NovelToon NovelToon
Fattah Possessive Badboy

Fattah Possessive Badboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kapten cantik

DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!

"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.

Ngerti?"

"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"

"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________

Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.

Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.

Kecuali satu...

Aqqela Calista.

Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.

Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Kedua Geng Bertemu

Malam itu, hujan turun.

Gadis cantik bermata bulat itu terlihat melangkah menerobos hujan deras sambil memasukkan kedua tangannya ke saku jaketnya merasa kedinginan.

Ya Tuhan, apa ini hal yang Kau sukai?

Kenapa dia selalu berakhir terlempar ke dalam penderitaan yang di ciptakan orang-orang besar itu?

Aqqela mengusap wajahnya yang basah oleh hujan. Merasa tubuhnya kian menggigil, dia memilih meneduh di halte.

Dia tersenyum miris.

"Pa..." lirihnya bergetar, "Kenapa Aqqela selalu jadi korban penebusan dosa-dosa papa?"

"Aku harus apa lagi biar mereka puas? Aku bener-bener capek sekarang."

Dia berjongkok dan mulai terisak pelan.

Hingga dia merasakan tarikan napasnya mulai sesak dan melemah, di tambah kepalanya yang pusing dan tubuhnya kian menggigil.

Pandangannya mulai kabur, sebelum akhirnya dia tergeletak di halte itu.

Sampai sebuah BMW I8 warna putih berhenti di depan halte.

Pemuda ber-kaos putih terlihat keluar dari dalam mobil dan tersentak kaget.

"Astaga, Aqqela?"

Dia berteriak panik, yang samar-samar masih bisa Aqqela dengar.

"Qell, sialan! Gimana bisa elo kayak gini?"

Dalam keadaan mata terpejam, Aqqela mengerutkan kening samar.

"Enggak, enggak! Jangan kenapa-napa, gue mohon! Brengsek, harusnya gue aja yang jagain lo, bukan Oliver atau Fattah."

Suaranya terdengar khawatir sekali.

Siapa cowok ini? Aqqela asing dengan suaranya.

Namun Aqqela sudah tidak mampu menahan rasa kantuknya yang kian menyerang. Hingga kesadarannya hilang total dan semuanya benar-benar gelap.

Pemuda itu semakin kalut dan segera mengangkat tubuh Aqqela ke dalam gendongannya, lalu memasukkannya ke mobil.

"Bertahan, ya! Jangan bikin gue khawatir gini!"

***

Aqqela mengerutkan kening dengan mata perlahan mulai terbuka.

"Nak, kamu sudah sadar?"

Aqqela mengerjap-ngerjap menatap wanita paruh baya di depannya.

"Saya dimana?"

"Kamu sedang ada di Panti Asuhan Sarawasti. Ayo, minum teh hangat dulu!"

Aqqela menurut, meneguk teh hangat itu.

"Kamu pasti bingung, ya? Nama saya bu Anis-pengelola di panti ini. Tadi saya dan suami saya menemukan kamu lagi pingsan di halte."

"Y-ya?"

Perasaan, Aqqela dengar suara cowok.

Apa gue salah denger?

"Kenapa, nak?"

Aqqela menatapnya, "Oh...nggak papa, buk.

"Maafin gue Qell, karena jadi salah satu alasan dari kehancuran lo."

Saya pikir, tadi yang nolong saya itu cowok. Soalnya saya sempat denger suaranya. Ibu tau?"

"Cowok?" Bu Anis menggeleng pelan, "Enggak, ibu nggak denger."

Aqqela mengulum bibir, "Mungkin perasaan saya aja kali. Ngomong-ngomong, terimakasih banyak ya buk, sudah menolong saya!"

Bu Anis tersenyum dan mengangguk, "Nggak apa-apa. Namanya hidup harus tolong menolong. Kamu siapa namanya?"

"Saya Aqqela, buk."

Aqqela mendongak melihat jam dinding yang menunjukkan pukul dua belas malam.

"Buk, sepertinya saya harus pulang. Ini...udah malam. Saya nggak enak di sini lama-lama."

"Memangnya nak Aqqela tinggal dimana?"

Aqqela meringis canggung, "Saya nggak punya rumah. Saya yatim piatu, buk."

