NovelToon NovelToon
Married To My Enemy

Married To My Enemy

Status: tamat
Genre:Menikah dengan Musuhku / Enemy to Lovers / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.

Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.

Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.

Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.

୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kita Harus Pulang

“Mereka juga enggak nemu apa-apa sekarang,” gumam Riggs. “Katanya tempat ini bersih.”

“Ini bukan pekerjaan lo,” kata Stella pada Kayson, punggungnya tetap tegak. “Riggs nggak perlu ganggu lo soal ini. Maaf lo udah datang dan buang-buang waktu.”

Kayson menggeleng pelan. Rambut gelapnya yang tebal tersisir ke belakang dari dahinya. “Ini pekerjaan gue. Dan lo enggak pernah jadi gangguan atau buang-buang waktu buat gue.”

“Apa?” kata Stella spontan. “Sejak kapan?”

Kata-kata itu keluar begitu saja. Kendali dirinya sudah terkikis oleh stres empat puluh delapan jam terakhir.

Mengetahui seseorang kembali membobol rumahnya. Menghancurkan semua barang-barangnya. Ia merasa marah, dan takut. Ia sudah berusaha keras untuk tetap tenang. Tapi sekarang Kayson malah ada di sini.

Dan kendalinya memang tak pernah kuat saat pria itu berada di dekatnya.Tak ada yang bisa membuatnya lebih kesal daripada Kayson. Tak ada yang bisa membuatnya merasa lebih rapuh.

Hampir setiap hari Stella nyaris tak tahan berada di dekatnya, dan pada hari-hari lainnya, Kayson memilih menjaga jarak sejauh mungkin.

Begitulah hubungan mereka berjalan. Atau mungkin, tidak berjalan sama sekali.

“Gue bakal nemuin dia. Gue bakal cari tahu siapa yang ngelakuin ini. Lo enggak perlu khawatir.” Kayson mengangguk mantap.

Rahang Stella nyaris terjatuh. “Gue enggak sanggup bayar lo!”

Itu kenyataan pahitnya.

“Gue baru mulai bisnis beberapa bulan lalu. Galeri ini … juga nyaris enggak jalan. Semua uang gue udah gue masukin ke sini. Gue tahu tarif klien lo berapa, dan gue bener-bener enggak mampu bay—”

“Persetan sama bayaran. Gue lakuin ini buat lo.” Mata Kayson berkilat. Sekali lagi, tatapan Stella melesat ke arah Riggs.

“Kenapa sih lo selalu begitu?” Suara Kayson merendah. Kayson melangkah mendekat, bergerak tanpa suara. “Kenapa lo selalu lihat dia, bahkan waktu gue sedang bicara sama lo?”

Dada Stella terasa sesak. Seketika itu juga, tatapannya kembali kepadanya. Kali ini dia tidak mengalihkan pandangan. Dan cara pria itu menatapnya … begitu hangat.

Tangan Kayson terangkat dan menyentuh pipinya. “Lo pulang bareng gue!”

Riggs mengeluarkan suara tercekat. “Whoa! Tahan dulu!” Dalam sekejap Riggs sudah di sana, mencengkeram lengan Kayson dan menariknya menjauh dari Stella. “Heh. Kita semua tahu lo bisa langsung masuk mode superprotektif. Apalagi kalau urusannya udah menyangkut Stella.”

Apalagi kalau urusannya sudah menyangkut Stella?

Sejak kapan?

Dan Stella jelas tidak pernah mendengar rumor kecil yang menarik tentang Kayson itu. Selama ini dia pikir pria itu pemarah dan amat membencinya.

“Sloooow.” Riggs menyunggingkan senyum mautnya. Senyum yang menampilkan lesung pipi kembar.

Kayson tidak punya lesung pipi. Dia punya bekas luka tegas di pipi kanan. Bekas yang hanya terlihat pada kesempatan langka ketika dia tersenyum lebar.

“Kita semua perlu napas dulu, oke?” imbuh Rigss.

Stella menarik napas sekitar empat kali.

“Kayson, gue nelepon lo karena gue butuh keahlian lo. Stella jelas butuh sistem keamanan baru di tempat ini. Gue pikir lo bisa bantu. Gue pikir lo bisa nunjukin solusi yang tepat.” Riggs mengangkat bahu. “Gue enggak manggil lo ke sini buat bawa Stella pergi!” Dia langsung tertawa kecil.

Kayson masih menatap Stella dan tidak tertawa. “Justru itu yang bakal gue lakuin. Jangan buang-buang waktu, Bro!”

“Kayaknya gue yang ketinggalan info,” gumam Stella. Pelipisnya berdenyut. Dia mengangkat tangan dan menggosok pelipis kanan. “Dengar, ini hari yang panjang. Minggu yang panjang. Bulan yang panjang. Gue hargai lo datang, Kayson, dan ya, gue butuh saran soal sistem keamanan baru.”

“Ya ... Saran aja udah cukup. Luar biasa,” timpal Riggs.

“Gue bakal suruh tim gue pasang sistem terbaru secepatnya. Sementara itu, siapin tas lo, karena lo bakal ikut gue.”

Begitulah Kayson. Pria itu bisa sangat suka memerintah. Ya, dia memang memimpin perusahaan besar. Dia bos di sana.

Stella hanya menghela napas. “Gue yakin kata tolong ada di kosakata lo. Maksud gue, gue pernah ketemu orang tua lo. Mereka orang yang luar biasa, dan gue tahu mereka ngajarin lo sopan santun.” Dia menunjuk Riggs. “Dia udah sopan minta tolong lo dan—”

Geraman rendah keluar dari dada Kayson. “Riggs itu si tukang tebar pesona. Kita semua juga tahu omong kosong itu.”

