(WARISAN MUTIARA HITAM SEASON 4)
Chen Kai kini telah menapakkan kaki di Sembilan Surga, namun kisahnya di Alam Bawah belum sepenuhnya usai. Ia mempercayakan Wilayah Selatan ke tangan Chen Ling, Zhuge Ming, dan Gui. Sepuluh ribu prajurit elit yang berhutang nyawa padanya kini berdiri tegak sebagai benteng yang tak tergoyahkan.
Sebuah petualangan baru telah menanti. Sembilan Surga bukanlah surga penuh kedamaian seperti bayangan orang awam; itu adalah medan perang kuno para Kaisar Agung, tempat di mana Mutiara Hitam menjadi incaran seluruh Dewa.
Di Sembilan Surga, hukum duniawi tak lagi berlaku. Di sana, yang berkuasa hanyalah Kehendak Mutlak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pil yang Mengguncang Awan
Cahaya putih murni memancar dari sela-sela tutup tungku Besi Bintang yang sudah memerah. Di dalam ruang yang sunyi itu, suhu udara tidak meningkat, melainkan terasa semakin padat dan dingin—sebuah anomali alkimia yang hanya terjadi jika energi yang digunakan telah termurnikan hingga ke tingkat atom.
Chen Kai duduk bersila, kedua telapak tangannya menempel pada dinding tungku. Di dalam Dantiannya, Mutiara Hitam berputar dengan frekuensi yang sangat tinggi, menyedot Esensi Dewa dari atmosfer dan memampatkannya menjadi untaian benang cahaya yang masuk ke dalam ramuan.
Mo Yan berdiri di sudut ruangan, menahan napas. Sebagai mantan alkemis dari Surga Kedua, ia telah melihat banyak master penyulingan, namun ia belum pernah melihat seseorang mengendalikan esensi dengan ketenangan seperti itu. Tidak ada keringat, tidak ada getaran Qi yang terbuang sia-sia. Setiap gerakan Chen Kai adalah efisiensi murni.
"Dia tidak sedang memasak bahan..." bisik Mo Yan pada dirinya sendiri. "Dia sedang memaksa hukum alam untuk menyatu."
WUNG!
Tiba-tiba, tungku itu bergetar hebat. Aroma yang sangat segar—seperti bau hujan pertama di pegunungan es—mulai merembes keluar. Aroma ini bukan sekadar bau; setiap molekulnya membawa sedikit vitalitas yang membuat tanaman layu di pot jendela ruangan mendadak tumbuh mekar dalam hitungan detik.
Chen Kai membuka matanya. Pupil dengan lingkaran emasnya bersinar terang.
"Tarik," perintah Chen Kai rendah.
Api putih di bawah tungku tiba-tiba tersedot masuk ke dalam, membungkus bola energi di pusat kuali. Chen Kai menggunakan Hukum Gravitasi secara mikro untuk menekan energi yang hendak meledak itu menjadi satu titik padat.
KLANG!
Tutup tungku terlempar ke atas, namun bukan asap hitam yang keluar, melainkan seberkas cahaya putih yang melesat menuju langit-langit sebelum akhirnya ditangkap oleh telapak tangan Chen Kai.
Di tangan Chen Kai, berbaring sebutir pil berwarna putih susu dengan guratan perak yang menyerupai pola awan yang berputar.
Pil Awan Penembus Roh.
"Pola Awan..." Mo Yan jatuh berlutut, matanya bergetar. "Tuan... Anda menciptakan Pil Pola Awan hanya dengan tungku bekas dan bahan-bahan dasar? Ini... ini adalah penghinaan bagi seluruh standar alkimia Sembilan Surga!"
Di dunia ini, pil dengan "Pola Awan" adalah tanda bahwa kemurnian esensinya mencapai 99,9%. Bahkan Tetua Sekte Kuali Awan pun butuh bahan-bahan langka dan tungku legendaris untuk mencapainya.
Chen Kai memasukkan pil itu ke dalam botol giok sederhana. "Ini hanya tiket masuk, Mo Yan. Jangan terlalu berlebihan."
