Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.
Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.
Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.
Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.
Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Ketiga : Secercah Api
Malam ketiga ini Tio tidak lagi memiliki ceruk batu untuk berlindung. Pohon besar di tepi sungai ini adalah satu-satunya "atap" yang ia miliki sekarang—ranting-rantingnya yang rimbun membentuk kanopi alami, tapi tidak cukup rapat untuk menahan angin malam yang terus bertiup. Ia duduk bersandar di batang pohon, matras tipis menjadi alas antara tubuhnya dan tanah yang lembab. Sleeping bag yang sejak siang tadi ia jemur di bebatuan akhirnya cukup kering untuk digunakan, meski masih menyisakan bau apek yang mengganggu.
Sungai kecil di depannya mengalir tenang, menciptakan musik alam yang seharusnya menenangkan. Gemericik air yang ritmis, kadang cepat kadang lambat, bergantung pada kontur batuan yang dilaluinya. Tio memutuskan—ia akan mengikuti aliran sungai ini mulai besok pagi. Air mengalir ke bawah. Air menuju ke lembah. Dan di lembah, pasti ada manusia. Itu logika sederhana yang masuk akal.
Tapi malam ini, logika tidak banyak membantu.
---
Udara di sini lebih lembab daripada di ketinggian. Mungkin karena dekat dengan sungai, mungkin karena vegetasi yang lebih rapat. Tio merasakan kelembaban itu menempel di kulit, membuat sleeping bag-nya terasa basah meski sebenarnya kering. Setiap kali angin bertiup, rasa dingin menusuk hingga ke tulang.
Suara-suara malam mulai bermunculan.
Awalnya hanya suara jangkrik dan serangga malam—biasa, normal. Tapi kemudian, dari kejauhan, terdengar suara monyet. Bukan suara biasa. Ini seperti teriakan. Melengking, panik, seperti monyet itu sedang melihat sesuatu yang mengerikan. Teriakan itu bergema di antara pepohonan, diikuti oleh teriakan lain dari arah berbeda. Sahut-menyahut, menciptakan paduan suara yang mencekam.
Tio menajamkan telinga. Monyet-monyet itu terdengar ketakutan. Tapi ketakutan akan apa? Apa yang terjadi di hutan malam ini?
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, suara lain muncul. Sebuah Tawa.
Bukan tawa manusia biasa. Tawa ini melengking, tinggi, seperti suara perempuan yang tertawa histeris di kejauhan. Kadang terdengar jelas, kadang samar, kadang seperti berbisik di telinga meski sumbernya jauh. Tawa itu datang dari berbagai arah—kadang dari utara, kadang dari selatan, kadang terasa seperti dari atas pohon tempat ia bersandar.
Bulu kuduk Tio berdiri. Ia yakin, seratus persen yakin, tidak ada manusia lain di hutan punggungan sisi gunung ini. Jalur ini bukan jalur pendakian normal. Tidak ada pendaki yang melewati sini. Tidak ada desa di sekitar sini. Lalu siapa yang tertawa?
Bukan manusia, bisik nalurinya. Itu bukan manusia.
---
Tio mencoba tenang. Ia mengambil napas panjang, menghembuskan perlahan. Ini hanya hutan. Hutan punya suara-suara aneh. Itu biasa.
Tapi ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ini tidak biasa. Semua pengalaman mendakinya selama bertahun-tahun, semua gunung yang pernah ia daki, tidak ada yang seperti ini. Suara-suara ini berbeda. Terlalu... personal. Terlalu... terarah. Seolah-olah ada yang sengaja membuat suara itu untuknya, untuk menakut-nakutinya.
Bayangan-bayangan mulai berkelebat di antara pepohonan. Dari sudut mata, Tio melihat mereka—hitam, cepat, melintas di sela-sela batang pohon. Kadang satu, kadang dua, kadang puluhan. Mereka tidak mendekat, hanya bergerak di lingkaran luar, mengelilingi tempatnya bersandar. Seperti penari dalam ritual, berputar-putar mengelilingi pusat.
