"Cantiknya memikat, pelukannya menjerat, malam ketujuhnya... membunuhmu tanpa sempat bertaubat."
Dihina sebagai gadis penghibur tak laku, Syifa berubah menjadi primadona VIP yang dipuja setelah menerima minyak keramat dari Nenek Lamiang, dukun pedalaman Kalimantan. Syifa memiliki daya tarik mistis yang membuat setiap pria merasa dialah wanita paling suci yang pernah mereka sentuh. Namun, kecantikan itu menyimpan rahasia gelap tentang sebuah hitungan malam yang tak boleh dilanggar.
Pelariannya ke Kalimantan
Mempertemukannya dengan Agung, arsitek yang terobsesi pada wanginya, dan Penyang, pemuda lokal yang mencium aroma maut di balik pesonanya. Di tengah persaingan dua pria itu, Syifa menyadari satu hal: ada harga nyawa yang harus dibayar tepat di malam ketujuh. Kini, sebelum hitungan terakhir tiba, Syifa harus memilih antara mengikuti nafsu yang menghancurkan atau melakukan pengorbanan terakhir yang akan mengubah wujudnya selamanya.
BERANI MELEWATI MALAM KE-6?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kutukan ciuman Syifa
..."Sia-sia Bersolek di Depan Cermin, Jika Nyawa Tak Lagi Di Dalam Raga."...
......................
BYURRR!
Syifa jatuh terhempas, tenggelam ke dalam pelukan Sungai Kahayan yang hitam pekat. Di bawah permukaan air yang dingin membeku, ia tidak meronta mencari oksigen. Di tengah tekanan air yang menyumbat paru-parunya, ia justru mendekap botol Minyak Kukang itu lebih erat ke dadanya, seolah botol itu adalah janji suci yang lebih berharga dari nyawanya sendiri.
Dalam sunyi yang mencekam di dasar sungai, Syifa menatap botol itu dengan mata yang perih dan mulai mengabur. Bayangan ketakutan yang paling mengerikan menghantuinya di sela-sela gelembung udara: ia takut menjadi buruk rupa selamanya.
Ia teringat janji-janji manis Agung yang bersumpah mencintainya. Namun, Syifa tahu kenyataan yang lebih kejam dari kutukan manapun: tak ada pria yang mampu mencintai monster. Ia tahu Agung—bahkan Penyang yang sekarang sedang mempertaruhkan nyawa menolongnya—pasti akan memalingkan muka dengan mual jika melihat borok bernanah yang mendidih di balik bajunya. Ia tahu, di dunia yang kejam ini, rupa yang buruk adalah dosa yang tak termaafkan.
"Lebih baik aku mati sebagai bidadari daripada hidup menjadi bangkai yang kalian ludahi!" raung batinnya di tengah kegelapan air.
Dengan sisa tenaga yang hampir habis dan jemari yang gemetar karena rasa sakit yang membakar, Syifa mulai mempreteli Segel Tali Huta yang melilit botol itu. Benang tujuh rupa itu seolah menjerit saat ia sentak paksa hingga terurai di dasar sungai. Begitu segel itu terlepas, kegelapan yang lebih pekat meledak dari dalam botol. Benang-benang hitamnya menjulur seperti tentakel ular yang lapar, melilit erat pergelangan tangan Syifa, merobek kulitnya, dan menyatu dengan urat nadinya dalam sebuah ikatan abadi yang biadab.
Seketika, tubuh Syifa kaku. Sepasang matanya terbuka lebar di dalam air, memancarkan cahaya kuning benderang bak sepasang senter kematian yang membelah kegelapan sungai.
Tanpa satu pun gerakan renang, tubuh Syifa mulai naik secara vertikal. Ia terangkat keluar dari permukaan air, menembus riak sungai yang mulai bergejolak hebat seiring dengan pecahnya badai di langit malam. Ia mengambang di udara, rambutnya yang basah menjuntai seperti tirai maut, sementara cahaya kuning itu mulai merambat, melahap habis sisa-sisa borok dan bau busuk di kulitnya.
Penyang menatap dari perahu dengan tatapan nanar dan napas tersengal. Di atas sana, di bawah rembulan yang tertutup awan hitam, Syifa membuka sumbat botol dengan gigi taringnya yang mulai memanjang, lalu meneteskan minyak keramat itu langsung ke dalam mulutnya. Ia menelan kutukan itu bulat-bulat demi sebuah wajah yang bisa dipuja.
"Lah, malah ihup! Duh, gila jete!" teriak Penyang melawan deru angin, suaranya parau penuh rasa muak yang pedih.
Wujud Syifa turun perlahan, menapak anggun di atas permukaan air yang kini tenang di bawah kakinya seolah itu adalah lantai kaca istana. Dalam sekejap, semua luka busuk itu lenyap tanpa bekas. Ia kembali menjadi sosok bidadari yang luar biasa jelita, kulitnya sebening porselen di bawah kilat petir yang menyambar.
Inilah ironi yang paling menyayat: Syifa merusak jiwanya agar raganya layak dicintai. Ia rela menjadi abdi kegelapan hanya agar Agung tidak pergi, agar Penyang tetap terpaku, dan agar dunia tidak jijik menyentuhnya. Ia merasa telah memenangkan kembali "harganya", tanpa sadar bahwa saat ia meminum minyak itu, ia bukan lagi wanita yang bisa dinikahi; ia hanyalah mayat yang mengenakan topeng bidadari.
"Lihat aku, Penyang..." desis Syifa, suaranya merdu layaknya dawai surga namun sedingin maut. "Sekarang... apakah kau masih akan menolakku? Apakah Agung atau pria lain masih akan jijik melihatku?"
