Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Polisi "Oknum" dan Telepon Sakti
Banyu pulang ke kosan dengan perasaan puas setelah memberi pelajaran pada Joni. Di depan pintu, dia berpapasan dengan Laras yang baru pulang kerja, wajahnya cerah tidak seperti biasanya.
"Wih, tumben jam segini udah di rumah? Gak lembur, Bu Negara?" sapa Banyu.
Laras tersenyum manis. "Proyekku kelar lebih cepet, Mas. Jadi bisa pulang tenggo. Oh iya, soal traktir makan itu... gimana kalau weekend ini?"
Mendengar ajakan makan, Banyu langsung semangat. "Gaspol! Saya kosongin perut dari Jumat malem deh."
Wajah Laras merona merah. Dia teringat momen Banyu menggendongnya tempo hari. "Mas Banyu bisa aja..."
Belum sempat obrolan berlanjut, sebuah mobil patroli polisi berhenti mendadak di depan pagar kosan. Sirinenya dimatikan, tapi lampu rotarinya berputar menyilaukan mata.
Seorang polisi paruh baya dengan perut buncit dan seragam yang kancingnya mau copot turun dari mobil. Itu Aiptu Somad, paman Joni yang terkenal sebagai "polisi bekingan" preman kampung sini.
"Banyu! Keluar lu!" bentak Somad tanpa basa-basi.
Banyu menghela napas. Panjang umur si Joni, pamannya langsung dateng.
"Ada apa ya, Pak?" tanya Banyu santai.
"Jangan pura-pura bego! Ikut gue ke Polsek sekarang!" Somad maju mau mencengkeram kerah baju Banyu.
Banyu menepis tangan Somad dengan halus. "Tunggu dulu, Pak. Alasannya apa? Surat perintahnya mana?"
"Surat perintah gundulmu!" Somad melotot. "Lu abis nganiaya lima orang warga sipil kan? Joni sama temen-temennya masuk UGD gara-gara lu! Lu tersangka penganiayaan berat!"
"Penganiayaan? Mereka mau ngerampok saya, Pak. Saya cuma bela diri," bantah Banyu tenang.
"Halah, alesan! Mana buktinya? Saksinya siapa?" Somad makin ngegas. "Joni bilang lu yang nyerang duluan pake balok kayu! Udah, jelasin aja nanti di kantor. Sekarang ikut gue!"
Keributan itu memancing perhatian warga. Tetangga mulai berkumpul, berbisik-bisik.
"Wah, Banyu ditangkep?" "Katanya mukulin si Joni? Mustahil ah, Banyu kan anaknya baik." "Itu Pak Somad kan om-nya si Joni? Wah, bau-bau kkn nih."
Mendengar bisikan warga, Somad makin panas. Dia merasa wibawanya dipertaruhkan. Dia mengeluarkan borgol dari pinggangnya.
"Lu mau ikut baik-baik atau gue seret pake borgol?!" ancam Somad.
Banyu sadar situasi ini tidak menguntungkan kalau dia melawan fisik. Somad memang polisi korup, tapi dia tetap polisi berseragam. Melawan dia berarti melawan negara.
Banyu butuh strategi cerdas.
"Oke, saya ikut," kata Banyu. Dia mendekat ke arah Laras yang berdiri mematung ketakutan.
Dengan gerakan cepat, Banyu menyelipkan HP barunya ke tangan Laras yang dingin. Dia membisikkan sesuatu tepat di telinga Laras, napas hangatnya membuat gadis itu merinding.
"Ras, di HP ini ada rekaman suara Joni yang ngaku mau ngerampok gue. Tolong simpen baik-baik. Kalau gue gak balik dalam 24 jam, kasih ini ke pengacara atau viralkan."
Wajah Laras memerah karena kedekatan fisik itu, tapi dia mengangguk cepat, menyembunyikan HP Banyu di balik tas kerjanya. "Aku pegang, Mas. Hati-hati..."
"Ayo jalan!" Somad mendorong punggung Banyu kasar.
Banyu masuk ke mobil patroli dengan tenang. Dia menatap Laras dari balik kaca jendela, memberikan senyum meyakinkan. Mobil itu melaju membawa Banyu ke Polsek.
---
Di Polsek Kampung Rawa.
