(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)
Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.
Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keseimbangan yang Hancur
Laut tidak pernah peduli pada penderitaan manusia. Di hari keempat pelayaran menuju Kepulauan Tengkorak Naga, badai petir menyapu perairan. Kapal Sang Gerhana terombang-ambing di atas ombak hitam setinggi tebing.
Di dalam kabin kapten, Han Luo memuntahkan seteguk darah hitam ke dalam ember kayu.
Wajahnya sepucat lilin. Infeksi dari logam kotor yang menancap di bahu kirinya terus berperang melawan Sutra Hati Es Abadi yang berusaha membekukan bakteri tersebut.
Dia mencoba menuangkan teh dengan tangan kanannya.
Prang.
Cangkir itu meleset dari teko, jatuh dan pecah di lantai.
Han Luo menatap pecahan keramik itu dengan mata kosong. Otaknya baru saja memerintahkan tangan kirinya untuk memegang cangkir sementara tangan kanannya menuang teh. Sebuah refleks yang tertanam selama dua dekade kehidupan. Namun, tangan kiri itu tidak ada. Hanya ada ruang kosong dan rasa ngilu yang menusuk dari pangkal bahunya.
"Ini tidak bisa dibiarkan," geram Han Luo pelan, suaranya serak.
Dia berdiri. Pusat gravitasinya bergeser parah ke kiri karena berat bilah pedang besi yang dijahit ke tulang selangkanya. Dia terhuyung ke depan, hampir menabrak meja, sebelum akhirnya menggunakan kaki kanannya sebagai penopang ekstra.
Dia mengambil jubah hitamnya, mengenakannya menutupi sebelah tubuhnya, membiarkan bahu kirinya (dengan pedang yang menonjol) terekspos karena tidak muat masuk ke lengan baju.
Han Luo menendang pintu kabin hingga terbuka.
Di geladak luar, hujan badai turun seperti cambuk es. Long Tian sedang sibuk mengikat layar layar yang robek, sementara Su Qingxue duduk berteduh di bawah terpal anjungan, memperhatikan kekacauan alam itu dengan bosan.
Keduanya menoleh saat mendengar pintu terbuka.
Han Luo berjalan ke tengah geladak yang licin. Hujan langsung membasahi rambut hitamnya yang tergerai. Dia mencabut Pedang Teratai Darah (Lian) dengan tangan kanannya.
"Tuan Mo?" Long Tian berteriak melawan suara badai, melepaskan tali layar dan berlari mendekat. "Apa yang Anda lakukan di luar? Luka Anda—"
"Mundur, Hei Long," perintah Han Luo tajam.
Han Luo menutup matanya. Dia memfokuskan Qi ke kakinya.
Langkah Hantu.
Dia mencoba melesat ke depan.
Namun, tanpa lengan kiri untuk mengayun dan memberikan momentum inersia, putaran tubuhnya menjadi liar. Tubuhnya berputar terlalu tajam ke kiri karena beban pedang rongsokan di bahunya.
Brukk!
Han Luo jatuh terpelanting keras ke atas geladak kayu yang basah, meluncur sejauh dua meter dan menabrak pagar pembatas kapal.
Dari arah anjungan, terdengar suara tawa yang jernih namun merendahkan.
"Pertunjukan komedi yang luar biasa, Tuan Mo," Su Qingxue bertepuk tangan pelan. Gadis iblis itu menatap Han Luo yang terkapar dengan tatapan mengejek. "Bahkan anak kecil yang baru belajar berjalan terlihat lebih anggun darimu. Apakah ini caramu mengintimidasi musuh? Dengan membuat mereka mati tertawa?"
Long Tian menggeram pada Su Qingxue, lalu bergegas hendak membantu Han Luo berdiri.
"JANGAN SENTUH AKU!" teriak Han Luo.
Suaranya bukan lagi gertakan, melainkan raungan amarah murni. Long Tian membeku di tempat.
Han Luo menancapkan Pedang Teratai Darah ke lantai kayu, menggunakan tangannya yang gemetar untuk menarik dirinya sendiri berdiri. Darah segar merembes keluar dari jahitan di bahu kirinya, bercampur dengan air hujan.
"Keseimbangan klasik... sudah mati," gumam Han Luo pada dirinya sendiri, mengabaikan Su Qingxue dan Long Tian.
Dia menatap pedang di tangan kanannya, lalu melirik pedang patah yang tertanam di bahu kirinya.
Jika aku tidak bisa bergerak lurus, aku akan bergerak menyamping. Jika aku tidak bisa menangkis dengan dua tangan, aku akan menggunakan tubuhku sendiri.
Han Luo mengubah kuda-kudanya. Dia tidak lagi berdiri menyamping seperti pendekar pedang tradisional. Dia merendahkan titik gravitasinya, membuka kakinya lebar-lebar, dan mencondongkan tubuhnya ke kiri, menjadikan pedang di bahunya sebagai ujung tombak serangan pasif.
Sebuah kuda-kuda asimetris yang cacat, aneh, dan terlihat sangat rentan.
"Lagi," desisnya.
Dia melesat ke depan. Jatuh lagi. Bangkit lagi. Melesat. Jatuh.
Selama tiga jam di bawah badai petir, Pemimpin Aliansi Gerhana itu menyiksa dirinya sendiri. Daging di bahunya meradang merah, jahitannya beberapa kali robek, namun segera dia bekukan kembali secara paksa menggunakan Qi.
