Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkunjung
Tidak lama air di sungai mulai bergetar lalu perlahan-lahan pusaran mulai terbentuk dan semakin cepat. Sepasang mata putih muncul lalu naga air lambat laut muncul dan semakin tinggi. Karena air di penuhi bunga, tubuh naga itu seperti terbuat dari bunga.
Tingginya kira-kira tiga puluh meter dan berdiri di depan pelayan itu. Membuka mulutnya lebar-lebar dan lidahnya yang panjang bergetar seiring dia berteriak nyaring. Kedua matanya menatap tajam ke arah Tuan putri. Ketika itu tekanan gravitasi bertambah dan angin kencang bertiup lagi dan semakin keras. Kelip-kelip di langit lebih intes. Dunia yang sebelumnya tenang kini seperti mengalami badai dahsyat.
Tuan Wang yang tidak jauh dari sana dipenuhi keterkejutan dan dia terpaku melihat naga itu. Lalu tidak lama beberapa orang bersamanya memuntahkan darah dan merasa sesak di dada. Ini... Kekuatan ini mungkin membuat orang menyebutnya master.
Tuan putri memuntahkan darah segar dan ekspresinya lebih pucat. Dia tidak pernah menyangka orang di depannya ini benar-benar tidak bisa di bendung. Dia tidak punya pilihan lain selain berjuang keras melawannya. Perlahan-lahan tubuh tuan putri terbakar dan memperlihatkan seorang wanita bergaun kuning sedang berdiri dengan tatapan tajam.
Orang-orang, termasuk Tuan Wang tercengang. Mereka tidak menyangka ini akan terjadi dan apa yang di perkirakan pelayan itu benar adanya.
Wanita itu berkata, “Tidak menyangka kamu tidak mudah di bohongi.”
Dia segera mengigit ibu jarinya dan setetes darah jatuh ke tanah. Tidak lama getaran mulai muncul. Lalu perlahan-lahan orang-orang sekitar mulai berteriak kesakitan dan tumbuh mereka memudar menjadi butiran-butiran emas. Tidak hanya itu, bangunan-bangunan dan pohon juga seperti itu; melebur dan menyatu ke belakang wanita itu dan perlahan-lahan membentuk wujud yang sangat besar.
Teriakan-teriakan terus berlangsung hingga akhirnya semua lenyap dan menyisakan tuan Wang yang terpaku, bingung dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Semuanya lenyap dan menyisakan tanah kosong tanpa apa pun kecuali sungai. Tuan Wang bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
Sementara pelayan itu hanya memiliki tatapan dingin dan bertambah dingin. Dia lalu mengangkat tangannya ke langit lalu mengerakannya sangat cepat. Lalu tidak lama pusaran muncul di langit dan perlahan-lahan phoenix api yang ukurannya tidak jauh dari naga itulah muncul dengan raungan yang menggelegar.
Tuan Wang segera di tekan dan kakinya tenggelam beberapa inci ke tanah, sepertinya berat ratusan kg tiba-tiba menghantam di punggungnya. Dia mengertakan giginya dan darah mulai keluar dari sela-selanya. Sebelumnya dia hanya ingin kembali pulang dan beristirahat tanpa menikmati festival, tapi dia di lempar dalam kekacauan dan sekarang dalam kebingung dan keheranan yang sulit di percaya.
Sementara sosok di belakang wanita bergaun kuning itu akhirnya terbentuk, menyerupai setengah badan seorang wanita cantik dengan bulan bersinar di belakang kepalanya yang seperti memancarkan kesan ilai. Cahaya emas terpancar ke berbagai arah. Di tangannya yang lembut memegang setangkai bunga teratai.
Pelayan itu hanya mendengus, burung dan naga itu meraung dan segera melesat. Sementara sosok dewi itu melambaikan tangannya dan teratai di tangannya melesat ke depan dengan lembut sembari berputar-putar, yang sangat berbeda dengan agresifnya naga dan burung itu, kemudian ledakan besar terjadi.
Tuan Wang berteriak kesakitan namun tidak lama muncul perisai di tubuhnya. Angin kencang berhembus, naga air berteriak nyaring, phoenix mengibaskan kedua sayapnya menyerang dengan apinya, sementara bunga teratai itu dengan lembut berputar-putar menahan energi yang melesat ke arahnya. Lalu tidak lama kedipan-kedipan muncul dan perlahan-lahan, bunga itu mulai terkikis dan hancur.
Wanita bergaun kuning terbelalak dan memuntahkan darah. Sekejap wajahnya menjadi pucat.
Tuan Wang yang berusaha bertahan mulai bertanya, “Jadi... Orang itu kalah?”
