NovelToon NovelToon
SELESAI MENJADI SABAR

SELESAI MENJADI SABAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Keluarga / Suami Tak Berguna
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Ambisi di Balik Retakan

Pagi yang cerah di Jakarta menyambut Hana dengan ritme yang lebih tenang setelah drama demonstrasi di depan kantor mereda. Deni dan bibinya tidak lagi terlihat di trotoar. Menurut laporan tim keamanan, mereka telah meninggalkan lokasi dengan wajah kecut setelah mediasi kemarin. Namun, bagi Hana, kemenangan kecil itu bukanlah akhir, melainkan sebuah peringatan bahwa musuh yang terdesak akan selalu mencari cara untuk menyerang dari sudut yang tak terduga.

Hana duduk di ruang kerjanya, menatap layar monitor yang menampilkan grafik arus kas untuk proyek Vietnam. Namun, fokusnya teralihkan ketika Shinta dari tim Humas mengetuk pintu dan masuk dengan raut wajah yang tidak bisa dikatakan senang.

"Bu Hana, ada sesuatu yang harus Ibu lihat," ujar Shinta sambil meletakkan tabletnya di meja Hana.

Di layar, terlihat sebuah artikel dari situs berita ekonomi menengah yang baru saja terbit sepuluh menit lalu. Judulnya tidak lagi menyerang personal Hana, melainkan menyerang profesionalitasnya: "Dugaan Maladministrasi di Proyek Properti Regional: Apakah Perusahaan Terlalu Terburu-buru Menunjuk Pemimpin?"

Artikel itu tidak menyebutkan nama Hana secara langsung, namun isinya mempertanyakan latar belakang pendidikan dan pengalaman manajer keuangan yang baru dipromosikan, serta menyindir adanya "hubungan istimewa" dengan atasan yang mempercepat promosi tersebut.

Hana menghela napas panjang. "Ini adalah serangan yang lebih cerdas. Mereka menyadari bahwa drama air mata di trotoar tidak mempan, jadi mereka mulai menyentuh ranah profesional."

"Saya curiga ini bukan sekadar ulah keluarga Aris, Bu," Shinta menambahkan. "Gaya bahasanya sangat teknis. Saya khawatir ada pihak internal atau kompetitor yang memanfaatkan situasi pribadi Ibu untuk menjatuhkan kredibilitas proyek Vietnam kita."

Hana menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kumpulkan data latar belakang situs berita ini, Mbak Shinta. Cari tahu siapa pemiliknya dan siapa yang mendanai artikel ini. Saya tidak ingin kita hanya bertahan; saya ingin kita tahu siapa yang sedang memegang pisau di balik punggung saya."

Tak lama setelah Shinta pergi, Adrian masuk melalui pintu penghubung. Ia tampak baru saja selesai menelepon seseorang dengan nada tinggi.

"Hana, Direktur Utama meminta penjelasan mengenai artikel itu sore ini," ujar Adrian tanpa basa-basi. "Beliau khawatir ini akan mempengaruhi investor di Singapura yang sangat sensitif terhadap isu tata kelola perusahaan."

Hana mendongak, matanya menatap Adrian dengan tajam. "Apakah Anda meragukan saya, Adrian?"

Adrian tertegun sejenak, lalu menarik kursi di depan meja Hana. "Tentu tidak. Tapi dunia korporat tidak bekerja hanya berdasarkan kepercayaan. Mereka butuh angka dan hasil yang bisa membungkam mulut para pengkritik itu. Masalahnya, serangan ini datang tepat saat kita akan menandatangani dokumen pendanaan final besok pagi."

Hana terdiam. Ia menyadari bahwa Aris dan keluarganya hanyalah bidak kecil. Di papan catur yang lebih besar, ada orang-orang yang menginginkan kursinya, atau orang-orang yang ingin melihat proyek Vietnam gagal agar mereka bisa mengambil alih kendali.

"Saya akan siapkan laporan audit internal yang sangat detail untuk rapat sore ini," kata Hana dengan suara yang bergetar namun penuh tekad. "Saya akan tunjukkan bahwa setiap sen yang saya kelola memiliki jejak yang bersih. Dan soal 'hubungan istimewa' itu..."

Hana menatap Adrian dengan pandangan yang lebih lembut namun serius. "Mungkin kita harus menjaga jarak lebih ketat di lingkungan kantor, Adrian. Saya tidak ingin bantuan tulus Anda justru menjadi lubang peluru bagi karier kita berdua."

