Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.
Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.
Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.
Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.
Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Larangan Yang Tak Pernah Di Ucap
Desa ini menyimpan sesuatu.
Fariz tidak tahu cara membuktikannya. Ia hanya tahu cara merasakannya.
Dua hari ia mengurung diri di kamar — bukan karena sakit, bukan karena kesedihan yang bisa diberi nama. Hanya diam yang terlalu lebar, terlalu berat untuk diisi. Dan mimpi itu terus datang setiap malam, kini hadir dengan wajah yang semakin padat, semakin yakin pada dirinya sendiri.
Dari ambang pintu, Ratna memandangi punggung anaknya. Tidak bertanya. Seorang ibu belajar membaca bukan dari kata-kata, tapi dari cara bahu seseorang menahan sesuatu yang tidak muat dalam dada.
Ketukan Sucipto di pagi buta memecah semuanya.
"Iz. Hari ini bantu bapak. Sudah mulai panen."
Musim panen adalah milik Sucipto sepenuhnya — satu-satunya waktu dalam setahun di mana tubuhnya bergerak lebih cepat dari kekhawatirannya. Cangkul dipanggul di bahu kiri, jadwal tersusun rapi dalam kepala.
"Ladang Pak Wiro dulu," katanya sambil melangkah, tanpa menoleh. "Jam satu harus sudah di sawah Bu Karsih."
Fariz mengikuti. Hanya itu yang bisa ia lakukan.
Batang-batang jagung berdiri rapat di kaki gunung, daunnya menguning sempurna di bawah pagi yang masih basah embun. Terlalu sempurna untuk tanah yang hanya mengandalkan hujan dan tangan manusia.
"Kamu bagian kanan. Bapak kiri," ujar Sucipto sebelum menerobos masuk ke barisan tanaman.
Fariz masuk ke sisi kanannya.
Semakin dalam, ladang itu menelannya. Cahaya pagi tinggal serpihan miring di antara daun-daun. Suara langkah ayahnya menghilang — digantikan keheningan yang terasa berbeda.
Seperti keheningan yang sedang mendengarkan.
Fariz berhenti.
Gemerisik dari kiri.
Bukan angin — ia tahu suara angin di ladang, ia tumbuh bersamanya. Ini berbeda. Gemerisik ini mengikutinya. Berhenti saat ia berhenti, setengah detik terlambat, seperti sesuatu yang belum mahir menyembunyikan dirinya.
"Pak!" panggilnya.
Tidak ada jawaban.
Ia mempercepat langkah. Gemerisik itu mengimbangi — dari kiri, lalu kanan juga. Fariz hampir berlari, dan tepat saat hendak menembus baris terakhir menuju tepi ladang—
Suara itu muncul dari depannya.
Lebih dulu.
Seperti sesuatu yang hafal jalan pintas.
"Ya Allah—" Kata itu keluar sebelum ia sempat berpikir. Bukan doa — hanya serpihan kalimat yang tersisa dari mulut seseorang yang sudah lama tidak tahu cara berdoa sungguh-sungguh, tapi tubuhnya masih ingat ke mana harus berlari saat takut.
Ia terduduk. Lututnya memutuskan lebih dulu dari kepalanya.
Tenang, bisiknya. Ini cuma perasaan. Ini cuma—
Tangannya menyentuh tongkol jagung pertama.
Panas menjalar dari telapak tangannya seperti bara yang ditanam di bawah kulit — bukan panas matahari, ini bergerak ke dalam, merayap naik ke pergelangan, memanjat siku, menggigit bahu.
Fariz melepaskan tongkol itu. Mundur selangkah.
Tangannya gemetar.
Di sudut matanya, sesuatu berlari.
Putih. Terlalu cepat. Di antara batang-batang jagung yang terlalu rapat untuk dilewati siapa pun.
Siapa kamu?
Bukan apa. Entah mengapa yang keluar adalah siapa.
Satu jam. Seperempat bagian.
Sucipto muncul dari sisi kiri, matanya menyapu pekerjaan yang belum selesai.
"Lho, Iz… kok masih segini?" tegurnya, nada datar tapi ujungnya tajam.
"Maaf, Pak." Fariz menelan ludah. "Badanku tiba-tiba meriang."
Sucipto mendekat tanpa berkata apa-apa. Telapak tangannya menempel di dahi Fariz — tidak panas. Tapi wajah anaknya pucat, bibirnya kering meski keringat membasahi leher bajunya.
"Kamu makan tadi pagi?" tanyanya pelan.
"Sudah."
"Minum?"
"...Lupa."
Sucipto menghela napas — bukan marah, tapi napas seorang pria yang sedang menghitung ulang jadwal yang sudah terlalu padat. "Sudah. Bapak bantu. Kamu pelan-pelan saja."
Fariz ingin bicara. Ingin mengatakan bahwa ini bukan soal lupa minum, bahwa panas di tangannya bukan panas biasa, bahwa jagung milik Pak Wiro yang selalu panen lebih dulu dari siapa pun di desa ini mungkin—
Tapi ia ingat Kyai Salman. Yang dulu juga berkata ada yang salah dengan kesuburan desa ini. Yang ditemukan kaku di tepi sungai tiga bulan lalu.
Fariz memilih diam.
Seperti biasa.
Mereka meninggalkan ladang Pak Wiro menjelang setengah satu.
Begitu kakinya keluar dari baris terakhir jagung, tubuh Fariz kembali seperti sediakala — ringan, napas normal, panas di tangannya padam tanpa bekas seperti lilin yang ditiup.
Sucipto meliriknya dari sudut mata. "Katanya meriang?"
"Sudah mendingan, Pak," jawab Fariz.
