NovelToon NovelToon
Doll Controller

Doll Controller

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Summon / Spiritual
Popularitas:531
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

kekuatannya menyebabkan dia bisa mengendalikan boneka tapi semakin sering ia menggunakannya ia pun mulai di Kendalikan oleh kekuatan sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Pengakuan yang Berat

Malam itu, di tengah badai yang melanda ibu kota Aethelgard—seolah langit ikut menangis atas takdir yang akan terungkap—Ryo akhirnya dipanggil menghadap Raja. Udara di ruang singgasana terasa tegang, bukan hanya karena gemuruh petir di luar, melainkan karena keheningan mencekam yang meresap di setiap sudut. Raja, dengan wajah lelah yang terpahat oleh kekhawatiran dan rambutnya yang kini diselingi uban lebih banyak dari biasanya, duduk di singgasananya. Di hadapannya, Ryo berdiri tegak, jubahnya sedikit basah oleh tetesan hujan yang terbawa angin saat ia melangkah dari menaranya. Boneka kayu di tangannya, yang biasanya menjadi penenang, kini terasa seperti bara api yang membakar telapak tangannya.

"Ryo," kata Raja, suaranya parau, hampir berbisik di antara dentuman guntur yang menggelegar. "Kekosongan ini... ia semakin dekat. Ini adalah kegelapan yang belum pernah kita lihat."

Ryo mengangguk, matanya menatap tajam ke arah Raja. Ia merasakan benang ketakutan dan keputusasaan yang melilit hati ayahnya. Ryo mengerti. Sang Raja Aethelgard adalah seorang pemimpin yang adil dan berani, namun ia adalah manusia, dan beban ini terlalu berat untuk ditanggung sendiri.

"Ayahanda," balas Ryo, suaranya terdengar serak, dipenuhi oleh emosi yang tertahan. "Saya merasakan Kekosongan itu. Ia bukan hanya ancaman bagi Aethelgard, tapi bagi esensi kehidupan itu sendiri."

Raja menghela napas, panjang dan berat. "Saya tahu, Nak. Saya tahu. Ramalan kuno... ia selalu menghantui saya." Raja berhenti sejenak, memijat pelipisnya. "Seorang Dalang Jiwa akan muncul di saat kegelapan terbesar, untuk menyelamatkan... atau menghancurkan." Ia mengulang kata-kata ramalan yang sama persis seperti yang ia pernah bisikkan pada Ryo di menara bertahun-tahun yang lalu, saat Ryo pertama kali menunjukkan tanda-tanda kekuatannya. Saat itu, Raja melihat putranya dengan campuran cinta dan ketakutan yang mendalam.

"Ayahanda, saya mengerti ketakutan Anda," Ryo melanjutkan, pandangannya beralih dari Raja ke arah Lyra, yang berdiri beberapa langkah di belakangnya, wajahnya terpancar campuran rasa ingin tahu, empati, dan tekad. Lyra adalah satu-satunya orang di ruangan itu yang seolah-olah dapat melihat melampaui gelar 'Pangeran' dan 'Dalang Jiwa', melihat Ryo sebagai seorang individu.

"Ayahanda, kekuatan ini adalah kutukan," bisik Ryo, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan dan angin di luar. Sebuah pengakuan pahit yang meluncur dari bibirnya, membawa serta beban masa lalunya yang belum terungkap, sebuah bayangan yang telah menghantuinya selama bertahun-tahun.

Raja menatap putranya, mata tuanya kini dipenuhi kesedihan. "Itu bukan kutukan, Ryo. Itu adalah anugerah... yang salah dipahami."

"Anugerah?" Ryo tertawa getir, sebuah tawa tanpa humor yang menusuk hati Lyra. "Bagaimana bisa sebuah kekuatan yang mengasingkanku, yang mencabutku dari dunia, yang membuatku terus-menerus mendengar bisikan jiwa orang lain, disebut anugerah? Bagaimana bisa sesuatu yang... yang membuatku kehilangan hal paling berharga dalam hidupku, disebut anugerah?"

Lyra merasakan gelombang emosi yang kuat terpancar dari Ryo, sebuah badai rasa sakit, penyesalan, dan kemarahan yang terkunci rapat di balik ketenangannya. Benang eterik Ryo berdenyut-denyut hebat, menyalurkan gambaran-gambaran singkat: senyum seorang gadis, sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga lavender, tawa yang ceria, lalu kehampaan, tangisan, dan boneka kayu yang kini dipegangnya erat.

"Apa yang terjadi, Ryo?" tanya Lyra lembut, suaranya berhasil menembus dinding pertahanan Ryo.

