NovelToon NovelToon
Pedang Penakluk Langit

Pedang Penakluk Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

di Benua Roh Azure, kekuatan adalah segalanya. Ye Yuan, seorang murid luar dari Sekte Pedang Surgawi, ditakdirkan menjadi sampah seumur hidup karena Dantian-nya yang direbut kembali. Saat ia didorong ke dalam keputusasaan dan dibuang ke Lembah Kuburan Senjata, ia mendengar panggilan. Bukan dari pedang suci yang berkilauan, melainkan dari sebilah pedang besi hitam yang patah dan berkarat. Pedang itu bukan sekedar rongsokan; ia adalah pecahan dari "Penyegel Langit" yang dulu digunakan oleh Dewa Perang kuno untuk memenggal bintang. Dengan pedang patah di tangan, Ye Yuan bersumpah:"Jika Langit menindasku, akan kubelah Langit itu. Jika Dewa menghalangiku, akan kupatahkan leher Dewa itu!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Tiga Langkah Kilat Membelah Ular

Lorong di depan Ye Yuan semakin menyempit. Dinding batu hitam yang dingin kini digantikan oleh bata-bata merah yang memancarkan hawa panas.

Tidak ada lagi boneka perunggu. Sebagai gantinya, lantai di bawah kakinya penuh dengan lubang-lubang kecil yang mencurigakan.

"Jebakan," gumam Ye Yuan.

Dia mengambil sebongkah batu kerikil dan menjentikkannya ke lantai di depan.

Klik.

SWUUUSH! SWUUUSH!

Ratusan anak panah berapi melesat dari dinding kiri dan kanan, bersilangan di udara dengan kecepatan yang bisa menembus pelat besi. Panasnya saja sudah cukup untuk membakar alis mata.

Ye Yuan tidak mundur. Dia justru menyeringai.

"Tempat latihan yang sempurna untuk teknik baru."

Dia memejamkan mata, mengingat diagram aliran Qi dari Seni Pedang Tiga Langkah Kilat yang baru saja dia dapatkan. Teknik ini bukan sekadar menebas; ini adalah tentang menyatukan ritme kaki dengan ayunan pedang dalam satu ledakan napas.

Langkah Pertama: Kilat Menyambar Tanah.

Langkah Kedua: Guntur Membelah Langit.

Langkah Ketiga: Keheningan Mematikan.

"Maju."

Ye Yuan melangkah.

Klik.

Mekanisme jebakan aktif. Ratusan panah api meluncur lagi.

Ye Yuan tidak menggunakan pedangnya untuk menangkis. Dia bergerak.

Tubuhnya menjadi bayangan yang meliuk-liuk di antara lintasan anak panah. Kakinya tidak sekadar berlari, tapi meledakkan Qi pendek-pendek untuk mengubah arah secara zigzag.

Zing! Zing!

Dua anak panah lewat hanya satu milimeter dari telinganya. Panas api menjilat pipinya, tapi Ye Yuan tetap tenang.

Dia terus maju, semakin lama semakin cepat.

Di tengah hujan panah itu, Ye Yuan mulai menghunus pedang patahnya.

"Langkah Satu!"

SREEET!

Ye Yuan menebas dinding kiri sambil berlari. Pedang patahnya yang berat, dialiri Qi tajam, memotong mekanisme pelontar panah yang tersembunyi di balik dinding batu.

"Langkah Dua!"

Dia berputar, menebas dinding kanan.

Runtuhan batu dan logam berguguran. Hujan panah berhenti seketika.

Ye Yuan mendarat di ujung lorong dengan napas teratur. Dia melihat pedang di tangannya.

"Masih kaku," evaluasinya kritis. "Seharusnya aku bisa memotong semua anak panah itu tanpa menyentuh dindingnya."

Namun, dia tidak punya waktu untuk merenung. Indra spiritualnya yang tajam menangkap getaran di lantai di belakangnya.

Mereka datang.

Ye Yuan tidak lari. Dia berdiri di tengah aula bundar berikutnya—sebuah ruangan luas dengan kolam air raksa di tengahnya. Dia memunggungi pintu masuk, menunggu.

"Keluar," kata Ye Yuan dingin, suaranya bergema di ruangan sunyi itu.

Dari kegelapan lorong yang baru saja dia lewati, terdengar suara tepuk tangan pelan.

Prok... Prok... Prok...

Lima sosok berjalan keluar, melompati sisa-sisa jebakan yang sudah dihancurkan Ye Yuan.

Yang memimpin adalah pemuda berwajah licik dengan kipas tulang, mengenakan jubah hijau bersulam ular perak.

"Luar biasa," kata pemuda itu, tersenyum sinis. "Kau membersihkan semua jebakan untuk kami, bahkan tanpa tergores sedikit pun. Aku harus berterima kasih padamu, Saudara Kecil."

Ye Yuan berbalik perlahan. Dia menatap lambang ular di dada mereka.

"Sekte Ular Hijau?"

