Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
“Noah,” ujarnya singkat. “Apa saja jadwal yang harus aku lakukan hari ini?”
Noah yang masih setia menatapnya keheranan segera tersadar. Ia segera meraih tablet di tas kerjanya, memeriksa jadwal yang sudah disetujui malam sebelumnya. “Agenda pagi ini ada rapat dewan direksi pukul sembilan. Masalah akuisisi cabang pelabuhan masih menemui hambatan dari pihak konsorsium.”
Kay mengangguk tipis. “Batalkan makan siang. Kita selesaikan hari ini.”
“Oke, siap aku mengerti.” Balas Noah melanjutkan acara sarapannya yang sempat tertunda karena adegan tak terduga yang Kay lakukan.
“Bagaimana dengan jadwalmu?” Kay bertanya pada Spencer.
“Aku akan pergi ke wilayah timur,” kata Spencer singkat. “Orang-orangku mendapat petunjuk tentang para pembuat masalah itu.”
Tak perlu penjelasan lebih lanjut. Semua orang tahu itu berarti urusan internal keluarga mafia ayahnya yang harus di selesaikan. Dan seperti yang sudah diberikan dan disepakati, Kay hanya akan fokus membantu masalah di perusahaan. Sementara Spencer yang akan menangani masalah dalam klan. Mereka sudah setuju membagi tugas serta misi masing-masing selama berada di Negara B.
“Berhati-hatilah, jangan sampai mati dulu,” balas Kay datar.
Spencer tersenyum miring. “Sialan kau! Aku sudah pernah hampir mati sekali, mana mungkin aku tidak berhati-hati jika menyangkut masalah klan.”
Seolah itu hanya percakapan biasa antara dua pria yang terbiasa hidup di tepi bahaya. Namun ketenangan pagi itu retak oleh suara kecil yang tiba-tiba memecah ruang makan. Tanpa di sadari oleh yang lainnya, Hezlyn sudah menyelesaikan sarapannya sejak beberapa saat yang lalu.
“Elyn mau ikut Papah!”
Semua kepala menoleh. Adik kecil Spencer segera beranjak dari tempat duduknya, sudut bibirnya yang sedikit berantakan karena sisa makanannya, dan lihat mata bulatnya yang penuh tekad. Ia berjalan cepat menghampiri Kay dan menarik ujung jasnya, pertanda ingin berada dalam pangkuannya.
“Elyn mau ikut ke perucahaan, Papah!”
Spencer mengerutkan dahi. “Tidak.”
“Kenapa? Papah Kay lebih ceru daripada ikut Kakak ke tempat yang isinya om-om galak semua!”
Para pelayan dan pengawal, kecuali Axlyn terbatuk pelan, berusaha menahan tawa dengan tingkah lucu dan menggemaskan dari Nona kecilnya itu. Kay hanya diam sesaat sembari menatap bocah itu lama. Tatapan yang biasanya membuat para direktur gemetar kini justru melembut tanpa ia sadari.
Sedangkan Noah sudah berusaha memberikan isyarat agar Kay langsung menolaknya. Cukup dirinya di recoki oleh Hezlyn selama di Mansion, jangan sampai di perusahaan juga. Bisa-bisa nyawanya semakin cepat memendek menghadapi bocah ajaib itu.
“Perusahaan bukan taman bermain, Hezlyn! Kau tetap di rumah bersama dengan Kakak pelayan dan pengawal, mengerti?” Spencer menegaskan.
“Elyn bica diam. Elyn janji ndak nakal, Papah!” Bocah itu mengangkat tiga jari dengan ekspresi serius yang menggelikan.
Keheningan singkat, lalu Spencer bersiap untuk melayangkan penolakan lagi. Namun entah dorongan apa, Kay tiba-tiba berkata, “Baiklah, tapi jangan mengganggu dan harus bersikap baik selama di perusahaan.”
“Oke, Papah!” sahut Hezlyn dengan penuh kemenangan.
Sorot mata Spencer berubah tajam. “Kau serius ingin membawanya ke perusahaan?”
“Dia akan lebih aman bersamaku. Lagipula kita belum menemukan titik terang dengan musuh yang harus kita hadapi kali in. Jika kau sudah menemukan petunjuk yang lebih pasti, aku tidak akan berani membawanya keluar dari Mansion.”
