Ziva Putri Willson, putri bungsu keluarga Willson, adalah perpaduan sempurna antara kecantikan, kecerdasan, dan kepercayaan diri setinggi langit. Di usianya yang masih muda, dia telah menjadi desainer ternama yg namanya menggema hingga ke mancanegara.
Damian Alexander, CEO muda yang dikenal kejam dan dingin. Baginya, hidup hanyalah deretan angka dan nilai saham. Dia sangat anti pada wanita karena menganggap mereka makhluk paling merepotkan di dunia.
"Dengar, Tuan CEO, kamu mungkin bisa membeli saham dunia, tapi kamu tidak bisa membeli hak untuk mengatur kapan aku harus bernapas. Jadi, simpan wajah sok kuasamu itu untuk rapat, bukan untukku." -Ziva.
"Aku sudah menghadapi ribuan musuh bisnis yang licin, tapi menghadapi satu wanita bermulut tajam seperti dia jauh lebih menguras energi daripada akuisisi perusahaan. Tapi justru itu yang membuatnya berbeda." — Damian.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Si Tuan Dingin yang mulai kehilangan akal sehatnya, atau Nona cerewet berwajah manis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DINER
Begitu pintu lift tertutup, Ziva menyandarkan punggungnya dengan helaan napas berat.
Insting bisnisnya yang tajam mengatakan bahwa makan malam ini bukan sekadar reuni teman lama. Ada sesuatu yang lebih besar.
Ceklekk
Ziva melangkah masuk ke kamarnya yang luas, semuanya masih sama, tidak ada yang berubah sejak dia pindah lima tahun lalu.
Wangi lavender yang menenangkan menyeruak di indra penciumannya.
"Penting? Spesial? Kenapa perasaanku tidak enak ya?" gumam Ziva sambil membuka lemari pakaian raksasa miliknya.
Ziva dengan malas menatap deretan gaun yang dia rancang sendiri, jarinya berhenti pada sebuah gaun silk berwarna midnight blue dengan potongan backless yang elegan namun tetap menunjukkan otoritasnya sebagai seorang wanita karier.
"Jika mereka merencanakan sesuatu, setidaknya aku harus terlihat seperti orang yang sulit ditaklukkan," batin Ziva dengan senyum miring.
Setelah memilih pakaian yang pas untuk nanti malam, Ziva merebahkan tubuhnya di atas ranjang besar nya.
"Aku lupa belum kabarin mereka," ucap Ziva, bangkit lagi.
Ziva mengambil handphonenya yang ada di dalam tasnya, dan mengirim pesan singkat pada sahabat-sahabat nya.
"I'm back."
sent✓✓
Dret
Dret
Dret
Tidak sampai lima menit, setelah pesan terkirim, ada panggilan masuk di handphone Ziva.
Ziva mengangkat panggilan video call grup dari sahabat-sahabat nya.
"OMG ZIVA! LO BENERAN UDAH PULANG KE NEGARA J!"
Teriak seorang gadis di layar telepon, Ziva.
"Vio jangan berteriak seperti itu, lihat itu wajah Ziva udah masam," ucap gadis yang satu nya lagi.
Mereka sedang melakukan panggilan Video Call yang isinya tiga orang.
"Ya habisnya kan aku kaget, tiba-tiba dapet notif dari ibu desainer ini," jawab Viola, tidak mau salah.
"Apa kabar Zi?" tanya Tiara, sahabat Ziva paling kalem.
"Baik. Kalian berdua gimana?" jawab Ziva singkat.
"Kita juga baik kok," jawab Viola, di angguki Tiara.
"Btw Zi, kenapa kamu tiba-tiba pulang, bukan nya sebentar lagi kamu akan launching koleksi musim gugur?" tanya Viola, yang merupakan salah satu BA di Z Style.
"Aku juga gak tahu guys, tadi pagi tiba-tiba Mommy nyuruh aku pulang dan udah kirim jet pribadi untuk jemput aku," jawab Ziva, menggeleng kan kepala nya.
"Mungkin Tante Mauren kangen sama kamu Zi, kamu juga udah lama banget di negara K," ucap Tiara, sahabat Ziva yang berprofesi sebagai dokter.
"Bisa jadi," sahut Viola, setuju.
"Mumpung Ziva lagi di sini gimana kalau besok kita hang out bareng!" seru Viola semangat.
"Boleh," jawab Ziva, mengangguk setuju.
"Kayaknya aku gak bisa deh kalau besok, aku ada jadwal operasi besok jam delapan," ucap Tiara, yang merupakan seorang dokter.
"Karena kita sahabat yang baik hati dan tidak sombong, kita tungguin sampe kamu selesai operasi nya. Iya gak Zi?" ucap Viola, cerewet.
"Iya, kita bisa pergi besok siang," jawab Ziva, mengangguk kan kepala nya.
"Oke setuju! Besok kita shoping bareng guys! Aku udah gak sabar, terakhir kali kita shoping bertiga waktu kita masih kuliah dulu!" teriak Viola, tersenyum lebar.
"Jadi kangen jaman kita kuliah dulu," lanjut Viola, dramatis.