Ryo memejamkan mata, menghela napas panjang. Badai di luar seolah mencerminkan badai di dalam dirinya. "Ada seorang gadis," ia memulai, suaranya jauh, seolah bercerita tentang orang lain. "Namanya Elara. Dia adalah... satu-satunya yang melihat melampaui gelar pangeran. Dia adalah cahaya di hari-hariku yang sunyi, satu-satunya yang tidak takut dengan mataku yang merah, atau kesunyianku."

Raja menundukkan kepala, wajahnya menunjukkan kepedihan yang sama. "Elara... dia adalah pelayan di kebun istana. Gadis yang sangat ceria."

"Dia sakit," lanjut Ryo, suaranya menipis. "Sebuah penyakit langka, yang menggerogoti tubuhnya perlahan. Para tabib, bahkan Master Eldrin, tidak bisa berbuat apa-apa. Aku... aku tidak bisa menerimanya. Aku memiliki kekuatan ini, dan aku tidak bisa menyelamatkan satu-satunya orang yang peduli padaku."

Lyra merasakan simpati yang mendalam. Seorang Dalang Jiwa, dengan kekuatan untuk memanipulasi takdir, namun tak berdaya menghadapi penyakit yang merenggut orang yang dicintai. Sebuah ironi yang kejam.

"Aku mencoba," Ryo mengangkat boneka kayunya, menatapnya seolah itu adalah benda paling suci sekaligus paling terkutuk di dunia. "Aku mencoba mengendalikannya. Aku mencoba memanipulasi benang kehidupannya, benang kesembuhannya. Aku mencoba... untuk membuatnya tetap hidup."

Raja Aethelgard akhirnya angkat bicara, suaranya tegar, namun penuh kesedihan. "Ryo terlalu muda saat itu. Kekuatannya belum sempurna. Dia mencoba mengendalikan benang kehidupan Elara, bukan hanya gerakannya. Benang itu terlalu rapuh, terlalu kompleks."

"Aku tidak bisa menyelamatkannya," bisik Ryo, air mata akhirnya menetes dari mata merahnya yang biasanya dingin. "Justru aku... aku yang mencabutnya. Dalam usahaku untuk mengendalikan takdirnya, aku mengoyak benangnya. Benang jiwanya... terputus."

Keheningan kembali menyelimuti ruangan, kali ini terasa lebih menusuk. Badai di luar seolah mereda, meninggalkan keheningan yang dalam. Lyra menahan napas, terkejut. Ryo tidak hanya melihat Elara meninggal; ia secara tidak sengaja menjadi penyebabnya, dalam upaya yang putus asa untuk menyelamatkannya.

"Sebagian dari jiwanya," Ryo melanjutkan, suaranya kini sekuat baja yang ditempa kesedihan. "Sebagian dari esensinya, dari kehangatannya, dari tawanya... terperangkap. Di dalam boneka ini." Ia menatap boneka kayu di tangannya. "Ini adalah pengingat konstan akan kegagalan saya. Pengingat bahwa kekuatan ini... bukan anugerah. Ia adalah kutukan. Ia mencabut kehidupan, bukan memberi."

Lyra maju selangkah, hatinya sakit melihat pangeran yang selama ini ia kira dingin dan terasing, ternyata hanyalah seorang pria yang patah hati, terbebani oleh kesalahan masa lalu yang tragis. Ia bisa merasakan kehangatan yang samar dari boneka itu, sebuah bisikan eterik yang kecil, seolah sisa-sisa jiwa Elara masih berdiam di sana, terperangkap.

"Itu sebabnya kau mengasingkan diri, Ryo," kata Lyra, bukan sebagai pertanyaan, melainkan sebagai penegasan. "Kau takut pada dirimu sendiri, pada kekuatanmu."

Ryo mengangguk. "Setiap kali aku menyentuh benang jiwa orang lain, aku merasakan risikonya. Risikonya kehilangan diriku dalam mereka, atau risikonya... menghancurkan mereka seperti aku menghancurkan Elara."

Raja mendekati putranya, menepuk bahunya dengan lembut. "Itu adalah kesalahan yang pahit, Nak. Tapi kau belajar darinya. Kau belajar untuk tidak mengendalikan kehendak, tapi untuk memimpin."

"Tapi Kekosongan ini, Ayahanda," Ryo mengangkat pandangannya lagi. "Ia melakukan hal yang sama. Ia mencabut jiwa. Ia mengoyak benang. Ia menghancurkan. Dan saya... saya takut saya akan menjadi seperti dia."

