Shafira Azzahra, tidak menyangka laki-laki yang dulu selalu baik dan royal berubah ketika dirinya sudah menikah dengan Aris Permana. Aris, suaminya menunjukkan sifat aslinya yang pelit dan perhitungan dengannya. Apalagi sikapnya yang lebih mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya yang sebagai istri.
Setiap hari Shafira akan dikasih jatah belanja 20 ribu sehari oleh suaminya, Aris. Setiap hari Shafira harus memutar otak, harus dibuat apa dengan uang 20 ribu rupiah. Jika lauk tak enak, Sharifa'lah yang akan mendapatkan makian dari mulut julid keluarga suaminya.
Akhirnya Shafira memanfaatkan waktunya dirumah dengan menulis novel dan berjualan online dengan nama pena dan nama tokonya memakai nama samaran agar suami dan keluarganya tidak tahu kalau Sahfira juga memiliki penghasilan.
Suatu hari Shafira tidak sengaja melihat sang suami sedang jalan dengan seorang wanita. Karena mencium bau bau perselingkuhan, Shafira pun mulai masa bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Enam
Fela keluar sambil menyeret kopernya ditangannya, didepan semuanya sudah menunggu.
"Bu, Fela pamit ya." ucapnya pada Bu Nana.
"Iya nak, kalau ada apa-apa langsung kasih tahu ibu ya." ujar bu Nana sambil melirik sinis kearah besannya.
"Iya bu, ibu tenang aja."
Bu Ratna melengos berjalan kearah taksi yang sudah menunggunya, ia malas berbasa-basi dengan besannya itu.
Semuanya berjalan memasuki taksi, Fela yang duduk didekat Aris hanya memalingkan wajahnya kearah luar jendela. Ia masih sakit hati dengan seserahan yang dibawa Aris untuknya yang jauh dari yang ia bayangkan.
'Huh.. belum apa-apa udah bikin kesel. Kirain bakal ngadain pesta pernikahan yang mewah, gak taunya zonk!! Malahan ibu yang rugi. Aturan yang gue pepet tuh pemilik perusahaannya langsung.' batin Fela menyesal.
Tak jauh berbeda dengan Aris, pikirannya juga jauh melayang memikirkan Shafira.
'Aku belum ikhlas pisah dari kamu Ra, kenapa kamu harus datang dan meminta bercerai sih Ra.
Kenapa kamu gak biarin mas menikah lagi, mas kan juga pengen punya anak. Kalau nanti mas punya anak, kan kamu juga yang senang. Kamu juga bisa anggap anak mas dan Fela sebagai anak kamu juga.'
batin Aris yang masih mempertahankan keegoisannya, dan menganggap Shafira memang benar mandul.
Sudah seminggu pernikahan Aris dengan Fela, tapi hubungan keduanya tidak sama seperti saat masih berpacaran. Aris yang masih memikirkan Shafira dan Fela yang syok dengan kehidupannya setelah menjadi istri Aris. Ia pikir akan menjadi nyonya dirumah ini, tidak tahunya nasibnya sama dengan Shafira yang hanya dijadikan sebagai pembantu oleh ibu mertuanya. Dan Aris yang cuek tidak pernah mau membela istrinya.
"Ris, ini ada surat untuk kamu." teriak bu Ratna dari luar.
"Surat dari siapa Bu?" Tanya Aris yang keluar sudah rapi hendak berangkat kekantor, dibelakangnya Fela menyusul.
"Gak tahu, ibu belum buka." ujar bu Ratna sambil menyodorkan amplop berwarna coklat tersebut.
Aris langsung membukanya dan seketika dirinya mematung, tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Apa Shafira seniat itu ingin bercerai sampai-sampai langsung menggugat cerai aku." lirih Aris membaca surat cerai dari pengadilan agama untuk dirinya.
Padahal niatnya ingin menemui Shafira dan membujuk mantan istrinya itu untuk kembali, ia yakin kalau Shafira pasti mau kembali menjadi istrinya. Tapi sekarang ia malah menerima surat gugatan dari mantan istrinya itu.
Fela tersenyum setelah tahu kalau itu surat gugatan perceraian. Itu artinya Ia bisa meminta Aris supaya secepatnya meresmikan pernikahan mereka. Begitu juga dengan bu Ratna.
'Aku gak bisa terima ini Ra. Lihat aja, aku gak akan pernah menyetujui perceraian kita. Kamu harus kembali sama aku Ra.' batin Aris menahan amarahnya.
Ia berjalan kearah motornya dengan perasaan yang tidak karuan. Ia berniat sepulang dari kantor, ia akan menemui mantan istrinya itu.
Pagi itu, suasana di kantor terasa lebih ramai dari biasanya. Bisik-bisik terdengar di setiap sudut, diiringi tatapan tajam yang penuh arti.