Mereka berjalan dalam diam. Tapi di dalam dadanya sesuatu tidak mau diam — ladang itu tahu kamu ada di sana. Dan ia tidak suka.
Fariz menatap punggung ayahnya yang berjalan di depan, cangkul di bahu, langkah yang tidak pernah ragu. Seorang pria yang tidak tahu bahwa anaknya baru saja berlari dari sesuatu di antara jagung-jagungnya. Seorang pria yang menyuruh anaknya membakar baju dan tidak menjelaskan mengapa.
Apakah Bapak juga tidak tahu apa yang terjadi di desa ini? pikir Fariz. Atau Bapak tahu — dan memilih diam karena itulah yang aman?
Ia tidak bertanya. Tentu saja tidak.
Sawah Bu Karsih terbentang di bawah matahari yang sudah lurus di kepala.
Hamparan padi kuning keemasan, lebat, cantik — persis seperti yang selalu dibanggakan warga Sumberarum. Berkah Tuhan, kata mereka. Desa yang dijaga, kata mereka.
Fariz menginjakkan kakinya di tanah basah itu.
Lututnya melipat seketika.
Bukan pelan-pelan — seperti seseorang memotong tali dari dalam. Dunia miring, dan sebelum ia menelan lumpur, sebuah tangan menariknya dari samping.
"Mas Fariz, kalau ndak kuat jangan dipaksakan," kata salah satu petani, suaranya khawatir.
"Saya baik-baik—" Fariz mencoba berdiri, tangan bertumpu di lutut.
Lututnya melipat lagi.
"Duduk." Sucipto sudah ada di sisinya, tangannya mencengkeram lengan Fariz. "Di pematang. Biar bapak yang kerjakan."
"Pak, saya bisa—"
"Duduk, Iz." Nadanya tidak naik. Tapi ada sesuatu di baliknya yang menutup semua ruang untuk dibantah.
Fariz tidak melawan.
Ia duduk di pematang, memandangi punggung ayahnya yang mulai melengkung berjalan masuk ke hamparan padi. Seorang pria yang hidupnya selalu jujur. Yang tidak tahu bahwa kejujurannya tidak bisa melindunginya dari hal-hal yang tidak jujur.
Maaf, Pak.
Ia menggosok matanya keras-keras. Menarik napas dalam.
Bismillah.
Kata itu muncul bukan dari pikiran — dari tempat yang lebih dalam, otot lama yang bergerak karena ingatan, bukan perintah. Warisan kecil dari mulut seseorang yang pernah mengajarinya, sebelum ia lupa bahwa ia pernah diajarkan.
Ia membuka mata.
Kabut.
Putih dan pekat, terlalu berat untuk siang yang cerah, menyelimuti hamparan padi seperti sesuatu yang sudah lama bersembunyi dan kini tidak perlu lagi repot-repot bersembunyi.
Di antara batang-batang padi — anak-anak kecil berdiri diam.
Tujuh. Delapan. Fariz berhenti menghitung.
Wajah mereka pucat seperti kertas basah yang kering lagi. Mata mereka terbuka lebar tanpa melihat apa pun — hanya ada, seperti dua lubang yang memutuskan berbentuk mata. Mereka mengitari para petani yang membungkuk begitu dekat, tapi tidak ada yang mendongak. Tidak ada yang tahu.
Siapa mereka?
Lalu Fariz melihat sesuatu di belakang ayahnya — dan seluruh udara di dalam paru-parunya berhenti.
Seekor anjing berdiri tepat di belakang Sucipto.
Tapi anjing adalah kata yang terlalu biasa. Tubuhnya seperti gambar yang seseorang coba hapus tapi tidak pernah tuntas — di sini terlalu padat, di sana hampir transparan, tepinya bergetar tidak stabil. Dari mulutnya yang menganga, air liur menetes ke lumpur sawah.
Tetes. Tetes. Tetes.
Sabar. Seperti sesuatu yang sudah menunggu lama dan tidak keberatan menunggu lebih lama lagi.
Ia tidak melihat Sucipto.
Ia melihat Fariz.
"Pak!" suaranya keluar — lebih keras dari yang ia rencanakan. "Pak, awas di belakang—!"
Sucipto tidak menoleh.
"Pak!" Fariz bangkit, kakinya mencari pijakan di lumpur—
Tapi tanah basah itu keras seperti beton. Sesuatu mendorong punggungnya — tidak cukup padat untuk disebut tangan, tapi cukup nyata untuk membuatnya terhuyung mundur. Selangkah. Dua langkah. Tiga.
Setiap langkah maju, satu langkah mundur.
"Pak, tolong—!" Suaranya pecah di ujung. "Ada sesuatu di belakang Bapak, Pak dengarkan aku—!"
Sucipto terus membungkuk. Memotong. Membungkuk lagi.
Tidak mendengar.
Atau sesuatu memastikan ia tidak mendengar.
Fariz terseret semakin jauh — dari suara sabit ayahnya, dari padi-padi keemasan yang tumbuh dari tanah yang sudah lama bukan milik manusia biasa.
Anak-anak pucat itu tidak bergerak.
Anjing itu menetes.
Kabut itu menebal di sekeliling Sucipto seperti pelukan yang tidak akan melepaskan.
Bismillah. Bibirnya bergerak sendiri, tanpa suara, tanpa sadar. Bismillah. Bismillah—
Kyai Salman. Nama itu muncul dari tempat yang tidak punya nama. Apa yang sudah Kau titipkan padaku?
Tidak ada jawaban.
Hanya kabut yang semakin pekat.
Hanya anjing itu yang terus menatapnya — sabar, diam, menunggu.
Dan Fariz baru menyadari sesuatu yang lebih mengerikan dari semua yang ia lihat hari ini.
Entitas itu tidak menyerangnya.
Ia menunggunya.