Ia berdiri, merasakan sirkulasi energinya sedikit meningkat. Pemurnian tadi telah membantunya menyerap lebih banyak Esensi Dewa ke dalam sumsum tulangnya.
"Hanya tinggal selangkah lagi," batin Chen Kai. "Ritual Embun Kristal Surga besok malam akan menjadi pemicu ledakannya."
Keesokan Harinya - Pelataran Utama Paviliun Penyulingan Awan.
Kota Awan Putih tampak lebih sibuk dari biasanya. Ribuan alkemis dari berbagai penjuru benua melayang, berkumpul di depan menara raksasa yang puncaknya tertusuk awan emas. Suasana dipenuhi oleh aroma herbal yang berat dan kompetisi yang kental.
Chen Kai berjalan di tengah kerumunan, masih mengenakan jubah abu-abu kusam dan penyamaran Cincin Kerudung Malam. Di belakangnya, Ah-Gou membawa kotak obat tua, sementara Mo Yan berjalan dengan kepala tertunduk, mencoba menyembunyikan identitas pelariannya.
"Berhenti! Barisan budak dan kuli di sebelah sana!" teriak seorang penjaga bersayap perak, menghalangi jalan Chen Kai dengan tombak angin.
Chen Kai berhenti, menatap penjaga itu dengan ekspresi datar. "Aku di sini untuk mendaftarkan diri dalam Ujian Alkemis Darurat."
"Ujian Darurat?" Penjaga itu tertawa mengejek, suaranya menarik perhatian para alkemis bangsawan di sekitar. "Kau lihat pakaianmu? Ujian itu membutuhkan biaya pendaftaran seratus Pasir Dao dan kemampuan untuk memurnikan esensi tingkat satu. Pergilah ke pasar jika ingin bermain-main."
Seorang pemuda dengan jubah hijau zamrud mewah yang lewat di samping mereka mendengus jijik. "Tikus-tikus dari Distrik Selatan semakin hari semakin tidak tahu diri. Apakah mereka pikir alkimia adalah seni memasak sup?"
Chen Kai tidak membalas ejekan itu. Ia hanya mengulurkan tangannya, memegang botol giok berisi pil yang ia buat semalam.
"Aku tidak suka membuang kata-kata," kata Chen Kai. Ia membuka sumbat botol itu hanya selama satu detik.
WUSH!
Seketika, aroma murni yang dingin menyebar di radius sepuluh meter. Para alkemis di sekitar yang tadinya tertawa, tiba-tiba terdiam. Wajah mereka berubah pucat saat merasakan energi spiritual di dalam tubuh mereka bergetar selaras dengan aroma tersebut.
Penjaga bersayap perak itu membeku. Tombaknya bergetar di tangannya. Sebagai prajurit, ia sangat peka terhadap kualitas energi. Aroma ini... bahkan lebih murni daripada pil yang pernah ia terima dari komandannya.
"Ini..." Penjaga itu menelan ludah, arogansinya lenyap berganti dengan ketakutan. "Tuan... mohon tunggu sebentar. Saya akan memanggil pengawas ujian sekarang juga."
Chen Kai menutup kembali botolnya, aroma itu lenyap, namun dampaknya tetap tinggal.
Di atas menara Paviliun, di balik jendela kaca transparan, seorang wanita tua dengan jubah Tetua menatap ke bawah. Matanya yang tajam menyipit, fokus pada pemuda berambut hitam yang berdiri tenang di gerbang.
"Indra Alkemiku baru saja berdenyut," gumam Tetua tersebut. "Ada naga yang sedang bersembunyi di balik kulit domba di bawah sana. Siapkan ruang ujian tingkat tiga. Aku ingin melihat sendiri apa yang dibawa oleh si pengembara ini."
Perang dingin di Paviliun Penyulingan dimulai. Chen Kai tidak lagi datang sebagai debu, melainkan sebagai badai yang siap meruntuhkan arogansi para dewa melalui seni kuali.
terimakasih Thor 🙏🙏🙏
dan semoga kedepannya lebih bagus lagi
Kai.... sikat semua dewa2 palsu nya
BTW.... pasti dewa2 Asli nya jadi tahanan mereka ya ?.......... 💪💪💪💪