Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Salju di Kota Langit(fix)
Kegelapan itu terasa begitu hangat pada awalnya.
Dalam tidurnya yang panjang, Fang Yuan tidak lagi berada di padang tandus yang terbakar kilat. Ia berdiri di bawah pohon beringin besar di desanya yang dulu.
Di sana, ia melihat ibunya sedang menjahit, ayahnya yang sedang mengasah kapak, dan kakeknya yang duduk di kursi rotan sambil menyesap teh.
Mereka menatapnya, tidak dengan ketakutan atau kebencian, melainkan dengan senyuman yang begitu tulus hingga dada Fang Yuan terasa sesak.
"Kemarilah,Fang Yuan," panggil kakeknya lembut.
Fang Yuan berlari. Ia ingin merasakan kehangatan tangan kakeknya lagi. Ia ingin memberitahu mereka betapa sulitnya bertahun-tahun hidup tanpa mereka.
Namun, semakin ia berlari, kaki-kakinya terasa semakin berat. Sosok mereka mulai memudar, tertutup oleh kabut putih yang dingin.
"JANGAN TINGGALKAN AKU! IBU! AYAH! KAKEK!"
Fang Yuan berteriak dalam kegelapan, tangannya menggapai udara kosong sebelum matanya terbuka lebar.
Langit-langit ruangan itu tidak terbuat dari kayu lapuk asramanya, melainkan dari ukiran giok dan kayu cendana yang mahal.
Bau obat herbal yang sangat kuat menusuk hidungnya, bercampur dengan aroma bunga salju yang samar.
"Senior? Anda sudah bangun?"
Suara itu lembut, namun membuat Fang Yuan bereaksi secara insting.
Ia mencoba bangkit, namun seluruh tubuhnya terasa seperti diikat oleh ribuan kawat berduri. Perban putih menutupi hampir seluruh dadanya, bahunya, dan lengannya.
"Siapa kau?" Tanya Fang Yuan dengan suara datar yang serak. Matanya yang tajam langsung mengunci sosok di samping tempat tidurnya.
Seorang gadis berusia sekitar 14 tahun berdiri di sana.
Rambutnya putih bersih seperti salju, matanya berwarna biru es, dan wajahnya memiliki kecantikan yang tampak tidak nyata bagi seorang manusia.
Ia mengenakan gaun sutra yang elegan namun fungsional.
"S-saya tidak jahat, Senior. Saya menemukan Senior pingsan di padang tandus dua pekan lalu. Tubuh Senior hampir menjadi arang ..."
"Dua pekan?" Fang Yuan bergumam pelan. Ia tidak menyangka ia kehilangan kesadaran selama itu.
Fang Yuan mencoba menurunkan kakinya ke lantai giok yang dingin. Ia butuh pergi, ia butuh mencari Bai Lie, ia butuh tahu apakah Sekte Awan Mendung masih mengejarnya. Namun, saat telapak kakinya menyentuh lantai, dunianya berputar.
Gadis itu dengan sigap melangkah maju, memegang lengan Fang Yuan untuk menahannya agar tidak jatuh.
PLAK!
Fang Yuan mendorong tangan gadis itu dengan kasar, meski ia sendiri hampir tersungkur ke depan. "Jangan sentuh aku!"
Gadis itu terkejut, matanya yang biru membelalak, namun ia segera mundur dua langkah dengan sopan. "Maafkan saya, Senior. Saya hanya tidak ingin luka Senior terbuka kembali."
Fang Yuan duduk kembali di pinggir ranjang, mengatur napasnya yang pendek. Ia memandang sekeliling.
Ruangan ini bukan sekadar kamar penginapan; ini adalah kamar VVIP yang hanya bisa disewa oleh bangsawan atau kultivator tingkat tinggi.
"Di mana ini?"
"Ini di Kota Langit, Senior. Kita berada di penginapan pribadi milik saya," jawab gadis itu dengan suara yang lebih tenang.
Mendengar nama Kota Langit, mata Fang Yuan menyipit. Ini adalah pusat kekuasaan di wilayah ini, dan yang lebih penting, ini di dekat salah satu markas besar Sekte Daun Perak.
