NovelToon NovelToon
Variabel Yang Mencari Nilai Sejati

Variabel Yang Mencari Nilai Sejati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Ketos
Popularitas:296
Nilai: 5
Nama Author: Erna Lestari

Oskar Biru Arkais sorang pemuda yang berusaha mencari arti cinta Sejati,
Dan Si Mahira Elona Luis si Gadis Tomboy yang Tak Pernah Percaya akan Adanya cinta Sejati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

"Barangkali hidup seperti halaman yang diterpa matahari,mungkin ia tak selalu cerah,namun cukup hangat untuk ditinggali harapan"

_Mahira Elona Luis_

Udara pagi yang segar tiba-tiba terasa sedikit panas akibat ketegangan yang muncul tiba-tiba. Elona masih sedang menatap dasi baru di tangannya dengan wajah penuh kebingungan, sementara Biru berdiri diam dengan tatapan yang kembali menjadi dingin.

“Pak Ketua OSIS!”

Suara keras yang datang dari arah belakang membuat semua orang berbalik. Luna Ariqsa – wakil ketua OSIS yang dikenal dengan sikapnya yang sangat ketat dan suka mengatur – sedang berjalan dengan langkah cepat menuju mereka. Rambut panjangnya yang selalu diikat rapi dengan pita berwarna merah terlihat melayang-layang mengikuti gerakannya, dan wajahnya penuh dengan ekspresi marah.

“Apakah ini benar-benar diperbolehkan?” ujar Luna dengan nada tinggi yang bisa terdengar jelas di taman yang sebelumnya cukup tenang. Dia menunjuk ke arah Elona yang masih sedang memegang dasi. “Seorang siswa yang tidak disiplin sampai lupa membawa dasi justru mendapatkan perlakuan istimewa! Bukankah ini menyalahi prinsip keadilan yang kita anut sebagai OSIS?”

Elona segera menjawab dengan sedikit tergesa-gesa. “Tidak seperti itu, Kak Luna. Pak Ketua hanya—”

“Jangan berbicara kecuali kamu diperbolehkan!” teriak Luna, menyela ucapan Elona dengan kasar. “Kamu sudah melanggar aturan seragam, malahan masih punya waktu untuk berdiri ngobrol saja di sini padahal seharusnya kamu sedang menjalani hukuman!”

Biru mengangkat tangannya perlahan untuk menghentikan Luna. “Luna, tenang saja. Saya yang memberikan izin padanya. Hukuman tetap akan diselesaikan, tapi saya hanya memberikan bantuan kecil saja.”

“Bantuan kecil?” balik Luna dengan nada sinis. “Pak Ketua memberikan dasi baru padanya padahal ada banyak cara lain untuk menghadapi masalah ini! Bukankah seharusnya dia belajar dari kesalahannya dengan mendapatkan hukuman yang sesuai?”

Sementara itu, Rekai yang sudah tidak tahan melihat sepupunya dipermalukan seperti itu, melangkah maju dengan wajah yang sudah mulai menunjukkan ekspresi marah tapi tetap berusaha menjaga kesopanan.

“Maaf Luna, boleh saya bicara?” ujar Rekai dengan suara yang jelas dan tegas. Luna menoleh padanya dengan tatapan yang tidak terlalu suka, tapi tetap mengangguk karena Rekai juga merupakan anggota OSIS.

“Silakan saja, Rekai,” jawab Luna dengan nada yang sedikit lebih rendah.

“Elona memang salah karena lupa membawa dasi,” ujar Rekai dengan tenang. “Tapi itu bukan karena dia tidak disiplin. Tadi pagi dia harus membantu neneknya menjual makanan di pasar sebelum datang ke sekolah, sehingga dia terburu-buru dan tidak sempat memeriksa perlengkapannya dengan cermat.”

Rekai mengambil langkah lebih dekat ke Luna. “Selain itu, anda harus tahu bahwa Elona adalah salah satu siswa yang paling disiplin di sekolah ini. Dia selalu datang tepat waktu untuk latihan pramuka, mengurus semua acara dengan baik, dan bahkan sering membantu teman-temannya yang kesusahan. Kalau hanya karena satu kali kelalaian saja dia dipermalukan seperti ini, bukankah itu tidak adil juga?”

