Mengisahkan seorang Perwira Angkatan Darat bernama Lucas Abner yang sangat mencintai pekerjaannya. Pengabdiannya sebagai seorang tentara tidak bisa di ragukan. Dia bisa berada di korps pasukan khusus karena kelincahannya. Jatuh cinta kepada seorang perempuan yang dia temui dirumah sakit waktu menjengguk sahabatnya. Apakah Lucas bisa memikat hati perempuan itu ???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegaran Joy
Semenjak balik dari tugas pertamanya, Dokter Joy Debora harus menerima kenyataan, bahwa rumah yang sejak kecil dia tempati bersama maminya sekarang sudah ditempati oleh papa dan ibu sambungnya beserta dengan anak mereka. Ketika ditiba di Jakarta. Yang mebuat dia sedih foto - foto kenangannya bersama maminya sudah tidak tahu dimana. Padahal hanya itu kenangan yang dia punya bersama mami tercinta.
"Papa mau berbicara denganmu Joy."
Dia duduk mendengar apa yang dibicarakan oleh papanya. Yang intinya bahwa papa dan ibu sabungnya serta anak mereka akan tinggal di rumah ini. Memang rumah ini adalah rumah yang di beli oleh papanya sebelum menikah dengan maminya. Karena kelakuan papanya yang suka berselingkuh, terpaksa pergi dari rumah ini meninggalkan Joy dengan maminya.
"Joy, tahu diri pa, rumah ini punya papa. Joy tahu semua dari cerita mami. Silahkan papa tinggal disini. Joy hanya mau minta semua foto - foto mami dan Joy papa taruh dimana biar Joy yang simpan."
Ibu sambungnya langsung datang membawa kardus dan koper yang berisis semua barang maminya. Joy merasa senang setelah melihat semuanya itu. Karena itu adalah hartanya yang tidak ternilai harganya.
Joy masih bermalam di kamarnya. Papanya sengaja meminta istrinya untuk tidak membongkar barang - barang milik anak perempuan. Dia masih berharap Joy bisa ada bersama dengannya dan menerima keadaannya. Semalam Joy hanya mengeluarkan makanan - makanan olahan seperti dendeng yang dia bawa sebagai ole - ole dan dia tempatkan di dapur. Semua barang - barang di kamarnya Joy sudah dia bereskan. jelas bahwa Joy tidak akan tinggal di rumah ini.
Papanya tidak tahu, bahwa selama Joy bertugas di Papua dia sudah menghubungi sahabatnya Bella yang juga merupakan pacar Dokter Stev untuk membeli apartemen yang segedung dengannya.Karena informasi yang Joy terima bahwa papanya sudah membawa istri barunya dirumah yang Joy tempati dari kecil.
Uang dari kerjanya selama ini yang dia simpan yang sebenarnya untuk membawa maminya berlibur namun Tuhan berkehendak lain maminya sudah pergi menghadap Tuhan.Uang itulah yang digunakan untuk membayar apartemen itu. Ditambah uang hasil kerjanya menjadi dokter relawan yang dibayar dengan dolar. Tekatnya memang sudah bulat untuk keluar dari rumah ini.
Pagi - pagi sekali Joy bangun, dia sudah berpakaian rapi. Setelah mengunji pintu kamarnya dia berangkat untuk bertemu dengan pengurus apartemen yang akan dia tempati. Taksi yang mengantar Joy sudah ada didepan rumah. Joy pamit kepada papanya. Pagi ini Joy pergi untuk membayar pelunasan dan menurus administrasi apartemen yang akan dia tempati. Karena waktu di Papua dia sudah mengirim uang muka. Bella sudah menunggu Joy. Selesai pelunasan dan surat - surat diberikan kepada Joy. Mereka melihat apartemen itu. Bentuk dan luasnya sama dengan punya Bella. Setelah mencatat apa yang diperlukan. Ditemani Bella, mereka pergi ke toko yang jual perlengkapan rumah tangga. Semua keperluan dibeli dan langsung mereka pasang pada tempatnya.
