Upaya bunuh diri Onad Nevalion berakhir dengan kegagalan. Alih-alih menemukan kematian, ia justru dibangkitkan oleh Dewa Kegelapan dan dikirim ke Solmara, sebuah dunia asing yang hancur oleh konflik antar entitas ilahi.
Onad terpilih sebagai wakil sang dewa untuk menghadapi Dewa Iblis di dunia Solmara. Dewa Kegelapan tidak dapat turun langsung karena campur tangannya akan melanggar hukum keseimbangan antar dunia.
Satu-satunya hal yang diinginkan Onad hanyalah menghilang dari kesialan hidupnya di dunia. Namun, mengapa kesialan itu justru mengejarnya hingga ke dunia lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat Tinggal Somir
...────୨ৎ────...
...Atribut dan Skill Inang adalah sebagai berikut:...
...Nama: Noah (Inang)...
...Spesies: Manusia...
...Level: 30...
...Strength: 60...
...Agility: 60...
...Dexterity: 90...
...Defense: 50...
...Mana: 150...
...Kemampuan Ilahi: Penyerapan Kemampuan, Hukum Dimensi, Sintesis....
...Berkat:...
...Dominasi Perang (Tahap 1)...
...Penguasaan Senjata (Master Rank)...
...Penguasaan Teknik Bertarung (Master Rank)...
...Insting Bertahan Hidup (Tahap 1)...
...Dewa Mengamuk Mode (5 kali kekuatan fisik)...
...Tubuh Dewa Perang (Tahap 2)...
...Gift: Pengetahuan Semua Bahasa yang diketahui Dewa Perang...
...Kemampuan dan Skill:...
...Cakar Serigala...
...Auman Serigala...
...Langkah Panjang...
...Pelari Kilat...
...Indra Perburuan...
...Mata Sang Predator...
...Penglihatan 360°...
...Perlindungan Wilker...
...Indra Tajam...
...Asam Beracun...
...Kekebalan Racun (Grandmaster Rank)...
...Sisik Somir...
...Tatapan Algojo...
...────୨ৎ────...
Setelah membaca semua yang dia miliki sampai saat ini, Noah berhenti memikirkan kondisinya dan menenangkan pikirannya.
Tanpa membuang waktu, dia melompat masuk ke dalam sarang dan mendekati telur telur bercangkang emas yang tadi dilindungi mati matian oleh induk Somir.
Noah tidak pernah menyesali apa pun yang sudah dia lakukan sampai sekarang. Namun setelah mewarisi kehendak Somir, dia merasakan ikatan naluriah terhadap telur telur itu. Rasanya seperti melihat darah dagingnya sendiri, seperti melihat anaknya sendiri.
Dia menyentuh dua dari tiga telur itu dan kembali memberi perintah pada Sistem.
"Cek kondisi mereka. Bisa bertahan nggak?" tanya Noah.
...────୨ৎ────...
...Pemindaian selesai. Kedua telur berada di tahap pertengahan pertumbuhan. Jejak garis keturunan dan inti sudah mulai terbentuk....
...────୨ৎ────...
Suara Sistem terhenti sejenak, Seakan ragu untuk melanjutkan.
...────୨ৎ────...
...Namun tanpa induk Somir yang menjaga suhu untuk membantu proses pematangan, embrio akan mati dalam dua hari. Hanya panas dari induk Somir yang dapat memastikan kelangsungan hidup mereka....
...────୨ৎ────...
Begitu mendengar itu, Noah segera menyentuh telur ketiga. Jawaban yang diterima sama.
Tangannya mengepal. Raut penyesalan jelas terlihat di wajahnya. Dia tahu ini pengaruh kehendak induk Somir yang membuatnya berpikir seperti ini. Keputusannya demi kekuatan dan bertahan hidup telah membawa semuanya ke titik ini.
Memang dunia ini aturannya membunuh atau dibunuh. Tapi apa dia benar benar harus menyerang Somir sejak awal?
Dia bisa saja pergi ke tempat lain dan membiarkan makhluk itu tetap menjaga telur telurnya. Telur telur langka itu suatu hari akan menetas dan menjalani hidup mereka sendiri. Pada akhirnya, mereka makhluk berakal, sama seperti dirinya.