"Benar. Aku Liu Mang, Murid Inti Sekte Ular Hijau," pemuda itu memperkenalkan diri dengan nada bangga. "Dan kau... kau pasti Ye Yuan, si sampah Sekte Pedang Surgawi yang katanya baru saja membuat keributan di desanya sendiri."

Ye Yuan tidak terkejut mereka tahu namanya. Berita menyebar cepat di dunia persilatan, apalagi dengan imbalan yang ditawarkan Tetua Li.

"Liu Mang..." Ye Yuan mengangguk pelan. "Nama yang cocok. Kau memang terlihat seperti preman jalanan." (Catatan: Liu Mang dalam bahasa Mandarin bisa berarti preman/hooligan).

Wajah Liu Mang berubah masam. "Jaga mulutmu! Kau pikir karena kau bisa mengalahkan boneka rongsokan, kau bisa melawanku? Aku berada di Tingkat Sembilan Menengah!"

Empat anak buah Liu Mang menyebar, mengepung Ye Yuan. Mereka semua berada di Tingkat Delapan Puncak. Formasi mereka rapat, seperti ular yang melilit mangsa.

"Serahkan pedang itu dan semua harta yang kau dapat di sini," Liu Mang menunjuk pedang patah di tangan Ye Yuan dengan kipasnya. "Mungkin aku akan membiarkan mayatmu utuh."

Ye Yuan menunduk menatap pedangnya.

"Pedang ini..." Ye Yuan mengelus bilah hitam yang dingin itu. "...dia tidak suka dipegang oleh tangan yang lemah dan licik."

"Bunuh dia!" perintah Liu Mang, kehilangan kesabaran.

Dua anak buah Liu Mang di sisi kiri dan kanan melesat maju. Senjata mereka adalah cambuk rantai bergerigi yang diolesi racun pelumpuh saraf.

CETAR! CETAR!

Dua cambuk itu melesat seperti ular berbisa, mengincar leher dan kaki Ye Yuan.

Ye Yuan tidak bergerak. Dia menunggu sampai cambuk itu berjarak satu jengkal dari kulitnya.

Tiba-tiba, mata Ye Yuan bersinar ungu.

[Tiga Langkah Pedang Kilat - Langkah Pertama: Sambaran Kilat!]

ZING!

Tidak ada yang melihat kapan Ye Yuan bergerak. Mereka hanya melihat kilatan cahaya hitam melengkung di udara.

Dua cambuk rantai itu putus di tengah udara.

Dan di leher kedua anak buah Liu Mang, muncul garis merah tipis.

Mereka masih berlari dua langkah ke depan karena momentum, sebelum kepala mereka tergelincir jatuh dari leher.

BRUK! BRUK!

Darah menyembur tinggi.

Dua anak buah lainnya yang hendak menyerang dari belakang membeku di tempat. Wajah mereka pucat pasi.

"Apa... apa itu tadi?"

Liu Mang juga terbelalak. Kipas di tangannya hampir jatuh. "Teknik Pedang Tingkat Misteri Tinggi?! Bagaimana sampah sepertimu bisa memiliki teknik secepat itu?!"

Ye Yuan mengibaskan darah dari pedangnya. Dia tidak menjawab. Dia sudah memulai tarian kematiannya.

"Langkah Dua," bisik Ye Yuan.

Dia menghilang lagi. Kali ini targetnya adalah dua anak buah yang tersisa.

"Tahan dia!" teriak Liu Mang panik, sambil mundur.

Dua anak buah itu mengangkat pedang mereka dengan gemetar untuk menangkis. Tapi kecepatan Ye Yuan sekarang bukan lagi kecepatan murid luar biasa. Ini adalah kecepatan yang diperkuat oleh Sutra Asura dan Teknik Kilat.

SLASH!

Ye Yuan muncul di antara mereka berdua, pedangnya menebas horizontal dalam satu gerakan fluida.

Dua pedang besi mereka patah. Dan dada mereka terbelah terbuka.

Mereka jatuh berlutut, mati sebelum tubuh mereka menyentuh tanah.

Empat lawan satu. Selesai dalam dua napas.

Kini, di ruangan luas itu, hanya tersisa Ye Yuan dan Liu Mang.

Ye Yuan berbalik perlahan, tatapannya datar seperti melihat batu.

"Giliranmu, Tuan Muda Ular," kata Ye Yuan, melangkah maju.

Keringat dingin membasahi punggung Liu Mang. Dia menyadari satu hal mengerikan: Informasi tentang Ye Yuan salah besar. Dia bukan Tingkat Delapan. Dan dia jelas bukan sampah. Dia adalah monster yang menyamar menjadi domba.

"Jangan mendekat!" Liu Mang mundur hingga punggungnya menabrak dinding batu. "Ayahku adalah Penatua Sekte Ular Hijau! Jika kau membunuhku, Sekte Ular Hijau akan memburumu sampai ke ujung dunia!"

Ye Yuan terus berjalan mendekat. Tap... Tap... Tap...

"Sekte Pedang Surgawi sudah memburuku. Keluarga Li memburuku. Sekarang Sekte Ular Hijau?"

Ye Yuan berhenti tiga langkah di depan Liu Mang. Dia mengangkat pedangnya.

