NovelToon NovelToon
Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta

Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Harem
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

Raka Adiyaksa adalah definisi nyata dari "Sobat Misqueen". Mahasiswa biasa yang rela makan mie instan diremas setiap akhir bulan demi menabung untuk gebetannya, Tiara. Namun, pengorbanannya dibalas dengan pengkhianatan. Di malam konser yang seharusnya menjadi momen pernyataan cintanya, Raka justru melihat Tiara turun dari mobil mewah milik Kevin, anak orang kaya yang sombong, sementara Raka ditinggalkan sendirian di trotoar GBK dengan dua tiket yang hangus.

Di titik terendah hidupnya, saat harga dirinya diinjak-injak, sebuah suara mekanis berbunyi di kepalanya.

[DING! Sistem Sultan Gacha Tanpa Batas Telah Diaktifkan!]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Hoki Satu Malam dan Data 32C

Atmosfer di Stadion Utama Gelora Bung Karno malam itu bukan lagi sekadar konser musik. Itu adalah sebuah ritual massal. Sebuah katarsis kolektif bagi puluhan ribu jiwa yang lelah dengan kerasnya Jakarta.

Di bawah langit malam yang pekat, lautan manusia itu bergelombang, mengikuti irama yang dikendalikan oleh sang dewi panggung, Vania Winata.

Ketika Vania membawakan lagu hitsnya yang bernuansa rock-ballad, "Terbakar Sepi", stadion seolah meledak. Puluhan ribu lightstick ungu bergerak serempak, menciptakan gelombang cahaya yang memukau. Suara bass yang menggelegar dari sistem tata suara ribuan watt menghantam dada setiap penonton, memacu adrenalin hingga ke titik didih.

Raka, yang duduk di kursi VVIP paling depan, mau tak mau ikut terseret arus energi gila ini.

Awalnya dia hanya duduk santai dengan gaya "Sultan", tapi pesona Vania terlalu kuat untuk ditolak. Raka kini berdiri, menggoyangkan lightstick yang diberikan panitia, dan ikut bernyanyi bersama ribuan orang lainnya. Keringat membasahi kemeja flanelnya, tapi dia tidak peduli. Rasa sakit hatinya pada Tiara seolah menguap bersama keringat itu, digantikan oleh dopamin murni.

Bukan hanya di stadion, demam Vania juga membakar jagat maya.

Di TikTok Live, jumlah penonton streaming resmi konser ini sudah menembus angka 5 juta viewers serentak. Di Twitter (X), tagar #VaniaLiveinJakarta dan #KonserBidadari sudah bertengger di posisi Trending Topic nomor 1 dan 2 Indonesia selama tiga jam berturut-turut. Kolom komentar bergerak begitu cepat sampai tak terbaca, dipenuhi emoji menangis, hati ungu, dan saweran virtual yang nilainya mungkin bisa melunasi hutang negara.

"Gila..." Raka menyeka keringat di dahinya saat lagu berakhir. Napasnya terengah, tapi senyum puas terukir di wajahnya. "Seru juga ternyata jadi fanboy."

Lampu panggung perlahan meredup, menyisakan satu sorot lampu utama yang membingkai Vania di tengah panggung. Gadis itu tampak sedikit terengah, dada dan bahunya naik turun mengatur napas. Butir-butir keringat berkilauan di leher jenjangnya seperti berlian cair, membuatnya justru terlihat semakin mempesona manusiawi, namun tetap divine.

Vania menyeka keningnya dengan punggung tangan, lalu tersenyum manis ke arah kamera yang menayangkan wajahnya di layar raksasa LED.

"Hah... Kalian luar biasa banget malam ini! Jakarta, are you happy?!" teriak Vania dengan suara yang masih terdengar jernih dan bertenaga.

"HAPPPPPYYYYY!!!!" balasan puluhan ribu suara menggema, membuat tanah bergetar.

Vania tertawa renyah. "Aku juga happy banget. Tapi, kayaknya kurang lengkap kalau kita nggak bagi-bagi hadiah, setuju?"

"SETUJUUUUU!!!"

"Oke!" Vania berjalan ke tepi panggung, mendekat ke arah tribun VVIP tempat Raka berada. "Seperti janji promotor, malam ini kita bakal ngadain Lucky Draw spesial buat kalian yang udah dateng."

Suasana mendadak senyap penuh antisipasi. Semua orang menahan napas, memegang erat potongan tiket di tangan masing-masing.

"Hadiahnya macem-macem," lanjut Vania sambil mengedipkan mata jenaka. "Ada 10 paket eksklusif. Isinya ada foto polaroid tanda tangan aku, poster limited edition, terus ada Headphone Sony WH-1000XM5 buat kalian dengerin lagu aku..."

