NovelToon NovelToon
Bukan Wajahmu Tapi Hatimu

Bukan Wajahmu Tapi Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Office Romance / Cewek Gendut
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
​Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
​Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab11

Sesampainya di hotel pertama untuk agenda meeting, Linggar langsung bergerak profesional.

Rasa sedih dan cemas yang menghimpitnya tadi di mobil ia simpan rapat-rapat.

Dengan cekatan, ia menyiapkan dokumen-dokumen penting dan memastikan tidak ada angka yang salah di depan para investor.

Pertemuan itu berlangsung cukup alot. Sampai akhirnya selama hampir satu jam, Linggar berdiri dengan sigap di samping Rangga, mencatat setiap poin penting dan memberikan berkas yang dibutuhkan tepat waktu.

Rangga sesekali melirik sekretarisnya itu, mengagumi betapa cepatnya Linggar bekerja meski ia tahu wanita itu sedang memendam banyak hal.

Setelah urusan selesai dan kesepakatan tercapai, mereka kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan panjang menuju Bandung.

"Kerja bagus, Linggar," puji Rangga singkat saat ia mulai menyalakan mesin.

"Terima kasih, Rangga," jawab Linggar pelan.

Namun, ketegangan emosional sejak pagi tadi, ditambah tenaga yang terkuras habis saat latihan di gym kemarin sore, mulai menagih haknya.

Perlahan, deru mesin mobil yang halus dan AC yang sejuk membuat kelopak mata Linggar terasa sangat berat.

Kepalanya mulai miring ke samping, bersandar pada kaca jendela mobil. Linggar pun jatuh tertidur dengan lelap.

Rangga melirik ke samping dan menyadari bahwa sekretarisnya sudah terlelap.

Ia menurunkan sedikit volume radionya. Saat mobil melewati jalanan yang agak bergelombang, kepala Linggar terkulai lemas, hampir terbentur oleh kaca.

Dengan gerakan perlahan agar tidak membangunkannya, Rangga mengulurkan tangan kirinya dan dengan lembut mengarahkan kepala Linggar agar bersandar di bahunya. Ia ingin wanita itu tidur dengan lebih nyaman.

Sambil terus menyetir menuju kota Bandung, Rangga menatap wajah Linggar yang sedang tidur.

Dalam keadaan terlelap, gurat kelelahan dan sisa kesedihan di wajah Linggar tampak begitu nyata.

"Kenapa aku merasa sangat ingin menjagamu, Linggar?" bisik Rangga.

Ia kemudian teringat pesannya kepada 'Nadya' tadi.

Ia merasa bersalah karena mencintai wanita di layar ponsel, namun hatinya terus-menerus tergetar oleh kehadiran wanita yang ada di sampingnya sekarang.

Tanpa ia sadari, ia justru membiarkan Linggar tidur di bahunya sepanjang jalan menuju Bandung.

Perjalanan yang cukup panjang akhirnya mereka telah sampai di Hotel.

Kota Bandung menyambut mereka dengan langit abu-abu dan guyuran hujan yang sangat deras.

"Linggar, ayo bangun. Kiya sudah sampai hotel." ucap Rangga.

Linggar membuka matanya perlahan-lahan dan melihat Rangga yang tersenyum kearahnya.

Suara rintik hujan yang menghantam kaca jendela hotel terdengar seperti irama yang menenangkan, namun tidak bagi hati Linggar yang terus berdegup kencang.

Mereka melangkah masuk ke dalam kamar Presidential Suite yang sangat mewah.

Ruangan itu sangat luas, dengan dua tempat tidur besar yang terpisah oleh sebuah meja kecil.

"Acaranya masih tiga jam lagi, Linggar. Kamu bisa kembali istirahat," ucap Rangga sambil melepas jasnya dan menyampirkannya di kursi.

Linggar hanya menganggukkan kepalanya pelan. Namun, alih-alih berbaring, tangannya justru meraih tas dan mengeluarkan laptop pekerjaannya.

Bagi Linggar, bekerja adalah satu-satunya cara untuk mengalihkan rasa cemas dan bersalah yang menghantui pikirannya.

Ia mulai membuka layar laptop, bermaksud merapikan notulensi rapat tadi pagi.

