Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Matahari pagi di Labuan Bajo menyapa dengan warna keemasan yang memukau.
Langit biru bersih terpantul di permukaan laut yang tenang.
Pagi ini, jadwal mereka adalah sarapan mewah di atas kapal pinisi yang sudah bersandar di dermaga pribadi hotel.
Rengganis tampil cantik dengan gaun pantai berwarna putih tulang yang senada dengan topi lebarnya.
Di sampingnya, Permadi tampak gagah dengan kemeja linen biru muda yang kancing atasnya dibiarkan terbuka. Namun, wajah tampan itu masih ditekuk sejak mereka keluar dari kamar.
Begitu sampai di dermaga, sosok yang paling tidak ingin dilihat Permadi sudah berdiri di sana dengan senyum profesionalnya.
"Selamat pagi, Ganis. Selamat pagi, Pak Permadi," sapa Affan ramah. Sebagai manajer hotel, ia memang bertugas memastikan tamu VIP mereka mendapatkan pelayanan terbaik sebelum kapal berangkat.
"Semua kebutuhan sarapan di atas kapal sudah saya cek sendiri. Ada menu favoritmu dulu, Ganis, roti jala dengan kuah kari."
Permadi yang mendengar hal itu langsung mendengus keras.
"Oh, jadi sekarang kamu juga merangkap jadi ahli gizi istri saya? Hebat sekali pelayanan hotel ini sampai tahu menu favorit tamu dari zaman purba."
"Mas! Sudah, ini cuma pekerjaan Affan," bisik Rengganis sambil menyenggol lengan suaminya.
Ia merasa tidak enak karena Permadi terus-menerus menunjukkan kecemburuan yang terang-terangan seperti anak kecil.
"Pekerjaan atau perhatian tambahan? Aku tidak suka cara dia menyebut namamu tanpa embel-embel 'Dokter' atau 'Nyonya'," gerutu Permadi pelan namun tajam.
"Ganis, kapal sudah siap. Mari, saya bantu naik," ucap Affan sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Rengganis menaiki tangga kapal yang sedikit bergoyang karena ombak.
Melihat uluran tangan itu, emosi Permadi memuncak.
Sebelum tangan Affan menyentuh Rengganis, Permadi sudah lebih dulu melangkah maju dengan kasar, memotong jalan dan menepis pelan tangan Affan.
"Tidak perlu. Saya masih punya tangan yang kuat untuk menjaga istri saya sendiri," ketus Permadi.
Tanpa menoleh lagi, Permadi langsung melompat naik ke atas kapal dengan gerakan cepat. Namun, bukannya menunggu Rengganis, ia justru terus melangkah masuk ke arah kabin dalam dengan wajah merah padam, meninggalkan Rengganis yang masih berdiri mematung di dermaga bersama Affan.
Rengganis menghela napas panjang, menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu kabin.
"Maaf ya, Fan. Dia memang sedang sedikit kurang tidur," ucap Rengganis canggung kepada mantan kekasihnya itu.
Affan tersenyum tipis, ada kilat pengertian di matanya.
"Sepertinya dia sangat mencintaimu, Ganis. Sampai-sampai kehadiran teman lama saja bisa membuatnya kehilangan kendali."
Rengganis hanya tersenyum getir, lalu menyusul naik ke kapal.
Ia tahu, sarapan romantis yang dibayangkannya mungkin akan berubah menjadi ajang "mogok bicara" dari suaminya yang sedang cemburu buta itu.
Rengganis melangkah pelan menuju dek kapal. Ia menemukan Permadi sedang berdiri di tepian, punggungnya tegak dan kaku.
Pria itu sama sekali tidak menoleh saat mendengar langkah kaki istrinya.
Permadi justru tampak sangat sibuk menyandarkan tubuhnya ke pagar pembatas, menatap buih-buih putih yang dihasilkan oleh mesin kapal, dan sesekali membiarkan tangannya menyentuh percikan air laut yang naik ke permukaan.
"Mas..." panggil Rengganis lembut.
Permadi tetap diam. Ia seolah lebih tertarik mempelajari warna air laut Labuan Bajo daripada menatap istrinya.
Tangannya terus bermain dengan air, mencelupkan jemarinya saat kapal melaju pelan, seolah-olah air laut itu adalah teman bicara yang lebih menyenangkan daripada Rengganis.
