"Di bawah getah nangka yang lengket dan semut hitam yang merayap, aku tidak hanya mengikat janji pada Mama, tapi juga pada takdir yang sedang mengujiku."
Bagi Raymond, pindah dari Gang Serayu ke Perumnas Mandala adalah sebuah harapan akan kemerdekaan. Di sana, ia melihat Bapaknya—seorang PNS yang resik—berusaha membangun dunia baru melalui kandang-kandang ayam yang ditandai dengan cat di kakinya. Sebuah simbol kepemilikan dan harga diri yang coba dijaga di tengah tanah perantauan.
Namun, udara Mandala yang asri pelan-pelan berubah menjadi pekat oleh asap rokok dan tumpukan kertas nomor togel. Bapak yang dulu dipuja sebagai pahlawan, kini berubah menjadi "Si Teleng"—seorang penjudi yang mempertaruhkan segalanya: gaji bulanan, perabotan rumah, hingga keselamatan keluarganya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raymond Siahaan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Jejak yang Ditinggalkan Waktu
Rumah terasa lebih sunyi setelah kepergian mama.
Bukan karena suara berkurang—Naomi dan Daniel tetap berlarian seperti biasa—tetapi karena ada satu kehadiran yang tak tergantikan. Kursi kayu di teras, tempat mama biasa duduk sambil merajut atau sekadar memperhatikan jalan, kini kosong. Setiap kali aku melewatinya, ada ruang di dada yang terasa bergetar pelan.
Waktu tidak pernah berhenti, bahkan untuk duka.
Beberapa minggu setelah pemakaman, hidup kembali menuntut ritme. Anak-anak tetap harus sekolah. Maria tetap bekerja. Aku kembali ke kantor dengan wajah yang lebih tenang, meski di dalamnya masih ada gelombang yang belum sepenuhnya reda.
Suatu pagi, Naomi menghampiriku sebelum berangkat sekolah.
“Papa, Nenek sekarang di mana?” tanyanya pelan.
Aku menatap matanya yang jujur. Pertanyaan anak-anak selalu sederhana, tetapi jawabannya sering kali kompleks.
“Nenek sudah tidak sakit lagi,” jawabku lembut. “Dan sekarang dia ada di tempat yang lebih damai.”
“Apakah dia masih bisa lihat kita?”
Aku tersenyum tipis. “Papa percaya, cinta itu tidak pernah benar-benar hilang. Jadi kalau kita melakukan hal baik, seolah-olah Nenek ikut tersenyum.”
Naomi mengangguk, lalu memelukku.
Momen itu membuatku sadar—cara aku menjawab akan membentuk cara mereka memandang kehilangan.
Beberapa bulan kemudian, perusahaan tempatku bekerja mengalami ekspansi besar. Kali ini, bukan cabang baru yang ditawarkan kepadaku, melainkan kesempatan menjadi partner minoritas. Artinya, bukan sekadar karyawan, tetapi bagian dari pengambil keputusan.
Tanggung jawabnya besar. Risiko juga besar.
Aku membawa kabar itu pulang dengan campuran antusias dan ragu.
Maria sedang membantu Daniel menyusun puzzle ketika aku duduk di sampingnya.
“Ada kabar baik?” tanyanya, membaca ekspresiku.
“Mungkin,” jawabku pelan.
Aku menjelaskan semuanya—tentang investasi yang harus kami keluarkan, tentang potensi keuntungan, tentang risiko kegagalan.
Maria mendengarkan tanpa menyela.
“Apa yang kamu rasakan?” tanyanya setelah aku selesai.
“Aku takut gagal,” jawabku jujur. “Tapi aku juga merasa ini kesempatan untuk berkembang.”
Maria tersenyum.
“Dulu kamu pernah kehilangan pekerjaan dan kita tetap bertahan. Kalau sekarang kamu ingin melangkah lebih jauh, aku percaya kamu sudah belajar dari pengalaman.”
Aku menatapnya lama.
“Kalau gagal?”
“Kita gagal bersama,” jawabnya mantap.
Keputusan itu akhirnya kami ambil dengan perhitungan matang. Sebagian tabungan kami investasikan. Bukan semua—kami belajar untuk tidak gegabah.
Hari-hari berikutnya dipenuhi rapat panjang, perencanaan strategi, dan tekanan baru. Namun kali ini aku tidak sendirian menanggung beban. Setiap malam aku berbagi cerita dengan Maria, dan ia selalu menjadi tempatku menenangkan pikiran.
Naomi memasuki masa remaja.
