NovelToon NovelToon
From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:478
Nilai: 5
Nama Author: WesternGirl10

Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
​Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
​Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
​Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
​Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

​Malam harinya, setelah makan malam yang sunyi berakhir, Ashley mengutuk dirinya habis-habisan di dalam kamar. Ia berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke taman, merasa harga dirinya sebagai wanita tangguh sedikit terkoyak. Ia merasa bodoh karena sifat emosionalnya tadi sore.

​Kenapa aku bisa bersikap semanja itu? batinnya kesal. Terlebih lagi, ia bersikap sinis pada ibu Kevin, yang secara teknis adalah ibu mertuanya sendiri. Perasaan posesif yang muncul tiba-tiba itu membuatnya merasa tidak mengenali dirinya sendiri.

​Ashley memukuli bantal di atas ranjang berkali-kali untuk menyalurkan rasa frustrasi yang tak beralasan itu. Ia baru berhenti saat mendengar derit pintu terbuka. Kevin masuk ke dalam kamar dengan raut wajah tenang. Dengan cepat, Ashley merapikan rambutnya dan mencoba bersikap sedingin dan seformal mungkin, seolah kejadian memalukan sore tadi tidak pernah terjadi.

​Malam itu mengalir seperti malam-malam sebelumnya, di mana mereka menjalankan rutinitas sebagai pasangan suami istri. Namun, ada yang berbeda. Malam ini Kevin memperlakukannya dengan sangat lembut. Setiap sentuhan dan kecupan yang diberikan pria itu terasa penuh perasaan, tanpa terburu-buru, seolah Kevin sedang mencoba menenangkan badai yang ia rasakan di dalam diri Ashley.

​Keesokan paginya, Senin yang selalu terasa memuakkan bagi para pekerja kantoran, tiba. Ashley dan Kevin memutuskan mandi bersama untuk menghemat waktu sebelum memulai aktivitas masing-masing yang padat. Kini, mereka berada di dalam walk-in closet yang luasnya menyamai ukuran apartemen rata-rata.

​Kevin tampil sangat menawan pagi ini. Ia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke bawah siku, memperlihatkan garis-garis otot di lengannya. Dua kancing atas kemejanya dibiarkan terbuka, memberikan kesan santai namun tetap berkelas. Rambutnya disisir rapi ke samping. Sambil mengenakan jam tangan, ia menambahkan beberapa cincin aksesori di jari-jarinya-sebuah taktik cerdas untuk mengalihkan perhatian dari cincin pernikahan mewah yang tetap bertengger di jari manisnya.

​Namun, ketenangan Kevin terganggu saat Ashley, yang masih berdiri di depan cermin besar, melontarkan pertanyaan yang membuatnya tertegun.

​"Kevin, menurutmu apakah aku terlihat lebih... berisi?" tanya Ashley sambil mengerutkan kening menatap pantulan dirinya. Rok span hitam yang biasanya ia kenakan dengan mudah, kini tampak sulit dikaitkan.

​"Hm? Tidak, kau terlihat sama seperti biasanya," jawab Kevin tanpa menoleh, masih sibuk dengan kancing pergelangan tangannya.

​"Benarkah? Tapi rok ini terasa mencekik. Padahal minggu lalu aku masih bisa mengenakannya tanpa masalah." Ashley berusaha menarik ritsleting roknya, namun gagal.

​Kevin mendekat, berdiri tepat di belakang Ashley. Ia memegang kedua bahu istrinya dan mendaratkan ciuman lembut di sana. "Kau masih tetap cantik, Ash. Jangan terlalu khawatir."

​"Kau benar-benar tidak melihat perubahannya? Apakah berat badanku naik? Padahal aku mengonsumsi menu diet sehat yang sama denganmu," Ashley terus memprotes, kini ia menatap setiap inci tubuhnya yang hanya terbalut pakaian dalam. Pandangannya turun ke area dadanya. "Ah, pantas saja belakangan ini aku merasa sesak. Sepertinya semua braku sudah tidak muat lagi."

​"Hm? Masa, sih?" Kevin menatap dada Ashley dari pantulan cermin. Setelah diperhatikan dengan seksama, area itu memang tampak lebih kencang dan penuh dibandingkan terakhir kali ia menyentuhnya. Sebuah senyum jahil muncul di wajah Kevin.

​"Mungkin mereka membesar karena aku sering bermain dengan mereka?"