"Tidak," kata Lyra tegas, melangkah maju hingga ia berdiri di samping Ryo. "Kau tidak akan menjadi seperti dia. Kekosongan itu mencabut jiwa untuk menguatkan dirinya sendiri, untuk tumbuh dalam kehampaan. Kau... kau mencabut benang Elara dalam usahamu yang putus asa untuk menyelamatkannya. Itu adalah tindakan cinta, Ryo, bukan kejahatan."

Ryo menatap Lyra, terkejut oleh keyakinan dalam suaranya. Ia merasakan benang empati Lyra yang kuat, benang yang tidak mencoba memanipulasinya, melainkan memahami dan mendukungnya. Sebuah rasa hangat yang sudah lama ia lupakan mulai menyebar di dadanya.

"Ramalan itu, Ryo," lanjut Lyra, kini menatap Raja. "Ia mengatakan 'menyelamatkan atau menghancurkan'. Tapi tidak harus menyelamatkan *melalui* kontrol absolut. Mungkin menyelamatkan *dari* kontrol absolut." Ia kembali menatap Ryo. "Kekuatanmu untuk memahami benang-benang itu, untuk merasakan kehendak, untuk memanipulasi tanpa terlihat, itulah yang kita butuhkan. Bukan untuk mengendalikan mereka seperti boneka, tetapi untuk memimpin mereka, untuk melindungi mereka, untuk memastikan mereka memiliki kesempatan untuk membuat pilihan mereka sendiri. Itulah perbedaanmu dengan Kekosongan."

Master Eldrin, yang selama ini diam mengamati, kini angkat bicara. "Nona Lyra benar, Yang Mulia. Dalang Jiwa bukanlah sekadar manipulator. Mereka adalah 'penjaga benang'. Mereka memiliki potensi untuk merasakan ketidakseimbangan dalam anyaman takdir, untuk menuntun, bukan mengikat."

Raja mengangguk perlahan, kerutan di dahinya sedikit melonggar. "Maka kita harus menghentikannya sebelum ia melahap segalanya." Ia menatap putranya, kini dengan harapan, bukan lagi ketakutan. "Ryo, kau harus menggunakan kekuatanmu. Tapi kau tidak sendirian. Lyra, kau adalah tabib paling cerdas dan bijaksana yang aku kenal. Aku menugaskanmu untuk bekerja bersama Pangeran Ryo. Bantu dia. Lindungi dia dari bahaya kekuatannya sendiri, dan dari beban masa lalunya."

Lyra mengangguk, sebuah beban berat terangkat dari pundaknya. Ia telah menemukan jawabannya, dan sekarang ia diberi tugas. Sebuah tugas yang jauh lebih besar dari sekadar mengobati luka fisik, sebuah tugas yang menyentuh inti dari jiwa itu sendiri. "Saya akan melakukan yang terbaik, Yang Mulia," katanya dengan tegas.

Ryo menatap Lyra lagi. Senyum tipis, nyaris tak terlihat, melintas di bibirnya. Sebuah senyum yang tulus, sebuah senyum yang telah lama hilang. Ada rasa lega, sebuah penerimaan yang sudah lama ia rindukan. Benang eterik Lyra, yang semula bergetar karena rasa ingin tahu dan cemas, kini memancarkan tekad, dukungan, dan keberanian. Ia adalah sekutu, bukan musuh. Lebih dari itu, ia adalah jembatan Ryo ke dunia manusia, ke empati yang selama ini ia hindari. Ini adalah awal yang baru bagi Ryo, awal dari perjalanannya keluar dari bayangan, keluar dari pengasingan. Ia tidak lagi sendirian. Boneka di tangannya terasa sedikit lebih ringan, seolah beban Elara tidak lagi membelenggu, melainkan menjadi sebuah pelajaran yang menyakitkan namun berharga.

Namun, di kedalaman pikirannya, ia tahu perjuangan yang sebenarnya baru saja dimulai. Ia harus berhadapan dengan entitas yang berbicara dalam bahasanya sendiri—bahasa benang eterik—namun dengan tujuan yang berlawanan dan destruktif. Dan ia harus melakukannya tanpa kehilangan jiwanya sendiri dalam prosesnya, tanpa mengulang kesalahan Elara. Ramalan itu masih menggantung: menyelamatkan... atau menghancurkan. Kali ini, ia memiliki sekutu, dan secercah harapan bahwa ia bisa menjadi Dalang yang berbeda, seorang Dalang yang memilih untuk menuntun, bukan mengikat, untuk melindungi, bukan menghancurkan. Dan dengan Lyra di sisinya, ia mungkin menemukan cara untuk menyembuhkan luka lama, bahkan yang terperangkap dalam boneka kayu.

1
anggita
like👍 iklan. moga novelnya lancar.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!