****
Ada udara dingin di pegunungan yang tinggi dan tangga berkelok-kelok telah di bangun menuju puncak dengan sebuah bangunan suci di atasnya. Setiap sore para penjaga akan turun menghidupkan lilin dalam kaca bulat di pinggir-pinggir jalan sehingga membuatnya terlihat indah di malam hari.
Pohon-pohon tinggi memenuhi bukit dan suasananya sangat tenang.
Tuan kusir diam di jalan itu sebentar dan menatap ke atas. Dia minum arak dari botolnya lalu perlahan-lahan berjalan menaiki tangga itu.
Kira-kira tiga puluh menit untuk tiba di atas.
Ada bangunan besar di atas dan halaman rumahnya seluas lapangan. Beberapa bunga di taman di sana dan sebuah pohon persik melengkung elok. Di depannya terlihat rumah-rumah penduduk dan desa yang mengadakan festival langit.
Dari ketinggian tempat itu, angin dengan mudah berhembus dan menerbangkan pakaian. Kusir itu meneguk araknya sekali lagi dan memandang seorang wanita yang berdiri menatap desa dan festival.
“Akhirnya anda datang,” kata wanita itu tanpa berbalik dan suaranya yang jernih menjernihkan suasana malam Itu.
Rambutnya yang panjang menari-nari lembut dan pakaian yang panjang sedikit bergoyang.
“Aku hanya datang untuk melakukan sesuatu,” Tuan kusir berkata enteng. “Apa kau menerima seorang tuan kusir sepertiku?”
“Mengapa tidak?”
Ada sedikit jeda ketika dia berkata, membiarkan suara angin mengisinya.
“Tempat ini untuk semua orang. Meskipun anda seorang kusir atau warga biasa saya tidak bisa menolaknya. Dan, lagi pula anda kusir tuan putri.”
“Aku tidak pernah mengatakannya dan kau sudah tahu. Benar-benar orang yang suka mengikuti.”
Kusir itu menggeleng kemudia melepaskan topinya dan memperlihatkan wajahnya dengan rambut panjang dan wajahnya yang tidak terlalu tampan, namun itu membuat seseorang berpikir jika dia bukan orang jahat.
Wanita itu masih diam saja dan tidak menoleh.
Lalu kusir itu berkata, “Aku hanya datang untuk menghentikan semuanya.”
Diam sejenak, mendengus, wanita itu berbalik dan melambaikan satu tangannya. Angin kencang berhembus dan tiba-tiba muncul lima naga yang melesat ke arah kusir tapi kemudian hancur dan menjadi hujan tinta yang bertebaran.
Wanita itu akhirnya berbalik dan menatap kusir itu.
Dia sangat cantik dan lembut, namun ada sedikit kebencian di wajahnya. Memegang kedua tangannya di depan dada ketika berkata, “Menuduh seseorang seperti itu, aku sangat membencinya.”
Kusir itu tertawa. “Mana ada seperti itu?”
Dia melempar botol labu di tangannya dan bergerak cepat lalu berhenti di depan wanita itu.
“Minumlah,” kata kusir itu.
Wanita itu sedikit meliriknya lalu menghela nafas dan kembali berbalik menatap desa dan kemeriahannya. “Tuan,” katanya lembut. “Kembalilah, aku tidak akan melakukan apa pun.”
“Kenapa begitu? Tidakkah kamu menghidangkanku minuman? Aku sudah jauh-jauh datang ke sini.”
Wanita itu diam sebentar dan tidak menjawab.
Kusir itu kesal. “Baiklah, baiklah, tapi aku tidak akan menyerahkan arak itu.”
Botol labu itu mulai bergetar dan melesat kembali namun sebelum mencapai kusir itu, wanita itu melambaikan tangannya dan jarum melesat. Botol labu itu pecah dan araknya memercik ke segala arah. Wanita itu berkata, “Setelah kamu datang setidaknya tinggalkan sesuatu di sini.”
Ketika cairan arak menyentuh tanah, bunga-bunga kenikir berbagai warna tumbuh dan bergoyang-goyang lembut di bawah sinar bulan.
“Chih, Kamu menghancurkanya, padahal istriku harus bergadang membuatnya. Baiklah, baiklah, jaga dirimu baik-baik.”
Kusir itu berbalik pergi dan perlahan-lahan menghilang. Wanita itu berbalik menatapnya sebentar. Menghela nafas dan mengayunkan tangannya. Perlahan-lahan sesuatu akhirnya menghilang di langit. Wanita itu berbalik menatap desa. Diam sebentar sebelum berkata, “Pria yang menarik.”