NovelToon NovelToon
SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

Status: sedang berlangsung
Genre:Agen Wanita / Identitas Tersembunyi / Action / Fantasi / Cintamanis / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MOMEN

Motor dual sport Raka menderu membelah jalanan setapak yang dikelilingi hutan pinus. Di belakangnya, Liana memeluk pinggang Raka dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap sibuk memegang tablet militer yang terhubung ke ransel taktis di punggungnya.

Getaran mesin motor dan kontur jalan yang tidak rata membuat tubuh mereka sering bersentuhan, sebuah kedekatan fisik yang terasa asing sekaligus akrab bagi keduanya.

"Raka, kurangi kecepatanmu sedikit! Kau membuat sinkronisasi dataku berantakan!" teriak Liana di balik helmnya, suaranya masuk ke dalam intercom telinga Raka.

"Kalau aku melambat, satelit Aegis akan punya cukup waktu untuk mengunci tanda panas knalpot ini, Liana. Pilih mana data yang berantakan atau rudal di atas kepala kita?" sahut Raka tanpa menoleh, matanya tetap terpaku pada jalanan di depan.

Liana mendengus, sebuah suara yang terdengar seperti tawa kecil di telinga Raka. "Kau selalu punya alasan teknis untuk bersikap menyebalkan. Sepuluh tahun tidak mengubahmu sedikit pun."

"Dan kau masih suka mengeluh di tengah situasi taktis. Konsistensi adalah kunci, bukan?"

Raka membelokkan motornya ke sebuah jalan buntu yang tertutup rimbunnya pohon bambu.

Di ujung jalan itu berdiri sebuah gudang tua yang tampak seperti bangunan terbengkalai. Namun, saat Raka menekan sebuah tombol di stang motornya, sebuah panel sensor laser di balik bambu memindai pola frekuensi motor tersebut. Pintu baja gudang itu bergeser terbuka dengan suara hidrolik yang halus.

Mereka masuk ke dalam. Lampu lampu LED putih otomatis menyala, menyinari ruangan yang kontras dengan tampilan luar gudang. Ruangan itu adalah impian setiap teknisi deretan komputer server, meja kerja yang penuh dengan peralatan solder mikro, dan rak rak yang berisi komponen elektronik langka.

Raka mematikan mesin motornya. Kesunyian segera menyergap, hanya digantikan oleh dengung kipas pendingin komputer. Liana turun dari motor, melepas helmnya, dan mengibaskan rambut pendeknya yang lepek karena keringat.

"Selamat datang di rumah, atau apa pun kau menyebut tempat ini," kata Liana sambil meletakkan tabletnya di meja utama. Ia menatap Raka yang sedang melepas sarung tangan taktisnya. "Kau membangun semua ini sendirian?"

"Hantu butuh tempat untuk menghilang, Liana. Dan tempat ini kedap sinyal hingga kedalaman sepuluh meter di bawah tanah," jawab Raka. Ia berjalan menuju dispenser air, menuangkan dua gelas, dan menyerahkan satu kepada Liana.

Liana menerima gelas itu, jari jarinya sempat bersentuhan dengan jari Raka. Ia menatap mata Raka selama beberapa detik mata yang biasanya hanya berisi kalkulasi, kini tampak sedikit lebih lunak. "Terima kasih, Raka. Untuk tidak benar-benar mati sepuluh tahun lalu."

Raka terdiam sejenak. Ia tidak terbiasa dengan sentimentalitas. "Aku hanya melakukan apa yang logis untuk bertahan hidup."

Liana tersenyum tipis, sebuah senyuman yang biasanya bisa meruntuhkan pertahanan pria mana pun, namun Raka hanya membalasnya dengan anggukan kaku. "Kau tahu, Raka? Logika itu dingin. Terkadang kau butuh sedikit kekacauan untuk merasa hidup."

Mereka berdua duduk di depan deretan monitor utama. Liana mulai menghubungkan tabletnya ke sistem pusat Raka. Dalam hitungan detik, skema satelit Aegis-7 terpampang besar di layar utama.

"Lihat ini," Liana menunjuk pada pola enkripsi yang berdenyut merah. "Ini bukan sekadar kode militer. Ini adalah sistem Self Evolving AI. Setiap kali aku mencoba meretas pintunya, algoritma ini mengubah kuncinya sendiri."

Raka mendekatkan wajahnya ke layar, fokusnya kembali ke mode operasional. "Ia membaca pola seranganmu. Kau menggunakan metode brute force yang terlalu linier, Liana. Kau harus menggunakan pendekatan chaos theory."

"Oh, benarkah, Pak Ahli?" Liana memutar kursinya, menatap Raka dengan tatapan menantang namun jenaka. "Kalau begitu, tunjukkan padaku bagaimana 'Si Hantu' melakukan dansa digitalnya."

