NovelToon NovelToon
" LEPAS DARI CENGKRAMAN LUCIFER "

" LEPAS DARI CENGKRAMAN LUCIFER "

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Misteri
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: Gans March

Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jerat kasih di rumah diaken

Sore itu, langit di atas kota kecil tersebut berubah menjadi warna jingga yang hangat, menyiram deretan rumah asri dengan cahaya yang lembut. Mobil sedan hitam Marco perlahan berhenti di depan sebuah rumah bergaya kolonial modern yang sangat terawat. Halamannya dipenuhi bunga mawar dan melati, memancarkan aroma suci yang seketika membuat dada Laura terasa sesak.

"Ingat, Laura," bisik Marco sambil mematikan mesin. "Pasang senyummu. Kau adalah Yanti, gadis yatim piatu yang rajin dari desa seberang."

Laura hanya mengangguk kaku, merapikan kacamata beningnya.

Marco turun dari mobil, merapikan kemejanya yang licin, lalu melangkah menuju pintu jati besar rumah tersebut. Ia mengetuk pintu dengan ritme yang sopan.

"Tok... tok... tok..."

"Syalom... Selamat sore,"

Ucap Marco dengan suara yang dibuat sehangat mungkin.

Tak lama kemudian, terdengar suara kunci diputar. Pintu terbuka, dan muncullah seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahunan dengan wajah yang sangat teduh. Ia mengenakan daster batik yang rapi dan sebuah kalung salib kecil melingkar di lehernya. Senyumnya langsung merekah saat melihat siapa yang datang.

"Eh, Marco! Selamat sore," sapa wanita itu dengan nada riang.

"Aduh, maaf ya rumahnya agak berantakan, maklum si kecil lagi rewel tadi."

Ia adalah Ibu Sisil, istri dari Pak Hardianto, kepala bank terpandang di kota itu. Ia adalah tipe wanita yang auranya begitu tulus hingga membuat siapa pun merasa diterima.

"Tidak apa-apa, Bu Sisil. Maaf kami datang terlambat karena jalanan tadi agak macet," jawab Marco sambil menyalami tangan Bu Sisil dengan hormat.

Bu Sisil mengalihkan pandangannya ke arah mobil, di mana Laura baru saja turun dengan langkah ragu.

"Wah, ini ya calon pengasuhnya?" tanya Bu Sisil, matanya berbinar penuh harap.

"Iya, Bu. Ini Yanti yang saya ceritakan tempo hari. Dia gadis yang sangat baik dan penurut, cuma memang agak pemalu,"

Marco memberi kode agar Laura mendekat.

Laura melangkah maju, lalu mencium tangan Bu Sisil sesuai instruksi Marco.

"Selamat sore, Bu... Saya Yanti," ucap Laura, suaranya bergetar tipis—bukan karena akting, tapi karena nuraninya benar-benar tersentak melihat keramahtamahan wanita ini.

"Selamat datang, Yanti! Duh, cantik sekali kamu ya,"

Bu Sisil mengelus bahu Laura dengan kasih sayang.

"Masuk, masuk yuk!Marco juga masuk, kita ngeteh dulu di dalam. Kebetulan Bapak baru saja pulang dari kantor."

Saat melintasi pintu masuk, Laura melihat sebuah hiasan dinding bertuliskan

“Kasih itu Sabar, Kasih itu Murah Hati.” Seketika, pendar emas di tangannya terasa berdenyut panas, seolah-olah sedang berteriak memperingatkannya tentang kegelapan yang baru saja ia bawa masuk ke dalam rumah yang suci ini.

Di ruang tamu yang sejuk dan beraroma kayu cendana, mereka duduk melingkar di atas sofa beludru krem. Bu Sisil menyajikan teh melati hangat dan sepiring kue kering. Suasana begitu tenang, hanya terdengar detak jam dinding kuno dan suara TV yang menyala pelan dari ruang tengah.

Bu Sisil menatap Laura dengan tatapan keibuan yang sangat dalam, tipe tatapan yang dulu sering diberikan Oma saat Laura pulang sekolah.

"Minum dulu tehnya, Yanti. Jangan sungkan, sekarang kamu sudah jadi bagian dari keluarga ini,

"ucap Bu Sisil lembut, tangannya terulur menggeser cangkir ke arah Laura.

Laura mengangguk kaku, jemarinya yang dingin menyentuh porselen hangat itu. "Terima kasih, Bu."

" Marco bilang kamu berasal dari desa di seberang pegunungan ya?" Bu Sisil mulai bertanya, suaranya penuh rasa ingin tahu yang tulus.

"Orang tuamu masih ada di sana, atau...?"

Laura terdiam sejenak. Ia melirik Marco melalui sudut matanya. Marco hanya menyesap tehnya dengan tenang, memberikan isyarat tak kasat mata agar Laura menjalankan skenario yang sudah mereka susun sebelumnya.

Laura menunduk, memainkan pinggiran cangkir.

"Saya... saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi, Bu. ibu saya meninggal saat saya masih kecil. ayah saya juga sudah lama pergi..."

"Aduh, maafkan Ibu ya, Nak. Ibu tidak bermaksud membuatmu sedih. Jadi, kamu tinggal dengan siapa sebelum ketemu Marco?"

"Saya tinggal dengan nenek saya, Bu. Tapi beliau juga sudah... sudah tidak ada," suara Laura bergetar. Kali ini bukan karena akting. Mengingat Oma di rumah yang penuh salib ini terasa seperti sembilu yang menyayat batinnya.

