NovelToon NovelToon
KETUA BEM DITAKLUKKAN CEGIL

KETUA BEM DITAKLUKKAN CEGIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: mommy ha

Rayyan sangat risih saat gadis yang mengejarnya mengaku sebagai sahabat masa kecilnya di taman kanak-kanak, oh my god mimpi buruk apalagi di kampus yang elit ini sampai-sampai bertemu dengan gadis yang tak jelas itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20) MENGULANG KISAH LAMA

PERCAKAPAN YANG MENENTUKAN

Lantai 35 benar-benar berbeda dengan lantai dasar yang selalu dia tempati. Dinding berwarna putih keperakan dengan aksen kayu berkualitas tinggi, lantai yang terbuat dari marmer putih yang mengkilap, dan furnitur mewah yang menunjukkan kemewahan yang tak terbayangkan bagi Sea. Kantor Rayyan terletak di ujung lorong, dengan pintu kayu besar yang diberi nama papan “DIREKTUR UTAMA - RAYYAN ADIWIJAYA”.

Sea mengambil napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu itu dengan hati-hati.

“Silakan masuk!” suara Rayyan terdengar dari dalam.

Sea membuka pintu dan masuk ke dalam kantor yang luas dan megah. Jendela besar menghadap ke selatan, memberikan pemandangan kota Jakarta yang indah saat matahari mulai merunduk. Rayyan berdiri di depan jendela itu, melihat ke luar dengan tangan yang menyangga dagunya. Dia mengenakan jas yang sama tapi sudah melepas dasinya, membuatnya terlihat sedikit lebih santai.

“Sit down, Sea,” kata Rayyan tanpa menoleh. “Minum apa? Kopi? Teh?”

“Tidak apa-apa, Pak Rayyan. Aku tidak perlu apa-apa,” jawab Sea sambil duduk di kursi besar di depan meja kerja Rayyan.

Rayyan akhirnya menoleh dan menghadapinya. Dia berjalan ke arah meja dan duduk di kursinya, menatap Sea dengan pandangan yang dalam. “Jangan panggil aku Pak Rayyan, Sea. Hanya Rayyan saja seperti dulu.”

Sea merasa jantungnya berdebar. “Tapi sekarang Anda adalah atasan, pak Rayyan. Sudah tidak pantas lagi saya eh aku memanggil Anda dengan nama saja.”

“Pantas atau tidak adalah urusan kita berdua, bukan orang lain,” jawab Rayyan dengan tegas. “Selama tiga tahun ini, kamu benar-benar tidak pernah mencoba menghubungiku ya? Padahal kamu tahu nomor telepon ku tidak pernah berubah.”

Sea terdiam sejenak sebelum menjawab. “Kita punya kesepakatan, Rayyan. Jika kita tidak bisa menyatukan dunia kita dalam tiga tahun, kita harus berpisah dan tidak mencari satu sama lain.”

“Dan jika kita bertemu lagi setelahnya?” tanya Rayyan dengan suara yang lembut tapi penuh dengan makna.

Sea merasa mata kirinya sedikit terbakar. “Kita akan mengulang kisah lama kita.”

Rayyan mengangguk perlahan. “Maka itu artinya kesepakatan tersebut masih berlaku sekarang, bukan? Kita sudah bertemu lagi, Sea. Setelah tiga tahun aku bekerja keras untuk membangun perusahaan ini sesuai dengan visiku, dan ternyata kamu juga bekerja di sini—bahkan menjadi salah satu karyawan terbaik yang berkontribusi besar dalam proyek terbesar perusahaan saat ini.”

“ Aku bekerja di sini karena aku lolos seleksi secara adil, Rayyan. Aku tidak menggunakan nama Anda atau hubungan kita dulu untuk mendapatkan pekerjaan ini,” kata Sea dengan nada yang sedikit defensif.

“Aku tahu itu, Sea. Dan itu adalah salah satu alasan mengapa aku mencintaimu,” jawab Rayyan dengan pandangan yang penuh kasih. “Kamu selalu berusaha untuk meraih sesuatu dengan kekuatanmu sendiri. Kamu tidak pernah mau mengandalkan orang lain, bahkan ketika kamu punya kesempatan untuk melakukannya.”

Sea merasa hatinya semakin terasa sakit karena rasa rindu yang tak tertahankan. “Banyak hal yang telah berubah, Rayyan. Kita tidak lagi sama seperti dulu.”