Sore hari dia kembali kerumahnya, setelah dia rasa apartemennya sudah siap untuk dia tempati. Kali ini Joy tidak mengajak Bella. Takut papanya salah sangka dan menuduh Bella. Setelah semua siap, Joy tidak banyak bicara namun, Dia melakukan semua barang - barangnya sudah dia keluarkan dan ditaruh di mobil yang Joy pesan. Tetangga yang melihat Joy keluar dengan enam koper empat besar dan dua sedang meneteskan air mata. Selesai berbicara dengan papanya Joy keluar dari rumah dengan membawa semua barang - barangnya.
"Joy pamit papa, Joy sudah punya tempat tinggal yang baru yang lebih dekat dengan tempat kerja Joy." Papanya tidak bisa berkata apa- apa dia hanya bisa melihat anak pertamanya keluar dari rumah dengan membawa barang - barang dia dan mamanya. Tidak terasa air mata mengalir di pipi pria tua itu. Ada penyesalan yang dia rasakan.
Sebagai pensiunan disebuah Bank dengan jabatan akhir sebagai seorang manager, papanya Joy tidak perna membesarkan anak ini dengan kasih sayang bahkan materi. Karena masa kuatnya dia hanya memilih menyenangkan hatinya sendiri. Berselingkuh gonta ganti pasangan sampai bertemu dengan perempuan club malam yang bekerja sebagai DJ, dan mereka mempunyai satu anak Laki - laki. Dan bersama istrinya mereka membuka sebuah cafe tempat nongkrong anak muda. Sampai maminya meninggal, orangtua tidak bercerai, papanya tetap hidup dalam perzinahan.
Tidak ada penyesalan dalam diri Joy waktu meninggalkan rumah itu. Bahkan sekarang dia merasa sangat senang. Di usianya sekarang dua puluh delapan tahun, Dia bisa membeli huniannya sendiri dari hasil keringatnya sebuah aparteman yang sudah ada perabotan rumah tangganya. Dengan dua kamar, satu kamar utama besar yang lengkap dengan kamar mandi di dalam. Ruang tamu yang berhubungan langsung dengan dapur serta ada kamar mandi di luar sekalian ruang laundry serta balkon yang pemandangannya kolam renang serta lapangan basket.
Joy menggunakan kamar utama dia langsung merapikan barang - barang bawaanya semua bajunya dan maminya diletakkan diruangan ganti yang besar. Maminya Joy sangat modis, dia mempunyai penjahit langganan yang bisa menjahit bajunya sesuai dengan apa yang di gambarkan. Perempuan berdarah maluku manado ini sangat manis dan kencantikannya turun kepada anak perempuannya. Di kantornya mamanya Debora Christin merupakan idola karena kecantikan dan kepribadiannya yang baik.
Bahkan teman - teman kantor mamanya mengutuki perbuatan Alfons papanya, karena menelantarkan istri yang cantik ini. Mereka sama- sama bekerja pada BUMN yang bergerak dibidang yang sama yaitu perbankan, namun beda persero saja.
Joy terus melihat baju - baju maminya. Dia mencobanya drees - drees bagus bergaya Vintage dan dia tersenyum, Joy ingat kapan baju- baju ini digunakan, saat - saat penting apa. Setelah puas mencoba dia kembali mengatur rapi.
"Mami Joy ijin menggunakan baju mami ya, Joy kangen mi."
Tidak terasa air matanya jatuh. Karena belum masuk kerja Joy berencana mau ke kuburan maminya. Waktu di berangkat bekerja, dia sudah meminta tukang yang mengerjakan kuburan untuk mengerjakan kubur maminya. Dan sekarang Joy baru datang melihatnya.
Dengan mengunakan baju dress berwarna hitam punya maminya dengan kaca mata hitam dan rambutnya di kucir satu Joy turun dari taksi online yang dia pesan waktu tiba di tempat pemakaman. Joy Debora membeli bunga mawar putih dan pot , juga bunga tabur. Dengan di antar petugas di kuburan Joy sampai di depan pusara maminya. Joy tersenyum, namun air matanya sudah jatuh membasahi kedua pipinya.
