Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.
Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.
Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.
"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Andini Mau Ibu Baru
Keheningan menyelimuti ruang pemeriksaan di kediaman Rini. Ia meraih Bros di tangan Andini dan memperhatikannya.
"Dari ayah kamu buat Bu bidan?" ulang Rini, merasa tak percaya.
"Iya, Bu bidan. Ayah bilang, Ayah cinta sama Bu bidan, jadi kasih hadiah ini," dusta Andini dengan tampang yang polos.
Rini terdiam sejenak sebelum tertawa keras. "Dini, apa kamu tau yang kamu katakan barusan?" tanya Rini sambil menahan geli di perutnya.
Andini terdiam cukup lama lalu nyengir kuda. "Nggak tau, Bu bidan," gelengnya.
Rini tersenyum lebar lalu meraih tangan Andini, membawa gadis itu duduk di atas pangkuannya. "Bu bidan tanya sekali lagi, dan Dini harus jawab jujur. Dini kan anak yang baik."
Andini mengangguk.
"Beneran Bros ini dari ayah kamu?" tanya Rini dengan suara lembut.
Andini menggeleng. Sepertinya dia tidak pandai menyembunyikan kebohongan.
"Ini dari Andini, Bu bidan. Andini beli ini dari hasil menabung buat kasih Bu bidan hadiah," ungkap Andini akhirnya.
"Terus kenapa Dini bilang ini dari ayah?" tanya Rini sambil mengusap rambut Andini.
Andini terdiam sejenak, ekspresinya murung. Matanya bahkan nampak berkaca-kaca. "Dini, cuma mau tau Bu bidan cinta nggak sama ayah."
"Dini pengen banget punya ibu baru. Biar kayak temen-temen, di rumah mereka ada ibu yang nyiapin makanan. Sementara Dini, tiap hari sendirian di rumah. Dini nggak punya temen." Gadis itu tiba-tiba teriak menceritakan kesepiannya.
"Ayah pulang tiap sore, dan pergi pagi..." Tangisnya pecah.
Rini memeluk tubuh Andini yang bergetar, membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya.
"Ayah baru nggak mau Dini ikut ibu, dan Ibu lebih milih ayah baru."
"Bu bidan, Bu bidan sayang nggak sama Dini. Bu bidan mau kan jadi ibu baru Dini? Ibu Dini aja bisa nikah lagi, Ayah juga pasti bisa kan?"
Isak tangis Andini mereda, namun tidak dengan air matanya. Ia menatap wajah Rini dengan wajah yang sembab.
Rini terpaku, tidak tahu harus mengatakan apa untuk membuat Andini mengerti. Suara langkah kaki cepat terdengar dari luar, beberapa saat kemudian sosok Arga muncul dengan ekspresi panik, dan tubuh banjir keringat.
"Andini!"
Arga langsung menarik tubuh putrinya ke dalam pelukan. "Kamu kenapa? Kamu sakit?"
Jantung Arga berdegup kencang karena khawatir dan lelah karena berlari dari tempat kerja.
Andini melepas pelukan ayahnya.
"Dini nggak sakit, Ayah," jawab Andini.
"Kamu nggak sakit? Terus kenapa di sini? Tadi ada yang kasih tau ayah, katanya kamu di rumah Bu bidan dan sakit," cecar Arga sambil memeriksa tubuh putrinya.
Andini tersenyum cengengesan. "Andini bohong, Ayah. Maaf..."
Arga menghela napas lega. Tubuhnya terduduk lemas. "Syukurlah. Ayah panik setengah mati mendengar kamu tiba-tiba sakit."
"Andini ke sini cuma buat ngasih ini, Mas," ucap Rini akhirnya membuka suara, sambil memperlihatkan Bros di tangannya.
Ekspresinya masih diliputi perasaan iba atas ucapan Andini beberapa saat lalu.
Arga melihat ke arah Andini yang menganggukkan kepala.
"Terus kenapa kamu nangis kayak gini?" tanya Arga mengusap air mata di wajah putrinya.
Andini menunduk dalam. Bahunya naik-turun menahan tangis yang kembali ingin pecah.
"Dini, ada apa?" tanya Arga kembali cemas.
"Ayah, bisa nggak Ayah dan Bu bidan nikah aja? Andini pengen punya ibu baru," kata Andini di sela isak tangisnya yang terdengar pilu.
Mata Arga membelalak. Ia menatap ke arah Rini yang justru menundukkan kepala, tanpa memberikan reaksi apapun.
Perasaan tak enak hati langsung menyeruak.
"Dini, kamu ini ngomong apa?" tanya Arga sambil menaikkan wajah putrinya, menghadap ke arahnya.
"Ayah, Andini pengen punya ibu kayak temen-temen. Dini kesepian ditinggal di rumah sendiri tiap hari." Tangis gadis itu akhirnya pecah lagi.
"Ibu sering bilang di telpon, kalo dia akan kirim uang buat beli mainan. Tapi, Andini nggak butuh itu. Andini cuma pengen ayah dan ibu tinggal bersama lagi."
"Tapi..." Andini menjeda kalimatnya, dan mengusap wajah dengan punggung tangan.