Karena sudah lewat jam kerja, kantor sepi. Hanya ada petugas piket yang sibuk main Mobile Legends. Somad langsung menyeret Banyu ke ruang interogasi yang pengap dan bau rokok.
Klik!
Somad memborgol satu tangan Banyu ke kaki meja besi.
"Duduk lu di situ! Renungin dosa lu!" bentak Somad.
"Pak, saya kan cuma saksi/terlapor, kok diborgol? Ini melanggar SOP lho," protes Banyu.
"Di sini gue SOP-nya!" Somad menunjuk dada Banyu. "Tunggu di sini. Ponakan gue lagi divisum. Abis itu abis lu sama gue!"
Somad keluar ruangan, meninggalkan Banyu sendirian dalam kegelapan.
Banyu bersandar di kursi, menatap langit-langit. Dia tidak takut. Justru dia merasa kasihan pada Somad. Polisi bodoh. Dia gak tau kalau dia lagi gali kuburannya sendiri.
---
Sementara itu, di kosan.
Laras mondar-mandir di kamarnya seperti setrikaan rusak. Dia panik, cemas, dan bingung. HP Banyu dia genggam erat-erat.
"Aduh, gimana ini... Mas Banyu ditangkep... Pak Somad itu kan jahat..."
Laras ingin memviralkan rekaman itu seperti pesan Banyu, tapi dia takut salah langkah. Dia butuh teman curhat, atau bantuan orang yang lebih paham hukum.
Tiba-tiba, HP Banyu di tangannya berdering.
Laras kaget setengah mati, nyaris melempar HP itu. Layar menyala menampilkan nama penelepon tak dikenal.
Nomor Siapa nih?
Ragu-ragu, Laras menggeser tombol hijau. "Halo...?"
Di ujung sana, suara wanita yang terdengar tegas dan berwibawa menjawab. "Halo. Bisa bicara dengan Banyu?"
Itu Siska. Dia baru saja dapat laporan medis ayahnya (Pak Wijaya) yang menyatakan sembuh total secara ajaib. Ayahnya mendesak Siska untuk segera menghubungi "Malaikat Penyelamat" itu.
"Mas Banyu... Mas Banyu gak ada..." suara Laras bergetar menahan tangis.
Siska mengernyit. "Kamu siapa? Istrinya? Pacarnya?"
"Saya tetangganya... Mas Banyu baru aja dibawa polisi..."
"APA?!" Siska kaget. "Dibawa polisi kenapa?"
Laras yang memang sedang butuh tempat curhat, langsung menumpahkan semuanya. "Tadi ada polisi namanya Pak Somad, dia om-nya preman Joni. Dia nuduh Mas Banyu mukulin Joni, padahal Mas Banyu cuma bela diri... Mas Banyu dibawa ke Polsek Kampung Rawa..."
Mendengar cerita itu, insting Siska langsung menyala. Dia tahu betul permainan kotor oknum aparat di level bawah. Dan fakta bahwa penyelamat ayahnya (Wakil Gubernur!) sedang dikerjai polisi korup membuat darahnya mendidih.
"Oke, saya paham situasinya. Kamu tenang aja," kata Siska dengan nada yang sangat menenangkan. "Nama saya Siska. Saya... teman Banyu. Kamu sekarang siap-siap ke Polsek itu. Bawa bukti yang Banyu titipin. Kita ketemu di sana setengah jam lagi."
"Mbak Siska mau bantuin Mas Banyu?"
"Bukan cuma bantuin," suara Siska terdengar dingin dan berbahaya. "Saya mau ratain itu Polsek."
Telepon ditutup.
Siska, yang sedang duduk di dalam mobil Maserati merahnya di parkiran RSUD, langsung tancap gas.
Sambil menyetir dengan satu tangan, tangan lainnya menekan nomor di speed dial. Nomor seseorang yang sangat penting.
"Halo, Om Hendra? Ini Siska... Iya, salam buat Tante. Om, Siska butuh bantuan mendesak... Iya, soal oknum di Polsek Kampung Rawa. Dia nahan orang yang baru aja nyelametin nyawa Ayah... Iya, tolong Om turun tangan sekarang."
Orang yang ditelepon Siska adalah Kombes Pol Hendra, Kapolres Metro setempat.
Malam ini, Polsek Kampung Rawa bakal kedatangan badai.