Bu Anis nampak terkejut dan mengusap kepala Aqqela lembut, "Ya udah, kamu tinggal di sini dulu, ya! Nggak usah sungkan!"

Mata Aqqela melebar, "Nggak papa, buk? Tapi saya janji menginap malam ini saja."

"Iya, boleh. Terserah kamu mau tinggal sampai kapan, ibu izinkan. Ibu malah seneng kalau banyak temennya di sini. Sekarang kamu makan dulu, ya! Badan kamu panas. Habis itu minum obat."

Aqqela menatap wanita itu penuh haru. Tidak menyangka masih ada orang baik di Jakarta.

***

Jam menunjukkan pukul 1 pagi. Tetapi markas besar geng motor LEVIAN terlihat ramai tak seperti malam-malam sebelumnya. Sesuai instruksi Fattah-sang leader yang meminta mereka merapat malam itu.

"Gue nggak mau tau. Aqqela, harus bisa di temuin malam ini," titahnya dingin.

"Dia naik taxi, kan? Kemungkinannya dia nggak di Jaksel lagi sih," kata Jefan.

"Bisa jadi dia kabur keluar pulau?" tebak Mattew.

"Dia nggak punya uang sebanyak itu kalau mau kabur jauh. Ngomong pakai otak," kata Fattah sewot, membuat Mattew menciut.

"Ya lagian elo apain anak orang lagi sih Fatt, sampai kabur-kaburan begitu? Elo nih pasti cari gara-gara duluan," omel Noel.

"Diem lo!" katanya membuat Noel mingkem.

Mattew menyenggol lengan Noel, membuatnya menoleh, "Kepompong kupu-kupu, kasihan deh lu!"

Noel seketika mengumpat, "Maki aja gue terus, maki sesuka kalian! Emang resiko jadi orang ganteng, di kata-katain mulu, huft."

"Gara-gara elo juga goblok, kirimin foto Aqqela sama Oliver segala. Dia jadi ngamuk ke Aqqela,"

omel Jefan membuat Noel mendelik.

"Ya sorry. Kan laporan doang sesuai perintah," katanya membela diri.

Fattah mengusap wajahnya putus asa. Dia benar-benar kalut sekarang karena Aqqela hilang. Seluruh ajudan ayahnya sudah dia kerahkan, tapi hasilnya masih nihil.

"Ck," Fattah mengacak rambutnya frustasi, "Kalau dia beneran pergi dari gue, gimana?"

tanyanya dengan wajah merasa bersalah.

"Gampang bos, tinggal cari cewek baru aja. Kayak nggak laku aja lo," kata Noel memakan kripik kentangnya, "Lagian, cowoknya udah se-ganteng Oliver, ngapain juga belok ke elu?"

"Bacot!" sembur Fattah membuat Noel gelagapan.

"Fattah!"

Satu anggota LEVIAN memasuki ruang rapat.

"Apa?"

"Ajudan bokap lo di depan markas. Mereka bilang udah berhasil temuin sopir taxi yang bawa Aqqela," lapornya.

Mata Fattah melebar, "Terus gimana katanya?"

"Sopir taxi itu bilang, katanya dia ngantar Aqqela ke Jakarta Pusat tepatnya ke perumahan Vintage Residence."

"Lah, itu rumah Oliver, kan?" celatuk Mattew membuat Fattah menoleh kaget.

"The fuck?"

Noel menipiskan bibir, "Gue udah feeling, sih. Emang lo enggak? Kasihan deh baru tau," ledeknya.

Fattah mendecak geram, "Cabut! Kita ke Jakarta Pusat sekarang!"

Fattah beranjak lebih dulu, memimpin langkah anggota LEVIAN. Beberapa anggota lain-yang bermain billiard dan di ruang karaoke langsung turut serta bergabung.

Mereka menaiki motor masing-masing yang mengelilingi markas di luar, menuju ke Jakarta Pusat mengikuti perintah ketua mereka.

***

Seluruh anggota XLOVENOS terlihat berkumpul di markas besar.

Oliver membanting helm di dekatnya dengan murka.

"Lo semua tuh becus nggak, sih? Tinggal cari satu cewek aja nggak ada yang bisa," bentaknya marah-marah.