Rengganis mendekat, berdiri tepat di samping suaminya.
"Mas, jangan seperti anak kecil begitu. Affan itu hanya masa lalu. Tidak ada artinya sama sekali dibandingkan kamu."
Permadi akhirnya menghentikan kegiatannya bermain air. Ia menarik tangannya yang basah, lalu mengusapnya ke celana tanpa menoleh.
"Masa lalu yang tahu menu favoritmu? Masa lalu yang memanggil namamu begitu akrab seolah aku ini hanya orang asing yang kebetulan lewat?"
"Dia hanya berusaha bersikap ramah sebagai manajer, Mas," bela Rengganis tenang.
"Ramah itu ada batasnya, Ganis!" Permadi berbalik, matanya berkilat emosi.
"Aku membawa kamu jauh-jauh ke sini untuk menghabiskan waktu berdua, bukan untuk melihatmu bernostalgia dengan si Manajer itu. Kalau kamu lebih suka ditemani dia, kenapa tidak sarapan di lobby saja tadi?"
Rengganis menghela napas, ia meraih tangan Permadi yang masih terasa dingin karena air laut.
"Lihat aku, Permadi Wijaya."
Permadi mencoba memalingkan wajah, namun Rengganis menangkup pipinya, memaksa pria itu menatap matanya.
"Siapa yang semalam bersamaku? Siapa yang memegang tiket bulan madu ini? Dan siapa yang sekarang berdiri di depanku sebagai suamiku? Hanya kamu. Affan itu cuma bagian dari buku lama yang sudah aku bakar. Kamu adalah buku baru yang sedang aku tulis setiap harinya. Mengerti?"
Permadi terdiam. Amarahnya yang meluap-luap tadi perlahan mulai surut saat melihat ketulusan di mata Rengganis.
Sifat posesifnya memang seringkali mengalahkan logika, terutama jika menyangkut wanita yang sangat ia cintai ini.
"Janji tidak akan tersenyum terlalu manis padanya lagi?" gumam Permadi dengan nada yang lebih menyerupai rengekan daripada gertakan.
Rengganis tertawa kecil, ia berjinjit dan mengecup singkat hidung Permadi.
"Janji, Sayangku yang cemburuan. Sekarang, ayo sarapan. Roti jalanya akan dingin kalau kamu terus-menerus cemberut."
Permadi akhirnya luluh. Ia menarik Rengganis ke dalam pelukannya, menghirup aroma rambut istrinya yang bercampur dengan wangi laut.
"Awas saja kalau dia berani muncul lagi saat kita sedang snorkeling nanti. Akan aku tenggelamkan dia ke dasar laut Flores."
Setelah ketegangan di dek mereda, kapal pinisi mewah itu akhirnya sampai di titik penyelaman yang tenang, jauh dari keramaian dermaga.
Permadi, yang suasana hatinya sudah membaik setelah "disogok" dengan kecupan Rengganis, kini terlihat sangat antusias menyiapkan peralatan snorkeling untuk mereka berdua.
"Ayo, Sayang. Lupakan soal manajer hotel itu. Di bawah sana, hanya ada ikan-ikan yang tidak akan memanggil namamu tanpa gelar," goda Permadi sambil mengenakan fin di kakinya.
Rengganis tertawa, ia sudah mengenakan pakaian renang yang dilapisi life jacket.
Kemudian mereka berdua meluncur turun dari tangga kapal, masuk ke dalam air laut yang jernihnya bak kristal.
Begitu wajah mereka tenggelam di bawah permukaan, dunia seketika berubah.
Di bawah kapal, pemandangan luar biasa terbentang.
Terumbu karang berwarna-warni menari mengikuti arus, dan ribuan ikan kecil berlarian di sela-selanya.
Rengganis tampak takjub, matanya berbinar di balik masker selam.
Permadi berenang mendekat, meraih tangan Rengganis dan menggenggamnya erat.
Mereka berenang berdampingan, menjelajahi taman laut yang sunyi namun penuh kehidupan.
Dalam keheningan air, Permadi sesekali menunjuk ke arah kura-kura laut yang melintas dengan tenang, lalu menoleh ke arah Rengganis sambil memberikan tanda "Oke" dengan jempolnya.
Rengganis merasakan kedamaian yang luar biasa.
