Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.
Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.
Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.
"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"
Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaring laba-laba Siska
Okeee...
Otor minta maaf karena nggak fokus jadi babnya kebalik 😌😌😌
ini otor udah revisi, selamat membaca....
🌹🌹🌹
Asap putih yang menyelimuti lobi mansion Ardiansyah perlahan menipis, menyisakan keheningan yang mencekam dan aroma bahan kimia yang tajam. Ares berdiri mematung di tengah ruangan, matanya nanar menatap kalung berlian Gia yang tergeletak malang di atas marmer.
Namun, sebelum Ares sempat memerintahkan Bayu untuk melacak keberadaan istrinya, layar televisi raksasa di lobi kembali menyala. Kali ini, bukan lagi siaran langsung, melainkan sebuah video dokumenter pendek yang disusun dengan sangat rapi, terlalu rapi untuk sebuah kebetulan.
Di layar itu, muncul wajah Siska. Wajahnya tidak lagi penuh kebencian seperti di kerumunan tadi, melainkan tampak pucat, sembab, dan penuh penderitaan yang dibuat-buat. Ia duduk di sebuah ruangan yang remang, menatap kamera dengan pandangan yang mampu mengundang simpati siapa pun yang melihatnya.
"Selama ini aku diam" Suara Siska terdengar bergetar di seluruh pengeras suara mansion.
"Aku pergi di hari pernikahanku bukan karena aku pengecut. Aku pergi karena aku diancam. Wanita yang kalian kenal sebagai Gia, dia bukan korban. Dia adalah dalang di balik semua kehancuran ini"
Ares mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri.
"Bohong!" desisnya.
Di layar, Siska mulai menunjukkan bukti-bukti. Sebuah rekaman suara yang dimanipulasi secara digital terdengar memutar. Suara itu sangat mirip dengan suara lembut Gia, namun nadanya dingin dan mengancam.
"Pergilah dari hidup Tuan Ares, Kak Siska. Jika kamu tidak pergi sekarang, aku akan memastikan foto-foto pribadimu tersebar. Aku punya akses ke sistem keamanan Ardiansyah. Aku akan menghancurkanmu agar aku bisa menempati posisimu."
Wartawan yang masih berada di luar gerbang dan mereka yang menyaksikan melalui streaming langsung mulai riuh. Narasi baru mulai terbentuk. Gia, si gadis yatim piatu yang malang, kini dicitrakan sebagai femme fatale yang licik, seorang manipulator ulung yang sengaja masuk ke keluarga Ardiansyah dengan cara menyingkirkan pengantin aslinya.
Belum sempat publik mencerna informasi itu, Siska melanjutkan serangannya. Ia merujuk pada video manipulasi Nyonya Besar yang muncul sebelumnya.
"Video yang kalian lihat barusan, tentang Nyonya Besar yang seolah berkhianat? Itu adalah karya Gia" Lanjut Siska dengan air mata yang mulai menetes.
"Dia mahasiswi seni yang sangat ahli dalam manipulasi digital. Dia menciptakan video itu untuk mengadu domba Ares dengan ibunya sendiri, agar dia bisa menguasai kekayaan Ardiansyah sepenuhnya. Dia ingin Ares merasa terpojok dan hanya memiliki dia sebagai satu-satunya sekutu"
Nyonya Besar, yang masih berdiri di balkon lantai dua, memegang pagar pembatas dengan tangan gemetar. Ia menatap layar itu dengan perasaan campur aduk. Keraguannya yang tadi muncul kini berubah menjadi ketakutan yang nyata. Apakah benar Gia yang melakukan ini? Apakah kebaikan gadis itu selama ini hanya akting untuk merebut kekuasaan?
"Aresta!" teriak Nyonya Besar dari atas.
"Lihat apa yang dilakukan istrimu! Dia tidak hanya menghancurkan reputasi kita, dia mencoba memecah belah kita!"
Ares mendongak, matanya berkilat penuh amarah yang tertuju pada ibunya, bukan pada Gia.
"Mama percaya pada wanita yang melarikan diri itu daripada wanita yang semalam menyerahkan seluruh hidupnya padaku?! Ini semua fitnah, Ma!"
Namun, serangan Siska belum berakhir. Ia mengeluarkan sebuah dokumen yang terlihat seperti riwayat transfer perbankan luar negeri.
"Lihat ini. Aliran dana dari rekening pribadi Gia ke peretas internasional untuk meretas sistem mansion hari ini. Dia menciptakan kepanikan ini agar dia bisa menghilang dan berpura-pura menjadi korban penculikan, untuk menarik simpati publik lebih dalam"
Ares segera mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi tim IT-nya, namun sistem komunikasi di dalam mansion masih terganggu. Ia merasa seperti singa yang dikurung dalam sangkar kaca, melihat dunianya dibakar dari luar tanpa bisa melakukan apa pun.