"Chen Li ... waktu penghakimanmu akan segera datang," batin Fang Yuan. Dendam lama itu kembali membara di balik dadanya yang terluka.
Fang Yuan kembali menatap gadis berambut putih itu. Aura yang keluar dari tubuh gadis ini sangat murni, namun ada kesedihan mendalam yang tersembunyi di balik matanya.
"Siapa namamu? Dan kenapa kau menyelamatkanku?"
"Nama saya Bai Qing Xue," ucapnya pelan. "Saya ... saya adalah putri dari Klan Salju Kristal yang sudah hancur. Saya di sini sedang mencari orang yang membunuh seluruh keluarga saya. Seorang pria dengan Topeng Emas."
Fang Yuan terdiam sesaat. Ia merasa muak sekaligus heran.
Gadis ini baru saja memberitahu rahasia besar dan identitasnya kepada orang asing yang baru bangun. "Terlalu polos, atau terlalu bodoh," pikirnya.
"Jadi kau sendirian sekarang? Dan kenapa kau memanggilku 'Senior'?"
Bai Qing Xue mengangguk dengan wajah polos yang membuat Fang Yuan merasa sedikit tidak nyaman. "Oh, itu ... karena Senior tampak jauh lebih dewasa dan berpengalaman dariku. Dan meskipun Senior terluka, aura kultivasi Senior ... rasanya sangat kuat dan menakutkan."
Fang Yuan tidak berbicara lagi. Ia menggunakan mata batinnya untuk memindai kekuatan Bai Qing Xue. Ia tersentak di dalam hati.
Gadis ini baru berumur 14 tahun, namun ia sudah berada di Ranah ke-2 (Pendirian Fondasi) Tahap Menengah.
Sementara itu, Fang Yuan yang sudah melalui neraka selama bertahun-tahun tahun di dimensi Mutiara Petir dan hampir mati tersambar Tribulasi Langit, baru saja akan menginjak Ranah ke-3 (Pembentukan Inti).
Ada rasa pahit yang merayap di hati Fang Yuan. Inilah yang ia maksud dengan "dunia yang tidak adil".
Orang-orang seperti Bai Qing Xue lahir dengan bakat surgawi dan sumber daya yang melimpah, sementara orang seperti dia harus merangkak di atas pecahan kaca hanya untuk mendapatkan satu teknik pernapasan.
"Kau punya bakat, Bai Qing Xue. Tapi kau terlalu lemah lembut untuk dunia ini," ucap Fang Yuan akhirnya. Ia menatap tangannya yang dibalut perban. "Orang dengan Topeng Emas itu ... jika dia bisa menghancurkan klan besar, dia tidak akan ragu untuk menghancurkan gadis kecil sepertimu."
Bai Qing Xue menunduk, tangannya mengepal di atas roknya. "Saya tahu. Itulah sebabnya saya terus berlatih."
Fang Yuan menarik napas panjang, merasakan energi kilat yang masih tersisa di meridiannya—sisa dari Tribulasi Langit yang kini menyatu dengan dagingnya.
Mutiara Petirnya mungkin hilang, tapi ia merasa tubuhnya kini adalah wadah energi yang jauh lebih berbahaya.
"Aku akan tinggal di sini sampai luka-lukaku cukup kering," kata Fang Yuan tanpa menatapnya. "Lalu aku akan pergi. Dan sebagai balas budi karena telah menyelamatkanku ... aku akan memberimu satu nasihat: Berhentilah mempercayai orang asing, sebelum kepalamu berakhir di ujung tombak."
Fang Yuan kembali memejamkan matanya, masuk ke dalam meditasi untuk memeriksa kondisi Dantiannya yang kini mulai membentuk Inti Kilat Yin-Yang.
Perjalanannya di Kota Langit baru saja dimulai, dan ia akan memastikan bahwa siapapun yang berdiri di jalannya—baik itu Sekte Daun Perak atau pria bertopeng emas itu—akan merasakan dinginnya kematian yang ia bawa.
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.