Penyang menatapnya dengan air mata yang tersamar hujan. "Kasihan kau, Syifa. Kau sangat cantik... Tetapi kau menjadi setan dengan minum minyak itu. Kau menukar nyawamu hanya untuk sebuah cermin."
Syifa, yang kini sepenuhnya berada dalam dekapan pengaruh Kukang, tertawa terbahak-bahak. Suaranya mengguncang kesunyian Sungai Kahayan, namun nada tawanya terdengar sangat mengerikan—bukan suara kebahagiaan, melainkan suara seseorang yang sedang merintih kesakitan, namun dipaksa tertawa oleh kekuatan gaib yang menarik-narik pita suaranya. Ia tertawa karena merasa telah menang melawan buruk rupa, namun jiwanya merintih karena sedang dikuliti hidup-hidup dari dalam.
Ia berjalan di atas permukaan air yang mendadak tenang, melangkah anggun mendekati perahu seolah sungai itu adalah pelaminan pribadinya.
"Penyang, aku terpaksa. Bisakah kau menyembuhkanku tanpa menyiksaku?" tawar Syifa. Suaranya merdu menyayat hati. Ia berdiri tepat di samping perahu, menatap Penyang dengan rupa bidadari yang begitu menyilaukan hingga menyakitkan untuk dipandang.
Penyang menatapnya dengan tatapan hampa. Tiba-tiba, jantungnya berdenyut tak keruan. Bibirnya berkedut; rasa dingin sisa ciuman maut tadi berubah menjadi hasrat yang membakar. Sesuatu yang gelap dari liur Syifa mulai bekerja, merayap ke sumsum tulang, dan menggelitik nafsu Penyang dengan cara yang biadab.
"Penyang..."
Syifa melangkah naik ke perahu. Kayu perahu bahkan tidak berderit saat kakinya yang halus menapak. Dengan tubuh yang kini sempurna tanpa cela, ia melingkarkan lengannya yang sebening porselen ke leher Penyang. Ia mendekap pria itu, menempelkan wajahnya yang halus, memberikan kehangatan palsu yang menghancurkan logika manusia.
Deg!
Penyang membeku. Jantungnya berpacu liar. Untuk sesaat, ia benar-benar merasa jatuh cinta setengah mati pada wanita iblis di pelukannya. Ia ingin membalas pelukan itu, ingin memiliki kecantikan itu selamanya, tak peduli meski itu berarti maut.
Namun, di tengah kepungan badai maut itu, Lawung kuning yang melilit kepala Penyang tiba-tiba bersinar terang. Cahayanya yang murni memercikkan hangat yang menyentak kesadaran. Bibir Penyang yang tadi kelu mulai bergerak cepat, merapal doa pelindung diri yang diwariskan para leluhur:
"Sangkan paraning dumadi, hambaruan mangat, babas basalin rupa. Aku nampayah je jati, malenyap je palsu. Berkat doa ije kuasa, mambalikat kutuk ije dinit!"
Seketika, pikiran Penyang kembali jernih. Cahaya dari Lawung itu membelah kabut nafsu yang menyelimuti matanya. Ia menyentak pelukan itu dengan paksa, mundur hingga ke ujung perahu dengan napas memburu. Penyang menatap Syifa, dan kali ini, air matanya jatuh—bukan karena cinta, melainkan karena duka yang amat dalam.
"Syifa, sekarang tak ada lagi cara untuk menolongmu," suara Penyang parau, pecah di tengah deru hujan. "Kau sangat cantik, Syifa... cantik sekali sampai aku pun hampir gila karenamu. Tapi kecantikan ini adalah kuburanmu."
Ia menunjuk tepat ke arah jantung Syifa yang berdetak dengan irama yang tak alami.
"Dulu, kutukan itu hanya di kulitmu, seperti baju yang bisa kita lepas dan basuh. Tapi karena kau telah meminum minyak itu... ia bukan lagi di luar. Minyak itu kini telah memiliki jantungmu, mengalir dalam setiap tetes darahmu, dan bernapas dalam setiap helaan napasmu. Kau tidak bisa lagi dibersihkan, Syifa. Kau hanya bisa dimusnahkan."
Ironis. Syifa memeluk Penyang untuk mendapatkan cinta agar ia tak merasa kesepian sebagai taluh, namun pelukan itu justru menyadarkan Penyang bahwa wanita di depannya kini hanyalah bangkai yang mengenakan topeng cahaya.
"Kau menukar nyawamu hanya untuk sebuah cermin," bisik Penyang pedih. "Dan sekarang, cermin itu telah pecah, merobek jiwamu sampai tak bersisa."
Syifa menangis sesenggukan. Air matanya yang jatuh ke sungai tidak lagi terasa dingin, melainkan berubah menjadi uap hitam yang mendidih. Tubuhnya yang basah kuyup memancarkan aura birahi yang menyesatkan, membungkus rupa bidadarinya dengan daya tarik yang mematikan. Ia meraba kulit lengannya yang sehalus porselen, sebuah pencapaian yang ia beli dengan harga nyawanya sendiri.
"Seharusnya ada cara! Kau sengaja membiarkanku karena kau juga membenciku, Penyang!" raung Syifa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kamus:
Lah, malah ihup! Duh, gila jete!
artinya
Lah, malah diminum! Duh, gila itu!
Sangkan paraning dumadi, hambaruan mangat, babas basalin rupa. Aku nampayah je jati, malenyap je palsu. Berkat doa ije kuasa, mambalikat kutuk ije dinit!"
Artinya:
Asal usul segala kejadian, jiwa yang tenang, lepaskan perubahan rupa. Aku melihat yang sejati, melenyapkan yang palsu. Berkat doa Yang Maha Kuasa, membalikkan kutukan yang dipungut!
karena apa coba