Yin Chen menemukan papan catur ajaib di hutan bambu—setiap gerakannya mempengaruhi dunia nyata. Saat kekuatan gelap mengancam keseimbangan alam, dia bertemu Lan Wei dari kelompok Pencari Kebenaran dan mengetahui bahwa pemain lawan adalah saudara kembarnya yang hilang, Yin Yang. Bersama mereka harus menyatukan kekuatan untuk mengakhiri permainan kuno yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: PERJALANAN KE DESA QINGHE
Setelah meninggalkan kuil Tianlong, Yin Chen dan Lan Wei langsung memulai perjalanan menuju desa tua Qinghe. Jarak yang harus ditempuh jauh lebih panjang daripada perjalanan ke kuil—sekitar sepuluh hari perjalanan jika mereka berjalan tanpa berhenti terlalu lama. Mereka memutuskan untuk mengambil jalur yang lebih cepat melalui dataran terbuka di luar hutan bambu Mengyou, meskipun jalur tersebut lebih berisiko karena sering dilalui oleh pedagang dan juga kelompok yang tidak bertanggung jawab.
“Menurut peta yang saya gambar dari catatan di kuil, kita akan melewati tiga desa kecil sebelum sampai di Qinghe,” kata Yin Chen sambil membuka buku catatannya yang berisi peta kasar yang digambar dengan tangan. “Kita bisa beristirahat sebentar di setiap desa untuk mengambil persediaan makanan dan air, serta mencari informasi terbaru tentang kondisi jalan dan apa yang terjadi di sekitar wilayah ini.”
Lan Wei mengangguk sambil memeriksa tali tas yang terbawa agar tidak longgar. “Saya juga akan mencoba merasakan energi di setiap tempat yang kita lewati,” katanya. “Jika saudaramu benar-benar berada di Qinghe, kemungkinan besar saya akan merasakan energi yang kuat dari arah sana sebelum kita sampai.”
Perjalanan pertama hari berjalan dengan lancar. Mereka keluar dari hutan bambu dan memasuki dataran luas yang ditutupi oleh ladang padi yang sebagian sudah siap panen. Udara di luar hutan terasa lebih hangat dan kering, dengan angin yang bertiup dengan lembut membawa aroma bulir padi yang matang. Penduduk desa kecil pertama yang mereka lewati bernama *Xiaoping*—sebuah desa yang ramai dengan aktivitas penduduk yang sedang bersiap untuk musim panen.
Saat mereka memasuki desa Xiaoping, mereka langsung merasakan perbedaan yang mencolok dengan desa Wanli yang pernah mereka kunjungi. Di sini, suasana terasa penuh semangat dan kehidupan, dengan anak-anak yang bermain di jalanan dan orang dewasa yang sibuk bekerja di ladang atau menjual barang dagangannya di pasar kecil desa. Namun Yin Chen bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres—energi alam di sekitar desa tampak sedikit terganggu, seolah-olah ada kekuatan yang sedang mencoba untuk merusak keseimbangan yang ada.
Mereka berhenti di sebuah warung kecil yang menjual makanan panas dan minuman segar. Pemilik warung, seorang wanita tua dengan wajah ramah bernama Nenek Li, langsung menyambut mereka dengan senyum hangat. “Kalian pasti lelah setelah perjalanan yang panjang,” ucapnya sambil menyajikan mangkuk sup sayuran panas dan nasi hangat kepada mereka. “Duduklah dan istirahatkan diri sebentar.”
Selama makan, Yin Chen mulai bertanya kepada Nenek Li tentang kondisi desa sekitar dan apakah ada berita tentang desa Qinghe. Wanita tua tersebut mengerutkan kening sejenak sebelum menjawab. “Desa Qinghe sudah tidak ramai seperti dulu,” katanya dengan suara yang sedikit menurun. “Beberapa waktu yang lalu, ada seorang pria muda yang datang ke sana dan mengatakan bahwa dia akan membawa kemakmuran bagi desa tersebut. Tapi sejak saat itu, banyak penduduk desa yang mulai berperilaku aneh—mereka menjadi pendiam dan seringkali berkumpul bersama seperti sedang merencanakan sesuatu yang besar.”