Tio memalingkan kepala untuk melihat langsung ke arah bayangan itu. Begitu ia menoleh, bayangan itu menghilang. Tapi dari arah lain, bayangan baru muncul. Terus begitu, seperti permainan kejar-kejaran antara mata dan ilusi.
Mereka hanya menonton, pikir Tio. Mereka tidak mendekat. Hanya menonton.
Tapi itu tidak membuatnya merasa lebih baik. Justru sebaliknya. Ditonton oleh makhluk-makhluk tak kasat mata di tengah hutan gelap lebih mengerikan daripada jika mereka menyerang. Setidaknya jika menyerang, ia tahu apa yang harus dilakukan. Tapi ini... ini seperti menjadi tontonan. Seperti ada pertunjukan, dan ia adalah bintang utamanya.
---
Malam semakin larut. Suara monyet dan tawa aneh masih sesekali terdengar, tapi mulai berkurang. Bayangan-bayangan masih berkelebat, tapi tidak sebanyak tadi. Tio mencoba tidur, memejamkan mata, berharap kelelahan akan mengalahkan ketakutan.
Tidak bisa.
Setiap kali ia hampir terlelap, sesuatu membangunkannya. Suara dahan patah di dekatnya. Desahan angin yang terdengar seperti bisikan. Sensasi dingin yang tiba-tiba menjalar di punggung. Berkali-kali ia membuka mata, memandangi kegelapan, mencoba mencari sumber gangguan. Tak ada apa pun. Hanya hutan yang terus bergerak dengan kehidupannya sendiri.
Jam berapa sekarang? Tio tidak tahu. Arlojinya mati kehabisan baterai. Yang ia tahu, malam masih panjang. Masih berjam-jam sebelum fajar tiba.
Gue butuh api.
Api bisa mengusir binatang buas. Api bisa memberi cahaya. Api bisa... mungkin... mengusir makhluk-makhluk ini? Tio tidak tahu, tapi setidaknya api akan membuatnya merasa lebih aman.
Ia meraih ransel di sampingnya, mulai mengobrak-abrik isi dengan tangan meraba dalam gelap. botol air, jurnal, pisau. Tidak ada yang bisa membuat api. Ia ingat korek apinya hilang bersama perlengkapan lain saat jatuh kemarin.
Tapi tangannya menyentuh sesuatu di kantong kecil samping ransel. Kecil, pipih, logam. Tio mengeluarkannya, meraba-raba bentuknya. Kotak. Ada roda kecil di sisinya.
Korek api gas.
Tio hampir tidak percaya. Korek api cadangan yang ia simpan di kantong kecil—lupa ia pernah memasukkannya di sana. Mungkin saat persiapan di Jakarta, ia memasukkan satu korek cadangan "untuk jaga-jaga" dan kemudian lupa. Dan sekarang, di saat paling genting, korek itu muncul.
Dengan tangan gemetar, Tio memetik korek itu. Ceklek. Api kecil menyala, menerangi wajahnya dan area sekitarnya. Untuk beberapa detik, bayangan-bayangan itu tampak mundur, menjauh dari lingkaran cahaya. Atau mungkin itu hanya imajinasinya.
Api padam. Tio memetik lagi. Ceklek. Kali ini ia mencari-cari di sekelilingnya, mengumpulkan ranting-ranting kering. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat api kecil. Ia menyusun ranting-ranting itu di depannya, lalu menyalakan korek sekali lagi.
Api mulai merambat. Kecil, setidaknya api kecil ini memberikan cahaya dan sedikit kehangatan yang sangat ia butuhkan.
---
Untuk pertama kalinya malam ini, Tio merasa sedikit lebih tenang. Api menciptakan lingkaran cahaya kecil. Di luar lingkaran itu, masih gelap pekat. Tapi setidaknya, di dalam lingkaran ini, ia bisa melihat. Tidak ada bayangan. Tidak ada yang berani mendekat.
Atau setidaknya, itulah yang ia harapkan.
Tio duduk dekat dengan api, merasakan hangatnya merambat ke seluruh tubuh. Sleeping bag ia lingkarkan di bahu seperti selimut. Matras ia duduki. Untuk sementara, ia aman.