Adrian tampak ingin membantah, namun ia menyadari kebenaran di balik ucapan Hana. "Jika itu yang terbaik untuk melindungimu, saya akan melakukannya. Tapi ingat, di luar pintu gedung ini, saya tetap orang yang sama."

Rapat dengan Direktur Utama sore itu berlangsung dengan tensi tinggi. Pak Winata, sang CEO, adalah pria tua yang tidak suka basa-basi. Ia menatap Hana melalui kacamata bacanya, memeriksa lembar demi lembar laporan yang disiapkan Hana.

"Laporanmu sangat rapi, Hana. Secara teknis, saya tidak menemukan celah," ujar Pak Winata akhirnya. "Namun, isu moral dan gosip adalah racun bagi perusahaan publik. Saya ingin tahu, sejauh mana masalah pribadimu ini akan terus menyeret nama baik kantor kita?"

Hana berdiri, memberikan hormat yang tulus namun tetap menunjukkan harga diri. "Pak Winata, masalah pribadi saya adalah konsekuensi dari masa lalu yang sedang saya bersihkan secara hukum. Saya tidak pernah membiarkan emosi mengganggu keputusan finansial saya. Mengenai artikel itu, tim kami sedang menelusuri sumbernya. Saya berjanji, sebelum penandatanganan besok, saya akan memberikan bukti bahwa itu adalah serangan terencana untuk mensabotase proyek kita."

Setelah rapat selesai, Hana tidak langsung pulang. Ia bersama Shinta dan tim keamanan siber kantor bekerja lembur. Menjelang pukul sepuluh malam, mereka menemukan sesuatu yang mengejutkan.

Alamat IP yang mengirimkan draf artikel tersebut ke situs berita ternyata berasal dari salah satu komputer di divisi operasional perusahaan mereka sendiri.

"Siapa yang memegang akses komputer itu semalam, Mbak Shinta?" tanya Hana, suaranya terdengar dingin di tengah kesunyian kantor yang mulai sepi.

"Dari catatan log, itu adalah komputer Pak Danu, asisten manajer di divisi operasional," jawab Shinta dengan nada tak percaya.

Hana teringat Pak Danu. Pria itu adalah salah satu kandidat yang sebelumnya dijagokan untuk posisi Manajer Senior sebelum Hana yang terpilih. Ternyata, duri dalam daging itu berasal dari dalam rumahnya sendiri. Danu sepertinya telah bekerja sama dengan pihak luar—mungkin memberikan informasi detail mengenai kehidupan pribadi Hana kepada keluarga Aris untuk memperkeruh suasana.

"Jangan katakan apa pun pada siapa pun, termasuk Pak Danu," instruksi Hana. "Biarkan dia merasa menang malam ini. Besok pagi, saat penandatanganan dilakukan, saya akan memberikan kejutan kecil untuknya."

Hana pulang ke apartemen dengan perasaan yang campur aduk. Ia merasa lelah menghadapi pengkhianatan dari berbagai arah. Namun, sesampainya di rumah, ia melihat Bi Inah sudah menyiapkan teh kamomil hangat dan sepiring kecil kue kering buatannya sendiri.

"Non Hana, tadi ada kiriman paket lagi. Tapi kali ini Bibi periksa dulu, bukan dari keluarga itu," ujar Bi Inah sambil menunjuk sebuah kotak kecil di meja makan.

Hana membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah buku kecil tentang filosofi ketenangan diri dan sebuah kartu bertuliskan tangan: "Badai tidak datang untuk menghancurkanmu, tapi untuk membersihkan jalanmu. Tidurlah yang nyenyak. - A"

Hana tersenyum kecil. Adrian selalu tahu cara menenangkan badai di kepalanya tanpa perlu banyak bicara di kantor.

Malam itu, Hana tidak bisa langsung tidur. Ia duduk di meja riasnya, menatap pantulan dirinya. Ia memikirkan Aris yang sekarang mendekam di penjara, Deni yang mungkin sedang merencanakan kebohongan baru, dan Danu yang sedang tersenyum puas di rumahnya.

"Sabar saya sudah benar-benar habis," bisik Hana pada dirinya sendiri. "Dan kalian akan segera tahu apa yang terjadi jika wanita yang kalian remehkan memutuskan untuk melawan balik dengan cara yang elegan."