Su Qingxue yang awalnya tertawa mengejek, perlahan terdiam. Tawa itu mati di tenggorokannya. Mata iblisnya melihat sesuatu yang menakutkan: Pria itu tidak sedang meratapi nasibnya. Pria itu sedang memprogram ulang struktur saraf dan memori ototnya secara paksa. Pria itu menolak untuk menjadi sampah.
Tiba-tiba, Xiao Ling yang berada di dalam ruang kendali berteriak panik melalui transmisi suara.
"Tuan! Fluktuasi energi besar dari bawah air! Arah Barat! Sangat cepat!"
Air laut di sisi kiri kapal tiba-tiba meledak ke atas.
Seekor monster laut raksasa melompat keluar dari pusaran ombak. Bentuknya seperti campuran antara hiu martil dan buaya, dilapisi sisik besi hitam.
Hiu Besi Ekor Cambuk. Tingkat: Pondasi Menengah (Setara).
Monster itu mendarat di geladak kapal dengan suara BAM yang memekakkan telinga, membuat kapal miring drastis. Rahangnya yang penuh gigi setajam pedang langsung mengincar Su Qingxue yang berada paling dekat.
Su Qingxue mendecih, bersiap melepaskan paku bayangannya.
"Mundur!"
Suara Han Luo memotong.
Bukan Long Tian yang maju. Melainkan Han Luo sendiri.
"Ini mangsaku," mata Han Luo menyala dengan kegilaan. Dia butuh sasaran bergerak untuk menguji tubuh barunya.
Hiu Besi itu menyadari ancaman baru. Ia berputar dan mengayunkan ekor bajanya yang dipenuhi duri ke arah Han Luo. Kecepatan ekor itu membelah tetesan hujan menjadi uap.
Jika Han Luo memiliki dua tangan, dia akan melompat mundur atau menangkisnya dengan pedang secara menyilang.
Tapi sekarang?
Han Luo tidak mundur. Dia justru menerjang masuk ke dalam jangkauan serangan ekor itu.
Saat ekor berduri itu hendak menghantam sisi kirinya, Han Luo memutar tubuhnya dengan ekstrem, memanfaatkan kelemahan keseimbangannya sebagai kelebihan. Dia menjatuhkan tubuhnya secara terkontrol ke arah ekor tersebut.
CLANG!
Ekor besi monster itu menghantam bilah pedang rongsokan yang tertanam di bahu kiri Han Luo.
Benturan itu mengirimkan gelombang rasa sakit. Jahitan bayangan Su Qingxue di bahunya robek, tulang selangkanya berderit kritis. Tapi... pedang di bahunya berhasil memblokir serangan fatal itu tanpa mematahkan tulang leher Han Luo.
Dan karena Han Luo membiarkan tubuhnya terpukul mundur oleh momentum itu, dia memutar tubuhnya seperti gasing berdarah di udara.
Tangan kanannya yang memegang Pedang Teratai Darah mengayun dengan kekuatan sentrifugal yang mengerikan.
Seni Pedang Musim Dingin Abadi: Tebasan Lintah!
SRAASH!
Pedang merah itu menebas lurus ke mata kanan monster hiu tersebut, menancap dalam hingga ke otaknya.
SLURP!
Dalam seperseribu detik, Pedang Teratai Darah meminum tiga puluh persen esensi vital monster itu, membuat makhluk raksasa itu kejang-kejang lemas seketika.
Han Luo mendarat keras di atas geladak, berguling dengan canggung, dan berhenti dengan napas memburu. Bahu kirinya kini benar-benar berlumuran darah segar, pedang di bahunya bergetar mengerikan akibat benturan tadi.
Monster hiu itu ambruk, mati dengan otak hancur dan darah tersedot.
Hujan terus turun, membasuh darah monster yang menggenang di geladak.
Long Tian berdiri mematung, pedangnya masih berada di sarungnya. Dia tidak sempat bereaksi. Pertarungan itu hanya berlangsung tiga detik.
Itu adalah gaya bertarung paling jelek, bunuh diri, dan cacat yang pernah Long Tian lihat seumur hidupnya. Tuan Mo tidak bergerak seperti master pedang. Dia bergerak seperti orang gila yang menjadikan tubuhnya sendiri sebagai senjata dan tameng.
Su Qingxue berdiri perlahan dari tempat duduknya. Gadis iblis itu menatap Han Luo yang perlahan bangkit sambil menggunakan pedang kanannya sebagai tongkat.
Semua pikiran untuk memberontak dan membunuh pria cacat ini saat tidur lenyap seketika dari otak Su Qingxue.
Pria ini mungkin cacat. Tapi dia cacat seperti serigala yang sengaja memakan kakinya sendiri yang terperangkap jebakan, hanya agar dia bisa merobek leher si pemburu.
"Misi berlanjut," suara Han Luo bergetar menahan sakit yang luar biasa, namun nadanya sedingin dasar lautan. Dia menatap Long Tian dan Su Qingxue secara bergantian. "Siapa pun yang menganggapku lambat, silakan coba nasib kalian seperti ikan ini."
Han Luo berbalik dan menyeret langkahnya kembali ke kabin kapten, meninggalkan bangkai monster dan dua krunya yang kini mengerti arti teror yang sesungguhnya.
tpi gw demen....