Sorakan penonton terdengar riuh. Headphone itu saja harganya sudah 5 jutaan.

"Dan..." Vania memberi jeda dramatis. Musik drum roll berbunyi tegang.

"Grand Prize malam ini adalah satu unit mobil Honda Civic Turbo RS terbaru seharga enam ratus juta rupiah! Siap buat dibawa pulang?!"

WUUUAAARHHH!!!

Stadion pecah. Siapa yang nggak mau mobil gratis? Apalagi mobil idaman anak muda.

Raka hanya terkekeh pelan. "Civic Turbo? Lumayan sih. Tapi di garasi gue udah ada McLaren." Sombong? Mungkin. Tapi fakta adalah fakta. Raka merasa geli sendiri dengan perubahan pola pikirnya yang begitu drastis dalam hitungan jam.

"Oke, kita nggak usah lama-lama. Kita undi dari hadiah hiburan dulu ya," kata Vania. Sebuah kotak undian digital muncul di layar besar. Angka-angka berputar cepat.

"Hadiah pertama... Foto polaroid tanda tangan aku + kesempatan naik ke panggung buat foto bareng!"

Vania menekan tombol di tablet yang dipegangnya. "Stop!"

Di layar raksasa, angka berputar melambat, lalu berhenti di sebuah kombinasi.

[ ROW A - SEAT 12 ]

Hening sejenak. Semua orang sibuk mengecek tiket mereka.

Vania menyipitkan mata, melihat ke arah penonton baris depan. "Row A... Seat 12? Wah, ini VVIP nih. Siapa yang duduk di sana? Mana orangnya?"

Raka tertegun. Dia menunduk melihat sandaran kursinya. Ada stiker perak bertuliskan: A-12.

"Anjir..." gumam Raka. "Gue?"

Skill [Aura Keberuntungan Absolut] miliknya ternyata bukan kaleng-kaleng. Baru diaktifkan, langsung dapet jackpot, meskipun cuma hadiah hiburan. Tapi tunggu... hadiahnya foto bareng di panggung? Itu lebih mahal daripada mobil buat para fans fanatik!

Raka berdiri perlahan, lalu mengangkat tangannya dengan canggung.

Lampu sorot (follow spot) langsung menghajarnya. Wajah Raka seketika terpampang jelas di layar raksasa LED, disaksikan oleh 80.000 orang di stadion dan jutaan orang di internet.

"Itu dia!" seru Vania ceria. "Mas yang pake kemeja flanel! Ayo naik ke panggung!"

Raka menarik napas panjang. Oke, Raka. Jangan malu-maluin. Lo sekarang Sultan. Jalan yang tegap.

Dia melangkah keluar dari barisan kursi, menaiki tangga kecil menuju panggung utama. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena sensasi aneh menjadi pusat perhatian.

Saat dia sampai di atas panggung, cahaya lampu terasa menyilaukan dan panas. Namun, yang lebih "panas" adalah sosok yang berdiri dua meter di depannya.

Jarak dekat. Close up.

Raka menelan ludah. Jika dari jauh Vania terlihat cantik, dari jarak sedekat ini, dia terlihat unreal. Kulitnya benar-benar mulus tanpa pori-pori, seputih susu. Riasan wajahnya ternyata sangat tipis, natural, memperlihatkan kecantikan aslinya. Aroma parfumnya tercium samar, lembut namun memabukkan, mengalahkan bau keringat dan asap panggung.

Tiba-tiba, pandangan Raka terganggu oleh sebuah panel holografik biru yang muncul otomatis di depan wajah Vania.

[DING!] [Skill Aktif: Deteksi Bidadari (Enhanced Mode)]

Sebuah jendela data yang lebih detail dari sebelumnya muncul:

[TARGET ANALISIS] Nama: Vania Winata Usia: 18 Tahun Tinggi: 170 cm (Tanpa Heels) Berat: 48 kg Skor Wajah: 98/100 Ukuran Atribut: 32C (Bentuk: Sempurna/Alami) Kondisi Fisik: Sedikit dehidrasi, otot kaki tegang. Status Emosional: Penasaran, Ramah.

Raka: "???"

Mata Raka melotot membaca baris "Ukuran Atribut". 32C? Woy, Sistem! Lo mesum banget anjir! Ngapain data beginian ditampilin?!

Raka berusaha keras menjaga ekspresi wajahnya agar tidak terlihat seperti om-om mesum yang sedang sange. Dia batuk kecil untuk menutupi rasa kagetnya. "Ehem."

