Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.
Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.
Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Usai makan siang, Alvar mendapati dapur sudah kembali lengang. Hanya ada ibunya yang berdiri di depan wastafel, tangannya sibuk mencuci piring-piring bekas makan mereka.
Ayahnya belum pulang dari kantor desa.
Alvar sempat membantu sebentar, lalu berniat keluar. Namun, langkahnya terhenti. Ia menoleh, wajahnya sedikit mengeras.
“Bu … anak kota yang manja itu ke mana?”
Sulastri langsung menoleh tajam. “Husss, kamu bilang apa sih, Alvar?” tegurnya. “Dia itu istrimu, perlakukan dia dengan baik.”
Alvar mendengus pelan. “Dia aja nggak ada sopan-sopannya sama aku, Bu.”
“Kamu yang harus banyak-banyak sabar, Var,” sahut Sulastri tanpa menoleh, suaranya tenang tapi tegas.
Belum sempat Alvar membalas, ponselnya bergetar di saku celana. Ia mengeluarkannya dan melihat layar. Alvar melirik ibunya sekilas sebelum akhirnya mengangkat.
“Halo, Bu.”
[Alvar?] suara Melati terdengar cemas.
[Kiara sudah sampai, kan? Dari tadi saya telepon dia nggak diangkat.]
“Iya, Bu. Kiara sudah di sini.”
[Nak, Ibu mau bilang … obat alerginya Kiara tertinggal di rumah. Ibu lupa kasih ke dia,] ucap Melati tergesa.
[Dia alergi berat, jadi Ibu khawatir.]
Alvar mengernyit. “Alergi apa, Bu?”
[Alergi ikan tawar. Terutama ikan nila.]
Kalimat itu seperti hantaman keras di kepala Alvar.
Bayangan makan siang tadi terlintas cepat, ikan nila goreng besar di piring Kiara, caranya sempat ragu, lalu tetap makan meski jelas tidak nyaman.
“Bu … saya tutup dulu,” ucap Alvar singkat, lalu langsung memutus panggilan tanpa menunggu jawaban.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Alvar menoleh ke arah ibunya.
“Bu, Kiara ke mana?”
Sulastri terkejut melihat perubahan raut wajah anaknya.
“Tadi katanya mau istirahat. Mungkin di kamar.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Alvar langsung melangkah cepat meninggalkan dapur. Langkahnya panjang dan tergesa, dadanya terasa sesak oleh perasaan yang tidak ia akui cemas.
Ia membuka pintu kamar mereka tanpa mengetuk.
“Kiara—” Suara Alvar terhenti di tenggorokan.
Adegan di depan matanya membuat darahnya seolah berhenti mengalir.
Tubuh Kiara terkulai di atas ranjang. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tidak beraturan. Wajahnya tampak membengkak, terutama di sekitar mata dan bibir. Kulit putihnya kini dipenuhi bercak-bercak merah yang menyebar cepat hingga ke leher dan lengannya.
Alvar langsung masuk ke dalam kamar begitu melihat keadaan itu.
“Kiara!” suaranya meninggi, langkahnya tergesa mendekat.
“Kenapa kamu?”
Kiara membuka mata dengan susah payah. Suaranya lemah, hampir tak terdengar.
“Alergi ku … kambuh.”
Alvar menegang.
“Obatmu?”
Kiara menggeleng pelan, napasnya semakin berat.
“Aku lupa … masukin ke tas waktu berangkat tadi.”
Ucapan itu membuat Alvar terdiam sesaat. Rasa bersalah menghantamnya tanpa ampun. Ingatannya kembali pada ucapan sinisnya saat makan siang, pada caranya mencibir makanan desa, pada tatapan kesal Kiara yang memilih diam dan menelan semuanya sendiri.
Tanpa berpikir panjang, Alvar langsung menyelipkan satu tangannya ke bawah lutut Kiara dan satu lagi menopang punggungnya. Ia menggendong gadis itu dengan sigap.
