NovelToon NovelToon
Falling In Love Again After Divorce

Falling In Love Again After Divorce

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Cerai / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Demar

Sean Montgomery Anak tunggal dan pewaris satu-satunya dari pasangan Florence Montgomery dan mendiang James Montgomery yang terpaksa menikahi Ariana atas perintah ayahnya. Tiga tahun membina rumah tangga tidak juga menumbuhkan benih-benih cinta di hati Sean ditambah Florence yang semakin menunjukkan ketidak sukaannya pada Ariana setelah kematian suaminya. Kehadiran sosok Clarissa dalam keluarga Montgomery semakin menguatkan tekat Florence untuk menyingkirkan Ariana yang dianggap tidak setara dan tidak layak menjadi anggota keluarga Montgomery. Bagaimana Ariana akan menemukan dirinya kembali setelah Sean sudah bulat menceraikannya? Di tengah badai itu Ariana menemukan dirinya sedang mengandung, namun bayi dalam kandungannya juga tidak membuat Sean menahannya untuk tidak pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Datang Lagi

Clarissa menuangkan teh ke dalam cangkir porselen berwarna emas milik keluarga Montgomery. Gerakan tangannya tampak terlatih dan anggun. Di hadapannya, Florence Montgomery duduk bersandar dibungkus mantel sutra lembut melirik gerakan tangannya. Sudut bibirnya terangkat ke atas, akhirnya menemukan standar yang pantas.

Clarissa menyesap minumannya sebentar lalu meletakkan cangkirnya kembali ke atas meja. “Memang sulit menilai seseorang yang datang dari latar belakang tidak jelas.”

Florence menoleh dengan mata menyipit. “Kamu tahu sesuatu?”

Clarissa diam sejenak, menatap satu arah cukup lama untuk membuat Florence penasaran.

“Bukan sesuatu yang penting tapi saya tau ini sangat mengganggu Tante. Saya dapat informasi bahwa Ariana sedang hamil.”

Florence menegang.

“Apa?”

Clarissa mengangguk santai “Saya hanya memberitahukan fakta. Mungkin Tante lengah karna berpikir setelah dia pergi maka semuanya aman.”

Florence mengembalikan cangkir miliknya ke posisi semula. Mendadak tehnya terasa hambar.

“Apa Sean tau ini?”

Clarissa menyilangkan kakinya elegan. “Tentu, saya pikir Ariana tidak akan melepaskan kesempatan untuk menggunakannya sebagai jalan untuk kembali.”

Florence menggenggam ujung sapu tangannya dengan mata mengeras.

“Keturunan wanita itu tidak pantas menjadi bagian dari keluarga ini. Sayang sekali bayi itu harus hadir di rahim wanita seperti Ariana. Jangan sampai dia kembali membawa aib dengan mengatasnamakan cucu Montgomery.”

Clarissa menunduk, menyeringai tipis sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Saya tidak ingin ikut campur, Tante. Saya hanya ingin menjaga keturunan keluarga ini tetap pada garisnya.”

Florence diam cukup lama. Ia memutar cangkir tehnya dengan perlahan, matanya menyipit menatap taman yang mulai ditumbuhi bunga musim panas. Tapi pikirannya tidak ada di sana. Ia masih memikirkan kata-kata Clarissa barusan tentang Ariana dan… bayi itu. Bayi yang tidak seharusnya hadir.

“Kadang perempuan seperti Ariana bisa saja menyembunyikan banyak hal, bukan?”

Florence tidak menjawab.

Clarissa melanjutkan, nadanya sangat ringan seolah tidak memiliki beban apapun.

“Saya pernah dengar, Ariana cukup lama hidup di jalanan sebelum bertemu keluarga Montgomery. Maaf kalau saya lancang, Tante, tapi… kita tidak pernah benar-benar tahu siapa yang sudah pernah berhubungan dengannya di masa lalu.”

Florence menegakkan punggungnya, menatap ke arah Clarissa menyipit.

“Maksudmu?”

Clarissa tersenyum kecil. “Saya hanya berpikir, kalau pun benar dia sedang mengandung. Apa kita bisa percaya begitu saja bahwa bayi itu… milik Sean?”

Hening… hingga teh di dalam cangkir Florence sudah tak lagi mengepul.