“Apakah kamu tahu nama pria muda tersebut?” tanya Lan Wei dengan hati-hati.
Nenek Li menggelengkan kepalanya perlahan. “Tidak ada yang tahu namanya dengan pasti,” jawabnya. “Mereka hanya menyebutnya sebagai ‘Pemimpin Baru’ yang akan membawa perubahan besar bagi desa dan seluruh wilayah sekitarnya. Beberapa orang mengatakan bahwa dia memiliki kemampuan ajaib yang bisa membuat tanah menjadi subur dan menyembuhkan penyakit, namun yang lain merasa bahwa ada sesuatu yang mengerikan dari kekuatannya.”
Setelah membayar makanan dan berterima kasih kepada Nenek Li, mereka melanjutkan perjalanan. Saat meninggalkan desa Xiaoping, Yin Chen merasakan bahwa kalung di lehernya mulai sedikit bergetar dan memancarkan cahaya kebiruan yang lembut. Seolah-olah kalung tersebut sedang memberikan peringatan bahwa mereka semakin dekat dengan tujuan dan juga dengan bahaya yang mengintai.
Pada hari kedua perjalanan, mereka harus melewati sebuah kawasan hutan kecil yang dikenal dengan nama *Hutan Kayu Hitam* karena pepohonannya yang memiliki kulit kayu berwarna hitam pekat. Jalur di dalam hutan sangat sempit dan sulit dilalui, dengan banyak akar pohon yang menjulur ke atas permukaan tanah dan membuat jalan menjadi tidak rata. Udara di dalam hutan terasa sangat gelap dan lembap, dengan sedikit cahaya matahari yang bisa menerobos melalui kanopi pepohonan yang lebat.
“Saya merasa energi yang semakin kuat di sini,” bisik Lan Wei dengan suara yang tegang. Dia sudah menarik pedangnya setengah dari sarungnya, siap menghadapi apa pun yang mungkin muncul di jalan mereka. “Ada sesuatu yang tidak benar dengan hutan ini—seolah-olah semua makhluk hidup di sini telah dikeluarkan atau ditekan oleh kekuatan lain.”
Yin Chen juga merasakan hal yang sama. Tanaman yang biasanya tumbuh subur di bawah pepohonan terlihat layu dan kecoklatan, dan tidak ada suara hewan atau burung yang biasanya bisa terdengar di hutan pada siang hari. Hanya suara langkah kaki mereka dan suara daun kering yang terinjak yang mengganggu keheningan yang menusuk tulang.
Saat mereka memasuki bagian tengah hutan, tiba-tiba sekelompok pria berpakaian hitam dengan topeng yang menutupi wajah mereka muncul dari balik pepohonan. Mereka membawa senjata tajam dan berdiri membentuk lingkaran di sekitar Yin Chen dan Lan Wei, menghalangi semua jalan keluar yang mungkin ada.
“Kita telah menunggu kedatanganmu, Yin Chen,” ucap salah satu pria tersebut dengan suara yang dalam dan kasar. “Pemimpin kita telah menyuruh kita untuk menghentikanmu sebelum kamu sampai di desa Qinghe. Dia mengatakan bahwa kamu akan mencoba untuk menghalangi rencananya yang mulia untuk menyelamatkan dunia.”
“Siapa pemimpinmu?” tanya Yin Chen dengan suara yang tenang dan tegas. Dia telah mengambil tongkat kayu pendeknya dan siap menghadapi serangan jika diperlukan. “Dan apa yang sebenarnya dia inginkan?”
Pria tersebut hanya tertawa dengan suara yang mengerikan. “Kamu akan mengetahuinya ketika kamu menghadapinya sendiri,” jawabnya. “Namun untuk saat ini, kamu harus berhenti di sini.”