Perubahannya terasa cepat. Ia mulai lebih banyak diam, lebih sering mengurung diri di kamar dengan buku atau musiknya. Aku mengenali fase itu—fase mencari jati diri.
Suatu malam, ia datang padaku dengan wajah serius.
“Papa, aku ingin ikut kompetisi seni di luar kota.”
“Bagus,” jawabku spontan. “Apa yang membuatmu ragu?”
“Aku takut tidak cukup baik.”
Aku tersenyum. Kalimat itu seperti gema dari masa laluku sendiri.
“Papa dulu juga sering merasa tidak cukup,” kataku. “Tapi Papa belajar bahwa keberanian mencoba lebih penting daripada hasil.”
Naomi menatapku.
“Kalau aku kalah?”
“Kita rayakan usahamu,” jawabku.
Ia tersenyum tipis, dan untuk pertama kalinya aku melihat bayangan diriku dalam dirinya—bukan dalam bentuk keras kepala, tetapi dalam bentuk keberanian yang masih belajar tumbuh.
Sementara itu, Daniel berbeda.
Ia penuh energi, sulit diam, dan sering membuat kekacauan kecil di rumah. Namun di balik itu, ia punya hati yang lembut.
Suatu sore, aku menemukannya menangis di halaman.
“Ada apa?” tanyaku.
“Teman bilang aku bodoh karena tidak cepat menghitung.”
Aku duduk di sampingnya.
“Daniel, setiap orang punya kecepatan berbeda. Bodoh itu bukan soal lambat atau cepat. Bodoh itu kalau kita berhenti mencoba.”
Ia mengusap air matanya.
“Papa pernah dibilang begitu?”
Aku tertawa kecil. “Sering.”
“Terus Papa bagaimana?”
“Papa membuktikan pada diri sendiri, bukan pada orang lain.”
Ia memelukku erat.
Mendidik anak ternyata bukan soal memberi nasihat panjang. Kadang hanya soal hadir ketika mereka merasa kecil.
Bisnis yang kujalani mulai menunjukkan hasil. Tidak langsung melonjak, tetapi stabil. Timku solid. Keputusan-keputusan yang kami ambil mulai membuahkan keuntungan.
Suatu malam, ketika laporan keuangan menunjukkan peningkatan signifikan, aku duduk diam lebih lama dari biasanya.
Dulu, angka-angka seperti itu akan membuatku merasa menang.
Sekarang, yang kurasakan adalah tanggung jawab.
Aku teringat mama.
“Warisan itu cara mencintai tanpa membelenggu.”
Aku mulai menerapkan prinsip itu di kantor. Memimpin tanpa menekan. Memberi ruang bagi tim untuk berkembang tanpa rasa takut.
Beberapa karyawan muda sering datang meminta saran. Aku tidak hanya bicara soal target, tetapi juga tentang keseimbangan hidup.
Mungkin inilah bentuk lain dari warisan—bukan hanya untuk keluarga, tetapi juga untuk lingkungan sekitar.
Tahun berganti.
Naomi berhasil memenangkan penghargaan kedua di kompetisi seni itu. Ia tidak menjadi juara pertama, tetapi sorot matanya bersinar ketika berdiri di panggung.
“Aku bangga karena aku berani,” katanya setelah turun.
Aku memeluknya erat.
Daniel mulai menunjukkan minat pada sains. Ia sering membongkar mainannya untuk melihat bagaimana cara kerjanya.
Rumah kami tetap sederhana, tetapi penuh cerita.
Suatu malam, ketika hujan turun deras seperti bertahun-tahun lalu saat listrik padam, kami kembali duduk bersama di ruang tamu.
“Papa,” Naomi berkata pelan, “apa Papa pernah menyesal tentang sesuatu dalam hidup?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam cukup lama.
“Ada hal-hal yang dulu Papa ingin berbeda,” jawabku akhirnya. “Tapi kalau diubah, mungkin Papa tidak akan sampai di sini.”
“Termasuk tentang cinta pertama Papa?” tanyanya polos.
Maria tertawa kecil dari dapur.
Aku tersenyum.
“Ya. Termasuk itu.”
“Papa masih ingat?”
“Papa ingat pelajarannya.”
Naomi mengangguk, tampak puas.
Aku menyadari sesuatu malam itu—masa lalu bukan lagi rahasia atau beban. Ia menjadi cerita yang bisa kubagikan tanpa rasa bersalah.
Beberapa tahun kemudian, bisnis kami benar-benar berkembang pesat. Aku dan partnerku sepakat untuk memperluas lini usaha.