"Kangen bikin onar nya maksud kamu," ucap Tiara, sinis.
"Itu dia. Hahahaaa!" jawab Viola, tertawa.
Ziva menarik garis senyum tipis nya, dia ingat dulu waktu masa-masa kuliah, mereka bertiga sering gak masuk kelas, untuk mereka memiliki otak yang genius, walaupun jarang masuk kelas, mereka mendapatkan nilai yang sempurna.
Tiga sahabat yang sedari SD selalu bersama, dan sekarang mereka bertiga sudah sukses semua dengan karier mereka masing-masing.
Ziva menjadi seorang desainer yang terkenal, Tiara menjadi dokter dan Viola menjadi model yang sudah go internasional.
"Sahabat mu itu Zi," ucap Tiara, tertawa kecil.
"Sahabat mu juga," jawab Ziva, juga tertawa.
Viola yang sadar sedang di ejek oleh kedua sahabat nya, mengerucut kan bibir nya.
"Kalian jahat, aku ngambek," ucap Viola, melipat kedua tangannya.
Ziva dan Tiara saling pandang, sebelum akhirnya mereka berdua kembali tertawa bersama.
"Hahahaha!"
Sore itu ketiga sahabat itu sedang bercanda gurau lewat panggil video call, banyak yang mereka ceritakan dari hal-hal random bahkan hal yang gak penting.
Setelah hampir satu jam tertawa dan bertukar cerita, Ziva akhirnya memutuskan sambungan video call tersebut karena hari mulai beranjak senja, dia harus segera bersiap untuk makan malam misterius yang direncanakan Mommy dan Daddy nya.
"Ingat ya, besok jam satu siang di tempat biasa!" teriak Viola sebelum layar ponsel menjadi hitam.
Ziva terkekeh pelan, lalu beranjak menuju kamar mandi nya, untuk membersihkan tubuh nya, mengingat Ziva memang belum membersihkan diri nya, seharian ini.
Dua puluh menit kemudian, Ziva keluar dari kamar mandi nya, menggunakan kimono dan handuk yang membungkus rambut nya.
Ziva berjalan menuju meja riasnya, dia memoles wajahnya dengan makeup yang tidak terlalu tebal namun memberikan kesan tegas.
Lipstik berwarna nude kecoklatan melengkapi penampilan Ziva malam ini, setelah itu Ziva mengerikan rambut nya dan di Curly.
Setelah urusan make up dan hair do nya selesai, Ziva mengenakan gaun midnight blue pilihannya, pantulan di cermin menunjukkan sosok wanita yang sangat berbeda dengan gadis remaja lima tahun lalu.
Di dalam cermin itu adalah Ziva Putri Willson, pemilik imperium fesyen.
"Sempurna," gumam Ziva, tersenyum puas.
Kalau untuk penampilan, tidak perlu diragukan lagi, Nona desainer itu memang jagoan nya.
Tepat pukul tujuh malam, Ziva turun ke lantai bawah, karena tidak ingin mendengar Omelan Mommy nya lagi.
Di sana, Daddy dan Mommy-nya sudah menunggu, tampil sangat serasi.
Tuan Justin mengenakan setelan jas abu-abu gelap.
Sementara Nyonya Mauren terlihat sangat anggun dengan gaun berwarna senada dengan gaun Ziva.
"Putriku...kamu cantik sekali malam ini," puji Tuan Justin sambil memberikan lengannya untuk digandeng Ziva.
"Terima kasih, Dad. Jadi, kita akan makan malam di mana?" tanya Ziva, mengapit lengan Daddy nya.
"Restoran The Queen, teman Daddy sudah memesan tempat di sana," jawab Tuan Justin.
Tuan Justin di apit oleh dua perempuan kesayangan nya, berjalan keluar menuju mobil mereka, yang sudah terparkir di depan mansion, menunggu sang majikan.
"Mommy sebenarnya ini ada apa si?" tanya Ziva, setelah duduk di adalah mobil.
"Udah, nanti kamu juga tahu sendiri," jawab Nyonya Mauren, tersenyum misterius.
"Menyebalkan," gerutu Ziva, melihat ke luar jendela mobil.
Tuan Justin dan Nyonya Mauren, saling pandang dan sama-sama tersenyum kecil, melihat tingkah putri mereka.
Perjalanan menuju restoran hanya memakan waktu lima belas menit.
Restoran mewah itu terletak di lantai teratas salah satu gedung pencakar langit milik keluarga Willson.
Ting
Saat pintu lift terbuka, seorang pelayan langsung mengarahkan mereka ke area VIP yang sudah dipesan secara privat.
"Ayo Sayang," ucap Nyonya Mauren, mengandeng tangan Ziva.
"Hem"
Gumam Ziva, terpaksa mengikuti Mommy nya.
abang posesif vs clon suami kutub....🤣🤣🤣
crazy up dpng thorrrrr
koreksi ya semangat
bru brbgi air mnum aja udh baper...
kbyang nnti kl udh nkah,trs tnggal srumah....atw sekamar pula.....🤭🤭🤭