“Benar, kita memang telah berubah,” jawab Rayyan sambil berdiri dan mendekat ke arah Sea. “Aku tidak lagi anak muda yang naif yang berpikir bisa mengubah dunia hanya dengan keinginan semata. Aku telah menjalani banyak hal dan belajar banyak pelajaran dalam tiga tahun ini. Dan yang paling penting, aku telah menyadari bahwa tidak ada kesuksesan atau kekayaan yang bisa menggantikan kebahagiaan yang saya rasakan ketika bersama kamu.”

Rayyan berdiri tepat di depan Sea, melihatnya dengan mata yang penuh dengan harapan. “Bagaimana denganmu, Sea? Apakah kamu masih mencintai ku seperti dulu? Atau apakah kamu sudah menemukan orang lain yang bisa membuatmu bahagia?”

Sea merasa air mata sudah mulai menggenang di sudut matanya. Dia tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya yang telah terkubur dalam hati selama tiga tahun ini. “Tidak ada orang lain, Rayyan. Tidak akan pernah ada orang lain selain kamu. Aku mencintaimu selama ini, bahkan ketika aku mencoba untuk melupakannya.”

Pada saat itu, Rayyan dengan lembut mengenggam tangan Sea dan menariknya berdiri. Dia membungkus lengan kuatnya di sekitar pinggang Sea, menyelimutinya dalam pelukan yang hangat dan akrab. Sea tidak bisa lagi menahan diri dan menangis pelan di dadanya, melepaskan semua rasa rindu dan kesedihan yang telah dia tahan selama tiga tahun.

“Maafkan aku, sayang,” bisik Rayyan dengan suara yang penuh dengan rasa menyesal. “Aku seharusnya tidak pernah menyetujui kesepakatan itu. Aku seharusnya berjuang untuk kita berdua dan tidak pernah melepaskanmu.”

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kita tidak melakukan itu, Rayyan,” jawab Sea dengan suara yang masih bergetar karena menangis. “Mungkin kita akan saling menyakiti dan akhirnya membenci satu sama lain.”

“Tidak, tidak akan pernah seperti itu,” kata Rayyan sambil menarik sedikit tubuh Sea agar bisa melihat wajahnya. Dia dengan lembut menghapus air mata di pipi Sea dengan ujung jarinya. “Cinta kita terlalu kuat untuk bisa hancur hanya karena perbedaan dunia kita. Aku sudah menemukan cara untuk menyatukannya, Sea. Aku telah mengubah struktur perusahaan agar lebih inklusif dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua karyawan untuk berkembang, tanpa memandang latar belakang mereka. Dan aku juga telah membangun yayasan untuk membantu anak muda berbakat dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan dan kesempatan kerja yang layak.”

Sea melihat mata Rayyan dengan kagum. Dia tidak menyangka bahwa pria yang dulu dia cintai telah melakukan hal-hal luar biasa seperti itu. “Kamu benar-benar telah berubah menjadi orang yang luar biasa, Rayyan.”

“Semuanya aku lakukan karena kamu, Sea,” jawab Rayyan dengan penuh cinta. “Kamu telah mengajariku arti keadilan dan kerja keras. Kamu telah membuat saya menjadi orang yang lebih baik. Dan sekarang, aku ingin kamu kembali dalam hidupku. Aku ingin kita membangun masa depan bersama, tidak lagi sebagai dua orang dari dunia yang berbeda, tapi sebagai pasangan yang saling mendukung dan mencintai satu sama lain.”

Rayyan kemudian mengambil sebuah kotak kecil dari saku jasnya dan membukanya di depan Sea. Di dalamnya ada cincin perhiasan dengan batu permata kecil yang cantik. “Ini bukan cincin tunangan yang megah seperti yang mungkin kamu harapkan dari putra keluarga Adiwijaya,” kata Rayyan dengan senyum lembut. “Ini adalah cincin yang aku beli dengan uang hasil kerjaku sendiri saat aku masih magang di luar negeri. Aku selalu menyimpannya karena aku tahu suatu hari nanti aku akan memberikannya pada wanita yang aku cintai dengan segenap hati.”

“Sea Anastasia,” lanjut Rayyan dengan suara yang tegas dan penuh dengan harapan. “Apakah kamu mau menjadi istri ku dan membangun kehidupan bersama ku? Apakah kamu mau mengulang kisah lama kita dan membuatnya menjadi cerita cinta yang lebih indah dari sebelumnya?”

Sea merasa hati penuh dengan kebahagiaan yang luar biasa. Dia mengangguk dengan penuh emosi, tidak bisa berkata apa-apa selain menangis bahagia. “Ya, Rayyan. Tentu saja, ehhh tunggu. kedua orang tuamu dan si Amara? " tangannya ia tarik saat Rayyan hendak memasangkan cincin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!