"Sorry Oliv, kita bahkan udah cari sampai ke Jakarta Selatan, tapi Aqqela nggak ketemu juga. Kita kehilangan jejak dia."

"Bahkan ada yang bilang kalau dia nggak pernah tinggal di asrama itu," tutur Diego menimpali.

"Shit!" Oliver menonjok meja dengan kekuatan penuh dan kilatan mata tajam.

Para anggotanya memilih bungkam-ngeri melihat ketua mereka.

"Oliv, Oliver! Ada berita penting, Oliv." Jimmy memasuki ruangan tengah dengan heboh.

"Kenapa?"

"Ale habis kasih laporan, kalau CCTV depan kafe-nya nangkap Aqqela yang habis lewat, sambil jalan kaki."

Oliver tersentak kaget, "Kapan kejadiannya?"

"Sekitar jam sepuluh malam. Dia kehujanan. Jadi kemungkinan kalau Aqqela masih ada di Jakpus sekarang."

Oliver mengusap wajahnya kalut dengan mata memerah.

"Qell, kamu dimana, sih? Kamu baik-baik aja, kan?" gumamnya cemas.

"Bos, jadi gimana?" tanya Jimmy.

Cowok dengan tindik hitam di telinganya itu menyesap wine sesaat, lalu menaruh gelasnya lagi ke meja dan menatap anggotanya serius.

"Kita cari cewek gue sekarang. Gue yakin dia nggak jauh dari sini."

Oliver langsung berlari keluar, membuat para anggotanya menyusul.

Para anggota XLOVENOS ramai-ramai membawa motor mereka keluar dari halaman markas.

***

Jalanan Imam Bonjol Jakarta Pusat yang seharusnya sepi itu, terlihat ramai di penuhi motor-motor besar anggota LEVIAN.

Fattah Fernandez-mencengkram setir kemudi keras dengan tatapan lurus melihat ke jalan raya.

"Za, elo pergi kemana sih sebenarnya?" gumamnya cemas.

"Fattah!" panggil Mattew membuat Fattah menoleh.

"Fat, lihat ke depan, Fatt! Aduh, beneran perang lagi nih kayaknya," hebohnya membuat Fattah mengeryit dan melihat ke arah depan.

Mata Fattah seketika melebar, karena dari arah berlawanan, muncul Oliver bersama anggotanya, XLOVENOS. Oliver sendiri tidak kalah terkejutnya seperti Fattah.

Keduanya kompak mengangkat tangan, memberikan isyarat supaya berhenti.

"Berhenti semuanya!"

"Jangan ada yang nyerang sembarangan!" kata Fattah tegas.

Tepat saat di ujung perempatan, dua geng motor besar itu bertemu. Deru mesin motor terdengar bersahutan, membuat jalanan penuh sesak oleh gerombolan itu.

Fattah mematikan mesin motor dan turun, di ikuti Oliver. Kemudian saling mendekat dan bertemu di tengah jalan dengan raut wajah sama-sama dingin.

"Ngapain lo ke sini bawa pasukan lo? Mau cari masalah lagi?" tanya Oliver.

Smirk jahat Fattah tercipta, "Elo sembunyiin dimana Aqqela?"

Oliver tersentak kaget, "Aqqela?"

"Nggak usah pura-pura nggak tau. Pagi tadi dia ke rumah lo, kan?" kata Fattah datar.

Mata Oliver melebar, "Gimana lo bisa tau?"

Fattah tersenyum sinis, "Menurut lo?"

"Bangsat!" Oliver menarik kerah jaket Fattah mendekat, "Jujur sama gue, mau lo apa sebenarnya? Gue udah bilang dari awal, nggak usah bawa-bawa cewek gue ke masalah kita!"

Fattah menepis kasar tangan Oliver, "Mau gue? Lo lepasin Aqqela!"

"Nggak usah ngarep! Gue nggak akan lepas dia"

Fattah melengos keras, "Gue males basa-basi. Sekarang, dimana Aqqela?"

"Gue sendiri lagi nyari dia. Menurut lo ngapain gue bawa anggota gue keluar?"

Fattah langsung diam.