Rangga yang sedang melonggarkan dasinya menoleh dan seketika matanya menyipit.

Ia melihat Linggar yang masih saja keras kepala menyiksa diri dengan pekerjaan di saat tubuhnya jelas-jelas butuh jeda.

Tanpa suara, Rangga melangkah mendekat ke arah Linggar yang terlalu fokus pada layar hingga tidak menyadari kehadiran pria itu di belakangnya. Tiba-tiba, Rangga melepaskan ikat pinggang kulitnya dengan gerakan cepat.

"R-Rangga? Apa yang—"

Sebelum Linggar sempat bereaksi, Rangga menarik kedua tangan Linggar dan mengikat pergelangan tangannya dengan ikat pinggang tersebut ke ujung sandaran tempat tidur.

"Aku bilang istirahat, Linggar," ucap Rangga dengan suara rendah yang mengintimidasi.

Tatapannya tajam, mengunci manik mata Linggar yang membulat karena terkejut.

"Tapi Rangga, ini belum selesai. Aku hanya ingin—"

"Tidak ada tapi," potong Rangga cepat.

Ia mengulurkan tangan, menutup layar laptop Linggar dengan kasar dan menjauhkannya dari jangkauan wanita itu.

"Kamu adalah sekretarisku, dan sekarang perintah atasanmu adalah tidur. Jika aku melihatmu menyentuh pekerjaan lagi sebelum acara dimulai, aku akan memastikan kamu tidak bisa keluar dari kamar ini malam ini."

Rangga berdiri tegak, menatap Linggar yang kini terduduk kaku di tepi tempat tidur dengan tangan terikat.

Wajah Linggar memerah padam, antara malu dan tidak percaya dengan perlakuan impulsif bosnya.

"Diam di sana dan tidurlah. Aku akan mandi dulu," ujar Rangga dingin sebelum berbalik dan berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Linggar dalam keheningan kamar yang hanya diisi oleh suara hujan dan detak jantungnya sendiri yang menggila.

Linggar bersandar di atas tempat tidurnya sambil menatap pergelangan tangannya yang terikat.

Aroma parfum Rangga masih tertinggal di ikat pinggang itu, membuat napasnya semakin sesak.

Di balik kemarahannya, ia tahu Rangga melakukan ini karena peduli, namun cara pria itu membuatnya merasa sangat tak berdaya.

Linggar yang masih mengantuk, akhirnya memutuskan untuk memejamkan matanya kembali.

Suara gemericik air dari kamar mandi akhirnya berhenti.

Rangga keluar dengan rambut yang masih basah, hanya mengenakan kaos putih santai dan celana kain.

Uap hangat mengikutinya keluar, namun suasana di dalam kamar seketika terasa sangat sunyi.

Langkah kakinya terhenti saat melihat ke arah tempat tidur.

Linggar benar-benar menyerah pada rasa lelahnya.

Wanita itu tertidur dalam posisi setengah duduk yang tidak nyaman, dengan kedua tangannya masih terikat ikat pinggang kulit ke sandaran ranjang.

Kepalanya terkulai ke samping, dan napasnya terdengar teratur namun berat.

Rangga mendekat perlahan. Rasa bersalah tiba-tiba menyusup ke hatinya melihat pergelangan tangan Linggar yang sedikit memerah.

"Maafkan aku, Linggar. Aku hanya ingin kamu berhenti memaksakan diri," bisik Rangga sangat pelan.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Rangga melepaskan lilitan ikat pinggangnya.

Ia melakukannya dengan sangat lembut, seolah takut sentuhannya akan memecahkan ketenangan tidur sekretarisnya itu.

Setelah tangan Linggar terlepas, ia membetulkan posisi tidur Linggar, menyandarkannya ke bantal dan menyelimutinya hingga sebatas dada.

Rangga berdiri sejenak di sisi tempat tidur, menatap wajah Linggar yang tampak begitu polos saat tidur. Namun, pikirannya tiba-tiba teringat pada sosok lain.

Ia berjalan menuju balkon kamar, mengambil ponselnya yang terletak di atas meja.

