NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Penguasa Langit

Reinkarnasi Penguasa Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.

Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Runtuhnya Pilar Jagat dan Pengorbanan Sang Raja

Udara di puncak menara tertinggi Galuh Pakuan tidak lagi terasa seperti oksigen yang menghidupi paru-paru, melainkan campuran antara ion listrik yang tajam dan residu kegelapan yang menyesakkan.

Amangkrat tertawa terbahak-bahak, tawanya yang parau memantul di antara dinding-dinding awan hitam yang berputar cepat. Di tangannya, Tongkat Tulang Dewa mulai berpijar merah darah, menyedot energi kehidupan dari Pilar Jagat yang bergetar hebat di bawah kaki mereka.

"Kau bicara tentang kasih sayang manusia seolah-olah itu adalah senjata yang ampuh, Wira Candra!" teriak Amangkrat sambil mengayunkan tongkatnya.

"Lihatlah ke bawah! Manusia yang kau bela itu sedang saling menginjak untuk menyelamatkan diri sendiri. Mereka adalah makhluk pengecut yang akan mengkhianatimu dalam sekejap jika itu berarti nyawa mereka selamat!"

Ranu berdiri tegak, membiarkan angin kencang mempermainkan rambut peraknya. Lingkaran cahaya dari kedelapan bintang di belakangnya memberikan kontras yang agung terhadap kegelapan di sekeliling mereka.

"Mungkin mereka memang takut, Amangkrat. Tapi ketakutan bukan berarti kelemahan. Ketakutan adalah pengingat bahwa hidup itu berharga. Dan itulah yang tidak akan pernah kau pahami karena kau hanya melihat dunia sebagai alat untuk kekuasaanmu."

Amangkrat mendengus, matanya yang ungu berkilat penuh kebencian.

"Cukup dengan khotbahmu! Jika kau begitu mencintai dunia ini, maka ikutlah terkubur bersamanya!"

Amangkrat melesat maju, kecepatannya melampaui kedipan mata. Tongkat Tulang Dewa menghantam perisai cahaya Ranu dengan suara dentuman yang memecahkan kaca-kaca istana di bawah mereka. Gelombang kejutnya membuat awan hitam di langit tersibak sesaat, menampakkan pemandangan ribuan dewa jatuh yang masih mengepung istana.

Di bawah, di pelataran istana, Pangeran Lingga sedang bertarung dengan napas yang mulai tersengal-sengal. Pedang Candra Kirana miliknya kini berlumuran cairan hitam dari para parasit yang ia basmi. Di sampingnya, Nara berdiri dengan kaki yang gemetar, namun tangannya tetap kokoh menarik tali busur energi.

"Lingga! Jangan biarkan barisan depan ini runtuh! Jika mereka mencapai pintu aula utama, Raja dan rakyat yang berlindung di sana akan tamat!" teriak Nara sambil melepaskan tiga panah cahaya sekaligus yang menembus dada seorang dewa jatuh berpakaian zirah perak.

"Aku tahu! Tapi jumlah mereka tidak ada habisnya! Seolah-olah langit sedang menumpahkan seluruh isinya ke sini!" jawab Lingga sambil menangkis hantaman gada raksasa dari lawan lainnya.

Tiba-tiba, pintu aula utama terbuka. Bukannya para pengawal, melainkan Prabu Siliwastu, Raja Galuh Pakuan, yang melangkah keluar. Ia tidak mengenakan zirah perang, melainkan jubah upacara berwarna putih murni. Di tangannya, ia memegang sebuah keris kecil yang terbuat dari kristal bening—Keris Inti Bumi.

"Anak muda, mundurlah sejenak," suara sang Raja terdengar tenang namun penuh wibawa.

"Baginda! Tempat ini tidak aman! Mohon kembali ke dalam!" seru Lingga dengan wajah panik.

Prabu Siliwastu tersenyum tipis, menatap ke arah puncak menara di mana Ranu dan Amangkrat sedang bertarung hebat.

"Pilar Jagat ini tidak bisa bertahan hanya dengan kekuatan dewa. Ia membutuhkan jangkar dari tanah ini sendiri. Selama ribuan tahun, silsilah keluargaku telah menjaga rahasia ini. Bahwa mahkota yang kami pakai sebenarnya adalah beban untuk menjadi tumbal saat dunia berada di ambang kehancuran."

Nara menurunkan busurnya, matanya membelalak menyadari niat sang Raja.

"Baginda, jangan katakan bahwa Anda akan—"

"Aku adalah raja bagi manusia, bukan dewa. Dan tugasku adalah memastikan rakyatku melihat matahari esok hari," potong Prabu Siliwastu.

"Sampaikan pada pemuda di atas sana, bahwa manusia tidak hanya butuh dilindungi, mereka juga tahu cara berkorban."

