NovelToon NovelToon
CINTA BEDA KASTA

CINTA BEDA KASTA

Status: tamat
Genre:Tamat / Nikahmuda / CEO / Hamil di luar nikah / Ibu Pengganti
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.8
Nama Author: Five Vee

Andrea Cecilia, gadis yatim piatu berusia 22 tahun, baru saja lulus pendidikan Diploma Tiga, jurusan Tata Boga. Ia ikut dengan sang bibi bekerja di rumah keluarga Dinata, sembari menunggu panggilan kerja dari sebuah hotel ternama di ibukota.

Andrea yang memiliki kemampuan memasak, di minta menjadi perawat untuk anak perempuan nyonya Dinata yang mengalami depresi setelah di lecehkan, dan kini dalam keadaan hamil besar.

Sang nona yang selama ia jaga, hanya diam, tiba-tiba meminta Andrea menjadi Ibu pengganti untuk bayi yang akan ia lahirkan. Bahkan, di akhir hayatnya, wanita itu meminta Andrea menikah dengan sang kakak, agar bayinya memiliki orang tua lengkap.

Bagaimana kah perjalanan hidup Andrea setelah kepergian sang nona untuk selamanya?
.
.
.
Hay Teman Redears.. ketemu lagi dengan aku si Authir a.k.a Author Amatir 😁

Mohon dukungannya, ya.. jangan lupa, Like, komen, Vote dan Gift.
.
Semoga cerita ini berkenan.
.
Ingat, tidak ada hikmah yang bisa di ambil dari cerita ini, karena novel ini hanya HALU SEMATA.
.
Terima Gaji ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

03. Tolong Jaga Anakku.

Andrea berdiri memandangi bayi mungil yang sedang berada di dalam inkubator, dari balik jendela kaca ruang NICU. Tempat khusus untuk merawat bayi, yang membutuhkan pengawasan ketat dari tenaga medis.

Hatinya tercubit melihat beberapa alat terpasang di tubuh bayi mungil itu. Bayi yang belum waktunya lahir, harus di lahirkan lebih awal untuk menyelamatkan nyawanya.

“Kasihan sekali kamu, nak.”

Tanpa di sadari, air matanya menetes. Ia tak sanggup membayangkan jika bayi kecil itu akan tumbuh tanpa kasih sayang orang tua. Andrea sudah merasakan bagaimana hidup tanpa orang tua di sampingnya, meski ia di tinggalkan saat usianya telah terbilang cukup dewasa, 19 tahun.

“Tuhan, tolong berikan keajaiban mu. Biarkan nona Audrey merawat putrinya.”

Gadis itu bermonolog, teringat kondisi Audrey yang belum sadarkan diri setelah melahirkan petang tadi.

“Rea.”

Terdengar suara maskulin menyerukan namanya, membuat gadis itu menoleh ke arah sumber suara.

“Tuan?”

Arthur kini berdiri di samping gadis itu. Ia pun ikut menatap ke arah inkubator.

“Pulanglah istirahat bersama mama. Biar aku disini menunggu Audrey.”

Pria itu berbicara tanpa mengalihkan pandangannya.

“Tidak, aku mau disini menemani nona. Untuk apa aku berada di rumah? Jika nona tidak ada.”

“Apa kamu begitu menyayangi adikku?”

Semenjak kejadian pelecehan yang di alami sang adik, Arthur sudah tidak percaya lagi dengan orang yang mengaku sebagai teman Audrey. Bagaimana tidak, perbuatan tercela itu terjadi atas campur tangan sang pemilik acara. Yang tak lain adalah teman Audrey sendiri.

Andrea menatap sejenak lawan bicaranya. Lalu kembali memandangi bayi mungil di dalam sana.

“Ya, aku sangat menyayangi nona. Meski dia tak pernah berbicara padaku sebelumnya. Tetapi aku tau, nona orang yang sangat baik.”

“Ya, dia memang orang yang sangat baik. Karena itu, mudah sekali di manfaatkan oleh orang-orang sekitarnya.”

Andrea kembali menoleh ke arah Arthur. Selama tiga bulan ini, mereka belum pernah berbicara sebanyak ini. Hanya beberapa patah kata, dan itu hanya mengenai kabar keseharian Audrey.

