NovelToon NovelToon
Bayangan Di Yalimo

Bayangan Di Yalimo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Yohan, seorang pemuda urban, mewarisi rumah bobrok di Yalimo dan bertekad menjualnya. Rencananya terhalang oleh roh ibunya, Sumiati, yang terikat pada tanah itu oleh 'Janji Darah'. Dalam upaya investigasi yang membawanya jauh ke pedalaman Papua, Yohan harus mengorbankan identitas modernnya (Pertukaran Jiwa) demi membebaskan Sumiati. Setelah berhasil, ia secara tidak sengaja melepaskan Kutukan Primordial yang lebih tua—energi jahat yang sebelumnya ditahan Sumiati—dan dipaksa menjadi 'Penjaga Pusaka' sejati. Yohan memimpin komunitas melawan serangan hukum dan militer korporat, yang berpuncak pada kemenangan spiritual atas kekayaan. Perjalanannya berakhir ketika ia menyadari bahwa pengorbanan terbesar bukanlah aset, melainkan kemampuan untuk memimpin dengan kerendahan hati dan tanpa kepastian diri, mengubahnya dari pewaris sinis menjadi pemimpin spiritual yang utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Air Terjun

Yohan tidak memedulikan tatapan horor Jiro, Bude, dan yang lainnya di ambang pintu. Dingin sudah merayapi paru-parunya. Jimat Perunggu Yosef, yang bertahun-tahun terkubur di meja kerja, kini berfungsi sempurna, berputar gila-gilaan, menunjuk tepat ke hulu—tempat di mana kabut hitam pekat yang menjijikkan mulai menyentuh puncak pohon.

Ia mencengkeram erat Pusaka Batu di tangan kirinya, Jimat Tulang Ina melingkar di pergelangan tangannya. Dengan pandangan terfokus, Yohan melangkah cepat menembus kabut yang mulai menyelimuti pekarangan. Gultom dan dua pemuda yang setia (Dido dan Anton) segera mengikutinya. Mereka tahu mereka hanya penjaga, bukan pejuang spiritual sejati, tetapi kepastian Yohan memberi mereka keberanian yang mutlak.

“Cepat, Gultom! Kita harus mencapai Air Terjun sebelum kabut itu turun penuh. Kita hanya punya waktu dua atau tiga jam paling lama,” perintah Yohan, nadanya seperti besi.

“Siap, Yohan!” jawab Gultom, tersengal.

“Kami akan mengamankan bagian luar gua, apa pun yang kamu hadapi di dalam.”

Perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu setengah jam, terasa seperti maraton melintasi dimensi lain. Kabut hitam elemental itu tidak hanya menyebar, tetapi mengubah materi di sekitarnya. Tanaman padi di luar desa, yang baru beberapa jam lalu hanya layu coklat, kini hitam hangus, beku seolah dilalap embun beku tak alami.

Yohan terpaksa melompati anak sungai. Air yang kemarin keruh dan hitam, kini menjadi lapisan minyak yang pekat. Permukaannya memiliki selaput tipis, hitam pekat, seperti tumpahan oli maut. Bahkan nyamuk dan serangga, yang biasa ramai di lembah Yalimo, sepi total.

Kutukan ini. Ini adalah kematian unsur yang sesungguhnya. Kebencian kosmik terhadap kehidupan, pikir Yohan. Roh Sumiati setidaknya adalah hantu yang mencintai Yalimo, meskipun dengan kesakitan. Entitas ini, Kutukan Primordial, ingin membersihkan kehidupan secara total.

“Yohan!” seru Gultom, matanya menunjuk ke langit.

Pusaran kabut hitam di atas mereka kini berdesis dan menyebarkan partikel kecil es yang tidak mencair. Udara menusuk jauh lebih dingin. Rasa dingin itu bukan fisik, melainkan seperti jiwa yang beku. Yohan harus mengerahkan seluruh kekuatan batin yang dia peroleh dari Ina dan pengorbanannya pada Sumiati agar tetap tegak.