Namun bersamaan dengan itu, tekanan juga meningkat. Ada konflik internal, ada perbedaan visi.
Suatu hari, rapat berlangsung panas. Suara meninggi. Ego bertabrakan.
Aku pulang dengan kepala penuh.
Maria langsung tahu.
“Kamu sedang marah,” katanya lembut.
“Aku lelah berdebat,” jawabku.
“Apakah kamu ingin menang, atau ingin solusi?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi tajam.
Aku terdiam.
Selama ini aku belajar tentang kedewasaan dalam keluarga. Kini pelajaran itu diuji di dunia profesional.
Keesokan harinya, aku memilih duduk kembali dengan partnerku—bukan untuk membuktikan siapa yang benar, tetapi untuk mencari titik temu.
Dan seperti dalam pernikahan, komunikasi yang jujur menjadi kunci.
Waktu terus meninggalkan jejak.
Rambutku mulai memutih di beberapa bagian. Maria sering menggoda.
“Kamu makin bijak kelihatannya.”
Aku tertawa.
“Kamu juga.”
Anak-anak tumbuh lebih cepat dari yang kubayangkan. Naomi masuk universitas dengan jurusan seni rupa. Daniel memilih teknik.
Di hari mereka masing-masing berangkat ke kampus, aku merasakan campuran bangga dan sepi.
Rumah kembali berubah ritme.
Suatu malam, aku dan Maria duduk di teras—tempat yang selalu menjadi saksi percakapan penting kami.
“Kita sudah sampai sejauh ini,” katanya pelan.
“Iya,” jawabku.
“Kamu pernah membayangkan hidup seperti ini?”
Aku menggeleng.
“Aku hanya pernah membayangkan ingin cukup.”
“Dan sekarang?”
“Aku merasa utuh.”
Maria menggenggam tanganku.
Jejak waktu terlihat jelas di wajah kami—garis-garis halus yang menjadi saksi tawa, tangis, dan perjuangan.
Suatu sore, aku menerima pesan dari Naomi.
“Papa, aku gagal seleksi pameran nasional.”
Aku langsung meneleponnya.
“Kamu baik-baik saja?”
“Sedikit kecewa,” jawabnya.
“Apa kamu berhenti berkarya?”
“Tidak.”
“Berarti kamu tidak gagal.”
Ia terdiam, lalu tertawa kecil.
“Papa selalu punya cara membuat semuanya terasa lebih ringan.”
Aku tersenyum.
Mungkin karena dulu seseorang juga pernah membuatku belajar merelakan.
Di usia yang semakin matang, aku sering merenung tentang arti keberhasilan.
Bukan lagi soal jabatan.
Bukan lagi soal pengakuan.
Tetapi tentang apakah aku meninggalkan jejak yang baik.
Jejak dalam hati anak-anak.
Jejak dalam cara Maria memandangku.
Jejak dalam tim yang kupimpin.
Suatu malam, sebelum tidur, Maria bertanya,
“Kalau suatu hari nanti kita sudah tidak sekuat sekarang, apa yang kamu harapkan?”
Aku memandangnya lama.
“Aku harap anak-anak mengingat kita bukan karena aturan yang kita buat, tapi karena pelukan yang kita beri.”
Maria tersenyum, matanya berkaca-kaca.
“Aku juga.”
Aku mematikan lampu kamar dan berbaring di sampingnya.
Perjalanan panjang itu terasa seperti satu lingkaran utuh.
Dari lelaki yang pernah kebingungan memilih antara cinta dan restu…
Menjadi ayah yang mengajarkan anaknya memilih tanpa takut…
Menjadi suami yang belajar bahwa cinta bukan gejolak, melainkan komitmen yang diperbarui setiap hari…
Dan menjadi anak yang akhirnya memahami ketakutan ibunya sebagai bentuk cinta yang belum sempurna.
Jejak waktu tidak pernah bisa dihapus.
Tetapi kita bisa memilih bagaimana meninggalkannya.
Dan kini, ketika aku menatap masa depan yang masih menyisakan misteri, aku tidak lagi merasa perlu berlari.
Aku hanya perlu berjalan.
Dengan hati yang tetap lembut.
Dengan keberanian untuk berubah.
Dengan keyakinan bahwa warisan terbesar bukanlah apa yang kita miliki, melainkan bagaimana kita mencintai.
Karena pada akhirnya, waktu akan mengambil semuanya—
Kecuali jejak yang kita tinggalkan dalam hati orang-orang yang kita sayangi.