Aris dan Fela baru saja tiba, berjalan berdampingan seperti biasa, meski hubungan mereka di kantor sebelumnya dirahasiakan. Namun, langkah mereka kali ini terasa berat.
"Ada apa sih? Kenapa semua orang lihat kita?"
bisik Fela pada Aris, merasa tidak nyaman dengan sorot mata para karyawan.
Aris menggeleng pelan, mencoba menutupi rasa gugupnya.
"Mungkin cuma perasaan kamu aja. Ayo masuk."
Namun, saat mereka masuk ke ruang kerja, Fela membuka ponselnya dan langsung terkejut melihat pesan-pesan masuk yang berisi tautan video. Ia mengklik salah satu pesan dan langsung menutup mulutnya dengan tangan, matanya melebar karena syok.
"Mas Aris... video kita!" bisiknya dengan suara gemetar.
Aris segera meraih ponsel Fela dan melihat video yang dimaksud. Itu adalah rekaman dari ruang kerja Aris, adegan yang seharusnya bersifat pribadi antara mereka. Di layar terlihat jelas wajah mereka, dan apa yang terjadi di dalam video itu tak bisa disangkal.
"Ini nggak mungkin! Siapa yang bisa merekam ini?" Aris panik, wajahnya memerah.
"Bukan cuma itu, Mas." Fela memperlihatkan video lain, rekaman pernikahan mereka yang dilakukan diam-diam seminggu yang lalu. Video itu jelas memperlihatkan mereka berdua yang mengenakan baju pengantin, dan menampilkan kekacauan yang sempat terjadi karna kehadiran Shafira yang sebagai istri sah dari Aris.
Tidak sampai satu jam, seluruh kantor tahu.
Bisik-bisik semakin keras, bahkan beberapa karyawan mulai tertawa kecil ketika Aris atau Fela lewat.
"Pantes aja Fela sering masuk ke ruangan pak Aris. Rupanya ada permainan di balik meja!" ujar salah satu karyawan dengan nada mengejek.
"Dasar pelakor! udah tahu pak Aris sudah punya istri, masih aja kegatelan sama suami orang." ujar yang lain.
"Pak Aris juga sih yang salah, gak cukup sama satu sel***kangan." balas yang lain saling bersahutan.
Aris dan Fela mencoba menghindari semua tatapan itu, tapi situasi semakin tak terkendali. Setiap layar komputer yang mereka lewati tampaknya menampilkan video yang sama.
Siang itu, pak Kenzo, pemilik perusahaan, memanggil keduanya ke ruangannya. Kenzo adalah pria muda yang cerdas dan karismatik, tetapi ia juga dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan tak mentolerir kesalahan besar.
Aris dan Fela masuk ke ruangan dengan wajah tegang. Kenzo duduk di belakang meja, tangannya bertaut di depan dada. Ekspresinya dingin dan tidak ramah.
"Silakan duduk," ujarnya tegas.
Keduanya duduk tanpa suara, menundukkan kepala.
Kenzo menatap mereka dengan tajam sebelum memutar laptopnya, memperlihatkan video yang telah menyebar ke seluruh kantor.
"Kalian tahu video ini, kan?"
Aris mencoba berbicara, tapi Kenzo mengangkat tangannya, menghentikannya.
"Saya tidak mau dengar alasan dulu. Yang saya mau tahu adalah, apa kalian sadar tindakan kalian sudah melanggar etika profesional, merusak reputasi perusahaan, dan membuat lingkungan kerja jadi tidak kondusif?"
"Pak Kenzo, kami benar-benar tidak tahu siapa yang merekam ini. Kami minta maaf atas kejadian ini, tapi-" ujar Aris terbata-bata.
"Maaf?" Kenzo menyipitkan matanya.
"Pak Aris, Anda bukan karyawan baru disini, dan sudah memiliki jabatan yang cukup tinggi.
Seharusnya Anda jadi contoh, bukan malah menciptakan skandal seperti ini."
"Pak, ini kesalahan yang tidak kami sengaja.
Tolong beri kami kesempatan untuk memperbaikinya," pinta Fela dengan suara hampir menangis.
Kenzo menarik napas panjang, lalu berdiri.
"Kesempatan? Kalian sudah mencoreng nama baik perusahaan, saya tidak mau hanya karna skandal kalian, citra perusahaan yang sudah susah payah saya bangun hancur dimata orang. Kalian pasti masih ingat kan peraturan diperusahaan ini. Saya tidak mentolerir adanya hubungan gelap antar sesama karyawan yang sudah berkeluarga!"
"Tapi, Pak-" Aris mencoba membela diri, tapi Kenzo menatapnya tajam.