Oliver menatapnya sengit, "Kenapa sih lo segitu terobsesinya sama cewek gue? Sadar diri anjir, dia itu cewek gue. Tau malu dikit!"

Dia istri gue malah.

"Bukannya lo yang harusnya malu karena pacarin dua cewek sekaligus?"

Skakmat!

Oliver mendecak geram, "Fattah, lo bener-bener-"

"PERMISIIIIIIII!!!" Suara Noel membuat keduanya menoleh kaget.

"Daripada kalian ribut, mending kita cari Aqqela bareng-bareng aja."

"Nggak sudi!" jawab keduanya kompak.

"AIGUUUUUUU!" kata Noel dan Jimmy meleleh envy-bermaksud menggoda.

"Ciyeeee kompaknya. Jangan-jangan yang jodoh kalian nih ternyata," goda Mattew ikutan membuat Oliver dan Fattah mendelik.

Mendadak LEVIAN dan XLOVENOS kompak menyoraki ketua mereka dengan gaya di buat-buat, membuat Fattah dan Oliver menoleh dengan kerlingan tajam.

Mereka semua reflek menciut.

"Emang bacot lo semua tuh," kata Oliver marah-marah.

"Ada yang ngomong lagi, gue tandain muka lo semua satu-satu," kata Fattah galak.

"Demi Aqqela elah bos, sekali-kali rukun kek. Jangan war terus! Kan hidup jadi lebih indah," kata Noel.

Oliver dan Fattah saling bertatapan tajam, kemudian melengos tidak sudi.

"Nggak ada rukun-rukun. Kita cari masing-masing," kata Fattah tegas.

Oliver tersenyum miring, "Gue yang bakalan nemuin Aqqela dulu."

"Nggak usah terlalu percaya diri!" balas Fattah.

Mereka kembali menaiki motor masing-masing dan berbelok di perempatan dengan arah berbeda.

Brum brum brum!!

Oliver mengangkat jari tengahnya ke Fattah, membuat Fattah mengangkat fucker finger-nya balik.

***

Sudah satu Minggu penuh Aqqela menghilang.

Dan satu Minggu itu pula Fattah berkeliling Jakarta mencarinya. Hampir semua tempat dia datangi, tapi nihil. Bahkan dia meminta anak buahnya memata-matai Oliver, tetapi cowok itu tidak berbohong.

Beberapa kali Oliver ke sekolahnya-memastikan Aqqela sudah kembali atau belum dan berakhir ribut dengannya.

"Elo nggak capek apa sembunyi terus dari gue?" katanya pelan.

Saat ini, ninja hitam miliknya melaju di jalan raya-Jakarta Pusat. Melewati gedung-gedung tinggi dan pertokoan elite. Lalu berbelok ke arah kiri memasuki jalan Diponegoro.

Drrrtt drrrttt!

Ponsel di sakunya berdering, membuat Fattah menepikan motornya, lalu melepas helm-nya.

"Apa?"

"Sorry Fat, Aqqela masih belum ketemu juga. Gue sama anak-anak masih pantau perumahan Oliver, kali aja Aqqela ke sana lagi."

"Oke, thanks infonya!"

Panggilan di putus sepihak olehnya.

Raut wajah Fattah mendadak murung.

Helaan napasnya terdengar lirih.

"Gue udah pernah bilang kan, jangan pergi kemanapun, apalagi punya niat keluar dari hidup gue. Kenapa elo bandel banget, sih? Gue harus apa lagi sekarang?"

Fattah mengusap wajahnya putus asa.

"Iben jangan kayak bebek gitu narinya, AHAHAHAHAHAHA."

Cowok itu menoleh ke halaman panti asuhan-dari jalan raya tempatnya berhenti sekarang.

Mata Fattah seperkian detik melebar melihat anak-anak kecil sedang bernyanyi dan menari riang bersama seorang gadis cantik yang wajahnya sangat dia kenal. Dan dia-

Astaga, itu Aqqela?

Tubuh Fattah langsung membeku. Dari jauh, pemuda itu terus memperhatikan, tidak langsung mendekati.

Terlihat, Aqqela mengenakan dressbiru selutut dengan rambutnya di kuncir ekor kuda tinggi-tinggi. Dia menari-nari riang bersama anak-anak panti sambil tertawa lepas.