"Doain Joy dari surga ya mami. Joy kangen mami. " Joy pun tumbang menangis memeluk pusara maminya. Dia menangis. Joy tidak tahu bahwa Lucas yang sudah kembali dari Papua mengikuti dia dari apartemennya. Dan Joy juga tidak tahu, bahwa Lucas sudah ada di Jakarta. Tangan besar dan kokoh itu memeluk Joy dari belakang. Dia terkejut, namun dari aroma tubuh itu, Dia tahu bahwa itu adalah bau parfum Lucas Abner Gosal.
Joy pun membalikan badannya dan hanyut dalam pelukan dan tangisan pada badan laki - laki yang sekarang ada dalam hatinya. Lucas memeluk Joy sangat kuat. Kemudian mereka berdua membersihkan kubur maminya Joy. Meletakan bunga dan menabur bunga mawar merah di tempat yang di sediakan.
"Debora Christin???"
"Ya mamiku mau namaku harus ada namanya maka aku diberi nama Joy Debora biar semua tahu bahwa aku anak dari Debora." Lucas tersenyum, dan memeluk Joy. Sedikit demi sedikit, Lucas tahu tentang perempuan yang dia suka ini.
"Tante, aku Lucas Abner Gosal, calon suami anak tante yang cantik ini. Tolong bantu Lucas dengan doamu dari surga, agar anak tante yang cuek namun cantik ini bisa menerima aku." Joy Debora tersenyum, dia langsung menyubit lengan Lucas.
Mereka tidak langsung kembali ke rumah dan apartemen tetapi meluangkan waktu bersama mereka dengan jalan di sebuah mall sebelum mereka sibuk dengan kerjaan mereka. Lucas menautkan jari - jari tangannya erat pada tangan Joy dia tidak mau lepas. Tentu mereka berdua menjadi pusat perhatian, Lucas yang ganteng dengan badan yang bagus serta Joy yang manis dan cantik.
Lucas mengajak Joy nongkrong disebuah cafe di mall ini. Katanya cafe ini asik, dia daj timnya sering nongkrong disitu. Katanya juga, bahwa pemiliknya asik dan gaul. Dan Joy tidak tahu bahwa cafe ini adalah punya papa dan ibu sambungnya.
"Kopi dan kuenya disini enak, bahkan makanannya juga enak - enak. Kamu harus mencobanya sayang."
"Ooooo ya."
"Aku bersama anggota dan tim ku sering duduk disini." Joy tersenyum,dia mengikuti kemana Lucas membawanya.
Waktu dia sudah duduk, dia melihat ke arah meja kasir ada papa dan mama sambungnya. Begitu juga dengan mereka merasa kaget akan kehadiran Joy bersama Lucas, pelangan setia mereka. Jelas Lucas sangat dikenal oleh papa dan ibu sambungnya. Karena di cafe ini dia sudah menjadi tamu istimewa.
"Kamu mau yang mana sayang."
"Sama seperti yang kamu pesan saja." Lucas tersenyum dan dia memesan dua buatnya dan Joy. Sementara papanya Joy terus melihat ke arah meja mereka.
Lucas cerita semua yang terjadi disana semenjak timnya Joy sudah kembali ke kota. Cerita tentang kejadian tegang sampai kejadian lucu dibagikan oleh Lucas kepada Joy. Ditengah keasikan mereka, seorang laki - laki tua bernama Alfons yang merupakan papa Joy mendekat.
"Bisa papa berbicara denganmu Joy??" Joy langsung melihat kearah papanya, sedangkan Lucas merasa kaget dengan sebuatan papa yang keluar dari mulut pak Alfons yang adalah pemilik cafe ini. Lucas mempersilahkan Joy berbicara dengan papanya, dilihat pak Alfons menyerahkan surat kepada Joy. Hanya cepat, Joy sudah kembali ke meja mereka.
"Ayo, kita pulang."
"Sayang, kamu belum makan." Namun Joy sudah mengandeng tangan Aldy. Untung tadi Aldy sudah membayar pesanannya. Sementara papanya Joy hanya melihat anaknya keluar. Ada perasaan sedih.