“Pegang aku,” ucapnya tegas meski suaranya bergetar.
Pintu kamar terbuka lebar saat Alvar keluar membawa Kiara.
“Ya Allah!” Sulastri langsung menutup mulutnya, panik melihat kondisi menantunya. “Kenapa ini, Var?”
“Alerginya kambuh, Bu. Parah,” jawab Alvar singkat, wajahnya tegang.
Saat mereka sampai di ruang tengah, pintu depan terbuka. Yono baru saja masuk, tubuhnya sedikit pincang, bertumpu pada tongkat karena kakinya belum pulih sepenuhnya.
“Ada apa ini?” tanya Yono kaget melihat Alvar menggendong Kiara yang tampak semakin lemah.
“Kita harus ke puskesmas sekarang, Pak,” ujar Alvar cepat.
“Kiara butuh pertolongan.”
Tanpa menunggu respon lebih lama, Alvar menoleh tajam ke arah ayahnya.
“Pak, kunci mobil.”
Yono tak banyak bicara. Ia segera merogoh saku celananya dan menyerahkan kunci mobil ke tangan Alvar.
“Bawa pelan-pelan, Var. Hati-hati,” pesan Yono.
Alvar mengangguk singkat, lalu melangkah cepat menuju halaman. Tangannya mencengkeram tubuh Kiara lebih erat, seolah takut gadis itu semakin menjauh darinya.
Di dalam dadanya, hanya ada satu pikiran yang berputar tanpa henti, Kiara tidak boleh kenapa-kenapa.
Begitu mobil berhenti di depan puskesmas Desa Tugu Utara, Alvar langsung membuka pintu dan turun lebih dulu. Tanpa menunggu siapa pun, ia menggendong Kiara keluar dari mobil. Wajah gadis itu semakin pucat, bibirnya tampak membiru, sementara bercak merah di kulitnya belum juga memudar.
“Dok!” teriak salah satu perawat begitu melihat kondisi Kiara.
Beberapa perawat dan seorang dokter umum segera keluar. Tatapan mereka serempak tertuju pada Alvar. Hampir semua orang di puskesmas itu mengenalnya, anak Pak Kades Yono, sekaligus dokter obgyn yang sempat menghebohkan desa karena menolak bekerja di puskesmas sendiri.
“Mas Alvar?” salah satu perawat terkejut.
“Ini kenapa?”
“Alergi berat,” jawab Alvar cepat, langkahnya tidak berhenti.
“Butuh penanganan sekarang.”
Tanpa banyak tanya, perawat itu langsung membuka pintu ruang pemeriksaan.
“Bawa ke sini, Mas.”
Alvar masuk dan meletakkan Kiara perlahan di atas ranjang periksa. Tangannya masih gemetar, dadanya naik turun tak teratur.
Dokter umum mendekat, mulai memeriksa tekanan darah dan pernapasan Kiara.
“Alergi apa?”
“Ikan tawar, nila,” jawab Alvar tanpa ragu.
Perawat menoleh cepat.
“Kami siapkan injeksi antihistamin dan oksigen.”
Alvar mengangguk. “Cepat.”
Saat masker oksigen dipasang di wajah Kiara, Alvar berdiri di sisi ranjang, matanya tak lepas dari wajah pucat itu. Tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras menahan emosi.
“Bertahan, Kiara,” gumamnya pelan, nyaris seperti doa.
“Jangan berani-berani kenapa-kenapa.”
Di luar ruang pemeriksaan, suara langkah kaki terdengar ramai. Beberapa warga berbisik-bisik, penasaran. Bagi mereka, ini pemandangan langka, melihat Alvar yang selalu tenang, kini tampak begitu panik dan kehilangan kendali.
'Bodoh, kamu Var!' gumam Alvar dalam hatinya.
outhor nih selalu aja g suka liat alvar seneng