Clarissa menambahkan dengan nada seolah sedang khawatir. “Saya hanya tidak ingin Sean dimanfaatkan oleh rasa bersalah. Atau lebih buruk lagi, terjebak dalam permainan seorang wanita jalanan untuk memutar simpati menjadi senjata. Bukankah wanita seperti Ariana bisa melakukan apa pun untuk tetap hidup mewah?”

Wajah Florence mengeras, matanya menyorot semakin tajam.

“Kalau itu benar… maka Ariana lebih busuk dari yang kuduga.”

Clarissa menatap ke taman dengan anggun. “Saya percaya Sean terlalu cerdas untuk ditipu. Tapi kadang rasa bersalah bisa membuatnya jadi bodoh.”

Florence bangkit dari duduknya. “Aku akan menemui wanita itu secara langsung. Ini tidak bisa ditunda.”

Clarissa menunduk. “Tentu, Tante. Saya berkenan ikut untuk memastikan anda tidak apa-apa.”

Florence mengangguk kecil. Mereka melangkahkan kaki menuju tempat yang sama.

***

Ariana baru saja selesai mengangkat jemuran kainnya di halaman. Matahari sudah pergi, mendung mulai datang perlahan. Ia takut jika dibiarkan maka hujan akan membasahi pakaian yang sudah susah payah ia cuci.

Baru saja Ariana ingin melipat kain pertama, terdengar ketukan dari balik pintu. Cepat dan tidak sabaran.

Ketika pintu dibuka, Ariana terpaku sejenak. Florence Montgomery dan Clarissa, keduanya berdiri tegak di depan pintu rumah kecil itu dengan tatapan… yang pasti bukan senyum dan keramahan. Florence mengenakan jas panjang berwarna putih gading. Clarissa seperti biasa, tampil elegan dan mencolok dengan makeup-nya tajam.

“Boleh kami masuk?” tanya Florence, tanpa basa-basi.

Ariana menatap mereka sejenak, lalu mempersilakan masuk tanpa bersuara. Kursi sofanya terasa makin sempit dengan kehadiran dua perempuan yang tidak pernah benar-benar menganggap rumah ini layak diinjak.

Florence duduk tanpa menunggu dipersilakan disusul oleh Clarissa. Ariana berdiri dengan tenang, kedua tangannya bertumpu di depan perutnya yang mulai membulat. Tidak berniat untuk duduk berdempetan dengan dua manusia yang tidak diharapkan memasuki rumah ini.

“Saya tidak menyangka akan melihat kalian berdua di sini.”

Florence menatap Ariana tajam.

“Kau tinggal terlalu dekat dari apa yang seharusnya sudah kau lepaskan.”

Clarissa menyelipkan senyum. Florence bekerja sesuai dengan kemauannya tanpa harus diperintah lebih dulu.

Ariana tak menjawab. Hanya menatap balik tanpa sedikit pun perasaan gentar.

Florence bersandar ke belakang, nadanya datar namun penuh tekanan. “Jika benar anak itu adalah milik Sean, maka satu-satunya yang harus kau lakukan adalah membesarkannya jauh dari keluarga saya… Kami tidak bisa menerima keturunan dari seorang perempuan yang tidak jelas asal-usulnya. Bayimu akan merusak keturunan Montgomery.”

Clarissa menyambung, suara manisnya menjengkelkan. “Siapa pun bisa mengklaim… bayi itu milik siapa.”

Ariana menatap keduanya. “Kalian datang hanya untuk itu?”

“Kami datang untuk memperingatkan,” kata Florence. “Sean sedang dibentuk untuk masa depan Montgomery. Dan kau… sampai kapanpun tidak pernah termasuk di dalamnya meskipun bayi itu anak Sean… Anggap saja begitu walau saya tidak yakin.”

Ariana mengangguk pelan lalu menatap Florence langsung.

“Kalian tidak perlu buang-buang waktu. Saya juga tidak akan menyeret anak saya ke dunia yang bahkan dirinya tidak diterima.”

Clarissa hendak membuka mulut, tapi Ariana melanjutkan.

“Tapi kalian juga tidak berhak mengatur langkah saya. Saya tidak pernah minta Sean datang, tidak juga meminta dia menatap saya diam-diam dari jauh.”

Florence mengepal tangannya di atas rok. Clarissa menggigit bibir.