Cantik.

"Kayak gini loh Iben narinya," kata Aqqela menunjukkan tarian yang benar.

"Kak Aqqela kasih contoh lagi, dong!"

"Boleh, boleh." Aqqela mengangguk.

"Yey!" Anak-anak panti bersorak senang.

Aqqela mulai melakukan dance.

Dia dengan lincah menggerakkan kepala, tangan dan kakinya mengikuti alunan musik K-pop salah satu girl grup Korea Selatan, BLACKPINK.

Untuk sejenak, Fattah terpaku. Melihat senyum bahagia Aqqela yang terus menari di hadapan anak panti, membuatnya seperti bebas. Baru kali ini dia melihatnya selepas itu.

Pertunjukan mini itu di akhiri dengan Aqqela tersenyum ceria, sambil mengangkat satu lengannya ke atas dan mengedipkan sebelah matanya centil, membuat Fattah langsung mengalihkan wajah dan gelagapan.

Sialan, dia malah terpesona.

Entah apa yang salah. Tapi dadanya justru memercikan euphoria aneh yang berdebar-debar

"AAAAAAA KEREN BANGET, KAK!" seru anak panti bertepuk tangan riuh.

"Jago banget."

"Kak Aqqela emang the best narinya. Udah kayak dancerdi TV-TV."

Aqqela tersenyum malu-malu, membuat Fattah tanpa sadar ikut tersenyum tipis.

"Tuh cewek bisa gemesin juga ternyata."

Jadi dia di sini selama ini?

Tapi melihat wajah bahagianya hari ini, Fattah tidak tega mengusiknya. Mungkin besok dia akan datang lagi.

***

Aqqela sedang sibuk di dapur, membantu ibu Anis memasak untuk makan siang anak-anak panti asuhan.

"Bunda lagi siapin minum buat tamu, ya?" tanya Aqqela.

"Iya, nih. Nanti kamu tolong antar, ya!"

"Oke."

Aqqela melongok sedikit dari dapur yang terhubung ke ruangan tengah. Melihat pak Hadi-pengurus panti asuhan mengobrol bersama dua laki-laki berwajah blesteran.

"Memangnya mereka siapa, bun? Kok pak Hadi kayak udah kenal akrab?"

"Itu mister Miller dan putra bungsunya. Mereka memang rutin jadi donatur di panti asuhan. Makanya bapak akrab."

"Oh..." Aqqela manggut-manggut pelan-mengerti.

"Mister Miller itu pengusaha dan pejabat tinggi negara. Udah tinggal di Indonesia dari lama. Uangnya banyak loh, Qell. Nanti kamu harus kenalan sama anaknya, ya!"

Aqqela terkekeh geli, "Enggak, lah. Ngapain juga?"

"Ganteng tau, Qell. Dia juga sering main sama anak-anak panti. Baik anaknya."

Aqqela hanya tersenyum tipis, lanjut menumis udang.

"Oh ya, Iben udah pulang, buk?"

"Eh-loh iya, aduh. Ibu sampai lupa mau jemput Iben ke sekolah."

"Ya udah bun, Aqqela aja yang jemput. Aku tau kok sekolahnya."

"Soalnya ini bunda masih riweh banget masak. Kamu beneran nggak papa?"

"Aman, bun. Oh ya, minumannya udah siap? Sini aku antar!"

"Makasih banyak, ya!" kata bu Anis sambil memberikan nampan berisi minuman dan cemilan ke Aqqela.

"Iya."

Aqqela tersenyum dan langsung berjalan keluar dapur membawakan minuman untuk tamu.

"Permisi pak! Ini minumnya," katanya sambil duduk, menaruh minuman di meja.

Mister Miller menoleh seraya tersenyum kecil, "Kamu Aqqela, ya?"

"Y-ya?" Aqqela mengerjap.

"Pak Hadi cerita banyak soal kamu tadi."

"Oh...iya pak." Aqqela tersenyum kaku, "Ini, silahkan di minum. Saya permisi dulu!"

"Terimakasih, ya!" kata mister Miller meneguk teh hangat itu.

Aqqela hendak berdiri-dengan matanya tanpa sengaja bersitatap dengan mata putra mister Miller.