Sementara itu, di sebuah lokasi yang sangat kontras dengan kemewahan mansion, sebuah gudang tua di pinggiran Jakarta yang lembap dan berbau apek, Gia tersadar dari pingsannya. Kepalanya terasa sangat berat, dan penglihatannya masih kabur. Tangannya terikat kuat ke belakang di sebuah kursi kayu tua.
"Sudah bangun, Adik Kecil?"
Suara itu membuat Gia tersentak. Siska berdiri di depannya, masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang ia pakai di depan massa tadi, namun wajahnya kini penuh dengan kemenangan yang keji.
"Kak S-siska..." Gia berbisik parau.
"Kenapa... kenapa kau melakukan ini?"
Siska tertawa, suara tawanya menggema di ruangan yang kosong itu. Ia mendekati Gia, mencengkeram rahang gadis itu dengan jari-jarinya yang berkuku panjang.
"Kenapa? Karena kau mengambil apa yang seharusnya milikku! Kau, si anak haram dari wanita gila, berani duduk di tempat tidurku? Berani menyentuh pria yang seharusnya memberiku mahkota Ardiansyah?"
"Aku tidak pernah memintanya..." Gia terisak.
"Tapi kau menikmatinya!" Bentak Siska.
"Dan sekarang, seluruh dunia membencimu. Saat ini, suamimu yang tercinta sedang menonton video di mana kau dicitrakan sebagai penjahat yang menjebakku. Aku sudah merancang semuanya. Semua orang akan percaya bahwa kau yang mengancamku untuk pergi, kau yang meretas sistem mansion, dan kau yang memalsukan video pengkhianatan ibunya!"
Siska melepaskan cengkeramannya dan mengambil sebuah tablet, memperlihatkan komentar-komentar netizen yang kini menghujat Gia.
“Ternyata dia serigala berbulu domba!”
“Kasihan Ares, ditipu oleh gadis manipulatif!”
Gia menatap layar itu dengan hancur. Ia tidak peduli dengan apa yang dipikirkan dunia, namun ia takut jika Ares mulai mempercayai kebohongan itu.
"Mas Ares, dis tidak akan percaya padamu."
"Oh, benarkah?" Siska tersenyum licik. Ia kemudian mengeluarkan sebuah alat kecil dari sakunya, sebuah voice changer tingkat tinggi. Ia menekan sebuah tombol, dan suara yang keluar adalah suara Gia yang sedang merintih kesakitan, namun diselipi kata-kata pengakuan.
"Maafkan aku Ares, aku memang merencanakan ini semua, aku hanya ingin uangmu"
"Aku akan mengirimkan rekaman ini padanya sebentar lagi" Bisik Siska.
"Dan kau tahu apa yang paling menyenangkan? Aku akan membuatmu menghilang selamanya dengan meninggalkan surat bunuh diri yang berisi pengakuan dosa. Semua orang akan menganggapmu mati karena rasa bersalah"
Kembali di Mansion, Ares berhasil memulihkan sebagian akses komunikasinya. Ia berteriak pada Bayu untuk melacak sinyal terakhir dari ponsel Siska. Namun, tepat saat itu, sebuah pesan suara masuk ke ponselnya.
Ares membukanya dengan tangan gemetar. Ia mendengar suara Gia, suara yang semalam membisikkan kata cinta padanya, kini terdengar mengaku telah mengkhianatinya.
Nyonya Besar yang ikut mendengarkan dari belakang Ares, menutup mulutnya dengan tangan.
"Sudah kubilang Ares, dia adalah bencana!"
Ares terdiam. Wajahnya gelap, tak terbaca. Ia menatap layar ponselnya, lalu menatap kalung Gia yang masih ada di tangannya. Tiba-tiba, ia melempar ponselnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping.
"Bayu! Siapkan semua orang!" Perintah Ares, suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan suara predator yang siap membantai.
"Aku tidak peduli suara itu asli atau palsu. Aku tidak peduli dunia membencinya. Aku hanya ingin Gia kembali, hidup atau mati. Dan jika ada satu lecet saja di tubuhnya..."
Ares menoleh ke arah ibunya dengan tatapan yang membuat Nyonya Besar mundur selangkah karena ketakutan.
"Maka Ardiansyah Group akan kukubur bersama dengan siapa pun yang terlibat dalam rencana ini. Termasuk Mama, jika Mama terbukti menyembunyikan sesuatu!"
semoga ada bonchap nya.
selamat Gia dan Ares