Raka mengambil alih keyboard. Jemarinya mulai menari dengan kecepatan yang ritmis, suara ketikan mechanical keyboard nya terdengar seperti musik perkusi yang cepat. "Kita tidak menyerang pintunya. Kita menyusup lewat 'ventilasi' sistem pendingin datanya. Setiap sistem digital punya kelemahan fisik panas."

Liana memperhatikan profil samping wajah Raka saat pria itu bekerja. Cahaya biru dari monitor memantul di matanya, memperlihatkan garis garis kelelahan yang selama ini disembunyikan. Ada rasa kagum yang tumbuh di dadanya, rasa yang dulu pernah ada sebelum ledakan di Lembah Hitam menghancurkan segalanya.

"Raka," panggil Liana pelan.

"Hm?" jawab Raka tanpa mengalihkan pandangan.

"Kenapa kau tidak pernah mencariku? Setelah ledakan itu... aku menghabiskan tiga tahun pertama mencari namamu di setiap database rumah sakit di Asia Tenggara."

Gerakan tangan Raka di atas keyboard terhenti sesaat. Hanya satu detik, tapi bagi Liana, itu adalah pengakuan.

"Mencarimu berarti membahayakanmu, Liana," suara Raka merendah, kehilangan nada dinginnya yang biasa. "Saat itu, aku tahu siapa pun yang selamat dari Unit 09 akan diburu. Menjadi hantu adalah satu satunya cara aku memastikan bahwa Hantu lainnya tetap aman."

Liana tertegun. Ia tidak menyangka jawaban itu. Selama ini ia mengira Raka terlalu apatis untuk peduli. Ternyata, isolasi Raka selama sepuluh tahun adalah bentuk perlindungan yang paling sunyi.

"Kau bodoh, Raka," bisik Liana, ia menggeser kursinya lebih dekat ke arah Raka dan menyandarkan kepalanya sejenak di bahu pria itu yang keras. "Tapi setidaknya kau adalah bodoh yang sangat berbakat."

Raka tidak bergerak menjauh. Bahunya terasa kaku, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari ritme taktisnya, namun ia membiarkan Liana di sana selama beberapa saat. Sebuah interupsi dalam algoritma hidupnya yang ternyata terasa... menyenangkan.

Namun, momen manis itu tidak berlangsung lama. Sebuah alarm bernada rendah berbunyi di sudut ruangan. Monitor ketiga dari kiri berubah menjadi layar hitam dengan teks merah yang berkedip SENTRY ALERT - SECTOR 4.

Raka langsung kembali ke mode tempur. Ia menarik diri dari Liana dan menyambar tablet kontrolnya. "Kita punya tamu. Lima ratus meter dari gerbang luar."

Liana langsung siaga, jemarinya kembali ke keyboard untuk mengakses satelit pengintai pribadi yang ia bajak sebelumnya. "Tiga kendaraan taktis. Tanpa plat nomor. Mereka menggunakan sistem active camouflage. Kalau bukan karena sensor panasmu, kita tidak akan melihat mereka."

"Mereka menemukan kita lebih cepat dari perkiraanku," kata Raka sambil berjalan ke rak senjata. Ia mengambil dua buah earpiece taktis dan melemparkan satu ke Liana. "Siapkan protokol penghapusan data, Liana. Jika mereka masuk ke dalam, tempat ini harus hangus dalam sepuluh detik."

Liana menangkap earpiece itu dengan cekatan. "Dan bagaimana dengan kita?"

Raka menarik charging handle pada SIG MCX nya dengan dentang logam yang tegas. Ia menatap Liana dengan tatapan yang kini sepenuhnya tajam dan penuh determinasi. "Kita? Kita akan menunjukkan pada mereka kenapa mereka tidak seharusnya mencoba membangunkan hantu."

"Kau tahu, Raka?" Liana tersenyum sambil mengeluarkan pistol semi otomatisnya sendiri dari balik jaket. "Aku selalu suka saat kau mulai bicara kasar."

"Simpan bicaramu untuk nanti, Liana. Aktifkan Drone Swarm. Kita akan menyambut mereka dengan sedikit gangguan teknis." ucap Raka.

Di luar gudang, di tengah kegelapan hutan pinus, tiga kendaraan hitam bergerak tanpa suara seperti predator yang mengendap. Mereka tidak tahu bahwa di dalam gedung tua itu, dua orang paling berbahaya di dunia digital baru saja menyatukan frekuensi mereka kembali.

Peperangan baru saja dimulai, dan kali ini, algoritma yang akan menang bukan milik Aegis, melainkan algoritma manusia yang didorong oleh dendam dan... sesuatu yang lebih kuat dari itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!