“Jimat Ina tidak bereaksi negatif,” kata Yohan, membiarkan sentuhan Patung Pusaka Batu yang dingin total. Patung itu berfungsi sebagai kompas magnetis, mengarahkannya melalui Jimat Perunggu.

“Ia menuntunmu, bukan memelukmu. Ina berkata, Kutukan itu akan mencoba berbicara melalui bahasa yang paling kamu sukai,” balas Gultom, terbatuk karena dingin yang menyerang paru-parunya.

“Kita sudah dekat dengan hulu. Air terjun itu…” Yohan berhenti mendadak, terpaku pada pemandangan. Air Terjun yang menjulang tinggi, yang dulunya menyajikan suara gemuruh yang indah, kini bisu. Tidak ada suara percikan air. Suara alam telah dicuri oleh kegelapan.

Pusaka Batu di tangannya mulai bergetar samar, menariknya maju.

Yohan memimpin ke air terjun, membelah selimut tipis embun hitam. Tirai airnya tidak deras, melainkan melambat, hampir kaku, membeku dan keruh di sana-sini, membentuk lumut es aneh yang tak terurai di bawah sinar matahari pagi. Udara di tempat itu mencapai dingin yang mengerikan.

Di balik tirai air yang nyaris membeku itulah Kuil Terlupakan berada. Itu adalah celah di tebing curam, ditutupi tanaman liar yang sekarang hitam. Yohan mengambil Jimat Ina, memurnikan niatnya, dan berjalan masuk. Udara di gua itu menampakkan suhu yang lebih ekstrem. Ini bukan hanya dingin elemental dari Pusaka, tetapi dingin kematian.

“Aku yang masuk. Gultom, Dido, Anton. Kalian jaga di luar, siapkan persembahan makanan jika aku berhasil membersihkannya. Persembahan Hidup, Gultom! Jika Patung ini berhasil ku murnikan, Pusaka akan lapar,” perintah Yohan, suaranya kini dalam, mencerminkan tanggung jawab yang luar biasa.

Tiga pemuda itu mengangguk kaku, takut untuk berargumentasi. Mereka tahu, taruhannya adalah nyawa Yalimo.

Yohan merayap masuk ke Kuil Terlupakan. Gua itu sempit dan memanjang. Kegelapan dan lumut menjamur memenuhi dinding. Baunya seperti belerang beku dan kotoran mineral tua yang busuk. Yohan menyalakan korek api. Cahaya kecilnya nyaris tidak berguna, seolah-olah ditelan oleh kegelapan kuno. Cahaya itu memantul di sudut gua, dan Yohan segera melihatnya.

Patung Pusaka, Jangkar asli Yalimo. Patung batu yang ia yakini akan menghancurkan desa.

Di dasar gua, diletakkan di atas tumpukan batu alam besar yang bertindak sebagai altar alamiah, sebuah patung batu kecil berbentuk elang purba bersayap setengah, tenang dan tidak menyeramkan secara wujud. Ini Patung yang harusnya murni. Tapi alih-alih memancarkan kedamaian, Patung itu dingin dan memancarkan kekosongan energi. Warnanya abu-abu tua, tetapi urat batunya hitam, seperti menyerap semua cahaya.

Yohan mendekati patung itu. Udara bergetar, tetapi ini bukan getaran marah Sumiati, melainkan getaran tanah itu sendiri.

Yohan mengangkat Patung Pusaka Batu yang ia bawa, patung yang berfungsi sebagai penyangga, dan meletakkannya di samping inti Patung Pusaka yang terkubur.

Kau pasti sudah melihat Janji Darah Yosef dilakukan, Patung Purba. Kau menyerap roh Ibu.

Saat Yohan menyentuh Patung di altar itu, sensasi dingin itu mencapai klimaksnya, jauh lebih dalam daripada dingin air sungai. Rasa dingin itu adalah kehampaan di luar pemahaman manusia. Jimat Tulang Ina, di tangan Yohan, tiba-tiba memanas sampai nyeri. Patung itu mencoba menarik Yohan ke dalamnya.

Tiba-tiba, penglihatannya beralih. Dunianya gelap, tetapi suara dan visinya berbalik.