🍃🍃🍃🍃🍃

Malam kini telah berpamitan, pagi pun telah datang menyapa. Dua insan manusia yang menunggu Audrey terbangun, masih setia terlelap di kursi tunggu rumah sakit, dengan kepala saling menumpu satu sama lain.

Semalam, setelah mengantar nyonya Dinata pulang untuk beristirahat, Arthur kembali ke rumah sakit.

Saling bergantian menjaga Audrey dan bayinya, di tengah malam Arthur meminta Andrea untuk duduk bersamanya di depan ruang ICU.

Dan tanpa di minta, rasa kantuk itu datang. Entah siapa yan memulai lebih dulu, kini mereka tidur saling bersandar.

“Engh.” Arthur menggeliat lebih dulu. Baru akan meregangkan otot-otot yang terasa kaku, namun ia urungkan saat ia merasa ada beban berat yang menempel pada bahunya.

Pria itu menghela nafas pelan. Ia berpikir bagaimana cara membangunkan Andrea.

“Rea?” Ucapnya pelan.

Namun, gadis itu tak bergeming.

Kembali menghela nafas, Arthur kemudian sedikit menguncang bahunya.

Dan berhasil, Andrea tersentak. Matanya pun mengerejap beberapa kali.

“Tu-tuan, maafkan aku.” Ucapnya saat menyadari kepalanya berada di atas bahu Arthur.

“Hmm.”

‘Astaga, Rea. Apa yang telah kamu lakukan? Bisa-bisanya tidur di bahu tuan Arthur.’

Gadis itu merutuki kebodohannya sendiri.

“Apa kepalamu sakit?” Tanya Arthur saat melihat Andrea memukul-mukul kepalanya.

Gadis itu hanya menjawab dengan gelengan kepala.

Ia sungguh merasa jengah dengan pria dewasa di sampingnya ini. Selama ini, jangankan duduk tak berjarak seperti ini, berdiri pun mereka berjauhan.

“Maaf, dengan keluarga pasien nona Audrey?” Seorang suster datang mendekat.

“Ya, aku kakaknya, sus.”

Arthur bangkit, menghampiri suster itu.

“Pasien telah sadarkan diri, dan ingin bertemu bapak.”

Arthur mengangguk, dan tanpa pamit meninggalkan Andrea sendirian.

“Terima kasih, Tuhan. Semoga nona segera pulih.”

Dengan tulus, Andrea memanjatkan syukur kehadapan sang maha segalanya. Ia masih berharap, Tuhan memberi keajaibannya. Menyembuhkan, mengembalikan Audrey seperti sebelumnya.

Sementara itu, di dalam ruang ICU.

Arthur dengan susah payah menahan air matanya agar tak menetes. Ia tidak bisa melihat keadaan sang adik. Andai bisa, ingin sekali pria itu menggantikan posisi Audrey.

“K-kak.” Tangan Audrey sedikit bergerak, berusaha memanggil sang kakak.

“Iya, sayang.“ Arthur mendekat, lalu duduk di samping ranjang yang ditempati Audrey. Pria itu menggenggam tangan sang adik, mengecupnya berulang kali.

“Dimana anakku, kak?” Tanya Audrey dengan suara putus-putus.

“Dia ada di ruangan bayi. Kamu tau, dia sangat cantik. Persis seperti dirimu.”

“Apa kakak sudah memberi nama?“

Kepala Arthur menggeleng. Ia tak sempat memikirkan hal lain, selain keadaan Audrey.

“Tolong beri nama Princess.” Pinta Audrey.

Kepala Arthur mengangguk. Mengiyakan permintaan sang adik.

“Istirahat lah. Jangan banyak bicara dulu.”

“Dimana mama dan Rea?”

Arthur menghela nafas pelan.

“Mama pulang sebentar untuk mengganti baju. Andrea ada di depan. Hanya satu orang yang boleh masuk kesini.”

Arthur menjelaskan, sebelum sang adik meminta lebih.

“Apa Rea sudah melihat anakku?“

“Hmm. Dia bahkan berjaga semalaman di depan ruang bayi.” Ucap Arthur sembari terkekeh kecil.

