NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Garis Depan Dan Gelombang Gaib

Mundurnya pasukan Thorne dari lembah batu kapur memberikan celah waktu bagi Jatmika. Namun, ia tahu Belanda tidak akan menyerah begitu saja. Mereka akan membangun barisan pertahanan di pinggiran kota Kendal. Jatmika harus bergerak cepat sebelum bala bantuan dari Batavia yang lebih besar tiba.

"Kita tidak akan menyerbu seperti barisan infanteri tradisional," Jatmika memaparkan rencananya di atas peta besar. "Jika kita berlari di lapangan terbuka, kita hanya akan jadi sasaran empuk senapan mereka. Kita akan menggunakan Perang Parit (Trench Warfare)."

Jatmika memperkenalkan konsep parit zig-zag yang saling terhubung. Dengan cara ini, pasukannya bisa mendekati garis musuh tanpa pernah terekspos langsung oleh tembakan lawan. Namun, tantangan terbesarnya adalah koordinasi. Di tengah dentuman meriam dan asap, teriakan atau peluit tidak akan terdengar.

"Kita butuh Komunikasi Instan," gumam Jatmika.

Ia tidak punya waktu untuk membangun infrastruktur kabel telepon yang rumit. Ia beralih ke penemuan yang seharusnya baru ada puluhan tahun kemudian: Telegraf Nirkabel Primitif. Menggunakan Spark-gap Transmitter sederhana—yang terdiri dari baterai sel volta, kumparan induksi, dan dua bola logam yang menciptakan percikan listrik—Jatmika berhasil menciptakan gelombang elektromagnetik.

"Ini adalah Sandi Morse," Jatmika melatih sekelompok kecil santri pilihan yang cerdas. "Percikan ini akan mengirimkan sinyal melalui udara. Antena bambu yang kita pasang di setiap pos parit akan menangkap gelombang ini melalui Coherer (tabung serbuk besi) yang akan membunyikan bel."

Serangan balik dimulai saat hujan turun deras, menciptakan lumpur di mana-mana. Pasukan Belanda yang berjaga di parit darurat mereka terkejut melihat tanah di depan mereka seolah bergerak sendiri. Pasukan Jatmika menggali dengan kecepatan luar biasa menggunakan sekop baja berkualitas tinggi yang diproduksi di tanur mereka.

Thorne melihat dari kejauhan dengan frustrasi. "Mereka bergerak di bawah tanah! Kenapa meriam kita tidak mengenai mereka?"

Setiap kali Belanda mencoba melakukan serangan balik, Jatmika menerima laporan instan melalui sinyal telegraf nirkabelnya. "Titik B4, kavaleri bergerak." "Titik C1, persiapan artileri."

Dengan informasi real-time ini, Jatmika bisa mengatur posisi penembak jitu dan mortirnya dengan presisi matematika. Ia menggunakan Periskop Bambu untuk memantau pergerakan musuh dari bawah parit, sebuah inovasi sederhana yang membuat para prajuritnya tetap aman di bawah garis tembak.

Malam itu, Jatmika memberikan perintah terakhir melalui gelombang udara. "Operasi Bayangan Putus. Maju."

Pasukan Serikat Bayangan keluar dari parit yang hanya berjarak lima puluh meter dari garis pertahanan Belanda. Dengan menggunakan Granat Tangan Improvisasi (tabung besi berisi mesiu dan paku), mereka menghancurkan pos-pos penjagaan Belanda dalam hitungan menit.

Kekacauan pecah di kemah Belanda. Thorne menyadari bahwa taktik klasiknya telah usang. Ia menghadapi musuh yang bisa melihat dalam gelap, berkomunikasi melalui udara, dan bergerak di bawah bumi.

"Mundur ke pelabuhan! Amankan kapal-kapal!" teriak Thorne.

Jatmika berdiri di atas parit yang baru saja direbut, memegang sebuah alat penerima sinyal yang masih berbunyi tit-tit-tut. Ia menatap Kota Kendal yang kini berada di depannya. Simbol kekuasaan Belanda di wilayah itu telah goyah.

"Raden, kita berhasil merebut garis depan!" Suro melapor dengan penuh semangat, wajahnya berlumuran lumpur namun matanya bersinar.

Jatmika menarik napas panjang. "Ini baru satu kota, Suro. Kabar tentang telegraf nirkabel ini akan sampai ke Eropa. Mereka akan mengirimkan ilmuwan, bukan lagi sekadar prajurit. Perang masa depan akan menjadi perang otak."

Di ufuk timur, matahari mulai menyingsing, menyinari parit-parit yang membelah tanah Jawa—sebuah luka baru di bumi pertiwi, namun juga sebuah tanda lahirnya kekuatan baru yang tidak akan pernah bisa dijajah lagi oleh cara-cara lama.

1
Nemi yaa
kereen😍
Sastra Gulo: Terimakasih ka :)
total 1 replies
anggita
terus berkarya tulis👌. moga novelnya lancar.
Sastra Gulo: Amin kak. support selalu ya🙏😍
total 1 replies
anggita
Jatmika.. 👍💣💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!