Kalash yang berdiri di belakang tiba-tiba ikut menyela dengan nada yang sedikit lucu. “Ya dong na. Kalau kita semua harus dihukum karena satu kali kelalaian, pasti elo juga pernah salah kan? Seperti waktu elo lupa membawa surat izin ketika tidak masuk sekolah karena sakit, lalu akhirnya Pak Ketua yang membantu elo membuat surat pengantar ke kantor guru.”

Wajah Luna tiba-tiba memerah karena terkejut dan sedikit malu. Dia menatap Kalash dengan tatapan yang ingin marah tapi tidak bisa karena apa yang dikatakan Kalash itu benar adanya.

“Kalash, itu bukan hal yang sama!” ujar Luna dengan suara yang sudah tidak sekeras tadi.

“Kenapa tidak sama?” balik Rekai dengan senyum sedikit meremehkan. “Kalau Pak Ketua membantu anda itu disebut sebagai tanggung jawab OSIS, tapi kalau membantu Elona disebut sebagai perlakuan istimewa? Bukankah itu sedikit tidak adil?”

Saat itu, Biru yang sudah diam sejak tadi akhirnya berbicara lagi. “Rekai, Kalash, cukup . Luna juga hanya menjalankan tugasnya sebagai wakil ketua OSIS.” Dia menoleh ke arah Luna dengan tatapan yang tetap profesional. “Kamu punya kekhawatiran yang sah, Luna. Saya akan memastikan bahwa hal serupa tidak akan terjadi lagi tanpa proses yang sesuai. Tapi untuk kasus Elona kali ini, saya rasa hukuman yang diberikan sudah cukup dan dia juga sudah menyadari kesalahannya.”

Luna menghela napas dan menatap Elona yang masih berdiri dengan wajah bingung. Setelah beberapa saat, dia mengangguk perlahan. “Baiklah, Pak Ketua. Saya mengerti. Maafkan saya jika saya terlalu berlebihan tadi, Elona.”

Elona segera mengangguk dengan sopan. “Tidak apa-apa, Kak Luna. Saya memang salah dan saya akan lebih hati-hati ke depannya.”

Setelah itu, Luna berpaling dan mulai berjalan meninggalkan taman dengan langkah yang tidak secepat tadi. Kalash segera mendekat ke Rekai dengan suara rendah yang penuh canda. “Waduh, elo mah benar-benar berani ya membentak Luna kayak gitu. Nanti elo jadi target utama dia .”

Rekai hanya mengangkat bahu dengan santai. “Apalagi mau dikasih, kan itu sepupu gue. Kalau gue ngga membela, siapa lagi yang akan membela dia?”

Biru mendekat ke Elona dengan wajah yang kembali sedikit lebih lembut. “Kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu sekarang. Setelah selesai, kamu bisa langsung pergi ke kelas ya.”

“Baik, Pak Ketua. Terima kasih banyak atas dasinya dan juga atas bantuan teman-teman s” ujar Elona dengan senyum hangat.

Saat Elona kembali membersihkan taman, Rekai dan Kalash mulai menggoda Biru dengan suara rendah. “Waduh Pak Ketua, kalau elo tidak cepat-cepat mengambil tindakan, Luna bisa saja menyerang lebih kuat lagi lho. Apalagi kita semua tahu dia suka sama elo kan?” goda Kalash dengan tatapan yang penuh makna.

Biru hanya menepuk bahu Kalash dengan sedikit keras. “Jangan mengada-ada lagi. Sekarang kalian berdua harus membantu saya menyelesaikan pekerjaan lain sebelum jam pelajaran dimulai.”

Meskipun katanya begitu, di dalam hati Biru merasa bersyukur karena Rekai telah membela Elona. Dia juga tahu bahwa masalah dengan Luna tidak akan berhenti sampai di situ. Tapi yang paling penting baginya adalah Elona tidak merasa tersisih atau dipermalukan.

Saat matahari mulai naik lebih tinggi dan sinarnya menyinari taman yang sedang dibersihkan, suasana kembali menjadi tenang dengan suara tertawa kecil dari Rekai dan Kalash yang masih terus menggoda Biru setiap saat

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!