Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.
Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.
Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.
Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.
Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.
Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.
Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.
Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Heilong, si Pembelajar Jiwa
Malam semakin larut, dan kabut yang tebal mulai turun dari celah-celah tebing lembah, menyelimuti kamp kultivator dalam tirai kelabu yang menyesakkan.
Di saat penglihatan dan indera spiritual para penjaga mulai tumpul oleh tekanan atmosfer, Ye Chenxu bergerak.
Tubuhnya mengabur dan berubah menjadi serangkai bayangan yang tak terputus. Dengan satu tarikan napas yang diselaraskan dengan ritme kehampaan alamiah, ia telah berada di dalam wilayah luar formasi.
Langkah Sunyi Tanpa Jejak membuat frekuensi keberadaannya menyatu dengan aliran energi di sekitar, membuat mata, indera spiritual, bahkan formasi peringatan mekanis gagal menangkap kehadirannya.
Ia menyelinap di antara tenda-tenda kulit, bergerak secepat pikiran. Di telinganya, percakapan para kultivator terdengar samar, penuh dengan intrik dan keserakahan.
"Besok pagi, saat kristal muncul penuh dari celah bumi, kita harus menyerbu bersama. Jangan biarkan kelompok dari Sekte Bayangan Darah mengambil bagian terbesar," bisik seorang pria kasar di balik tenda.
"Benar. Kalau beruntung, satu pecahan murni saja sudah cukup bagiku untuk menembus batas yang sudah menahanku selama lima tahun," sahut yang lain dengan suara penuh harap.
"Tapi tetap waspada. Jangan sampai ada yang bodoh memancing makhluk penjaga di dasar celah itu. Kita butuh kristalnya, bukan kematian kita."
Mata Ye Chenxu menyipit mendengar kata "makhluk penjaga". Itu berarti di dasar lembah, di tempat di mana kristal itu tumbuh, terdapat siluman tingkat tinggi yang menjadi predator alami energi kehampaan.
"Ini kesempatanku," pikir Ye Chenxu. Keserakahan mereka akan menjadi penutup bagi gerakannya.
Dia lalu bergerak menuju pusat lembah, tempat sebuah celah besar menganga di tanah dan memancarkan cahaya hitam samar yang berdenyut seirama dengan napas bumi.
Aura yang keluar dari sana begitu murni hingga membuat jiwa Ye Chenxu beresonansi dengan rasa lapar yang hebat.
Namun, tepat saat ia mencapai tepi celah, sebuah suara dingin yang membawa tekanan berat terdengar tepat di belakang punggungnya.
"Kau bukan bagian dari kelompok mana pun di sini. Siapa kau?"
Ye Chenxu berhenti bergerak. Ia berbalik perlahan, otot-ototnya tegang layaknya busur yang siap dilepaskan.
Seorang pria tinggi dengan jubah hitam yang dihiasi bordir naga merah berdiri di atas bongkahan batu raksasa. Mata pria itu berwarna merah menyala, menatap tajam ke arah Ye Chenxu seolah-olah bisa melihat menembus kabut.
Auranya stabil, berat, dan penuh tekanan yang mematikan.
Setidaknya, orang itu berada di Tingkat Pengumpul Qi tahap awal.
Dia adalah Heilong, si Pembelah Jiwa, seorang pemburu independen yang reputasinya dibangun di atas tumpukan mayat lawan-lawannya di Dunia Bawah.
"Kau sangat pandai bersembunyi, bocah," lanjut Heilong dengan seringai tipis yang memperlihatkan taringnya. "Hampir saja aku tidak merasakan keberadaanmu jika saja aku tidak memasang benang-benang spiritual di sekitar batu ini."
Ye Chenxu tetap diam, wajahnya sedatar air di sumur tua. Ia tidak membuang energi untuk bicara.
"Menarik," gumam Heilong sambil melompat turun dari batu dengan keanggunan seorang predator.
"Seorang anak kecil dengan aura setipis kabut dan pakaian yang sudah hancur, namun membawa teknik pergerakan yang bahkan aku pun sulit menangkapnya. Serahkan semua hartamu, termasuk gulungan teknik yang kau pelajari. Jika menurut, aku mungkin akan membiarkanmu pergi dengan kaki yang masih utuh."
Keheningan singkat menyelimuti mereka, hanya diinterupsi oleh suara gemuruh jauh dari dasar lembah.
Lalu, Ye Chenxu melangkah maju satu langkah.
Bukan langkah untuk melarikan diri, melainkan langkah untuk masuk ke zona tempur.
Heilong menyeringai lebih lebar. "Berani juga. Kalau memang kau sudah bosan hidup, maka aku akan mengabulkannya."