Ia melihat Yalimo yang bersinar, tidak dihancurkan Kutukan. Yalimo makmur. David dan perusahaan tambangnya tidak berhasil. Mereka mundur. Marta dan Yosef dibiarkan berkuasa. Sumiati bahagia, tidak mati dan terikat. Yosef sukses menjual sepetak tanah kecil di perbatasan dan mendapat modal besar, mensejahterakan seluruh desa. Yohan… Yohan menerima bagiannya. Ia di Jakarta, memakai setelan mahal, hidup dengan segala kenyamanan yang dulu ia rindukan, jauh dari Yalimo yang primitif, damai tanpa bayangan masa lalu yang menyakitkan.

“Yohan…” Sebuah bisikan lembut menembus ilusi, datang langsung dari Patung Batu. Bukan suara Sumiati. Ini adalah Suara Ilusi, merdu, menawarkan janji kemudahan.

“Kamu telah berkorban banyak untuk Ibu. Aku berutang kepadamu,” bisik ilusi itu.

“Lepaskan Patung ini dari Pemurnian. Biarkan saja. Pulanglah, Yohan. Tugasmu sudah selesai, kini desa akan menjaga dirinya sendiri. Pergi ke kehidupan barumu yang menunggu di sana. Kebebasan total… harta total…”

Patung itu menawarkan Yohan hadiah yang paling ia inginkan kebebasan dari tanggung jawab Yalimo, dikemas dalam kekayaan kota. Godaan itu datang tepat ketika Yohan merasa terbebani oleh tanggung jawab komunal yang besar—tugas menyelamatkan semua orang.

Yohan mengepalkan tangannya di dunia nyata. Dingin itu menggerogoti. Di kepalanya, ilusi kemakmuran kota dengan senyuman ibunya yang tampak bebas.

Ini bukan yang kurasakan saat Ina berbicara tentang pengorbanan!

“Ini jebakan, energi dingin ini hanya menawarkan kemudahan! Pemurnian adalah tugas Ayahku!” seru Yohan, suaranya bergema nyaring di gua.

Visi Patung itu langsung berubah menjadi horor: Yalimo hancur lebur oleh pertambangan David, dengan Sumiati terikat pada tanah itu untuk selamanya, menangis tanpa suara.

“Itu yang terjadi jika kamu gagal, Yohan,” suara Patung itu menyindir, menyingkap kepastiannya yang arogan.

“Kemurnian menuntut pertukaran jiwa total. Bisakah kamu membayar untuk sepuluh ribu jiwa, Yohan? Kamu sudah berkorban untuk ibumu, tapi kini giliran desa. Dan aku bisa tunjukkan cara paling mudah: lari.”

Yohan menahan napas. Pilihan kini telanjang dan nyata. Membebaskan diri sendiri dan meninggalkan kekacauan, atau melanjutkan tanggung jawab komunal yang mungkin menghabisinya.

Aku adalah Penjaga. Aku mengorbankan identitasku. Untuk kebebasan ibuku, bukan hanya untuk lari. Aku berutang pada Yalimo untuk memperbaiki bencana yang aku lepaskan.

Yohan mencengkeram keras Jimat Ina. Rasa hangat kembali. Patung itu tidak jahat—hanya energi kosong yang bisa menyerap ketakutan dan menampilkannya sebagai godaan.

“Aku tidak akan pergi, Pusaka!” teriak Yohan, melawan suara Patung di benaknya.

“Pertukaran Jiwa Total berarti aku memilih Yalimo. Aku harus memurnikanmu, meski ini adalah kiamat pribadiku!”

Saat Yohan menegaskan keputusan spiritualnya untuk bertanggung jawab penuh, ilusi itu hancur. Patung Pusaka itu melepaskan erangan halus. Dingin elemental menyerang Yohan lagi. Tubuhnya terasa beku dan ia ambruk berlutut.

Ia kembali ke realitas gua, kotoran mineral mencium pipinya. Yohan tersengal, kelelahan mengancam menguasai dirinya, tetapi resolusinya baru saja memenangkan pertarungan mental melawan ilusi.