Keesokan paginya, Hana datang ke kantor dengan aura yang berbeda. Ia mengenakan setelan blazer berwarna biru dongker yang tajam. Saat melewati meja Danu, ia memberikan senyum yang sangat ramah—senyum yang membuat Danu tampak gelisah.

Di ruang rapat besar, para investor dari Singapura sudah hadir. Pak Winata dan Adrian juga sudah siap. Danu duduk di pojok, bersiap untuk memberikan laporan operasional tambahan yang ia harapkan akan menjadi celah untuk menjatuhkan Hana.

Namun, sebelum sesi laporan operasional dimulai, Hana meminta izin untuk memberikan pengumuman singkat.

"Sebelum kita memulai penandatanganan, saya ingin berbagi sedikit temuan mengenai integritas data operasional kita yang sempat diperdebatkan di media kemarin," ujar Hana sambil menyalakan proyektor.

Di layar, muncul log aktivitas komputer dan bukti percakapan surel antara Danu dengan pihak pengelola situs berita gosip tersebut. Ruangan seketika menjadi hening seperti kuburan. Wajah Danu berubah dari pucat menjadi keabu-abuan.

"Integritas adalah fondasi proyek Vietnam ini," lanjut Hana dengan suara yang jernih dan berwibawa. "Dan saya pastikan, tidak akan ada pengkhianat di dalam tim saya yang akan merusak kepercayaan para investor."

Pak Winata menatap Danu dengan pandangan yang mengerikan, sementara Adrian memberikan anggukan kecil penuh apresiasi kepada Hana. Di saat itulah, Hana menyadari bahwa ia tidak lagi hanya bertahan. Ia telah belajar bagaimana cara menyerang balik, bukan dengan teriakan atau air mata, melainkan dengan bukti dan keberanian yang tak tergoyahkan.

Hari itu, kontrak proyek Vietnam resmi ditandatangani. Danu dibawa keluar dari gedung oleh tim keamanan untuk diproses secara internal. Hana berdiri di samping jendela, menatap matahari pagi yang mulai tinggi. Ia tahu perjalanan menuju keberhasilan yang lebih besar masih panjang, tapi untuk hari ini, ia telah memenangkan satu pertempuran besar lagi.

Hana Anindita telah benar-benar selesai menjadi korban. Ia kini adalah sang arsitek bagi hidupnya sendiri.

1
arniya
Aris bukan d penjara??!
Mom Ilham
anaknya hana apa khabarnya ya
Lia Kiftia Usman
karyamu asyiik dibaca..thor..
Sefna Wati: terima kasih kkk sudah mampir baca novel karyaku ya ...
sehat selalu ya🥰🥰
jangan lupa tinggalkan like nya ya dan mampir di novel lainnya mana tau kakak juga suka dengan cerita yang lain🥰🥰🥰🥰
🥰🥰🥰
total 1 replies
Nor
Kok ceritanya aneh yaa, kenapa tiba² ada surat tanah peninggalan almarhum ayah hana. sebenarnya ayah hana itu masih hidup atau sudah meninggal?
Sefna Wati: kalau mau tau kelanjutannya baca terus ya kak biar gak penasaran 🥰🥰🥰
total 1 replies
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
terlambat sudah penyesalan mu Aris mau gimana pun kamu memohon agar Hana mau kembali tetep aja hasilnya nihil karna Hana sekarang bukan Hana yang dulu lagi
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok gak Aris gak emak nya sama² ngeyel sih udah tau nanti kena ulti sama Hana eh masih aja mau gangguin Hana 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
baguslah akhirnya sekarang Hana bisa hidup tenang dan terbebas dari hama² ini
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
pelajaran nya disini tu jangan pernah meremehkan orang dari penampilan nya,berawal dari Hana yang diperlakukan seperti babu sekarang malah lebih bersinar dari orang² yang dulu memerintah nya
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kapokkk modyar aee kau Aris bisa² habis sudah semua harta haram mu itu 😂😂
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
sok²an meremehkan ni si Aris jangan kira karna Hana dulu diperlakukan seperti babu bukan berarti fungsi kepintaran di otak nya udah gak kerja yaa 😏
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
karma mu Aris bahkan anak mu aja gak Sudi lagi sama kamu lagian bisa² nya dia beli keramik baru tapi anak nya aja nunggak SPP 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok si Aris makin gak ngotak ya emang gak punya tangan ya buat mijet doang masak Hana Mulu yang gerak 😑
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
emang sih semua orang itu punya batas kesabaran gak semua orang itu tahan disakiti berkali kali apa lagi sama keluarga nya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!