Meskipun sistemnya agak kurang ajar, Raka harus mengakui... proporsi tubuh Vania memang gila. Pinggangnya ramping, kakinya jenjang, dan kurva tubuhnya pas. Tidak berlebihan, tapi sangat... sedap dipandang.

Vania menatap pemuda di hadapannya dengan rasa ingin tahu. Biasanya, fans yang naik ke panggung akan gemetar, menangis histeris, atau mencoba memeluknya secara agresif sampai harus ditahan sekuriti. Tapi cowok ini... beda.

Dia tenang. Tatapannya jernih, tidak ada nafsu menjijikkan, hanya kekaguman yang sopan. Wajahnya juga lumayan. Bukan tipe model majalah, tapi tipe "Mas-mas Ganteng" yang bersih dan enak dilihat. Ada aura percaya diri yang unik darinya.

"Halo," sapa Vania ramah, menyodorkan mikrofon. "Siapa namanya, Mas Beruntung?"

Raka menerima mikrofon itu. Tangannya bersentuhan sedikit dengan jari Vania yang dingin. Ada sengatan listrik statis kecil.

"Halo semua," suara Raka terdengar stabil dan berat, diperkuat oleh sound system stadion. "Nama saya Raka."

Dia melambai santai ke arah kamera.

"Raka," ulang Vania sambil tersenyum manis. "Namanya bagus. Singkat, padat, jelas. Selamat ya, Raka! Kamu dapet paket merchandise spesial dari aku."

Seorang kru panggung berlari membawakan goodie bag besar dan sebuah foto polaroid. Vania mengambilnya, lalu menyerahkannya pada Raka.

"Ini buat kamu. Makasih udah dateng dan dukung aku ya," ucap Vania tulus.

Raka menerima hadiah itu. "Sama-sama. Konser lo keren banget. Pecah."

Vania tertawa mendengar pujian singkat itu. Lalu, tanpa aba-aba, dia merentangkan kedua tangannya.

"Peluk dulu dong biar sah!" candanya.

Sebelum Raka sempat bereaksi, Vania sudah maju selangkah dan memeluknya.

Deg!

Tubuh mungil dan hangat itu menempel pada tubuh tegap Raka. Aroma vanilla itu menyerbu indra penciumannya. Raka bisa merasakan kelembutan tubuh Vania, dan... well, data "32C" dari sistem tadi terverifikasi secara fisik saat dada gadis itu menyentuh dada bidangnya sekilas.

Hanya dua detik. Pelukan persahabatan yang sopan.

Tapi efeknya bagi penonton? Bencana.

"WOOOYYY!!!!" "MENANG BANYAK LO BANGSAT!!!" "LEPASIN DEWI GUE!!!" "IRI BOS!!! IRI!!!"

Teriakan cemburu membahana dari seluruh penjuru stadion. Jika tatapan mata bisa membunuh, tubuh Raka pasti sudah tercabik-cabik menjadi ribuan butir debu saat itu juga. Ribuan cowok jomblo di area festival menatap Raka dengan mata merah menyala penuh dendam kesumat.

Raka melepaskan pelukan itu dengan sopan, mundur selangkah. Dia melihat lautan manusia yang sedang mengamuk cemburu itu.

Alih-alih takut, Raka justru menyeringai tipis ke arah kamera.

Maaf ya, Mblo. Hoki orang ganteng emang beda.

1
:)
harus banget ya king scuma sungkem
Jujun Adnin
ngopi dulu mas raka
ABIMANYU CHANNEL
kasih yg banyak....
DipsJr: siap kak. paling nanti pindah ke max kalo nda lolos.
total 5 replies
Gege
kereen...ditunggu adegan kulit ketemu kulit dan bulu ketemu bulunya...kan udah gede..🤣🤭
Gege
kereen alurnya.. meski banyak mainkan durasi...lanjuuttt thoor..
DipsJr: wkwk. tau aja kak. 🤭
total 1 replies
Arya Rizki Sukirman
mana ini Thor updatenya
DipsJr: besok lagi kak, sehari 3 bab.
makasih sudah baca.
total 1 replies
DipsJr
besok lagi kak. saya updatenya jam 00.00 😁
ellyna munfasya
lanjut Thor 😤
ellyna munfasya
up lagi Thor nanti siang pokoknya 😤
Monchery
kalau ini menurut ku terlalu berlebihan
DipsJr: apanya yg berlebihan kak?. 🤭
total 1 replies
ellyna munfasya
alur nya seru
ellyna munfasya
gak mau tau nanti pagi harus up Thor 😤😤😤
DipsJr: siap kak, sebntar saya upload. 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!