Deg!!

Aqqela mengerutkan kening ketika mata hazel itu memandanginya intens. Aqqela merasa bingung kenapa dia terus di perhatikan.

"Lucanne, teh-nya di minum!" tegur sang ayah.

"Iya, dad."

Pemuda tampan itu meraih teh hangat itu dan meneguknya, walau ekor matanya melirik Aqqela yang kini berjalan keluar panti.

***

Aqqela melangkah sendirian di trotoar jalan raya, memandang ke arah langit yang mulai menggelap.

Tepat saat sampai di depan TK Iben, Aqqela merekah menemukan bocah kecil itu duduk sambil mengayunkan kaki dengan bibir cemberut.

"IBEN!!!" panggilnya riang.

Iben menoleh sepenuhnya dan merekah senang, "Kak Aqqela!" pekiknya riang dan langsung berlari ke cewek itu-lalu memeluknya.

"Udah nungguin kakak lama? Maaf, ya! Kakak agak nyasar tadi," katanya lalu menggandeng tangan Iben.

Iben tertawa, "Iya nggak papa. Kok kak Aqqela yang jemput Iben? Bunda nggak bisa jemput, ya?"

"Iya, bunda sibuk masak. Kenapa? Kamu nggak seneng kakak jemput?"

"Ya seneng, dong. Eh, nanti ajarin Iben nyanyi, ya! Besok ada tugas dari bu guru suruh nyanyi."

"Siap."

Aqqela merasa senang ketika bersama mereka.

Mereka adalah anak-anak yang memiliki nasib sama sepertinya-tidak memiliki orang tua.

Termasuk Iben.

Dari cerita bu Anis, waktu bayi, Iben di taruh di depan pintu asuhan tanpa pakaian-kecuali selimut. Dia seperti sengaja di buang.

"Hmmmmm lalalalala!" nyanyi Iben ceria, menggoyangkan gandengan tangan mereka.

Tapi syukurnya...anak ini selalu ceria.

"Ben, nyanyi lagu ini dong, pagiku cerahku, matahari bersinar?"

"Ku gendong tas merahku, di pundak," nyanyi Iben melanjutkan.

Mereka berdua mendadak collab dan bernyanyi-sambil melompat-lompat senang di trotoar jalan.

Sampai Aqqela terkejut saat hujan tiba-tiba turun.

"Loh kak, hujan. Gimana, dong?"

"Ayo neduh, dulu!" Aqqela menarik tangan Iben-mengejaknya berlari dan menyebrang jalan untuk meneduh di halte.

"Maaf ya Ben, kakak lupa bawa payung."

Iben malah tertawa senang bermain air dengan menjulurkan tangannya.

"Jangan main ke jalan raya, ya! Ada banyak kendaraan."

"Oke."

Aqqela berjongkok di depan halte sambil melipat tangannya di atas lutut.

Melihat hujan deras, bibir Aqqela tanpa sadar manyun, menaruh dagu di atas tangannya.

Sampai Aqqela tersentak saat melihat empat deret sedan mewah warna hitam tiba-tiba berhenti di depannya.

Aqqela kebingungan melihat beberapa pria berseragam rapi turun dari atas mobil-membawa payung, berlari ke mobil kedua, membukakan pintu-mempersilakan seseorang turun.

"Kak, mereka siapa? Keren banget mobilnya," kata Iben polos.

Mata bundar Aqqela melebar sepenuhnya, melihat sepatu Air Jordan mahal turun dari atas mobil.

Saat tubuhnya berhasil di tarik keluar sepenuhnya dari mobil, tubuh Aqqela se-perkian detik membeku melihat seorang pemuda tampan berkaca mata hitam yang melangkah lurus mendekatinya dengan wajah datar.

Deg!

Aqqela reflek mendongakkan kepala.

Fattah Fernandez?

"Ayo pulang!" pintanya serak.

***

1
Amanda Safira
Mirip cerita Natusa&Rhysaka di pf sebelah kak, Aku termasuk followers penulisnya 😂
Langit Biru
kamu terinspirasi dari sinet agz ya? semangat menulis nya, ntar kalau udh tamat aku kemari lagi😍
Kapten Cantik: Terima kasih kk suportnya🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!