Ia merindukan 'Nadya'. Ia butuh mendengar suara wanita itu untuk menenangkan kekacauan perasaannya yang mulai terbagi antara 'Nadya' di ponselnya dan 'Linggar' di hadapannya.

Rangga menekan tombol panggil. Namun, yang terdengar hanyalah suara operator yang dingin.

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."

Rangga mengernyitkan keningnya dan ia mencoba lagi untuk menghubungi Nadya.

Sekali, dua kali, hingga lima kali. Tetap sama. Ponsel Nadya mati total.

Padahal, biasanya Nadya selalu cepat membalas atau setidaknya memberi kabar jika ingin mematikan ponsel.

"Kenapa ponselmu mati, Nad?" gumam Rangga cemas.

Ia mondar-mandir di balkon, sesekali melirik ke arah Linggar yang masih tertidur lelap di dalam kamar.

Ia tidak tahu bahwa tepat di bawah bantal yang sedang ditiduri Linggar, ponsel rahasia itu sengaja dimatikan oleh Linggar sebelum ia jatuh pingsan karena kelelahan.

Linggar terlalu takut jika tiba-tiba ponsel itu berbunyi saat Rangga berada di dekatnya.

Rangga menghela napas panjang, menatap hujan Bandung yang belum juga reda.

Perasaan gelisah mulai merayapi hatinya. Ia merasa seolah-olah sesuatu yang besar sedang disembunyikan darinya, namun ia tidak tahu apa itu.

"Apa kamu juga sedang tidur seperti dia, Nadya?" tanya Rangga.

Ia tidak menyadari bahwa wanita yang ia cari sedang bernapas di ruangan yang sama dengannya.

1
merry yuliana
hmmmmm pertarungan dimulai...kemana hatimu akan berlabuh linggar...sehat dan semangat terus kak..ditunggu crazy upnya
Fitra Sari
lanjut kk
my name is pho: ok kak
besok sahur ya🥰
total 1 replies
falea sezi
lanjut donk
my name is pho: ok kak 🥰
total 1 replies
falea sezi
mending resain pergi jauh
falea sezi
kpn kebongkar jangan bertele tele
falea sezi
cwek munafik gini banyak di fb pasang fto orang buat gaet cowok g jujur ma fisik diri sendiri
falea sezi
jd inget film India yg Rani Mukerji hitrik trs papu siapa ya lupa nama e q
merry yuliana
hmmmm jia you linggar jangan takut pasti ada lelaki yang benar2 melohatmu sebagai dirimu sendiri
Alis Yudha
kenapa aku ikut mewek ya/Whimper/
Nabila
linggar ini kayak aku, kata ibuku duku aku sakit sampai di opnam, harus sering minum obat, padahal eaktu kecil badan ku kecil katanya, karena kebanyakan minum obat sampai sekarang berat badanku bertambah terus, dak tahu mungkin itu sistem metabolismenya berubah sekarang saya umur 38thn dengan bb 115kg, mau nurunin susah banget.memang benar punya badan gemuk itu incecure banget, mau deket ma cowok malu banget kalau dikata2in.
awesome moment
maapkeun. koq jd berharap linggar g bertahan y. biar rangga nyesel. 🤭🤭🤭
kucing kawai
Bagus /Good/
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut KK doubel up donkk 😍😍🙏
awesome moment
bagusnya....linggar stl sadar dri koma, menghilang. ke mana, seterah. dgn keprofesionalannya, dia kn bisa menclok jd tenaga profesional dimana2. buat linggar ketemu lingk yg tpt dan org yg tpt. biar j rangga nyesel bin nyesek. udh ngebully linggar c. biar tau rasane diabaikan. biar tau rasane bertahan dalam sakit tp g bisa ngeluh. stl rangga ngerasain yg dirasain linggar, seterah author wis. kn jodoh ditangan author. seblm.nya...tolong, buat rangga merasakan kesakitan linggar
my name is pho: siap 🥰
total 1 replies
Hesty Rahayu
kapok kamu rangga..syukurin...
Fitra Sari
lanjut lagi kk
awesome moment
blm titik, kan? msh koma ta?😉
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak.
total 1 replies
awesome moment
tebakan hayooo...koma ato titik?
awesome moment
y bgitulah...org kecewa
Fitra Sari
lanjut KK 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!