"Bagus. Semakin banyak musuh, semakin tajam pedangku."

"MATI KAU, IBLIS GILA!"

Terdesak, Liu Mang mengeluarkan kartu as-nya. Dia melemparkan kipas tulangnya ke arah wajah Ye Yuan. Kipas itu meledak, melepaskan ratusan jarum perak beracun.

Jaraknya terlalu dekat! Mustahil dihindari!

Liu Mang menyeringai. "Hahaha! Itu Jarum Hujan Berbisa! Bahkan gajah pun akan mati dalam..."

Tawanya terhenti.

Ye Yuan tidak menghindar. Dia memutar pedang patahnya dengan kecepatan tinggi di depan wajahnya, menciptakan perisai putaran angin.

Ting! Ting! Ting! Ting!

Semua jarum itu tertangkis jatuh ke lantai.

Dan di celah putaran pedang itu, Ye Yuan meluncurkan serangan terakhir.

[Tiga Langkah Pedang Kilat - Langkah Ketiga: Keheningan!]

Ini adalah tusukan lurus. Sederhana, tanpa suara, tanpa angin. Seluruh energi difokuskan pada satu titik di ujung pedang yang patah.

Liu Mang mencoba mengaktifkan Qi pelindungnya.

PUK!

Sia-sia.

Pedang patah Ye Yuan menembus Qi pelindung Liu Mang seperti menusuk kertas, lalu menembus tenggorokan pemuda itu, mematunya ke dinding batu di belakangnya.

Mata Liu Mang melotot, mulutnya membuka menutup tanpa suara. Darah mengalir deras dari lehernya, membasahi jubah hijaunya menjadi merah.

"Kau... uhh..."

Ye Yuan mendekatkan wajahnya ke telinga Liu Mang.

"Di kehidupan selanjutnya," bisik Ye Yuan, "jangan menjadi ular yang mencoba menelan naga."

Ye Yuan mencabut pedangnya. Tubuh Liu Mang merosot jatuh.

Aura merah dari lima kultivator elit Sekte Ular Hijau ini sangat pekat. Pedang Ye Yuan bergetar hebat, menyerap semuanya dengan rakus.

Ye Yuan merasakan Dantian-nya semakin penuh. Dia sudah mencapai batas Puncak Tingkat Sembilan. Dinding menuju Ranah Pembentukan Fondasi sudah terlihat di depan mata.

Dia mengambil kantong penyimpanan Liu Mang. Isinya lumayan: 500 Batu Roh, beberapa teknik racun (yang Ye Yuan buang karena tidak tertarik), dan sebuah kunci perunggu aneh berbentuk kepala naga.

"Kunci?" Ye Yuan memeriksa kunci itu.

Tiba-tiba, lantai di tengah ruangan—tempat kolam air raksa berada—mulai bergemuruh.

Air raksa itu surut, memperlihatkan sebuah tangga spiral yang menuju ke bawah tanah, ke bagian terdalam makam.

Dari lubang tangga itu, aura yang jauh lebih tua dan agung memancar keluar. Itu bukan aura manusia. Itu aura... api.

Pedang Ye Yuan menunjuk lurus ke bawah sana.

"Inti makam," kata Ye Yuan. "Di sana pasti ada 'Api Jiwa' yang dibutuhkan untuk memperbaiki pedang ini."

Ye Yuan tidak ragu. Dia melompati mayat-mayat itu dan menuruni tangga spiral menuju kegelapan.

Namun, dia tidak tahu bahwa di luar makam, kematian Liu Mang telah memicu token jiwa di Sekte Ular Hijau. Seorang tetua berwajah mirip ular sedang terbang dengan kemarahan yang membakar langit menuju lokasi ini.

Waktu Ye Yuan semakin menipis.

[Bersambung ke Bab 15]

1
Nanik S
pergi ke Benua Timur
Nanik S
Ronde dua pembantaian
Nanik S
Sial benar mereka berdua
Nanik S
apakah Ye Yuan dan Mu Bingyun bisa lolos dari mereka
Nanik S
Mu Bingyun peka sekali
Nanik S
Ye Yusn licin seperti belut
Nanik S
Bisakah Yuan selamat
Nanik S
Mu Bingyun... apakah Ye Chen akan pulang bersama Mu Bingyun
Nanik S
Kenapa tidak diambil cincin Komandan Zhu
Nanik S
Ye Chen.... jangan biarkan mereka membunuh Kakek Gu dan Jin Jinoi
Nanik S
Akirnya pedangnya yang patah kini telah utuh
Nanik S
Maaantap
Nanik S
Yuan ada saja.. ngakak main petak umpet di Neraka 🤣🤣🤣
Nanik S
Ternyata kota itu adalah Kuburan para Dewa dan Iblis
Nanik S
Perjalan baru di reruntuhan kuno
Nanik S
Harusnya menemui Tetua Mu
Nanik S
Mantap Tor... 👍👍👍
Nanik S
Semua masuk jebakan Yuan
Nanik S
Makin seru Tor
Nanik S
Shiiiip
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!