Genggaman tangan Permadi di bawah air terasa begitu kokoh, seolah meyakinkannya bahwa pria ini akan selalu menjaganya, baik di darat maupun di kedalaman laut.
Tiba-tiba, Permadi menarik lembut tangan Rengganis, membawanya berenang ke area yang sedikit lebih dangkal di mana cahaya matahari menembus air dengan sangat indah.
Di sana, di antara tarian ikan sersan mayor, Permadi berhenti berenang.
Ia melepaskan alat napasnya sejenak, lalu memberikan ciuman jauh ( blow kiss ) ke arah Rengganis di dalam air.
Rengganis tertawa hingga maskernya hampir kemasukan air.
Sifat romantis dan konyol Permadi benar-benar tidak mengenal tempat.
Mereka menghabiskan waktu cukup lama di bawah sana, membiarkan tubuh mereka terombang-ambing oleh ombak kecil.
Saat itu, Rengganis menyadari bahwa bulan madu ini bukan hanya tentang perjalanan ke tempat indah, tapi tentang bagaimana Permadi perlahan-lahan mencairkan dinding es di hatinya, menggantinya dengan kehangatan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Setelah puas menjelajahi keindahan bawah laut, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk kembali naik ke atas kapal.
Begitu menapakkan kaki di tangga kayu pinisi, udara laut yang tertiup angin kencang langsung menyapu kulit Rengganis yang basah.
Tubuhnya seketika menggigil hebat, dan bibirnya sedikit membiru karena suhu air yang cukup dingin di kedalaman tadi.
"Dingin sekali..." gumam Rengganis dengan gigi yang bergelatuk.
Melihat istrinya gemetar, naluri protektif Permadi langsung bangkit.
Tanpa memedulikan tubuhnya sendiri yang juga basah kuyup, ia menyambar dua handuk besar yang sudah disiapkan kru kapal.
Dengan sigap, ia melingkarkan handuk itu ke bahu Rengganis, lalu menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya yang kokoh.
Permadi memeluk Rengganis dari belakang, menyalurkan panas tubuhnya untuk mengusir hawa dingin yang menusuk tulang istrinya. "Sudah kubilang, jangan terlalu lama di bawah sana kalau tidak kuat dingin, Dokter Sayang," bisik Permadi tepat di telinga Rengganis, suaranya terdengar lembut namun penuh kekhawatiran.
Rengganis menyandarkan punggungnya pada dada bidang Permadi, mencari perlindungan. Rasa hangat mulai menjalar, bukan hanya karena handuk tebal itu, tapi karena dekapan suaminya yang terasa sangat pas.
"Tapi pemandangannya terlalu indah, Mas. Aku sampai lupa waktu," sahut Rengganis pelan, suaranya mulai stabil.
Permadi mempererat pelukannya, membenamkan wajahnya di ceruk leher Rengganis yang masih basah oleh air garam.
"Indah mana dengan suamimu yang sudah rela kedinginan demi jadi penghangat berjalanmu ini?" goda Permadi, sifat narsistiknya kembali muncul setelah emosi cemburunya mereda.
Rengganis tertawa kecil di dalam pelukan Permadi.
"Iya, iya. Suamiku paling tampan dan paling hangat di seluruh Labuan Bajo."
"Hanya di Labuan Bajo? Di seluruh dunia dong!" sahut Permadi sambil memutar tubuh Rengganis agar menghadapnya.
Ia menatap wajah istrinya yang tanpa riasan, namun terlihat sangat cantik dengan butiran air laut yang masih menempel di bulu matanya.
Permadi mengusap wajah Rengganis dengan ujung jarinya.
"Kamu tahu? Melihatmu tertawa bebas seperti tadi di bawah air, membuatku merasa kalau keputusan Papa mengirim kita ke sini adalah hal terbaik yang pernah terjadi tahun ini."
Rengganis menatap mata Permadi, menemukan ketulusan yang luar biasa di sana.
Ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang lebih muda darinya ini bisa memberinya rasa aman yang begitu besar.
"Ayo masuk ke dalam kabin. Kamu harus mandi air hangat, atau nanti kamu malah jatuh sakit saat bulan madu baru dimulai," ucap Permadi sambil merangkul bahu Rengganis menuju kamar privat mereka di dalam kapal.