Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4—Akan Langsung Kubeli
“Gue bayar om, gue beli motor sekarang juga!”
Suasana kios mendadak hening. Dua pria bertato itu saling pandang, lalu tertawa keras.
“Tuh kan, denger gak?” yang satu menepuk bahu temannya. “Bocah SMA mau beli motor, cash. Mimpi kali!”
Yang lebih tinggi meludah ke samping. “Dik, dik… jangan banyak gaya. Ini bukan sepeda bekas. Enam juta. CASH. Bukan DP. Langsung wajib lunas, dirimu memang mampu? Pakaian kayak gembel gitu, hahaha!”
Tatapan mereka jelas meremehkan.
Pakaian Rahmat sederhana. Kaos tipis, celana jeans pudar, sepatu murah yang sudah mulai terkelupas di ujungnya, aura miskin, seperti kata mereka.
Dulu, mungkin Rahmat akan menunduk. Dulu, mungkin ia akan pergi dengan wajah panas.
Tapi sekarang berbeda.
Di balik pupil matanya, sistem bekerja.
━━━━━━━━━━━━━━━
Target: Pria Bertato 1
Likuiditas: Rendah
Tekanan Finansial: Tinggi
Utang Aktif: Ada
Tingkat Kestabilan Emosi: 41%
━━━━━━━━━━━━━━━
━━━━━━━━━━━━━━━
Target: Pria Bertato 2
Tekanan Finansial: Tinggi
Tenggat Waktu Pembayaran: < 5 Hari
Sumber Tekanan: Hutang Judi
━━━━━━━━━━━━━━━
Rahmat hampir tersenyum, jadi ini sebabnya motor ini dijual cepat, bukan karena rusak, bukan karena tidak laku, tapi karena waktu mereka hampir habis.
Dan orang yang terdesak waktu… selalu membuat keputusan bodoh.
“Kenapa diem?” ejek salah satu dari mereka. “Takut ya?”
Rahmat mengeluarkan ponselnya perlahan.
“Aku cuma mikir… om berdua butuh uangnya sekarang, kan?”
Keduanya langsung berhenti tertawa.
“Apa maksud lo?”
Rahmat mengangkat bahu ringan.
“Kalau nggak butuh cepat, nggak mungkin jual segini murah. Mesin masih bagus. Cuma karbu kotor sama kampas rem aus.”
Mata pria bertato itu menyempit.
“Kok lo tau?”
Rahmat tidak menjawab. Ia hanya membuka aplikasi mobile banking.
Saldo: Rp18.800.000.
Jarinya bergerak cepat.
Transfer.
Rp6.000.000.
Notifikasi masuk di ponsel si penjual.
Pria itu menatap layar, lalu kembali menatap Rahmat.
Ekspresinya berubah.
Dari meremehkan… menjadi bingung.
“Lo… serius? Lo beli barang entah masih hidup atau engga kayak beli kacang gitu?”
Rahmat memasukkan ponselnya ke saku.
“Iya, Katanya cash.”
Hening.
Orang-orang di sekitar kios mulai melirik.
Dua pria itu kini tidak tertawa lagi.
Aura mereka berubah.
Sedikit… tidak nyaman.
Rahmat melangkah lebih dekat, suaranya tenang.
“Kalau om nggak buru-buru bayar hutang sebelum lima hari, bunganya naik dua kali lipat kan?”
Wajah pria yang lebih tinggi langsung pucat.
“LO NGUPING DARI MANA?!”
Rahmat tidak berkedip.
Ia sendiri sedikit terkejut dengan keberaniannya.
Tapi sistem tidak salah.
Data jarang keliru.
“Aku cuma nebak,” ucapnya santai. “Orang yang butuh uang cepat biasanya lagi dikejar. Ya, aku juga ada pengalaman serupa sih, bapakku brengsek minta ampun minggat entah kenapa, ninggalin utang ke bocah 16 tahun.”
“Lagian aku gak butuh mengecek lama-lama disini, om. Dilihat juga udah jelas motor ini masih layak terjual paling tidak 2x lipat dari 6 juta. Orang yang terlilit utang emang bego, tidak tahu nilai jual barang.”
Keringat tipis muncul di pelipis pria itu.
Yang satu lagi memegang ponselnya erat-erat.
“Bocah ini… siapa sih lo?”
Rahmat memalingkan wajah ke motor.
“Gue Rahmat. Aku cuma pembeli. Dan sekarang motor ini milikku, om.”
Ia mengambil kunci yang diberikan, tentu saja tidak ada yang berani menghalangi, begitu uang sudah berpindah maka barang itu sekarang jadi hak miliknya.
“Ini dek, surat kepemilikan motor, dll.”
Rahmat menerima, masih dengan sopan paling tidak. “Oh, iya makasih om.”
Kedua pria bertato itu tertawa canggung, ia memberikan kertas tambahan. Saat rahma mengerutkan kening, bingung, mereka menjelaskan.
“Sekalian ini nomer kami dek, kalau ada kendala sama mesin bisa hubungi segera kami, ada garansi pribadi, maksimal 1 bulan …”
Oh, paling tidak mereka bertanggung jawab dengan memberikan jaminan kembali, rahmat jadi mengubah pikiran bahwa dua ini orang brengsek.
“Dan … hehe, kalau sekiranya butuh barang barang kuno dengan harga murah kamu bisa hubungi kami. Kami kasih harga spesial untuk adik.”
Rahmat hanya tersenyum. Ia memang direndahkan, tapi tidak ada salahnya tenang dan berdamai, lagipula dia yang akan untung di kemudian hari.
“Terima kasih, om. Akan kupertimbangkan.” Ia pun mengambil secarik kertas nomer telepon itu.
Lalu pergi dengan membawa motor barunya.
Tidak ada yang berani menghalangi.
Saat Rahmat menuntun motor itu menjauh, sistem berbunyi.
[Ding!]
[Misi Selesai.]
[Hadiah: Rp100.000.000]
[Level Naik.]
[Fitur Terbuka: Analisis Tren Sosial]
Tubuh Rahmat terasa hangat sesaat. Degan begini ia naik level lagi.
[Anda memiliki 3 status poin? Mau meningkatkan kecerdasan seperti sebelumnya.]
Rahmat tersenyum, untuk sekarang ia lebih baik fokus kecerdasan saja. Tidak ada yang dirugikan mempunyai otak pintar.
Namun bukan itu yang membuat jantungnya berdetak cepat.
Melainkan perasaan baru. Perasaan … berada di atas situasi.
Bukan lagi diinjak.
Bukan lagi ditertawakan.
Ia menoleh sedikit ke belakang. Dua pria bertato itu masih berdiri di tempat, tatapan mereka bukan lagi meremehkan, melainkan waspada dan ada kehormatan serta kagum,