Kayson melangkah mendekat. Dengan suara bergemuruh, dia melanjutkan dengan tegas, “Tapi lo enggak butuh pesona sekarang. Lo butuh seseorang yang bisa selesaiin ini. Itu yang gue lakukan. Gue bakal bikin masalahnya lenyap. Lo punya masalah, jadi gue bakal bikin masalah itu hilang.”

“Kanapa?”

“Gue lakuin ini karena lo dalam bahaya dan lo tahu itu.”

Tubuh Stella membeku.

“Lo berusaha nge-bluff dan bertingkah seolah lo tangguh, tapi lo takut. Riggs tahu itu, dia bisa lihat kebohongan lo. Itu sebabnya dia nelpon gue. Gue juga bisa lihat kebohongan itu. Lo lihat apa yang bajingan itu lakuin ke rumah lo, dan lo takut.”

Ya, dia takut. Dan dia memang berusaha terlihat tegar, tapi kenapa harus dipermasalahkan?

Seorang perempuan harus tetap bisa menjaga dirinya sendiri di dunia ini.

“Lihat ... udah ada yang pernah masuk ke sini sebelumnya, seseorang dengan sengaja mengacak-acak pakaian dalam lo …” Tangan Kayson mengepal lalu terbuka di sisi tubuhnya. “... Gue pernah lihat situasi seperti ini dan ujung-ujungnya malah makin buruk.”

Stella berdeham. “Polisi bilang enggak ada cara buat tahu apakah itu penyusup yang sama—”

Kayson menggeleng keras. “Kalau lo punya penguntit, kalau ada idiot yang terobsesi sama lo, dia bisa aja nyerang Lo secara fisik , tahu nggak?”

Sesuatu yang memang sudah Stella takuti.

Apakah sekarang saatnya memberitahu bahwa sudah beberapa kali dia pernah di ikuti seseorang?

Dia sudah mengatakan itu pada polisi setelah pembobolan pertama, dan mereka hanya mengangguk. Mengangguk dan mengatakan, tanpa alat bukti mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

Mereka malah menyarankannya pulang lewat rute yang berbeda. Menyuruhnya mengubah rutinitasnya berjalan kaki. Dia sudah melakukannya, tetapi perasaan diawasi, diikuti, tetap saja ada.

“Stella.” Mata Kayson menelitinya. “Apa yang sebenarnya terjadi?”

Riggs melangkah lebih dekat. “Bilang ke dia atau gue yang bakal cerita.”

Stella pernah menceritakan detail itu pada Riggs, dan dia langsung bereaksi berlebihan.

“Gue … Gue pikir mungkin ada yang ngikutin gue pulang dari galeri. Sekali dua kali. Hemm ... Sebenarnya beberapa kali. Tapi setiap gue nengok ke belakang, enggak ada siapa-siapa.” Stella mengangkat bahu. “Mungkin gue cuma tegang.”

Perlahan sekali, Kayson menoleh ke arah Riggs. “Lo seharusnya langsung nelpon gue, Riggs!"

“Gue aja baru tahu setelah pembobolan kedua! Dan dia enggak mau gue hubungi lo, oke? Gue harus melakukannya diam-diam. Lo tahu gimana Stella ngomongin lo! Sial, lo tuh selalu bikin dia gugup. Dari dulu begitu.”

Stella mundur selangkah. “Gue bakal stay di sini. Dan seperti yang gue bilang tadi, kasus ini bukan tipe yang biasanya lo tangani, Kayson. Gue sudah pasang sistem keamanan baru setelah pembobolan pertama. Gue juga mulai memastikan pulang dari galeri sebelum gelap. Gue sudah ambil tindakan pencegahan.”

Kayson memandang sekeliling rumahnya. “Tapi dia baru saja menembus sistem baru itu.” Dia mengernyit. “Lo seharusnya nelpon gue. Biar tim gue yang pasang.”

Stella paham, Kayson menganggapnya melakukan kesalahan.

“Soalnya ... masalahnya alarmnya bahkan enggak bunyi.” gumamnya. Padahal dia membayar mahal untuk sistem itu.

“Lo enggak bisa tinggal di sini sampai sistem terbaru terpasang. Sistem dari gue!” Kayson memutar bahunya. “Jadi kemasi tas lo. Udah malam, dan lo udah kelihatan kayak mayat hidup.”

1
Rita
like seru tegang
DityaR: Maacii kak
total 1 replies
Rita
bagus biarpun awal2 bingung ma obrolan nya ceritanya seru tebak2an siapa penjahaty semangat terus
Rita
sdh g sabar nervous
Rita
hhhmmmmmmm👀
Rita
😂😂😂😂saking kuaty
Rita
tegang,trauma,kecewa,sedih takut jadi satu kmu sdh bener
Rita
buruan mumpung lengah
Rita
seru g diduga
Rita
nah lho👀👀👀👀
Rita
😂😂😂😂
Rita
ini diluar pengamanan 🥰🥰🥰
Rita
👍👍👍👍👍👍bener
Rita
Mudah2n beneran selesai
DityaR: pembunuhnya aja belum ketemu, selesai gimana wkwkwk
total 1 replies
Rita
akhirnya
Rita
bikin deg2an Kayson
Rita
nikahin lah
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
😂😂😂😂😂
Rita
hhmmm bnr2 sdh selesai blm?
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!