Dia bukan hanya membunuh sang induk. Dia juga menjatuhkan hukuman mati pada anak anaknya.
Dua suara saling bertentangan di kepalanya. Satu membenarkan tindakannya, satu lagi menuduhnya tak punya hati.
Air mata menetes di pipinya saat dia memandang telur telur itu, lalu menoleh ke tubuh Somir yang tergeletak di luar sarang. Berbeda dengan keluarganya di kehidupan sebelumnya yang tak pernah benar benar ada untuknya, makhluk legendaris ini tanpa ragu mengorbankan nyawanya demi anak anaknya. Kasih sayang seorang ibu seperti itu tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
"Maafin aku ...." bisiknya pelan sambil menghapus air mata.
Somir memang makhluk Legendary. Intinya bahkan mampu membentuk kehendak. Wajar jika kehendak itu kini membuatnya dihantui rasa bersalah. Noah memahami itu, tapi dia juga tidak mampu sepenuhnya membenarkan perbuatannya.
"Sistem, bilang sama aku. Ada cara buat nyelametin telur telur ini nggak?" tanyanya.
...────୨ৎ────...
...Dengan situasi dan kemampuan yang dimiliki Inang saat ini, tidak mungkin....
...────୨ৎ────...
"Sial ..." Noah mengumpat, penyesalannya semakin dalam.
...────୨ৎ────...
...Sistem mendeteksi pikiran Inang sedang dipengaruhi oleh kehendak Somir yang telah mati. Mengambil langkah pencegahan. Apakah Inang ingin menghapus kesadaran eksternal ini?...
...────୨ৎ────...
Sistem menawarkan jalan keluar. Ada cara agar Noah tidak lagi merasa bersalah. Dia bisa kembali seperti sebelum menyerap inti itu.
"Tunggu!" Noah menahan. Dia tidak ingin lari dari perbuatannya sendiri.
"Aku bisa gabungin mereka dan bikin subordinate nggak?" tanyanya.
...────୨ৎ────...
...Ya. Karena embrio belum membentuk kesadaran penuh, mereka dapat dianggap sebagai entitas tanpa jiwa. Namun Inang memerlukan tubuh mati untuk menggabungkannya. Tanpa itu, subordinate yang dihasilkan tidak akan memiliki kemampuan fisik spesies ini karena embrio belum mengembangkannya....
...Dengan banyak inti dan garis keturunan yang belum terbangun, embrio juga tidak akan menghasilkan bentuk spesies yang sempurna....
...────୨ৎ────...
Sistem menjelaskan semua kemungkinan jika dia memilih menjadikan mereka bahan untuk menciptakan subordinate baru.
Noah mengerti artinya. Makhluk yang mungkin tidak berguna baginya, atau bahkan tidak memiliki kesadaran yang utuh meski sudah melalui Sintesis.
Dia benar benar tidak punya pilihan.
Namun kemudian pandangannya jatuh pada tubuh induk Somir yang sudah tak bernyawa, dan sebuah gagasan muncul di kepalanya.
"Sistem. Hapus sepenuhnya kesadaran eksternal itu," perintah Noah.
Detik berikutnya, seluruh rasa bersalahnya lenyap Seakan tak pernah ada. Ikatan naluriah dengan telur telur itu juga terputus. Pikirannya kembali jernih dan terfokus seperti setelah dia menyerap inti Somir. Meski begitu, dia tidak melupakan apa yang baru saja dia rasakan.
Noah memeluk satu telur dan mengangkatnya, membawanya mendekati tubuh induk Somir. Dia melakukan hal yang sama pada dua telur lainnya, lalu berdiri di dekat kepala Somir.
Dia menepuk pelan kepala makhluk itu. Matanya menyimpan penyesalan.
"Maaf. Ini satu satunya cara biar anak anak kamu nggak mati sia sia. Apa pun yang lahir dari proses ini, aku janji bakal bikin dia jadi sekuat mungkin. Suatu hari nanti, bahkan Dewa Alam kuno seperti Basilisk pun nggak bakal bisa berdiri sejajar sama dia. Itu bakal jadi penebusan aku karena udah ngejatuhin hukuman mati ke anak anakmu."