Ariana tersenyum tipis, tegas dan tenang. “Jika kalian ingin saya menjauh, saya sudah jauh. Lebih dari yang kalian kira. Sekarang giliran kalian untuk bekerja, bawa Sean menjauh dari kehidupan saya.”

Florence mendekati Ariana.

Clarissa berdiri di belakang, tak ikut campur. Tersenyum tipis, menikmati percikan kecil yang mulai menyala.

“Jangan sok merasa diinginkan Ariana. Kamu sampah dibuang dari keluarga Montgomery, termasuk oleh Sean.”

Ariana terkekeh pelan. “Lalu kenapa Nyonya Montgomery ini bersusah payah datang ke rumah sampah buangan ini?”

Florence mengepalkan tangan, “Wanita sampah, sialan.” Desisnya maju satu langkah cepat dan mendorong Ariana. Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat Ariana tersentak mundur.

Kaki Ariana tersandung kaki meja,

Brak!

“Argh… bayiku…” Ariana jatuh ke lantai, satu tangan melindungi perutnya, napasnya tercekat. Wajahnya pucat, mata terpejam menahan sakit.

Clarissa menutup mulut.

“Tante…!”

Florence membeku, tangannya masih sedikit terangkat. Clarissa bergerak cepat menarik lengannya.

“Ayo Tante, kita harus segera pergi dari sini sebelum orang-orang melihat. Reputasi kita dipertaruhkan”

Tubuh Florence kaku, namun langkahnya tetap mengikuti Clarissa.

1
ayu cantik
suka
Naufal hanifah
ceritanya bagus,semangat berkarya thoor /Good//Good//Good/
Datu Zahra
enggak pantes sifatnya Ethan, pembangkan diusia segitu. gedenya jadi apa
Datu Zahra
jahat Ajeng, selingkuh diranjang istri sah, dilihat anak yang bapaknya direbut. bener² ya Ajeng
Datu Zahra
kasihan Florence, wajahr keras hati disakiti suami dengan membawa wanita lain kerumah. gila James jahat
Datu Zahra
umur Sean 35 umur Bryan waktu ketemu Riana 29, empat tahun berarti 33. berarti tua Sean doank. berarti Ajeng pelakor lah
Datu Zahra
dari awal ceritanya bagus. aku nagis sesenggukan. Ceritanya beda dari yang lain, gak pasaran. tapi dipart ini aku kecewa,sampe empat tahun lama hilang. jadi malah kaya novel² lain, pasaran.
Erni Fitriana
pokoknya WOW banget karyamu thor👍🏾👍🏾👍🏾👍🏾👍🏾👍🏾👍🏾
Juna Dong
luar biasa
Erni Fitriana
🤣🤣🤣🤣🤣celline centil
Erni Fitriana
terimakasih nyonyah aristokrat...walau awal hadir ethan kau sangat menyebalkan..tetapi keberada'anmu membentuk sean..luar biasa...hingga sean pun bisa melancutkan pola didikmu dengan dampingan putri lembut n bijak ariana😘😘😘😘😘😘
Erni Fitriana
florence montgomery kini level mu semakin tinggi ..lihatlah..estavet pola didikmu kini diterapkan sean n ariana😘😘😘😘😘😘😘berjayalah montgomery
Sherly Vi
💪💪
Anonymous
Suka Min semua karyamu
kadang emosi kadang terhsru bahkan menangis tersedu atau malah senyum simpul dan terbshak"
Nano nano dan 👍
Erni Fitriana
kompaknya 4 sekawan..thor...janji ya..nanti ada cerita celline+ethan🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Anonymous
Ethan janga keras kepala kalau Ethan tidak bisa dinasehati lihatlah mama mu nak
Mama akan sangat kecewa Ethan
Anonymous
Ethan kau belum waktunya sayang .....kau genius tapi belum punya oengalaman di dunia luar sayang
Jangan ngotot ya jangan melawan papa
Semua yang papa lakukan demi keselamatan mu nak
Tira Aneri
suuukaaa
Anonymous
Semoga tidak ada lagi gangguan ddan pelakor yang menggerogoti kebahagiaan Sean dan Ariana
Anonymous
Langjah yang berani Sean
Mungkin semua orang membencimu karena kekejamsnmu
Tapi aku salut Sean
Tak perduli kata orang tujuanmu baik untuk anakmu 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!