditelan isak tangis.
Kirana hanya bisa menggeleng pelan sambil terus memeluknya. "Maafkan Mama, Sayang. Maafkan kami."
Malam itu, di kamar yang mewah namun terasa seperti penjara, Keyla menyadari bahwa masa mudanya baru saja berakhir sebelum benar-benar dimulai.
<<
***
Pesta berakhir dengan keheningan yang mencekam bagi Keyla. Di bawah sorot lampu lobi hotel yang megah, Dipta menuntunnya—atau lebih tepatnya, menyeretnya dengan halus—menuju sebuah Rolls-Royce hitam yang sudah menunggu.
Bayu membukakan pintu belakang dengan sigap. Dipta memberi isyarat agar Keyla masuk terlebih dahulu. Dengan sisa keberanian yang ada, Keyla menahan langkahnya di ambang pintu mobil.
"Aku mau pulang ke rumah orang tuaku," ucap Keyla tegas, meski suaranya sedikit bergetar.
Dipta berhenti, menoleh perlahan dengan satu tangan masih bertumpu pada pintu mobil. "Rumah Atmadja? Tempat di mana kau baru saja 'dijual' untuk menyelamatkan perusahaan?" Dipta tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyakitkan. "Mulai malam ini, tempatmu bukan lagi di sana."
"Tapi kita baru bertunangan! Belum menikah!"
"Di duniaku, Keyla, tanda tangan di atas kertas perjanjian itu jauh lebih mengikat daripada janji di depan altar. Masuk."
Begitu pintu tertutup, suasana di dalam mobil terasa begitu privat dan menyesakkan. Bau parfum kayu cendana dan kulit mewah menyelimuti indra penciuman Keyla. Dipta duduk di sampingnya, memberikan jarak yang cukup, namun kehadirannya terasa mendominasi seluruh ruang.
Mobil mulai melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai sepi.
"Kenapa Anda melakukan ini?" tanya Keyla, menatap keluar jendela untuk menghindari tatapan Dipta. "Anda bisa memiliki siapa saja. Kenapa harus menghancurkan hidup gadis delapan belas tahun?"
Dipta menyandarkan punggungnya, melonggarkan dasi yang melilit lehernya. "Menghancurkan? Aku justru sedang memberimu fondasi, Keyla. Ayahmu tidak kompeten. Jika bukan karena aku, kau mungkin sedang mengemasi barang-barangmu sekarang karena rumah itu disita."
Keyla menoleh dengan mata berkaca-kaca. "Setidaknya aku bebas!"
"Kebebasan itu mahal harganya, dan kau tidak punya uang untuk membayarnya," balas Dipta dingin. Ia tiba-tiba bergeser mendekat, membuat Keyla terpojok ke sudut kursi. "Lagipula, kau belum tahu apa yang bisa kuberikan padamu."
Dipta mengangkat tangan, jemarinya yang besar dan hangat membelai pipi Keyla yang halus. Keyla mencoba mengelak, namun punggungnya sudah menempel pada pintu mobil.
"Kau sangat cantik saat sedang marah," bisik Dipta. "Matamu yang kecil itu berkilat, mengingatkanku pada kucing liar yang butuh dijinakkan."
"Jangan sentuh aku," desis Keyla.
"Aku sudah membayar mahal untuk hak menyentuhmu, Keyla Atmadja," tangan Dipta turun ke leher Keyla, merasakan denyut nadi gadis itu yang berpacu cepat. "Tapi jangan takut. Aku punya kesabaran yang luar biasa. Aku akan menunggumu datang sendiri padaku, memohon agar aku tidak melepaskanmu."
Keyla mendengus remeh. "Itu tidak akan pernah terjadi."
Dipta hanya terkekeh, suara rendahnya bergema di dalam kabin mobil. "Kita lihat saja. Malam ini, kau akan menginap di apartemenku. Kamarmu sudah siap."
"Apa? Tidak! Aku tidak mau!"
Dipta tidak menjawab. Ia hanya menatap Keyla dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa seluruh tubuhnya memanas. Mobil terus melaju menuju gedung pencakar langit milik Mahendra Group, tempat di mana babak baru kehidupan Keyla yang penuh gairah dan paksaan akan dimulai.
***
Bersambung...