Bu Sisil mendesah pelan, matanya berkaca-kaca karena rasa iba. Ia berpindah duduk ke samping Laura dan menggenggam tangan gadis itu.

"Kasihan sekali kamu, Sayang. Masih muda tapi sudah menanggung beban seberat ini," bisik Bu Sisil.

"Mungkin ini rencana Tuhan membawa Mas memperkenalkanmu pada kami. Di sini, kamu tidak perlu merasa sendirian lagi. Anggap Ibu sebagai ibumu sendiri, ya?"

Marco menimpali dengan nada bicara yang sangat meyakinkan, "Itulah sebabnya saya bawa Yanti ke sini, Bu Sisil. Saya tahu Ibu dan Pak Hardianto punya hati yang sangat mulia. Yanti butuh lingkungan yang baik setelah semua kehilangan yang dia alami."

Di bawah meja, tangan Laura meremas kain roknya dengan kuat. Ia merasa seperti monster. Wanita ini baru saja menawarkannya kasih sayang seorang ibu, sementara di dalam tasnya, Laura membawa jarum perak dan botol kristal hitam untuk mengambil darah bayi wanita ini.

Tiba-tiba, dari lantai atas terdengar suara tangisan bayi yang melengking. Suara itu begitu jernih dan murni. Bu Sisil langsung berdiri dengan sigap.

"Ah, itu si kecil sudah bangun! Ayo, Yanti, ikut Ibu ke atas. Biar kamu kenalan sama 'tugas' utamamu. Namanya Gabriel,"

ajak Bu Sisil sambil menarik tangan Laura dengan riang.

Bu Sisil menuntun Laura menaiki tangga kayu yang dipelitur halus. Setiap pijakan kaki Laura terasa seperti beban berat yang menekan ulu hatinya. Di dinding tangga, berderet foto keluarga yang bahagia: Pak Hardianto yang tersenyum wibawa, Bu Sisil yang anggun, dan foto USG bayi yang dibingkai dengan tulisan "Anugerah Terindah".

Pintu kamar di ujung lorong terbuka. Aroma bedak bayi yang lembut dan minyak telon segera menyambut indra penciuman Laura—aroma yang sangat bertolak belakang dengan bau kemenyan dan darah ayam yang biasa ia hirup di mansion.

"Nah, ini dia pangeran kecil kita. Namanya Gabriel,"

ucap Bu Sisil sambil mengangkat bayi mungil itu dari boks bayinya yang berwarna putih bersih.

Bayi itu berhenti menangis saat melihat ibunya, namun saat matanya yang jernih beralih ke arah Laura, ia terdiam. Ia tidak tertawa, tidak juga menangis. Ia hanya menatap Laura dengan pandangan yang sangat dalam, seolah-olah bayi itu bisa melihat menembus kacamata bening dan jubah penyamaran Laura.

"Sini, Yanti. Coba gendong sebentar. Biar dia kenal sama kakak barunya. Gabriel ini anak yang pintar, dia tahu mana orang yang hatinya tulus."

Tangan Laura gemetar saat terulur.

"Saya... saya takut salah gendong, Bu. Dia masih sangat kecil."

"Enggak apa-apa, Nak. Sini, letakkan kepalanya di lenganmu. Nah, begitu. Lihat, dia langsung tenang."

Saat tubuh mungil Gabriel berpindah ke pelukan Laura, sebuah sengatan aneh menjalar ke seluruh tubuh gadis itu. Pendar emas di nadi Laura berdenyut liar, seolah-olah bereaksi terhadap kemurnian yang ia dekap.

Di bawah, terdengar suara pintu depan terbuka. Pak Hardianto baru saja pulang dan sedang berbincang dengan Marco. Tak lama kemudian, Marco berpamitan dan naik ke lantai atas sebentar untuk memberikan salam perpisahan.

"Bu Sisil, saya rasa tugas saya mengantar Yanti sudah selesai. Saya harus segera kembali ke kota," ucap Marco dengan senyum sopan.

Namun, saat Bu Sisil berbalik untuk mengambilkan sesuatu, Marco melangkah mendekat ke arah Laura yang masih menggendong Gabriel. Ia membungkuk, pura-pura mencium dahi bayi itu, namun bibirnya justru berbisik tepat di telinga Laura.

"Tujuh hari, Laura. Jangan sampai kau jatuh cinta pada mangsamu. Ingat jarum perak di tasmu. Jika kau gagal, Black Sabbath akan menagih darahmu sebagai gantinya."

Marco menarik diri, memberikan senyum kemenangan, lalu menjabat tangan Pak Hardianto yang baru saja muncul di tangga.

Setelah deru mobil Marco menjauh, rumah itu kembali sunyi. Hanya ada suara Bu Sisil yang sedang menyiapkan botol susu di dapur lantai bawah. Laura kini berdiri sendirian di kamar bayi yang penuh dengan hiasan malaikat pelindung.

Ia menatap Gabriel. Bayi itu meremas ujung baju pengasuh Laura dengan tangan kecilnya. Di saku roknya, botol kristal hitam pemberian Elena terasa sangat dingin, seolah-olah sedang menghisap kehangatan dari tubuh Laura.

"Dia menamakannya Gabriel... Sang Pembawa Pesan. Dan aku di sini untuk membawanya menuju altar."

Laura terduduk di kursi goyang samping jendela. Nuraninya yang tadi sempat "tertidur" di klub malam, kini terjaga sepenuhnya, berteriak kencang di tengah suasana rumah yang begitu suci.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!