Senyum tipis terbit di wajah pucat Audrey.

“Kak, tolong jaga anakku.”

“Iya. Bukannya aku sudah berjanji?”

Kepala Audrey mengangguk lemah.

“Jangan tinggalkan aku, kak. Aku tidak mau sendirian disini.” Suara wanita itu semakin terbata. Membuat hati Arthur semakin teriris.

“Sudah, tidurlah. Aku akan menemani mu disini. Jika kamu banyak bicara, yang ada nanti suster akan mengusirku.” Ucap Arthur dengan kekehan kecil. Sebisa mungkin ia menyembunyikan kesedihannya di hadapan sang adik.

Audrey kembali mengangguk. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia mengeratkan genggaman pada tangan sang kakak.

Arthur pun membalas, ikut menggenggam erat tangan adiknya.

Perlahan mata Audrey terpejam.

‘Oh Tuhan. Aku mohon, tolong beri kekuatan untuk adikku, agar dia bisa melewati semua ini. Aku akan melakukan apa pun untuknya. Asalkan dia bisa kembali sehat seperti dulu. Jika perlu menukar dengan nyawaku, maka lakukanlah, Tuhan. Asalkan adikku kembali sehat seperti dulu.’

🍃🍃🍃🍃🍃

“Rea, kamu sendiri? Dimana Arthur?”

Nyonya Dinata telah kembali ke rumah sakit. Ia membawa dua buah papper bag, yang berisi pakaian ganti untuk Arthur dan juga Andrea.

“Tuan ada di dalam, nyonya. Kata suster, nona sudah sadar, dan ingin bertemu dengan tuan Arthur.” Jelas Andrea pada majikannya.

“Audrey sudah sadar? Syukurlah.”

Wanita paruh baya itu menyerahkan tas yang berisi pakaian ganti untuk Andrea. Tadi, sebelum berangkat ke rumah sakit, Nyonya Dinata meminta bibi Andrea mengambilkan pakaian untuk gadis itu.

“Bersihkan dirimu terlebih dulu. Bukannya Arthur sudah menyewa ruang rawat VIP? Gunakan kamar mandi di ruangan itu.”

Ya, semalam Arthur menyewa sebuah kamar inap VIP, yang rencananya akan ia gunakan untuk tempat sang mama beristirahat selama menunggu Audrey siuman.

“Baiklah, nyonya. Aku permisi sebentar.”

Setelah ke pergian Andrea, nyonya Dinata memutuskan untuk melihat sang cucu. Seperti yang Arthur dan Andrea lakukan semalam, nyonya Dinata hanya bisa melihat bayi mungil itu dari balik jendela kaca.

Tanpa diminta, air mata wanita paruh baya itu menetes melihat bayi mungil itu.

“Maafkan kami, nak. Kamu tidak seharusnya menanggung dosa kedua orang tuamu.”

.

.

Bersambung.

1
Denny Srivina Barus
Luar biasa
Rina Arie
bagus, thanks thor
Ervina T
Luar biasa
Alini Maudia
.
Nining Chili
Luar biasa
Nining Chili
Lumayan
Niechenie Cwekgemini Clalud'hti
uughhh top mommy mertua 👍👍
Niechenie Cwekgemini Clalud'hti
mantap lawan teroos pelakor
Meri Meri
Luar biasa
Ayachi
kok selalu bisa pas gitu yah, mama Daisy KLO grebekin org😭🤣
Ayachi
keren jga yah namanya thorr, jarang² loh🤣
Ayachi
sok²an ngambek lgi kmu turrr🤣
Ayachi
udah bener honeydew aja, ini malah melon😭 nona melon, vulgar bngett njirr😭🤣
Ayachi
sudut dapur?😭 Arthur arthurrr🤦
Ayachi
ini termasuk dosa kedua org tuakah? bukannya jelas Audrey korban pemerkosaan?
@arieyy
Dady,papi,papa,ayah🤣🤣🤣🦭
@arieyy
jenny ...coba bilang sama kaka author nya...daftar dulu 🤣🤣
andrana maula
Luar biasa
Ita Putri
Halah
tambah nemen Thomas sama jenny gendong" an
Ita Putri
apa mungkin yg perkosa Audrey si bryan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!