Kalimat itu terdengar wajar, begitu logis dan profesional. Tidak ada yang tahu betapa nalurinya berbicara lebih dulu daripada pikirannya. Hingga akhirnya membuat Spencer setuju saja, karena ia percaya adiknya akan aman berada disisi Kay maupun Noah. Meski Noah terlihat sangat tidak menyukai Hezlyn, tetapi Spencer yakin ia yang akan menjadi orang pertama melindungi adiknya.
Di sudut ruangan, Axlyn bersama rekannya berdiri dengan pakaian hitam rapi. Setelan pengawal yang membingkai tubuhnya dengan sempurna. Wajahnya setenang permukaan danau, tapi jemarinya tanpa sadar menggenggam perutnya yang masih rata. Pada akhirnya Axlyn tidak melanjutkan sarapannya, meski makanannya sudah diganti oleh pelayan.
Sebab pemandangan dihadapannya ini sudah cukup membuatnya kenyang menelan kekecewaan yang tak bisa ia ungkapkan. Kay terlihat begitu menyayangi Hezlyn, tanpa tahu dua anak di dalam perutnya juga menginginkan hal yang sama.
“Kay… andai saja kau tahu bahwa aku selalu menunggumu kembali mengingat semua tentangku. Tentang keberadaan anak kita yang kini tumbuh di dalam perutku. Apakah kau juga akan menyayangi mereka, seperti kau menyayangi Hezlyn.” Dan kini… kehidupan kecil yang tumbuh diam-diam di dalam rahimnya.
“Kalau begitu kalian juga ikut,” ucap Kay tegas pada para pengawal, termasuk Axlyn.
Axlyn segera tersadar dan menoleh. “Tentu saja. Kami pengawalnya, tugas kami adalah melindungi Nona Kecil dari bahaya apapun.”
Kay mengangguk singkat, meski hatinya merasa sesak saat bertatapan dengan sorot mata Axlyn yang seperti penuh akan kekecewaan. Tak ada yang bisa membaca getaran halus di dadanya. Namun, Kay menyimpulkan bahwa Axlyn pasti marah karena makanannya ia rebut begitu saja. Bahkan wanita itu tidak menyentuh makanan pengganti yang diberikan oleh pelayan.
Tak ada yang tahu bahwa kekecewaan yang Axlyn rasakan adalah jarak beberapa langkah dari Kay yang terasa jauh sekaligus menyakitkan.
...****************...
Beberapa saat kemudian, mobil hitam panjang meluncur meninggalkan halaman. Noah duduk di kursi depan. Kay di kursi belakang, laptop terbuka di pangkuannya. Di sebelahnya, Hezlyn sibuk bertanya tanpa henti membuat Kay tidak fokus dengan pekerjaannya.
“Papah, kenapa gedung perucahaan milikmu tinggi cekali?”
“Papah… Papah punya berapa karyawan?”
“Papah, nanti Elyn boleh duduk di kursi bos?”
“Tentu saja, itu ‘kan perusahaan milik Papahmu.” Kay menjawab seperlunya, singkat, namun tidak benar-benar mengabaikan.
Di sisi lain, Axlyn duduk disamping Hezlyn hingga posisi gadis kecil itu berada diantara keduanya. Mata waspada memantau sekitar. Namun sesekali tatapannya tanpa sengaja jatuh pada pemandangan di depannya.
Seorang pria dengan aura dingin yang tanpa sadar membiarkan seorang anak kecil bersandar di lengannya. Sinar matahari pagi menembus kaca mobil, menciptakan siluet hangat. Mereka terlihat… seperti keluarga yang lengkap di mata Noah yang diam-diam memperhatikan ketiganya melalui kaca mobil.
“Andai saja kejadian di Kota Xennor tidak memisahkan kalian berdua… tidak membuat Kay melupakan segala tentang Axlyn. Mungkin sekarang mereka berdua sudah menjadi pasangan yang paling serasi dan memiliki anak yang hampir seusia Hezlyn. Sayang sekali, takdir begitu kejam kepada kalian berdua,” ucap Noah dalam hatinya.
Ya, jika saja Kay mengingat kejadian lima tahun yang lalu. Jika saja Kay tahu bahwa wanita yang duduk satu mobil dengannya sedang mengandung anaknya. Jika saja rahasia itu tidak menjadi tembok tak terlihat di antara mereka.
Bersambung ….
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..
𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