"Pak Aris, Anda tahu seberapa keras saya membangun reputasi perusahaan ini. Video ini bukan hanya memalukan kalian, tapi juga mencoreng nama perusahaan. Saya sudah membuat keputusan."
Ruangan menjadi hening. Fela memegang lengan Aris, mencoba menahan tangisnya.
"Mulai hari ini, kalian berdua saya nyatakan tidak lagi menjadi bagian dari perusahaan ini. Surat pemecatan kalian akan segera diproses," ujar Kenzo dengan nada dingin.
"Pak Kenzo, tolong pikirkan lagi. Kami butuh pekerjaan ini," ujar Fela putus asa.
Kenzo menatapnya tanpa emosi.
"kalian sudah membuat pilihan. Sekarang, kalian harus menerima konsekuensinya. Silakan keluar."
Aris dan Fela meninggalkan ruangan dengan langkah berat. Semua mata kembali tertuju pada mereka, tapi kali ini tatapannya penuh sindiran dan penghinaan.
"Kena batunya, tuh." bisik salah satu karyawan dengan nada mengejek.
Fela tak bisa menahan air matanya lagi. Ia memandang Aris dengan tatapan putus asa.
"Mas, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Aris hanya bisa menunduk, merasa hancur.
"Mas gak tahu Fel."
Di luar gedung, keduanya berdiri di bawah terik matahari, merasa kecil dan kehilangan arah. Masa depan yang sebelumnya terasa cerah kini hancur lebur oleh satu kesalahan besar.
Setelah keluar dari kantor dengan kepala tertunduk dan hati penuh penyesalan, mereka memutuskan untuk pulang.
"Loh, kenapa kalian pulangnya cepat?" Tanya Bu Ratna terheran-heran melihat anak dan menantunya sudah pulang dari kantor saat hari masih siang.
"Kita berdua dipecat Bu." Lirih Aris.
"Apa??" pekik bu Ratna sambil memegang dadanya.
"Bu, ibu gak pa pa kan? Fel, cepat ambilkan ibu air." bentak Aris yang melihat Fela hanya bengong.
"I-iya." ucap Fela yang sempat terkejut.
"Kenapa kalian berdua bisa sampai dipecat?"
seru bu Ratna melotot kearah anak dan menantunya, ia syok mendengar keduanya dipecat dari pekerjaannya.
Apakah pekerjaan mereka tidak ada yang benar? Itulah yang dipikirkan bu Ratna.
"Ada yang nyebarin video tentang pernikahan kita bu, dan pemilik perusahaan tidak menerima karyawan yang memiliki hubungan gelap dengan sesama karyawan yang sudah berkeluarga, karna itu sudah jadi peraturan dikantor." cicit Aris hati-hati.
Ia tidak memberi tahu ibunya tentang videonya dan Fela yang juga tersebar saat sedang melakukan hubungan badan dengan Fela.
Ia tidak mau diamuk oleh ibunya, karna bu Ratna sudah mewanti-wanti pada anak-anaknya agar tidak melakukan zina. Meskipun ibunya setuju-setuju saja ketika ia dulu mempunyai hubungan dengan perempuan lain ketika ia masih menjadi suami shafira, asalkan tidak sampai berbuat zina.
"Siapa yang berani nyebarin video kalian? Apa ini perbuatan Shafira?" ujar bu Ratna yang langsung menuduh Shafira lah yang sudah menyebarkan video pernikahan Aris.
Mendengar ucapan ibunya, seketika Aris kembali emosi. Ia selalu percaya dengan apa yang keluar dari mulut ibunya itu.
"Kurang ajar! Ini pasti ulah Shafira yang tidak terima diceraikan." ujar Aris mengepalkan tangannya.
Sementara itu di kantor, Kenzo sedang memeriksa laporan terbaru. Video skandal Aris dan Fela masih menjadi pembicaraan hangat, bahkan beberapa klien mulai mempertanyakan profesionalitas perusahaan.
"Kita harus segera mengatasi ini." ujar Kenzo pada Satria, asisten sekaligus sekretarisnya.
"Pastikan semua klien tahu bahwa kita sudah mengambil tindakan tegas. Reputasi perusahaan ini harus kita pulihkan secepat mungkin."
"Baik, Pak. Tapi bagaimana dengan karyawan lain? Mereka masih terus membicarakan ini," jawab Satria. Ketika dikantor mereka akan menggunakan bahasa formal selayaknya atasan dan bawahan.
"Berikan peringatan keras. Saya tidak mau insiden seperti ini terulang lagi." balas Kenzo tegas.
Ia masih belum memperhatikan kalau di video pernikahan Aris, ada Shafira yang sempat membuat suasana menjadi kacau. Ia hanya melihat sekilas tentang video pernikahan diam-diam karyawannya itu.