Sang Raja melangkah menuju retakan besar di depan Pilar Jagat. Ia menusukkan Keris Inti Bumi ke dalam nadinya sendiri sebelum menghunjamkan senjata itu ke dalam tanah. Seketika, cahaya emas yang luar biasa murni memancar dari tubuh sang Raja, mengalir masuk ke dalam Pilar Jagat. Akar-akar hitam yang membelit pilar itu menjerit dan terbakar menjadi abu.

Di puncak menara, Ranu merasakan lonjakan energi murni dari bawah. Ia melihat cahaya emas itu melilit kakinya, memberikan kekuatan tambahan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Itu adalah kekuatan dari pengorbanan manusia yang tulus.

"Apa?! Siliwastu gila! Dia memberikan jiwanya pada pilar itu?!" teriak Amangkrat yang mulai kehilangan kendali atas energi kegelapannya.

Ranu menatap Amangkrat dengan mata yang kini bersinar dengan otoritas mutlak.

"Kau salah, Amangkrat. Dia tidak memberikan jiwanya. Dia menyatukan niatnya dengan bumi. Dan sekarang, kau tidak hanya berurusan denganku, tapi dengan setiap jengkal tanah yang kau injak."

Ranu memusatkan seluruh energi dari delapan bintangnya ke telapak tangan kanannya. Cahaya itu tidak lagi menyilaukan, melainkan menjadi sangat padat hingga terlihat seperti bola air yang tenang.

"Jurus Pamungkas Bintang Kedelapan: Fajar Kemanusiaan!"

Ranu tidak memukul Amangkrat. Ia meletakkan telapak tangannya di dada Amangkrat dengan gerakan yang sangat lembut, seolah-olah sedang menyentuh seorang kawan lama. Namun, saat sentuhan itu terjadi, seluruh energi kegelapan yang ada di dalam tubuh Amangkrat dipaksa keluar melalui punggungnya dalam bentuk ledakan cahaya yang membelah langit hitam.

"TIDAK! KEKUATANKU! KEABADIANKU!" lolong Amangkrat saat tubuh dewa miliknya mulai retak dan hancur menjadi butiran debu.

Ranu menatap Amangkrat yang perlahan menghilang.

"Keabadian tanpa cinta adalah penjara, Amangkrat. Beristirahatlah dalam kehampaan yang kau puja."

Seiring dengan lenyapnya Amangkrat, awan hitam di langit Galuh Pakuan mulai pecah. Cahaya matahari yang asli mulai menembus masuk, menyentuh wajah-wajah rakyat yang ketakutan. Para dewa jatuh yang tersisa tiba-tiba jatuh pingsan, parasit di tubuh mereka mati seketika karena kehilangan sumber energinya.

Ranu mendarat di pelataran istana dengan tubuh yang sangat lemas. Ia segera berlari menuju tempat Prabu Siliwastu berada. Namun, sang Raja kini telah berubah menjadi patung kristal emas yang menyatu dengan fondasi Pilar Jagat. Ia telah menjadi bagian dari bumi untuk selamanya.

Nara dan Lingga berdiri di samping Ranu, keduanya tertunduk sedih.

"Dia menyelamatkan kita semua, Ranu," bisik Nara.

Ranu mengusap permukaan kristal itu dengan hormat.

"Dia mengingatkanku bahwa kekuatan terbesar bukan berasal dari langit, tapi dari kerelaan untuk memberi."

Namun, di tengah kedamaian yang baru saja kembali, Ranu merasakan sebuah getaran aneh dari arah singgasana istana yang kosong. Sebuah bayangan kecil muncul di sana, sesosok anak kecil yang mengenakan pakaian serba hitam dengan mata yang merah menyala.

"Bagus sekali, Wira Candra. Kau mengalahkan pionku," ucap anak kecil itu dengan suara yang berat seperti orang tua.

"Tapi kau lupa satu hal. Dengan hancurnya Amangkrat dan pengorbanan raja ini, pintu menuju Langit Kesepuluh sekarang terbuka sepenuhnya tanpa ada yang menjaga. Terima kasih telah membantuku membuka kuncinya."

Ranu membelalak, ia menyadari bahwa seluruh perang ini adalah skenario untuk memaksa Pilar Jagat mengeluarkan energi murninya hingga mencapai batas.

"Siapa kau?!" teriak Ranu.

Anak kecil itu tersenyum lebar, menampakkan taring yang tajam.

"Aku adalah Nadir, sang penguasa kehampaan yang sesungguhnya. Dan selamat datang di akhir dari segala sesuatu yang bernapas."

......................

1
JUNG KARYA
bantu supportnya kak 🙏
JUNG KARYA
Komentarnya dong kak, juga satu like kalian sangat berarti untuk semangat author ini lho, apalagi kalau mau beri rating di novel ini 😁...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!