"Tapi, Ibu udah nikah sama ayah baru. Ayah baru nggak suka Dini. Tapi, Bu bidan baik sama Dini, Bu bidan pasti mau jadi ibu Dini," kata gadis itu.
Arga menghela napas berat. Masalah tentang ibu itu sepertinya tidak akan pernah berakhir sebelum ia menikah lagi, dan memberikan ibu baru untuk Andini.
"Ayah ngerti, Dini. Tapi kamu nggak bisa maksa orang buat nikah dengan kayak gini," ucap Arga berusaha memberi pengertian.
"Tapi, Bu bidan selama ini baik sama kita, Ayah." Suara Andini serak.
"Baik, bukan berarti Bu bidan mau nikah sama ayah, Dini. Ayah kan udah berkali-kali bilang sama kamu soal ini..."
Arga memeluk tubuh putrinya erat namun penuh kelembutan. "Ayah janji, Ayah bakal cari ibu baru buat Dini. Tapi kamu jangan kayak gini lagi," ucap Arga, sambil memperhatikan Rini yang masih menunduk.
"Dia pasti merasa tak nyaman karena ucapan Andini," pikir Arga.
"Ayah janji?" tanya Andini yang diangguki Arga.
"Tapi, ibu baru itu harus sayang sama Dini, Ayah. Jangan kayak Ayah baru yang nggak suka sama Dini," kata Andini.
"Iya. Ayah janji," ucap Arga, yang sebenarnya hanya memberi kalimat penenang.
Arga bangkit berdiri, ia menatap Rini dengan perasaan bersalah dan tak enak hati. "Rin, saya minta maaf atas kejadian hari ini, ya."
"Dini, sejak ibunya pergi jadi kayak gini."
Rini mengangkat kepala dan tersenyum tipis. Senyuman yang terlihat berbeda dari yang biasa dia tunjukkan pada orang lain.
"Dini masih kecil, Mas. Dia pasti membutuhkan sosok seorang ibu," sahut Rini penuh pengertian.
Arga mengangguk singkat. "Iya. Mungkin nanti biar saya kasih pengertian lagi, supaya dia mengerti," kata Arga sambil memperhatikan putrinya yang masih terisak.
Rini menatap Arga dan Andini bergantian. Ada rasa ingin membantu, namun merasa sungkan. Ia juga takut Arga tidak menyukainya dan masih memiliki perasaan pada mantan istrinya.
Rini meremas ujung baju, sesuatu dalam diri mendorongnya untuk mengatakan, dia bersedia. Tapi, kalimat itu seperti tertahan di kerongkongannya.
"Sekarang kita pulang, ya," ajak Arga pada Andini.
"Atau... kalo kamu nggak mau ditinggal sendiri, kamu bisa ikut Ayah kerja. Asal kamu jangan ganggu ayah kalo sedang kerja," tawa Arga.
"Andini nggak mau di rumah sendiri, Ayah. Andini ikut Ayah kerja aja," sahut Andini, bergetar.
Tangan Rini terangkat, ingin menghentikan. Namun, lidahnya terasa kelu.
Andini menghadapkan tubuh ke arah Rini. Ia mendekat dan menggenggam tangan bidan itu dengan lembut.
"Bu bidan, Dini minta maaf, ya. Bu bidan pasti nggak suka lagi sama Dini. Dini janji nggak bakal minta Bu bidan jadi ibu baru Dini lagi, meskipun Dini mau."
"Ayah bilang, dia mau nyari ibu baru buat Dini. Semoga aja, Ibu baru Dini nanti sayang dan baik sama Dini kayak Bu bidan."
Gadis itu mengusap air matanya lalu berlari mendekati Arga dan memeluk kakinya.
"Rini, kami pamit, ya. Maaf atas kejadian hari ini, Rini pasti bikin kamu terkejut," ucap Arga berusaha tersenyum kaku.
Rini tidak memberikan tanggapan apapun. Tatapannya menerawang jauh, seolah tengah memikirkan sesuatu yang besar.
Arga dan Andini berbalik dan mulai melangkah keluar, meninggalkan ruangan Rini. Namun, mereka berhenti sejenak di dekat sepeda Andini.
"Dini, kenapa kamu ngomong kayak gitu sama Bu bidan? Dengerin Ayah sekali ini lagi. Ayah nggak mau, hal kayak gini terulang lagi."
Arga berlutut dan memegang lengan putrinya.
"Ayah ini udah tua, dan Bu bidan masih muda."
"Ayah udah pernah nikah, tapi Bu bidan belum pernah."
"Ayah juga udah punya anak, dan Bu bidan belum."
"Sekarang, kamu ngerti kan. Ayah dan Bu bidan itu berbeda, nggak bisa bersama," tutur Arga berusaha memberi pengertian terakhir kalinya.
"Jadi, Ayah dan Bu bidan nggak saling cinta?" tanya Andini kecewa.
Arga baru saja akan mengangguk, saat Rini keluar dari ruangan dengan langkah setengah berlari.
Arga dan Andini menoleh dengan ekspresi bingung dan terkejut.
Rini berusaha menormalkan pernapasannya, sebelum berkata, "Mas Arga, kalo Mas Arga serius... aku bersedia kok jadi ibu sambung Andini!"
Bersambung...