Tanpa basa-basi lagi, beberapa pria berpakaian hitam tersebut menyerang dengan cepat. Lan Wei dengan gesit menghindari serangan pertama dan langsung membalasnya dengan pedangnya yang tajam. Yin Chen juga tidak kalah cepatnya—meskipun hanya membawa tongkat kayu, dia mampu menghindari setiap serangan yang ditujukan kepadanya dan menggunakan teknik pertarungan yang dia pelajari selama tinggal di hutan untuk melawan musuhnya.
Pertempuran berlangsung tidak lama. Meskipun jumlah musuh lebih banyak, Yin Chen dan Lan Wei bekerja sama dengan sangat baik—satu melindungi yang lain dan saling mengisi kekosongan yang ada. Setelah beberapa menit, sebagian besar pria berpakaian hitam tersebut terluka dan harus mundur, sementara yang lain memilih untuk melarikan diri kembali ke arah yang mereka datang.
“Salah satu dari mereka mungkin bisa kita tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi,” kata Lan Wei sambil menurunkan pedangnya setelah semua musuh pergi. Namun ketika mereka melihat ke arah pria yang terluka dan tidak bisa melarikan diri, mereka menemukan bahwa dia sudah tidak bernyawa—seolah-olah ada kekuatan yang membunuhnya dari dalam segera setelah dia dikalahkan.
Ini membuat mereka semakin khawatir. Kekuatan yang digunakan oleh kelompok tersebut bukanlah kekuatan biasa—ini adalah kekuatan yang sama dengan yang berasal dari papan catur ajaib, yang berarti bahwa Yin Yang sudah mulai menggunakan kekuatan permainan untuk mengendalikan orang lain dan mencapai tujuannya.
Mereka segera meninggalkan Hutan Kayu Hitam dan melanjutkan perjalanan sebelum ada musuh lain yang datang. Saat mereka keluar dari hutan dan memasuki dataran terbuka kembali, matahari sudah mulai bergeser ke arah barat dan memberikan warna keemasan pada langit yang mulai gelap. Mereka memutuskan untuk beristirahat di tepi sebuah sungai kecil yang jernih, jauh dari jalur utama yang mungkin dilalui oleh musuh mereka.
Saat mereka membangun unggun kecil dan memasak makanan yang tersisa, Yin Chen tidak bisa berhenti memikirkan saudara kembarnya. “Mengapa dia melakukan ini?” bisiknya dengan suara yang penuh dengan rasa bingung dan kesedihan. “Mengapa dia percaya bahwa cara untuk menyelamatkan dunia adalah dengan menguasainya dengan paksa?”
Lan Wei duduk di sebelahnya dan menepuk bahunya dengan lembut. “Kita tidak akan pernah tahu jawabannya sampai kita bertemu dengannya langsung,” jawabnya dengan suara yang menenangkan. “Mungkin dia hanya melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda, atau mungkin ada sesuatu yang membuatnya berpikir bahwa itu adalah satu-satunya cara yang mungkin.”
Mereka kemudian berbicara tentang rencana mereka ketika sampai di desa Qinghe. Mereka memutuskan untuk tidak langsung menunjukkan diri kepada Yin Yang—melainkan mengamati situasi di desa terlebih dahulu dan mencari tahu dengan tepat apa yang dia lakukan serta bagaimana dia menggunakan kekuatan dari papan catur ajaib. Mereka juga berjanji untuk tidak menggunakan kekuatan permainan kecuali benar-benar diperlukan, karena mereka tahu bahwa setiap gerakan yang mereka lakukan akan memiliki konsekuensi yang besar.
Sebelum mereka tidur, Yin Chen mengambil kalungnya dan melihatnya dengan cermat di bawah cahaya unggun yang menyala-nyala. Cahaya kebiruan dari kalung tersebut semakin terang seiring mereka mendekati desa Qinghe, seolah-olah sedang membimbingnya menuju pertemuan penting yang akan menentukan masa depan mereka berdua dan seluruh dunia yang mereka cintai.
Di kejauhan, jauh di balik bukit dan pepohonan, mereka bisa melihat nyala api kecil yang menyala di desa Qinghe—sebuah tanda bahwa tujuan mereka sudah tidak jauh lagi, dan bahwa saatnya untuk menghadapi kebenaran yang telah mereka cari selama ini semakin dekat.