Pertarungan meletus dalam sepersekian detik. Heilong mengayunkan pedang besarnya yang mengeluarkan aura hitam pekat dan membawa tekanan angin tajam yang sanggup membelah batu.
Tanah tempat Ye Chenxu berdiri tadi retak hancur. Batu-batu beterbangan ke segala arah. Namun, Ye Chenxu sudah tidak ada di sana.
Dia menghindar nyaris tanpa suara, gerakannya begitu halus hingga seolah-olah meluncur di atas udara.
Tubuhnya mengabur di tengah tebasan, lalu muncul kembali di sisi buta Heilong.
"Teknik pergerakan macam apa itu?!" seru Heilong terkejut. Ia segera membalikkan tubuhnya dan melepaskan tebasan melingkar yang menciptakan badai energi di sekelilingnya.
Clang!
Pisau pendek hitam Ye Chenxu menangkis mata pedang besar itu. Benturan tersebut mengirimkan gelombang kejut yang membuat Ye Chenxu terpental beberapa meter.
Ia mendarat dengan tidak stabil, darah segar merembes dari sudut bibirnya akibat hantaman kekuatan internal Heilong yang jauh lebih tinggi.
Perbedaan tingkat masih terlalu lebar. Seorang Pengolah Tubuh melawan tingkat Pengumpul Qi awal seharusnya adalah sebuah lelucon.
Namun Ye Chenxu tidak mengenal rasa panik. Ia menutup matanya sejenak dan mengabaikan rasa sakit di dadanya.
“Jangan melawan kekuatan dengan kekuatan. Jangan mencoba membentur gunung. Robeklah mereka dari dalam, di mana pertahanan mereka paling lemah,” suara Dewa Kehampaan berbisik di palung jiwanya.
Saat Heilong kembali menyerang dengan raungan kemenangan, Ye Chenxu tidak menghindar. Ia justru menerjang maju dan masuk ke dalam jangkauan serangan musuh.
Jari tengah dan telunjuk Ye Chenxu menusuk kilat ke arah titik meridian di dada Heilong.
"Sentuhan Kehampaan: Telapak Pemutus Meridian!"
Energi kehampaan yang dingin meledak masuk ke dalam sistem sirkulasi Heilong.
"Ughh!" Heilong terhuyung mundur. Wajahnya memucat saat merasakan meridian dadanya seolah membeku dan kacau balau dalam sekejap.
Tetapi, sebagai petarung yang pengalaman, Heilong meraung gila. Ia memaksa seluruh Qi-nya untuk menekan dan membakar energi kehampaan itu keluar dari tubuhnya.
"Berani sekali kau, bocah keparat!"
Pedang besar Heilong terangkat tinggi dan memancarkan cahaya merah yang mematikan. Ye Chenxu tahu, jika serangan berikutnya mengenai, tubuhnya akan terbelah menjadi dua.
Dalam sepersekian detik sebelum pedang itu turun, lalu tubuh Ye Chenxu mengabur total.
Ia menghilang dari hadapan Heilong dan muncul tepat di belakang tengkuk pria itu dalam kesunyian yang mengerikan. Dua jari Ye Chenxu menusuk ke titik saraf utama di pangkal tengkorak.
"Jejak Kehampaan: Jarum Pembunuh Jiwa!"
Tubuh raksasa Heilong membeku seketika. Matanya membelalak lebar, namun cahayanya meredup dengan cepat.
Jiwanya seolah terkoyak oleh ribuan jarum tak kasat mata yang menghisap kesadarannya ke dalam ketiadaan. Darah mulai mengalir dari hidung dan telinganya.
Tanpa suara, tubuh sang Pembelah Jiwa itu roboh perlahan ke atas tanah, pedang besarnya terlepas dari genggaman.
Sunyi kembali menguasai tempat itu.
Napas Ye Chenxu tersengal-sengal. Seluruh tubuhnya gemetar karena kelelahan yang ekstrem. Teknik-teknik itu bukan hanya menguras Qi, tetapi juga mengonsumsi energi mental dan kesadarannya secara brutal.
Namun hasil buruannya memang sangat memuaskan. Di hadapannya kini tergeletak harta dari seorang pemburu tingkat Pengumpul Qi tahap awal, cincin spasial yang penuh dengan barang jarahan, pil-pil pemulih tingkat tinggi, sebuah peta rahasia wilayah lembah, dan yang paling penting—sebuah segel akses khusus untuk masuk ke tambang inti.
"Cukup untuk saat ini ..." gumamnya pelan. Namun, matanya tetap tertuju pada celah lembah. Ada sesuatu yang lebih besar di sana.
Semangat
Habiskan
Ye Chenxu 💪💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya
satu....
tunggu pembalasanku 🤭