​Mata Ashley membelalak. Ia langsung memberikan tatapan sinis yang bisa membuat nyali karyawan magang di Giotech menciut.

​"Kenapa? Aku benar, kan?" tanya Kevin dengan nada tak berdosa.

​"Kau tidak harus mengatakannya secara gamblang seperti itu! Bagaimana jika ada yang mendengar?" Ashley mendesis, wajahnya sedikit memerah karena malu.

​"Tidak akan ada yang mendengar, Ash. Seluruh pekerja tidak diperbolehkan menginjakkan kaki ke sayap kiri mansion ini kecuali ada perintah khusus darimu atau aku," Kevin mengingatkan dengan tenang.

​"Ck, sudahlah. Lalu sekarang aku harus memakai apa? Tidak mungkin aku pergi ke kantor tanpa rok."

​Kevin berjalan menuju lemari pakaian Ashley yang sangat panjang. Setelah memilah sesaat, ia menarik sebuah one-piece dress berwarna putih dengan motif bunga-bunga kecil yang manis. Pakaian itu memberikan kesan lembut, sangat cocok untuk suasana musim gugur yang mulai mendingin.

​"Dress? Serius?" Ashley menatap pakaian itu dengan sangsi.

​"Memang kenapa? Apa yang salah dengan memakai dress sekali-kali?"

​"Jika aku memakainya ke kantor, apa yang akan dipikirkan para pegawaiku? Mereka biasa melihatku dengan setelan jas atau rok formal."

​"Kenapa kau harus memusingkan pendapat mereka? Mereka hanya akan berpikir bahwa bos mereka terlihat sangat cantik hari ini," balas Kevin santai sambil menyerahkan dress itu.

​Ashley menghela napas panjang, akhirnya menyerah. "Ugh, ya sudah, berikan padaku."

​Siang harinya, atmosfer di gedung pusat Giotech C&T terasa sangat mencekam. Kabar bahwa "Sang Ratu" sedang dalam suasana hati yang buruk menyebar lebih cepat daripada koneksi internet kantor.

​Ashley terus marah-marah sepanjang hari. Di ruang rapat, ia melemparkan dokumen laporan ke atas meja hingga menimbulkan suara dentuman yang membuat para manajer berkeringat dingin.

​"Ini yang kalian sebut laporan? Angka-angkanya tidak sinkron! Apa kalian bekerja sambil tidur?" suara Ashley meninggi, menggema di seluruh ruang rapat.

​Bukan hanya soal laporan, hal-hal kecil pun menjadi sasaran kemarahannya. Kopi yang kurang manis, AC yang terasa terlalu dingin, hingga suara langkah kaki staf di koridor pun bisa memicu amarahnya. Sarah bahkan sudah tiga kali mengganti jenis makan siang karena Ashley merasa baunya "terlalu menusuk."

​"Keluarkan makanan ini! Baunya membuatku pening!" perintah Ashley dengan wajah pucat, padahal itu adalah salad salmon favoritnya. Para pegawai hanya bisa saling berbisik, bertanya-tanya apa yang sedang terjadi pada bos mereka yang biasanya dingin tapi tetap terkendali.

​Di tempat lain, suasana kafetaria kampus tidak kalah tegang bagi Kevin. Ia duduk sendirian, mengaduk-aduk kopinya dengan tatapan kosong. Ia benar-benar bingung dengan sikap Ashley.

​Tadi pagi dia manja, lalu tiba-tiba sinis, lalu mengeluh soal berat badan, dan sekarang... Kevin melihat ponselnya yang berisi pesan singkat dari Ashley yang mengeluh kalau semua pegawainya tidak kompeten dalam bekerja.

​Kevin menghela napas berat. Pikirannya melayang pada percakapannya dengan ibunya kemarin dan sikap aneh Ashley hari ini. Belum lagi bayangan Gwen yang mungkin akan muncul kapan saja untuk memberikan "rayuan maut" lainnya.

​"Ada apa dengannya? Apa dia sakit? Atau ini hanya efek stres pekerjaan?" gumam Kevin pada diri sendiri. Ia merasa seolah-olah sedang menghadapi teka-teki paling sulit dalam hidupnya.

Dunianya yang dulu sederhana sebagai mahasiswa kini menjadi labirin emosi yang membingungkan antara kewajiban sebagai suami, tuntutan kuliah, dan sifat Ashley yang tak seperti biasanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!