"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.
Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,
"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."
Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.
Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,
Namun siapa sangka? Di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Rangga
BRAK!!
Terdengar suara dobrakan pintu dari luar, tampak Rangga baru saja masuk setelah menendang papan kayu di depannya.
"Pak Rangga? Ada perlu apa datang ke sini?" ujar pria paruh baya berlari dari dalam rumah.
Disusul oleh anak dan istrinya yang juga terkejut mendengar suara keras tadi. Mereka penasaran sekaligus panik, entah apa maksud kedatangannya.
"Cepat, suruh Nila agar kembali bersamaku." lugas Rangga memberi tatapan tajam,
Ajis tertegun sejenak, kebingungan mencari alasan. "Saya sudah menyuruh Nila untuk menceraikan suaminya. Tapi dia tidak mau---"
"Kalau dia ga mau, ya dipaksa! Bukankah kamu pandai melakukannya?!"
"Paksa Nila agar bercerai dan kembali kepadaku." ucapnya membentak seperti orang kesetanan,
"T-tapi, Nila sudah berubah...akhir-akhir ini dia sering melawan dan bertindak seenaknya,"
"Apa kamu ga mau jadi besan keluarga Wijaya? Kalau kamu berhasil membantuku, akanku beri imbalan besar!"
"Ta-tapi bagaimana caranya? Apalagi Nila sekarang tidak bersama dengan suaminya..." ucap Ajis merasa gugup,
Tentu tawaran yang sangat menarik. Namun bisakah dia membujuk keponakannya yang keras kepala?
"Buat saja alasan sepintar mungkin. Suruh dia ke sini, setelah itu..."
"Tambahkan ini ke minuman Nila." ujar Rangga bergumam dengan raut penuh dendam,
Menyodorkan botol kecil berisi cairan bening.
"Apa ini?"
"Obat bius. Setetes saja sudah cukup buat menidurkannya. Setelah itu, dia takkan bisa lepas dariku..."
Ajis menerima pemberian tadi meski bimbang, tak menduga kalau Rangga akan berbuat nekat. Tapi bukan masalah besar, selagi dia mendapat imbalannya.
"Baiklah. Saya akan coba--kalau Nila setuju, saya akan menghubungi Pak Rangga." mengangguk singkat,
Pria itu pun pergi setelah menjalankan rencana, tinggal menunggu hasil yang dinantikan.
"Apa ga keterlaluan kalau kamu menjebak Nila?" protes Ratih memukul lengan Ajis,
Istrinya yang sedari tadi diam menyimak rencana jahat mereka.
Dia bukan wanita baik, namun juga tidak tega jika berbuat berlebihan. Menjebak istri orang lain agar tidur dengan pria yang bukan suaminya?
"Diam saja kamu! Toh kalau dapat bayaran, uangnya kita nikmati bareng-bareng." jawab Ajis meninggikan suara,
"Iya Bu, biarin aja. Aku juga mau balas perbuatannya!" rengek Raisa merangkul lengan ibunya,
"Gara-gara dia aku diblacklist semua perusahaan. Biar dia kapok karena sudah menjahatiku!"
Kring...
Kring...
Kring...
Bunyi dering ponsel menggema, mengalihkan perhatian gadis yang tengah sibuk menyelesaikan pekerjaan.
Tampak Nila sedang duduk di depan layar laptop, sigap tangannya meraih ponsel dari dalam laci. Mendapati panggilan dari bibinya,
"Halo, bibi? Ada apa?" tanya Nila merendahkan suara, tumben sekali yang menelpon bukan paman.
Tak curiga sama sekali seakan telah melupakan hal yang pernah terjadi, masalah hutang dan juga Raisa. Keduanya sudah mendapat konsekuensi masing-masing,
"Halo Nila, nanti pulang kerja apa bisa mampir ke rumah? Karena rumah bibi udah dijual, sekarang kami tinggal di rumah lamamu. Jadi bibi mau membereskan barang-barang milik orang tuamu,"
"Apa nanti kamu bisa datang mengambilnya?"
"Bisa, tentu saja. Kebetulan setengah jam lagi aku selesai---nanti aku langsung ke sana," jawab Nila menyetujui.
"Ya sudah, bibi tunggu ya..."
Panggilan telfon itu terhenti, sepertinya Nila tak merasa curiga dan cukup santai mengambil keputusan tersebut.
Setelah membereskan sisa pekerjaan, Nila langsung pergi menuju rumah lamanya.
"Apa aku telfon Elang? Mm...sepertinya tidak perlu,"
"Lagian cuma ngambil barang. Buat apa memintanya untuk menemaniku,"
30 menit kemudian,
Nila datang membawa mobil yang diberikan perusahaan padanya sebagai fasilitas.
Diparkirkan di halaman rumah, sejenak dia menatap pintu yang sudah terbuka lebar.
Segera melangkah masuk mencari keberadaan orang lain. Menyusuri ruang hingga menuju dapur,
Di sana Nila menemukan mereka sedang berkumpul di meja makan,
"Nila, kamu sudah datang? Ayo duduk, kita makan sama-sama." ajak Ajis bersikap ramah, perubahan sikapnya membuat Nila merasa aneh.
"Ga usah, aku ke sini cuma ngambil barang-barang." menolak secara langsung,
"Duduk saja Nila. Sudah lama kita ga makan bersama, aku sudah memasak makanan kesukaanmu." rayu Ratih tak kehabisan akal guna membujuk,
Begitu pula Raisa yang tiba-tiba tersenyum dan bertutur lembut. "Kakak, aku mau minta maaf soal masalah yang kulakukan dulu."
"Aku sadar aku sudah keterlaluan...aku sangat menyesal,"
"Aku mau memperbaiki hubungan kita." tambahnya tertunduk malu, berakting sebagai pendosa yang hendak bertobat.
"Hhh..." Nila menghela nafas berat,
Apa dia mabuk? Kenapa tiba-tiba bertingkah sok baik. Mana mungkin ketabrak hidayah tuhan, tapi meski ragu Nila tak punya pilihan selain setuju.
Menduduki salah satu kursi, sambil melihat hidangan yang mengisi meja. Mulai merasakan kejanggalan, karena jumlah makanan yang terlalu banyak bahkan bisa disebut hidangan mewah.
"Kira-kira habis berapa buat masak sebanyak ini?"
Seperti ingin menjamu seorang raja, Nila juga baru sadar kalau mereka menyediakan 1 kursi tambahan yang masih kosong.
"Sudah lah, ga perlu dipikirin. Langsung makan saj, habis itu pulang..."
"Eits, tunggu dulu!" sontak Ajis menghentikan tangan gadis yang bersiap memindahkan secentong nasi ke dalam piring.
Nila menoleh dengan raut penuh tanda tanya, "Nunggu apa lagi?"
"Tunggu sebentar. Ada tamu yang belum datang,"
"Tamu?" Nila mengernyit tak mengerti, siapa lagi orang yang sedang mereka tunggu?
Tak berselang lama, seorang pria datang dari arah lain dan begitu santai menempati kursi di samping Nila.
Kehadirannya membuat Nila terkejut sekaligus risih. "Jadi, dia tamu yang paman maksud?"
"Aku pulang saja!"
Jangan lupa tinggalkan komen ya/Pray//Kiss/
Komen kalian menambah semangat author dalam menulis, biar lebih sering updatenya. Hehe...