Yohan tahu. Ia tidak dapat kembali. Keselamatan Yalimo jauh lebih penting daripada keinginannya yang egois. Ia sudah menjadi bagian dari Yalimo, dan kini Yalimo harus hidup di tangan Sang Penjaga yang memilih.

Yohan mendongak, matanya melihat tulisan-tulisan aneh yang ditorehkan di dasar batu, tepat di depan Patung Pusaka Purba itu. Tulisan itu berlumut, nyaris tidak terlihat. Yohan menggosoknya dengan ujung lengan jaketnya.

“Apa ini… catatan Yosef?” Yohan berbisik.

Ia mulai membaca dengan napas terengah-engah.

Tulisan Yosef di Gua Suci itu tidak ditulis dengan kapur gila di jurnalku, melainkan dengan air mata dan lumpur mineral: sebuah penyesalan, upaya terakhir sebelum dibunuh.

“Aku gagal. Sumiati menahan lebih dari yang dia mampu. Patung ini... inti dari Pusaka, bukanlah kejahatan, tapi akumulasi kegelapan purba yang terus menerus. Sesepuh salah! Mereka ingin aku menciptakan pengekangan permanen dengan mengorbankan Sumiati. Janji Darah gagal! Ini melepaskan lebih banyak entitas purba. Kekuatan dari perut bumi itu sendiri. Aku harus segera memurnikan Patung ini, menggunakan nyanyian api Ina. Jika aku mati di tangan sesepuh karena ini, Yohan... anakku...”

Yohan memejamkan mata. Ayahnya, sang martir, tulus dalam tujuan Pemurnian Pusaka, dan terbunuh karenanya. Semua ini dilakukan agar Kutukan Purba ini tetap tertahan.

“Sumiati adalah korban, bukan Penjaga. Patung ini tidak menuntut nyawa terikat, tetapi niat tulus yang bersedia menciptakan Kekosongan yang Murni—ruang bagi spiritualitas tanpa kegelapan.”

Yohan menggosok lumut sekali lagi, mencapai paragraf terakhir.

“Aku akan kembali untuk ritual Pemurnian besok subuh. Sesepuh bilang: itu terlalu berbahaya. Tapi Sumiati sekarat karena penyangga spiritual. Aku melihat kabut hitam bergerak menuju air terjun. Ini bukan lelucon. Aku harus melakukannya. Jika kau membaca ini, aku pasti telah tewas. Yohan. Mereka tidak akan membiarkan Pemurnian terjadi, karena David, si Pengacara Kota, akan membayar dua kali lipat untuk tambang itu jika Yalimo stabil—walau dengan ikatan keji Janji Darah Sumiati...”

Di bawah paragraf terakhir, terdapat satu garis tulisan Yosef yang terputus, tulisan tangan itu bergetar seolah ada interupsi kekerasan.

“Marta—”

Itulah akhirnya. Tulisan itu tidak selesai. Tulisan yang putus dan noda cairan hitam itu membeku di atas batu, seperti penanda kebenaran yang kejam.

Ayah tewas di gua ini, atau setidaknya di dekat sini. Saat dia mencoba menyelamatkan Pusaka. Dan aku harus menuntaskan janji spiritual yang membuat Ibuku bebas, Yohan menggigil hebat, kali ini bukan karena dingin, melainkan karena kejelasan emosional yang total.

Tiba-tiba, ia merasakan tarikan fisik yang luar biasa dari kabut hitam elemental yang kini sudah mengepung tirai Air Terjun. Kabut itu bereaksi keras terhadap sentuhan Yohan pada Pusaka. Itu marah.

Gultom berteriak dari luar, suaranya ketakutan. “Yohan! Keluar! Ada suara teriakan—seperti seratus wanita!”

Patung Pusaka Purba itu, sang Inti, bergetar di altar, menyerap ketakutan Gultom. Yohan tahu: tugas ini terlalu besar. Yosef gagal. Bisakah ia berhasil, hanya dengan Jimat Ina dan semangat seorang pengusaha modern yang berubah?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!