Tapi korek gasnya hanya bisa digunakan berkali-kali. Dan ranting kering di sekitarnya terbatas. Api ini tidak akan bertahan semalaman. Tio tahu itu. Tapi untuk sekarang, ia mensyukurinya. Untung malam ini tidak hujan seperti malam sebelumnya.
---
Saat api mulai menari-nari, Tio meraih ranselnya lagi. Ia mengeluarkan jurnal kecil dan pensil patah. Dengan cahaya api yang temaram, ia mulai menulis. Ini cara untuk mengisi ketakutan, untuk menuangkan semua yang ia rasakan ke dalam kata-kata, agar pikirannya tidak terus-menerus dipenuhi bayangan dan suara aneh.
Tangannya menulis cepat, kadang berhenti sebentar untuk merenung, lalu melanjutkan lagi.
"Malam ketiga. Aku tidak tahu tanggal berapa sekarang. Mungkin sudah 5 atau 6 hari sejak aku jatuh. Waktu terasa kabur.
Malam ini aku tidak punya tempat berlindung. Hanya pohon besar di tepi sungai. Suara air seharusnya menenangkan, tapi malam ini semuanya terasa berbeda.
Monyet-monyet menjerit seperti melihat hantu. Lalu suara tawa—tawa yang tidak mungkin dibuat oleh manusia. Aku yakin tidak ada orang lain di hutan ini. Jalur ini tidak dikenal pendaki. Lalu siapa yang tertawa?
Bayangan-bayangan. Mereka ada di mana-mana. Tidak mendekat, hanya memperhatikan. Seperti aku ini tontonan. Seperti ada pertunjukan dan mereka adalah penontonnya. Aku merasa seperti hewan di kebun binatang.
Syukurlah aku menemukan korek api cadangan di ransel. Api ini sedikit mengusir mereka—atau setidaknya membuatku merasa lebih aman. Tapi api tidak akan bertahan lama. Ranting kering di sini terbatas.
Aku takut. Sangat takut. Tapi aku tidak boleh menyerah. Besok pagi, aku akan ikuti sungai ini. Sungai mengalir ke bawah. Ke lembah. Ke manusia. Aku harus percaya itu.
Ibu, jika kau membaca ini suatu hari nanti... maafkan aku. Maafkan aku karena terlalu arogan. Maafkan aku karena tidak mendengarkan nasihatmu. Aku hanya ingin kau tahu, aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu.
Tuhan, jika Engkau di sana... tolong aku. Aku tidak tahu apakah aku masih pantas meminta pertolongan-Mu setelah sekian lama mengabaikan-Mu. Tapi aku mohon... tolong aku. Aku ingin pulang."
---
Tio berhenti menulis. Air mata mengalir di pipinya, jatuh ke halaman jurnal, membasahi tinta pensil. Ia tidak menyekanya. Biar saja. Di sini, sendirian di tengah hutan, ia tidak perlu berpura-pura kuat.
Api mulai meredup. Ranting-ranting habis terbakar. Tio tahu ia harus mencari lebih banyak kayu bakar, tapi ia tidak berani meninggalkan lingkaran cahaya. Di luar sana, bayangan-bayangan masih menunggu.
Ia menutup jurnal, menyimpannya kembali. Lalu ia duduk bersandar di pohon, memeluk sleeping bag, dan memandangi bara api yang perlahan padam.
Bara terakhir berkedip, lalu mati. Gelap kembali merangkulnya.
Tio memejamkan mata, tidak lagi berusaha tidur, hanya berpasrah. Di sekelilingnya, suara malam kembali terdengar. Monyet menjerit. Tawa melengking. Dan desahan panjang seperti napas ribuan makhluk.
Tapi Tio tidak membuka mata. Ia hanya berbisik lirih, berulang-ulang:
"Aku ingin pulang... aku ingin pulang... aku ingin pulang..."
Di luar lingkaran kegelapan, bayangan-bayangan masih setia menonton. Malam masih panjang. Dan perjuangan masih jauh dari selesai.